Showing posts with label wisata. Show all posts
Showing posts with label wisata. Show all posts
, , , , ,

Celoteh Potensi dan Wisata Alam di Hari Jadi Kota Balikpapan ke-124

Wisata Alam di Balikpapan

Segara

Malam mulai melemparkan senja yang sedari tadi telah memikat manusia. Lintas generasi duduk mengamini keindahan senja di garis pantai kota sembari menenteng kamera, atau mencelupkan salome ke sausnya yang pekat. Membiarkan diri terbius cakrawala adalah kesadaran bahwa manusia bukan satu-satunya keindahan di muka bumi. Sayup-sayup kumandang azan menarik massa ke dalam masjid legendaris kota untuk menjawab syukur pada Pencipta senja, hingga malam benar-benar mengambil alih dan orang-orang datang kembali beserta keluarga mencicipi kuliner di tepi segara. Suara tawa bocah terbawa sejuknya malam, hingga lautan berubah lebih gelap, membiarkan rembulan membentuk mangatanya. Penghuni kota bahagia namanya, menikmati bahagianya yang sederhana. Sayang, tahun 2021 ini, tepat Hari Jadi Kota Balikpapan ke-124 telah mengukirkan kisah yang berbeda. Penghuni kota ini harus menunda keramaian dan berkumpul demi masa depan kota yang bergelar The World's Most Loveable City pada tahun 2015.

Jenggala

Para bekantan menyasar dahan, menyapu keheningan yang tersisa. Pada masanya, manusia pernah meranggas rumah mereka dan mereka balik menjejak di permukiman warga. Tak ada yang aneh dengan itu. Ini hanyalah konsekuensi magis dari alam yang tak harmonis, hingga rumah-rumah para bekantan yang disebut sebagai ekosistem mangrove itu dikembalikan. Sejatinya mangrove adalah rumah bagi satwa, sahabat bagi nelayan, mangrove adalah prajurit, ksatria dengan kaki-kakinya yang tangguh menjaga wilayah pesisir dari mara bahaya. Di sekitar kaki-kaki mangrove pula, hidup timpakul* bergelut di lumpur, penanda baiknya lingkungan yang subur.


CERITA LAWAS PESONA ALAM BALIKPAPAN

Kai (kakek, bhs. Banjar) dan Nenek pernah bercerita bahwa mulanya Balikpapan adalah hamparan hutan. Seandainya saja konsesi Mathilda tidak ada, mungkin tidak ada Kota Balikpapan hingga hari ini. Mungkin. Sambil menunjuk lokasi-lokasi yang pernah menjadi hutan, Nenek dan Kai yang pernah berlarian demi menghindari serangan bom Sekutu dan Jepang membuat saya yang masih kecil hening terpukau membayangkan kisah mereka. Beruntung di masa kecil, kami tinggal berdekatan dengan RSUD Balikpapan yang karena peralihan, kini dikenal sebagai eks. Puskib. Setidaknya masih banyak pohon cemara di sekitarnya, dan hutan kecil tempat saya memutus jalan.

Di tempat lain pun sama, masih banyak hutan di kota kala itu dan rawa yang belum tertutup tanah. Hutan yang mengizinkan saya memetik karamunting yang ranum, buah ungu manis mungil yang kini telah terkikis zaman. Belubut yang ternyata masih sepupu dengan buah markisa, dan ciplukan yang kini naik kelas sangat mudah saya temukan di masa itu. Pulang ke rumah membawa buah adalah berkah. Elok, indah dan pernah tersesat adalah kenangan masa kecil tentang hutan.

Hari Jadi Kota Balikpapan ke-124 dan Bincang Wisata
Karamunting di Hutan Kota Balikpapan

Lain kenangan hutan, lain pula tentang lautan. Wisata pantai yang saya tahu pada tahun 80-an hingga 90-an adalah Pantai Manggar dan Monumen Balikpapan. Minggu dan hari libur menjadi momen menyenangkan bagi kami yang masih bocah. Meski hanya secuil memori tentang lautan karena tidak tinggal dekat dengannya, saya masih bisa ingat duduk-duduk di dermaga Kampung Baru atau menanti kapal bersandar di Somber tuk membawa diri ke Penajam (dulu masih menjadi bagian Balikpapan) adalah seni menyelami alam.


