Pilihan ke Kampung Kang Bejo pada Minggu pagi sepertinya pilihan yang tepat jika ingin berwisata alam tanpa harus melipir ke pinggir kota. Minggu itu, jalanan Balikpapan tidak terlihat sibuk. Belokan demi belokan memasuki gang ditelusuri demi mencapai Kampung Kang Bejo. Lokasinya di kawasan Sumber Rejo. Kalau tidak dipandu dan jika tidak diberi tahu sebelumnya, mungkin akan saya lewati begitu saja. Petunjuk ke arah Kampung Kang Bejo memang ada, tapi bukan berupa pentujuk megah ke sebuah destinasi wisata. Hanya jalan kampung biasa, dengan sapaan warga. Pada tahun-tahun sebelumnya, saya tahu ada kebun kangkung di daerah tersebut. Namun, tidak menganggapnya sebagai "tempat wisata". Ini berkat postingan medsos pada saat itu, yang memperlihatkan keindahan kebun kangkung, dan saya pikir, "Wah, cakep banget, ternyata ada sisi yang lainnya, ternyata pengunjung bisa ini dan itu, ya." Dan, lanjutlah merencanakan singgah ke Kampung Kang Bejo.
Letaknya sendiri tidak jauh dari pusat kota Balikpapan. Hanya sekitar satu kilometer dari keramaian. Saat tiba, kesan “terbuka” langsung terasa. Tidak ada pintu masuk khusus, karena pengunjung memang bisa masuk dari berbagai arah., sehingga tidak perlu tiket masuk. Namun, seingat saya, pada kunjungan pertama, kami dikenai tarif parkir, jika kendaraan dititipkan dekat area kuliner. Tahun selanjutnya, saya tidak ingat lagi. Sepertinya memang tidak ada.
Karena tidak ada gerbang dan tidak ada jam operasional yang kaku, pengunjung bebas datang kapan saja. Namun tetap ada etika yang perlu dijaga. Bagaimanapun, ini adalah kampung tempat orang tinggal dan bekerja. Waktu terbaik biasanya pagi hingga sore, mengikuti ritme kehidupan warga. Jika ingin berkontribusi, cara paling sederhana adalah dengan membeli produk lokal atau menikmati makanan yang dijual di sana.
Suasananya memang adem, namun soal cuaca tetap khas Balikpapan: ya begitulah, hangat dan kadang cukup terik. Kalau tidak buru-buru mencari makan, rasanya lebih menyenangkan untuk berjalan-jalan lebih dulu. Di bagian depan, ada kolam ikan, gazebo, dan ayunan yang berada dekat area kuliner. Tempat ini cukup teduh, cocok untuk duduk santai. Bocah bisa bermain, sementara saya sempat berhenti membaca papan yang menceritakan sejarah kampung ini.
Menariknya, tanaman di sini tidak hanya kangkung. Di pinggiran lahan, terlihat beragam jenis tanaman lain: pohon kelapa, kates jepang, kelor, berbagai sayuran, hingga bunga-bungaan. Semua tumbuh berdampingan, membuat suasana terasa lebih hidup dan tidak monoton.
Tidak jauh dari situ, ada kolam kecil berisi ikan nila dan lele. Katanya, ini bagian dari pengembangan kampung, hasil dukungan dari berbagai pihak, termasuk bantuan bibit ikan dan program pemberdayaan.
Semakin masuk ke dalam, hamparan kangkung makin mudah tersentuh jemari. Makin mudah mengamati jenis kangkungnya dan tanman-tanaman lain di sela-selanya. Petak-petaknya tertata rapi, dengan jalur yang cukup aman untuk dilalui pengunjung. Pengunjung memang diperbolehkan berjalan di antara petak-petak itu, selama tetap berhati-hati. Di sisi lain, elemen-elemen visual menambah kesan berbeda. Ada sepeda ontel bersandar, kincir angin sederhana, spot I LOVE KAMPUNG KANGKUNG, rumah wonderful Indonesia, serta instalasi 3d. Semuanya bisa menyatu tanpa kesan dipaksakan, cukup untuk menambah daya tarik, terutama bagi yang ingin berfoto, tanpa mengganggu suasana alami kampung.
Di tengah suasana yang tenang itu, aktivitas warga berjalan seperti biasa. Beberapa orang tampak bekerja tanpa banyak bicara. Ada yang memotong batang kangkung, ada yang membersihkan daun, ada yang mengurus pupuk, dan ada pula yang sekadar duduk mengawasi aliran air di parit kecil. Ritmenya tenang. Saya pun bisa bertanya-tanya kepada para warga tanpa segan, dengan jawaban-jawaban yang ramah.
Saya ke sudut lain, sesuai petunjuk arah 'hidroponik & tauge'. Lokasinya tidak seluas kebun kangkung. Seorang warga bercerita singkat, bagaimana mereka mulai mencoba metode ini untuk menyesuaikan dengan kebutuhan pasar yang berubah, sehingga penting untuk tetap berupaya menanam aneka tanaman sayur dan pangan lain.
Setelah cukup berjalan dan menyerap suasana, tibalah waktunya makan. Menariknya, kangkung tidak hanya hadir sebagai pemandangan, tetapi juga sebagai bagian dari hidangan. Saya menemukan kangkung dalam berbagai bentuk, mulai dari pecel, sayur dalam nasi campur, gado-gado, ote-ote (bakwan), hingga keripik kangkung. Bahkan, kebetulan ada yang menjual salome (pentol) berbahan kangkung. Rasanya? Semuanya enak.
