Showing posts with label wisata. Show all posts
Showing posts with label wisata. Show all posts
, , , ,

[Surat Untuk Masa Depan] : Adopsi Pohon Buktikan Cinta Untuk Bumi

Waktunya Bertanya Mengapa ?

Benakku dipenuhi gelombang pertanyaan. Bagaimana bisa aku menulis surat untukmu yang juga adalah aku? Apa gunanya aku menuliskan surat untukku?

Lamunanku buyar saat teringat dulu aku juga pernah membuat tulisan untuk diriku, di buku harian dan di surat-surat. Bukan karena tidak ada kawan yang menyurati. Surat dan tulisan yang kubuat untuk diriku adalah penyemangat, pengingat, sentilan. Memori yang bercakap-cakap di masa depan dari masa lalu. Aku pernah nyengir saat membacanya kembali. Aku pernah tersipu malu. Pernah bersedih dan terdiam. Aku juga pernah merenungkan banyak hal saat membacanya kembali, dan kembali menyuarakan yang hilang.

Benar, saat membacanya, banyak hal terlupakan. Sekarang aku paham mengapa aku butuh menuliskan surat-surat untuk masa depan.

Aku yang hari ini, ingin aku tetap melakukan sesuatu di masa depan.

Untuk Kehidupan yang Lebih Lama ?

Wahai aku.

Aku ingin menuliskan padamu kisah di 50 tahun mendatang. Tentu aku tidak tahu apa masih hidup saat membacanya kelak. Elemen kesombongan jelas bukan di tanganku. Tetapi, aku ingin kamu (wahai aku) bisa membacanya sesering mungkin, dengan perasaan yang lebih dalam dan amanat yang lebih kuat.

Bukankah, sebagai manusia kita ingin hidup lebih lama? Maksudku, kita tidak bisa memaknai ‘hidup lebih lama’ sama dengan badaniyah yang bertahan abadi. Itu adalah bentuk kebodohan termasyhur sepanjang masa yang digunakan tokoh-tokoh villain.

Banyak cara agar hidupmu lebih lama. Menjadi manusia bermanfaat, dikenang dan diteladani adalah cara bijak untuk menjadikan hidupmu lebih lama. Itu yang terbaik.

Sekarang, wahai aku…

Bacalah surat ini dengan perasaan yang bergairah. Ini adalah pemantik hati dan pikiran. Pergilah sejenak ke suatu tempat tenang di bawah pepohonan di mana burung-burung berkicau di pagi hari dan mengambil makan darinya. Duduklah di sana, biarkan hasratmu bergelora hanya untuk surat ini, sesaat saja untuk masa yang lebih lama.

Bismillah.

Sepucuk Surat Cinta
Untukmu yang Mencintai Hutan dan Bumi

Page 1.
Kuatkan Memori : Adalah Hutan, Tempatmu Bertualang

Izinkan aku membawamu pada Minggu yang usang. Di mana kau mengintip dari jendela di bawah kolong ranjang ayah bundamu, sembari bertanya dalam sendunya hati, “mana temanku?” Sepi adalah jawaban. Sepertinya tidak ada yang berkenan bermain pada Minggu yang tenang. Lalu, kau lari memanjat satu-satunya pohon jambu besar di belakang rumah. Membawa buku-buku kesayangan, duduk di atasnya berjam-jam. Syukur kalau ada jambunya. Kalau tidak, tak mengapa. Karena yang kau butuhkan adalah pohon itu. Tempat terbaik melarikan diri. Teman yang setia. Kadang kau mengelusnya tanpa sadar, berjanji dengan sadar akan selalu merawatnya dengan benar, tidak akan membiarkannya patah dan dipotong oleh mereka yang serakah.

Sampai hari naas itu tiba.

Rumahmu terbakar. Pohon itu pun ikut terbakar. Airmatamu deras meluncur, kau lebih sedih kehilangan pohonmu, dibanding memandang kamarmu yang hancur. Setahun kemudian, kau pindah ke sebuah rumah yang membuatmu lebih sering bertemu biawak, berkat hutan mungil terpagar di belakang rumahmu itu. Kau makin sering berburu karamunting, buah hutan yang kini ditelan zaman, berkat ajakan temanmu sepulang sekolah. Pergi ke hutan, bertualang, adalah hari-hari yang kau nantikan.