Lalu, apa kabar wisata alam Balikpapan hari ini?

MENJENGUK PERKEMBANGAN
WISATA ALAM BALIKPAPAN

Pembangunan Balikpapan menjadi kota yang segar, terawat, layak huni dan layak investor membuat kota ini semakin maju dengan gedung-gedungnya, hotel dan mall. Meski banyak hutan yang telah beralih fungsi, Pemkot Balikpapan memberikan jaminan atas 52% wilayah kotanya akan tetap menjadi ruang hijau dan tidak akan ada konsesi batu bara meski batu bara berkualitas baik ditemukan. Hal yang patut diapresiasi dan didukung.

Dari tahun ke tahun wisata di Balikpapan sebenarnya makin menjamur dan membaik. Tengok saja Mangrove Center di Graha Indah, yang sebagiannya sempat menjadi kawasan banjir dan terjangan angin. Derita lama itu kini berubah menjadi cerita penghargaan demi penghargaan di mana kawasannya menjadi ekowisata yang banyak dikunjungi turis lokal hingga mancanegara.
Bincang Wisata di Hari Jadi Kota Balikpapan ke 124
menelusuri kawasan mangrove dari Mangrove Center Balikpapan 

Kebun Raya Balikpapan juga punya cerita menarik. Kawasan konservasi sekaligus eduwisata dengan luas 309,8 Ha beberapa waktu lalu memamerkan koleksi bunga bangkainya. Sungguh momen langka saat menyaksikan mekarnya amorphophallus paeoniifolius yang hanya beberapa hari saja, yang sebelumnya hanya bisa disaksikan di layar atau harus berkunjung ke daerah tertentu dulu. Lebih dari itu, Kebun Raya Balikpapan telah menjadi wisata hutan unggulan di Balikpapan, berkat cakupan wilayahnya, keanekaragaman hayati, kedekatannya dengan waduk, dan paket lengkap belajar dan berpetualang.
Enggang dan nepenthes menjadi penyambut di gerbang masuk Kebun Raya Balikpapan


Bincang Wisata di Hari Jadi Kota Balikpapan ke-124
salah satu area di Kebun Raya Balikpapan yang menarik banyak minat pengunjung

Bincang Wisata di Hari Jadi Kota Balikpapan ke-124
bunga bangkai di Kebun Raya Balikpapan yang telah mekar beberapa hari.
Meski demikian tetap menawan

Masih seputar kawasan Karang Joang, terdapat pula kawasan Hutan Lindung Sungai Wain. Hutan primer ini juga menjadi rumah bagi hewan dan tanaman endemik. Begitu banyak perubahan pengelolaan wisata alam dari sekian puluh tahun dan ini patut diacungi jempol. Pengelolaan yang tidak hanya menjamah keinginan pengunjung, namun juga mampu menjaga kebutuhan lingkungan layaknya kebersihan, kelestarian, kealamian. Sekali lagi, masih banyak kawasan hutan yang menjadi topik wisata di Balikpapan yang semestinya bisa menjadi khazanah pengetahuan khususnya bagi warga Kota Balikpapan. 


Bagaimana dengan kawasan wisata perairan di Balikpapan?

Tidak lengkap rasanya tanpa membincangkan Pantai Manggar Segarasari. Sebagai sosok yang sedari kecil berkunjung ke Pantai Manggar, amat terasa perubahan tempat ini, yang telah menjadi lebih bersih, lebih sehat, terjaga dan makin erat membantu perekonomian warga sekitarnya. Sepanjang garis pantai itu dapat pula ditemukan wisata-wisata pantai lain: Pantai Lamaru, Pantai Teritip dan berbelok arah ada Pantai Seraya, Pantai Kemala, serta kawasan Melawai. Mampir ke Jembatan Ulin Kariangau untuk menikmati lautan juga tak kalah elok. Rasa-rasanya mampu mendendangkan hati yang resah.
Bincang Wisata di Hari Jadi Kota Balikpapan ke-124
lebih bersih, tertata.