Kang Bejo, Bukan Nama Seseorang
Sebenarnya orang-orang di sini sudah menanam kangkung sejak lama, bahkan sejak sekitar tahun 1980-an. Dulu, lahan ini bukan hamparan kangkung seluas mata memandang. Sempat ditanami padi dan tanaman hortiluktura. Namun, peralihan lahan perlahan menjadikan tanaman utama yang dipilih adalah kangkung. Karena kangkung lebih mudah ditanam, lebih cepat panennya, dan juga lebih pasti hasil jualnya. Setelahnya perkampungan itu menjadi identik dengan satu tanaman, dan lahirlah sebutan 'Kampung Kangkung'.
Nama “Kang Bejo” pun lahir dari sana. kata "Kang" merupakan singkatan dari kangkung. Sementara "Bejo" bukan nama seseorang yang terkenal. Bukan produk herbal yang katanya bisa dikonsumsi semua IQ. "Bejo" adalah singkatan sederhana dari "Sumber Rejo" nama lokasi yang menjadi lahan perkebunan kangkung tersebut. Jangan tanya mengapa tidak disingkat saja menjadi "Kang Rejo" atau "Kang Sum" atau "Kang Ber"? Entahlah. Waktu datang ke sana, tidak terpikir begitu.
Tapi kata “bejo”, yang dalam bahasa Jawa berarti beruntung, mungkin seperti memberi makna tambahan yang tidak direncanakan. Seolah-olah kampung ini dimunajatkan bisa menemukan keberuntungannya sendiri. Sehingga, Kang Bejo, berarti kangkung -dari- sumber rejo. Jadi, ya gitu aja sih alasannya, cukup local wisdom kan ya.
Perubahannya sebagai destinasi wisata baru datang belakangan. Sekitar tahun 2019, kampung ini mulai dikenalkan sebagai destinasi wisata edukasi. Kemudian warga membentuk kelompok sadar wisata atau Pokdarwis, untuk mengelola apa yang sebelumnya hanya mereka jalani sebagai rutinitas. Dari situ, kampung ini mulai membuka diri: menerima kunjungan, menata jalur, menambahkan gazebo, memperkenalkan cara menanam hingga memanen kepada orang luar.
Jika melihat ke belakang, perubahan kampung ini menjadi destinasi wisata terjadi sekitar tahun 2019. Kampung Kang Bejo mulai dikenalkan sebagai wisata edukasi. Dari sana, warga membentuk Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) untuk mengelola apa yang sebelumnya hanya menjadi rutinitas harian. Perlahan, kampung ini pun berbenah. Mereka membuka diri untuk kunjungan, menata jalur, menambahkan fasilitas seperti gazebo, serta mulai memperkenalkan proses menanam hingga memanen kepada pengunjung.
Informasi di papan penjelasan menyebutkan bahwa ada dua jenis kangkung yang ditanam di sini, yaitu kangkung air dan kangkung darat. Namun, dari hamparan yang terlihat, kangkung air tampak lebih mendominasi, ditandai dengan daun yang lebih hijau dan tidak runcing. Menariknya, di pasar Balikpapan, kami menyebut jenis ini sebagai "kangkung sumber rejo", yang merujuk pada lokasinya, alih-alih menyebut jenis kangkungnya. Pasar sendiri membedakan dua jenis kangkung: kangkung sumber rejo, dan kangkung akar (darat). Kangkung akar (darat) sendiri sering ditanam dengan dua cara; yakni konvensional dan hidroponik. Artinya, meskipun Kampung Kang Bejo memproduksi kangkung akar hidroponik, tetapi pasar tidak akan menyebutnya sebagai kangkung sumber rejo.
Tengok dulu: Ini dia jenis kangkung sumber rejo
Dari segi harga, kangkung sumber rejo cenderung lebih mahal dibandingkan kangkung darat. Warnanya yang lebih cerah dan tampilannya yang segar membuatnya lebih diminati. Di pasar, harganya bisa berkisar antara Rp6.000 s/d Rp8.000 per ikat, bahkan bisa lebih tinggi jika dijual secara daring. Sayangnya, saya justru belum pernah membelinya langsung di lokasi Kang Bejo.
Yang menyenangkan, yakni melihat kangkung-kangkung ini tidak berhenti sebagai sayur mentah. Ada yang mengolahnya menjadi keripik, salome (pentol), bakwan, serta cimi-cimi. Saya bahkan mendengar bahwa kangkung juga pernah diolah menjadi bolu, meski belum sempat melihat atau mencicipinya secara langsung. Yang jelas, semua olahan ini dijual dengan harga yang ramah di kantong.
![]() |
| salome. |
Selesai makan, maka selesai sudah perjalanan ke Kampung Kang Bejo. Sebenarnya ini perjalanan yang mengalir saja, karena perkampungan ini bisa dilewati kapan pun. Harapannya, Kang Bejo tetap lestari sebagai kampung wisata yang ramah dan alami, juga semakin berani berinovasi. Baik dari sisi produk, pengelolaan, maupun cerita yang dibagikan. Semoga wisata dan produk olahannya makin disukai dan terkenal hingga ke luar kota.
catatatan:
Cerita dan dokumentasi di atas adalah tahun 2022 dan awal 2025. Perubahan bisa terjadi setelahnya.
***
Tags
#Traveling
alam
Balikpapan
eduwisata
Gardening
hijau
kampung
kangkung
kangkung-sumberejo
Lingkungan
pangan
perjalanan
sayur
Traveling
wisata