Sebagai anak Kalimantan, pelan-pelan kau membangun cintamu terhadap hutan dan pepohonan. Terhadap alam yang asri. Alam Sehat Lestari yang alami. Tapi, kau masih kecil. Belum benar-benar paham. Kau hanya tahu bahwa pulaumu dinobatkan sebagai paru-paru dunia. Kau tahu bumi banyak bergantung padanya. Kau tahu berkelana di hutan itu menyenangkan. Itu saja.
Hutan masa kecil
hutan masa kecil

Lalu, kau beranjak dewasa. Rupanya banyak hal yang kau lewatkan. Sewaktu kuliah, pergi bolak-balik dengan bus, berulang kali kau melihat asap tebal di hutan yang kau lewati. Kau pikir itu bagian dari kerja alam. Kau kembali sibuk dengan urusanmu.


Page 2.
Kau Makin Belajar : Tanpa Pepohonan, Kau Bukan Siapa-siapa

Tetapi, aku senang kau tetap menjadi dirimu. Kau masih bergelora saat menyusuri hutan. Belajar menghargai alam dengan tidak mencemarinya, tidak asal membuang sampah dan hanya meninggalkan jejak langkah. Kau beruntung, teman-temanmu punya jiwa yang sama denganmu. Kau beruntung mau belajar banyak dari mereka dan mana saja. Padahal dulunya kau hanya anak kecil yang senang bermain-main di hutan, makan dari tanaman rimba di sana. Belum terpikir bagimu bagaimana menanam pohonnya, bukan? Belum terpikir untuk mengabadikan hutan, bukan? Kau yang dulu hanya tahu bahwa pepohonan berguna bagi manusia untuk menghasilkan oksigen. Dari pohon-pohon itu, kayunya bisa diambil dan dimanfaatkan. Meski kau bersentuhan dengan pohon dan hutan, kau belum benar-benar bisa mengira akan ke mana dunia bergerak kelak, ya kan? Masih tidak tergambar bagimu hidup tanpa hutan di masa depan, benar kan?
tanaman di hutan

Hingga diskusi-diskusimu bersama teman yang sering bertema hutan, lingkungan dan alam membawamu kepada perubahan yang menyenangkan. Sepertinya sinapsismu makin banyak terbentuk. Seakan ada ‘klik’ nyaring di kepalamu.

Kau senang ikut kegiatan lingkungan. Kau gembira dengan ajakan menanam sejuta pohon,. Kau makin akrab dengan tanah dan kau bisa bersedih ketika tidak ada yang memedulikan itu.

pohon tertinggi
tumbuh menjadi manfaat bagi dunia

Kau makin belajar, bahwa tanpa pepohonan kau bukan siapa-siapa. Benar, manusia bisa memanfaatkan pohon untuk kehidupan. Dari pohon lahir kertas-kertas, pakaian, kursi, rumah dan masih banyak lagi.

Tetapi, aku bermaksud mengingatkanmu kalimat ini :

“Sesungguhnya kamu adalah pemimpin di muka bumi.”

Apa ini sudah menamparmu? Itulah manusia, yang ditunjukkan Tuhan sebagai pemimpin di muka bumi. Sebagai pemimpin, kamu punya nilai penting untuk menjaga alam dan bumi ini. Amanat tertinggi di semesta. Kamu tidak boleh merusaknya.

Apa hatimu sudah mulai bergejolak sekarang? Karena aku tahu kau juga tahu, bumi ini beranjak sekarat. Alamnya rusak, pepohonan tumbang, hutan menghilang. Cuaca protes, dan bumi mulai banyak bergerak akibat akar-akarnya terlalu banyak dicabut. Kalau sudah begini apalah artinya nilai kepemimpinan, jika apa yang harus dijaganya terlepas dari tangan.

Aku ingin kamu juga bisa mengingat kembali cerita ini :

“Masa itu kemarau menyuramkan banyak hal. Semua nyaris kering, bahkan hampir ke semangatmu. Setelah penantian panjang, hujan turun amat deras. Kau begitu bahagia, yakin Tuhan mendengar pintamu dan kau bisa mengisi tong-tong airmu. Kemudian, seseorang bergumam, “kata siapa Tuhan menurunkan hujan untuk kita?”