Bincang Wisata di Hari Jadi Kota Balikpapan ke-124
pantai lain di Balikpapan yang tak kalah menawan

Waduk Manggar yang bersisian dengan kawasan hutan pun tak kalah rupawan. Tidak berlebihan kiranya jika menyebut gema alamnya, mampu melerai batin yang kusut. Bendungan Teritip yang juga disiapkan sebagai tempat wisata teranyar yang menggabungkan alam dan buatan kiranya bisa menjadi wisata perairan yang mengasyikkan.
Bincang Wisata di Hari Jadi Kota Balikpapan ke-124
waduk manggar

MENGGALI POTENSI
PERMATA TERSEMBUNYI

Bukan hal baru bila orang luar bertanya tentang wisata Balikpapan dan muncul anggapan bahwa wisata Balikpapan bersifat ‘itu-itu saja’. Mendefinisikan dan mengimajinasikan wisata bisa berbeda pada tiap orang. Saya bersyukur menjadi bagian kehidupan Balikpapan yang dilimpahi rasa syukur. Biar kata ada pendapat ‘wisatanya itu-itu saja’, kami adalah orang-orang yang bahagia menikmati wisata di kota kami. Ungkapan ‘bahagia itu sederhana’ saya kira nyata adanya.

“Nggak ada air terjun di sini ? Gunung-gunung?” tanya si pendatang.

“Oh, kami punya banyak gunung di sini. Ada Gunung Sari, Gunung Malang, Gunung Pasir, Gunung Guntur, Gunung Komendur, Gunung Kawi, Gunung Tembak, Gunung Belah, Gunung Samarinda dan masih banyak lagi yang kesemuanya kami abadikan dalam nama jalan dan kelurahan. Anda mau ke mana?” jawab orang setempat berkelakar.

Semenjak ditemukan minyak yang menjadi penanda hari jadi Kota Balikpapan, banyak yang percaya bahwa masih banyak potensi kekayaan di kota ini, baik yang sudah digali namun belum mengumandang, atau yang masih tersembunyi. Kini, kita menyebutnya the hidden gems, mengacu pada potensi wisata yang belum banyak terjamah dan terkenal.

Hari Jadi Kota Balikpapan ke-124
permata tersembunyi, mungkin masih tersimpan di tempat sunyi.

Sebut saja etlingera balikpapanensis alias jahe Balikpapan yang hidup di Hutan Lindung Sungai Wain yang sampai sekarang masih bersembunyi untuk dikenal luas. Jahe raksasa yang menjadi tanaman endemik ini masih diteliti untuk diketahui manfaatnya lebih banyak lagi selain anti kanker, anti diabetes, anti inflamasi. Penelitiannya juga mencakup kemampuan rimpang besar ini sebagai penangkal virus yang namanya tersohor di masa pandemi. Namun, berapa banyak warga Balikpapan yang tahu jenis jahe yang tergolong tanaman endemik ini? Benar, selain karena masih adanya penelitian, gaungnya pun belum merakyat. Sampai sekarang, menelusuri berita tentang jahe Balikpapan di situs-situs lokal, masih kalah tenar namanya dari penjual jamu jahe.
Bincang Wisata di Hari Jadi Balikpapan ke-124
jahe Balikpapan dan sumber informasi yang masih minim.
sumber foto : https://kaltim.idntimes.com

Anda tahu kangkung ? Ah, pertanyaan apa ini. Tentu saja Anda sudah tahu kangkung. Tapi, masih banyak orang berpikir bahwa jenis tanaman ramah air yang mudah tumbuh liar ini hanya sayur biasa, kalah kelas dibanding selada. Pikiran ini bisa berubah jika bicara kangkung di Pulau Lombok (NTB). Kangkungnya yang istimewa membuat banyak turis pulang membawa oleh-oleh kangkung.

Apakah di Balikpapan tidak ada kangkung? Kalau Anda rajin berbelanja sayur baik di pasar atau di penjual berkendara, rata-rata penjual sayur akan berkata kalau kangkung air Sumber Rejo berkualitas baik, dan biasanya bisa lebih mahal dari kangkung selain hidroponik. Berdasarkan pengalaman saya, kangkung sumber rejo terlihat lebih mulus, hijau dan segar. Dinamakan kangkung sumber rejo karena berasal dari kawasan Sumber Rejo, yang awalnya hanya lahan kangkung segar, kini menjadi destinasi wisata bernama Kampung Kangkung Kang Bejo, wisata alam berbasis ekowisata dan eduwisata yang makin berkembang.
Bincang Wisata di Hari Jadi Kota Balikpapan ke-124
Kampung Kangkung Kang Bejo
sumber foto : https://kaltim.tribunnews.com/

Dari kangkung kita ke Kampung Nelayan Berdasi di Kariangau yang juga tak kalah apik. Berpetualang mencari ikan segar makin asyik bertemu dengan bangau dan bekantan, bila beruntung. DI tempat ini, menyaksikan ikan nila dan ikan julung-julung berenang bersama bukan hal aneh. Adanya rumah apung membuat naluri ingin tahu bagaimana melayang di air makin besar, apalagi kalau kita bukan tergolong yang pernah berkendara di atas air. Meski kawasan Balikpapan banyak terdiri dari perairan, namun wisata apung masih dipertanyakan. Bahkan beberapa pengunjung dari Kampung Baru datang ke tempat ini tidak dengan angkot atau kendaraan darat, melainkan dengan kapal. Tidak banyak warga Balikpapan yang tahu rasanya keliling Balikpapan dengan kapal.

Bincang Wisata di Hari Jadi Kota Balikpapan ke-124
gazebo dan 'rumah' apung di Kampung Nelayan Berdasi

Sebenarnya masih banyak hidden gems yang bersentuhan dengan alam yang mungkin bisa ditambahkan dalam tulisan ini. Beberapa tahun lalu, ketika berolahraga pagi, saya menemukan pemandangan yang belum pernah saya temukan di Balikpapan, yakni hamparan sawah yang begitu luas. Kini, sawah di bebukitan itu berubah menjadi ladang ketela. Saya pikir, mungkin saja saya kurang berjalan-jalan keliling Balikpapan, sehingga pemandangan sawah menjadi momen langka. Namun, sawah ini bukan area wisata. Saya kira, setiap area pertanian dan perkebunan yang memiliki daya tarik wisata dan ingin dijadikan destinasi wisata perlu dipertimbangankan aspek lingkungan, sosial dan juga budaya yang menyertainya agar tidak rusak. Jangan sampai tanaman jadi stres karena adanya pengunjung. Hanya ingin menggarisbawahi, bahwa tanah Balikpapan sebenarnya punya potensi yang baik untuk tumbuh subur. Sementara untuk mengembangkan menjadi destinasi wisata, bisa dilakukan dengan membuat eduwisata alam tematik atau wisata alam berbasis smart-green-concept. Mungkin selain Kampung Kangkung Kang Bejo, akan ada kampung-kampung sayur mayur dan tanaman lainnya.

sawah di bebukitan. Cantik ya.


HARI JADI KOTA BALIKPAPAN KE-124
DAN PERAN SERTA WARGA UNTUK MASA DEPAN WISATA

Ketika berada di luar kota, saya melihat billboard memampang ajakan kunjungan ke sebuah tempat wisata. Tidak hanya sekali, ternyata praktik promosi tempat wisata secara besar-besaran ini beberapa kali saya temukan di luar daerah. Bagi traveller seperti saya, iklan semacam ini sangat membantu, sehingga saya tahu apa yang benar-benar sedang hits di daerah tersebut. Bagi warga setempat yang sedang tidak berwisata, bentuk promosi ini akan cukup memberi tanda di ingatan, apa yang kesohor di daerah mereka.