Senyummu perlahan memudar. Kalimat itu masuk ke kepalamu dan susah keluar. Bagaimana kalau itu benar? Atau mungkinkah itu kebenarannya? Jangan-jangan bukan doamulah yang dikabulkan. Jangan-jangan itu doanya para satwa yang kehausan, doa para pohon yang kelelahan tuk tumbuh, rerumputan yang gagal tegak, tanah yang retak. Hanya karena kamu tidak mendengar rintihan mereka, bukan berarti semua itu tidak ada. 

Lalu, kamu beranjak keluar, menatap derasnya hujan dan rumput yang basah. Terpaku di situ. Apa mungkin itu benar? Tanyamu lagi. Bagaimana kalau hujan ini sebenarnya diturunkan untuk alam? dan manusia diminta untuk mengambilnya secukupnya, pikirmu lagi. Menampungnya untuk digunakan bersama, dan bukan mengisi tong-tongmu secara rakus."

Nah, apa kau ingat kejadian itu? Karena setelah itu, kau jadi malu untuk sombong pada alam di sekitarmu. 
Sungguh, kamu bukan siapa-siapa sayang, tanpa alam dan pepohonan itu.


Page 3 :
Keresahan : Kehilangan Demi Kehilangan


Tahun itu dipenuhi asap. Kebakaran hutan melanda sebagian negeri ini, termasuk tempatmu berada. Di sebagian daerah, pekatnya minta ampun. Tak lagi mampu mata menatap. Kepayahan akhirnya juga kau rasakan. Kau dan si kecil berjuang #melawanasap. Masker tebal masih bisa kau pakai, tapi tidak dia yang masih bayi. Pintu rumahmu lebih sering tertutup. Celah-celahnya kau jejali dengan kain basah, meski baunya masih terendus.

Kau tahu hutanmu terbakar. Kau marah, kecewa.
Tetapi, aku senang itu tidak menyebabkan kau putus harapan.
Tahu berganti dan kau melihat banyak hal.
kabut asap kalimantan
dikepung asap

Di kawasan lain di kotamu, ada cerita tentang hutan yang dibabat. Diambil untuk keperluan warga. Sayangnya, mereka tidak menanamnya kembali. Maka, berantakanlah segenap isinya. Satwa menyerang pemukiman. Orang-orang marah dengan satwa. Lupa, kalau merekalah yang menghilangkan rumah dan makanannya. Banjir menerjang rumah-rumah warga. Lupa, kalau pohon-pohon yang menjadi penghalang bencana telah mereka rampas.
banjir
banjir menuju rumah-rumah
doc. pribadi

Cerita ini membuat kita menyadari betapa penting hidup selaras dengan hutan.

Apa kau masih ingat alat-alat berat yang menghabisi hutan ?
Kau tertegun, menyaksikan betapa cepat pohon-pohon yang hidup bertahun-tahun tercerabut hingga akarnya hanya dalam hitungan jam. 

Kau bukan pemilik pohon-pohon itu, tapi kau merasa kehilangan.
excavator
kehilangan : siap ditumbangkan

Kita masih kehilangan lagi pohon-pohon itu dengan banyaknya penambangan dan pepohonannya tak dikembalikan. Lubang-lubang yang terlihat indah penanda pernah terangkatnya akar.
bekas tambang



Page 4 :
Bumiku, 50 Tahun Kemudian


Apa yang terjadi pada Bumi (lihat, aku sampai memilih huruf kapital untuk menghargainya) setelah surat ini meluncur untuk dibaca ? Jelas aku tidak tahu persisnya.

Tetapi, aku tahu Jika tidak ada reboisasi dan reforestasi, dalam 50 tahun kita akan kehilangan hutan kita. Juga planet ini. Selamatkan! Selamatkan dengan banyak menanam pohon satu, dua, dan lebih banyak lagi.

Ada banyak cara menjaga bumi. Tetapi, aku ingin bercerita tentang hutan di surat ini.

Menurut National Geographic, permukaan bumi tertutup hutan sebanyak 30%-nya. Di negeri ini, luas lahan berhutan 50,1 % dari total luas daratannya (2019). Meski kagum karena luas sekali, data ini adalah data yang cukup baru. Artinya, tetap ada hutan yang hilang, karena dulu kawasan hutan lebih luas. Kau bisa melihat data dari KLHK tentang perbandingan hutan dan non hutan di Pulau Kalimantan yang aku muat ini.

Hutan yang di dalamnya pepohonan dan satwa punya peran penting untuk bumi ini. Mereka juga pejuang-pejuang untuk keberlangsungan bumi ini, selain gunung dan perairan.

Jangan sepelekan! Hutan bisa menghasilkan oksigen untuk bumi ini, yang akan sukar kau temukan di planet lain. Dengan adanya hutan, hujan tak menyebabkan banjir dan sungai tak perlu meluap berlebihan. Hutan menghasilkan makanan untuk hewan juga makanan untuk manusia, obat-obatan, hingga perabotan. Hutan adalah rumah bagi para satwa, sehingga mereka tak perlu mampir ke rumahmu mencari makan. Hutan juga menghasilkan air dan menjaganya agar tetap tersedia. Pohon-pohonnya membuat hati dan pikiranmu tenang. Sungguh, ketenangan itu dibutuhkan manusia, jika manusia menyadarinya.
hutan tropis
sungguh, amat banyak manfaat hutan. Apa yang kau tahu, mungkin akan  terus bertambah

Hutan bisa mencegah perubahan iklim.
Krisis iklim bisa menyebabkan banyak hal : krisis kelaparan, krisis ekonomi, dan kerusakan bumi.
Semua ini adalah siklus. Lingkaran kesatuan. Jika lingkarannya diputus, terputus pula yang lain.

Tidak ada yang tahu dengan tepat apa yang terjadi 50 tahun kemudian. Tapi, kita bisa memprediksinya dari sekarang, dari apa yang terjadi pada hari ini, dan pernah terjadi di masa lalu. Dengan data dan pengalaman, perencanaan bisa dibuat sejak dini.

Bumi akan membaik, jika kita mulai perbaikan sejak sekarang.
Perbanyaklah menanam pohon. Perbanyaklah jenis pepohonan. Sekarang !


Page 5 :
Adopsi Pohon dan Adopsi Bibit Pohon Untuk Bumi Lebih Baik

Sayang,

Apa di sekitar rumahmu masih ada hutan seperti waktu dulu? Aku harap masih. Agar kamu bisa berkelana seperti dulu. Penting bagimu untuk menghirup udara bersih di hari tua. Semoga kakimu masih kuat berkelana. Tapi, kamu juga pernah menyaksikan kehilangan pepohonan itu bukan? Karena pohon-pohon itu tidak berdiri di atas tanahmu. Tidak semua pohon bisa kau tanam di atas tanahmu bukan?

Sayang,

Sepanjang usia tentu banyak yang tidak bisa aku lakukan. Aku ingin menanam pohon lebih banyak. Tetapi, aku tahu sebuah pohon memerlukan tempat untuk tegak. Aku tidak yakin punya banyak tempat untuk pohon-pohon yang ingin kutanam.

Tetapi, sayang.

Tekad adalah kekuatan hidup. Kita berenergi saat kita menjadi bermanfaat bagi yang lain, termasuk bagi alam. Hari tuaku akan berguna jika aku telah melakukan sesuatu untuk bumi ini. Apa yang aku hadapi bisa menjadi masalah, jika aku lemah. Apa yang kuhadapi akan terus menjadi persoalan, jika akal tidak digunakan.

Jika aku tidak bisa menanam pohon di lahan yang tak kumiliki, aku masih bisa Adopsi Pohon dan Adopsi Bibit Pohon.

tanam terus
mengadopsi pohon, menanam kembali

Jika aku ingin menanam pohon yang jenisnya tak ditemukan tanganku, aku bisa adopsi pohon dan adopsi bibit pohon.

Jika aku ingin menanam pohon di tempat yang tak terjangkau langkahku, aku bisa adopsi pohon dan adopsi bibit pohon.

Jika aku sangat ingin bumi dipenuhi lebih banyak pepohonan di masa depan, aku akan adopsi pohon dan adopsi bibit pohon.

Adopsi pohon dan mengadopsi bibit pohon adalah cara untuk menghijaukan bumi di masa depan. Meninggalkan udara bersih untuk semua makluk hidup.


Adopsi Bibit adalah sebuah cara untuk berpartisipasi dalam program reforestasi melalui dukungan untuk membeli bibit pohon asli Kalimantan, penanaman dan pemeliharaan hingga dua tahun.
Dengan banyaknya bibit pohon yang ditebar, kita mengharapkan agar hutan yang terdegradasi bisa kembali hijau dan memberikan manfaat kepada kita, satwa dan planet ini.
(ASRI)


Page 6 :
Alam Sehat Lestari, Untuk Kelangsungan Bumi

Oya, apa kau masih duduk di dekat pohon sembari membaca surat ini?
Sekarang tengoklah pohon itu. Seberapa tua kah dirinya ? Pohon itu tidak bisa tumbuh dalam sehari saja. Apa kau tahu spesies pohon apa dia?