Ketika bunga bangkai mekar di Kebun Raya Balikpapan (KRB), saya tidak mengetahuinya dari banyak orang, kebetulan saja saya memfollow akun instagram KRB. Media sosial dan internet telah memberi banyak dampak baik pada hari ini. Namun, tentu tidak banyak yang mengikuti akun-akun tempat wisata di Balikpapan. Karena itu masih dibutuhkan peran warga kota yang lain hingga mampu menyasar ke lapisan masyarakat yang lain. 

Teman-teman, keluarga, tetangga, kebanyakan akan menjawab pantai ketika ditanya apa saja wisata alam di Balikpapan, dan rata-rata mereka akan menjawab minyak, ketika ditanya apa saja kekayaan alam di Balikpapan. Artinya masih diperlukan sosialisasi serta mengolaborasikan karsa dari berbagai pihak agar warga kota mampu melihat dan turut mengembangkan wisata dan potensi alam di Balikpapan. 

Di abad kreatif saat ini, peran dan dukungan warga untuk mengembangkan potensi wisata khususnya yang bersentuhan dengan alam bisa dilakukan dengan kreativitas. Tahun ini pemerintah telah menyusun masterplan Ekonomi Kreatif ( Ekraf Balikpapan ) yang diusulkan melalui anggaran Kemenparekraf RI. Apakah seni dan kreativitas bisa menyentuh sektor wisata? Tentu bisa. Tujuh belas (17) subsektor yang kini ada bisa dikembangkan hingga menyentuh level pariwisata. Sebagai warga kota, kita juga bisa menjadi relawan Ekraf Balikpapan yang untuk saat ini bisa bergabung ke official akun instagram di @ekrafbalikpapan sembari menyimak info-info berharga.
HUT Balikpapan ke-124
Banyak nilai yang didapat dari berkembangnya wisata khususnya wisata alam dan potensi kekayaannya, mulai dari kelestarian keanekaragaman hayatinya, kesadaran pangan hingga tumbuhnya perekonomian warga.

Tahun ini bertepatan dengan HUT Kota Balikpapan ke-124 ( sejak 10 Februari 1897 hingga 10 Februari 2021)Bila manusia, rasanya sudah dicap renta. Saya kira tidak dengan Balikpapan. Kota ini masih segar bugar, masih kuat melangkah. Saya bangga menjadi bagian dari kota ini. Menumbuhkan perasaan bangga adalah mindset yang mestinya dibangun sejak dini. Kebanggaan juga mampu menumbuhkan kesadaran bahwa warga Balikpapan punya peran penting membangun dan menjaga kelestarian alamnya. Pandemi mengajarkan manusia untuk hidup selaras dan berdampingan dengan alam. Wisata alam maupun wisata alam buatan bagi saya adalah salah satu gerbang untuk mengenalkan manusia dengan alam dan membangun kesadaran ekologis. 

Hari jadi Kota Balikpapan ke-124 menjadi pengingat buat saya untuk selalu bangga berada di kota dengan kekayaan alamnya. Semoga masa depan Balikpapan dan alamnya terus terjaga.

***

Catatan :
*timpakul = bahasa setempat untuk ikan bermata kodok, yang hidup di perairan lumpur atau dangkal.
KBBI = tembakul

Sumber dan bahan bacaan :
http://web.balikpapan.go.id/berita/read/5741
https://nomorsatukaltim.com/2021/02/02/optimalkan-ekonomi-kreatif-tahun-ini-balikpapan-susun-masterplan/
https://kaltim.idntimes.com/news/kaltim/muhammad-haikal-2/jahe-balikpapan-diteliti-untuk-jadi-obat-penangkal-virus-corona

lomba HUT Balikpapan ke-124


Share:
Read More