Banyak spesies pohon di dunia ini. Kita mesti menjaganya agar tidak menghilang. Hutan tropis di muka bumi adalah rumah bagi 40.000 hingga 53.000 spesies pohon, yang sebagiannya endemik. Setidaknya begitulah jumlah yang diperkirakan oleh para peneliti.

Manfaatnya pun terbagi-bagi, ada pohon buah, ada pohon kayu, ada pohon peneduh, pohon bunga, dan masih banyak lagi.

Kita ingin bumi ini asri bukan? ASRI adalah Alam Sehat Lestari, yayasan yang telah hadir sejak 2007 di Kalimantan Barat dan sejak 2009 telah aktif bekerjasama dengan Balai Taman Nasional Gunung Palung. ASRI pun telah melakukan pelbagai kegiatan kesehatan, konservasi hutan, dari reboisasi, reforestasi, memantau deforestasi, bahu membahu bersama Sahabat Hutan, juga pelatihan pemadaman kebakaran hutan. Lebih dari 220.000 pohon telah ditanam. Alam Sehat Lestari atau ASRI juga telah mendapatkan banyak penghargaan, Kalpataru adalah satu diantaranya. Lewat ASRI, adopter sepertiku bisa memilih jenis pohon di ASRI, baik pohon buah dan pohon kayu keras.
reboisasi oleh ASRI
sumber : alamsehatlestari.org

Mengadopsi bibit pohon dan adopsi pohon lewat ASRI adalah dukungan untuk bersama-sama menghijaukan bumi dan untuk keberlangsungan bumi. Aku ingin di masa mendatang tetap erat menjalin kemesraan dengan alam, yang asri, yang sehat lestari. Karena itu, aku mengadopsi pohon lewat program ASRI. 



Page 7 :
Percaya Untuk Bumi yang Asri, Sehat dan Lestari

Hai diriku di masa depan.
Atau siapa pun yang telah membaca surat ini di masa mendatang.

Menghijaukan bumi tak cukup hanya sendiri. Merawat bumi tak cukup hanya satu masa. Aku dan kamu, mari kita bergerak bersama seterusnya untuk bumi ini. Kita mencintai bumi ini, maka wajib menjaganya.

Mari buktikan cinta bumi dengan penghijauan. Satu, dua, tiga pohon dan seterusnya.
hutan tropis
Bumi 50 tahun mendatang : tetap ada hutan

Pohon yang aku tanam di saat aku menulis surat ini akan tumbuh di masa mendatang saat surat ini dibaca. Pohon yang kamu tanam di masa mendatang, akan tumbuh di masa setelahnya. Bumiku 50 tahun kemudian akan berisi pohon yang kutanam, dan bumiku 100 tahun kemudian akan menghadirkan pohon-pohon yang kita tanam.

Mari kita mewarisi bumi hal-hal baik. Mari mengadopsi pohon dan bibit pohon.
***


----------------------------------------------

sumber tulisan dan bahan bacaan :
https://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2015/08/150825_indonesia_kebakaranhutan
https://forestsnews.cifor.org/31502/menghitung-pohon-di-bumi-143-ilmuwan-menemukan-jumlahnya
http://ppid.menlhk.go.id/siaran_pers/browse/2435
https://alamsehatlestari.org/
Share:
Read More
, , , , ,

Celoteh Potensi dan Wisata Alam di Hari Jadi Kota Balikpapan ke-124

Wisata Alam di Balikpapan

Segara

Malam mulai melemparkan senja yang sedari tadi telah memikat manusia. Lintas generasi duduk mengamini keindahan senja di garis pantai kota sembari menenteng kamera, atau mencelupkan salome ke sausnya yang pekat. Membiarkan diri terbius cakrawala adalah kesadaran bahwa manusia bukan satu-satunya keindahan di muka bumi. Sayup-sayup kumandang azan menarik massa ke dalam masjid legendaris kota untuk menjawab syukur pada Pencipta senja, hingga malam benar-benar mengambil alih dan orang-orang datang kembali beserta keluarga mencicipi kuliner di tepi segara. Suara tawa bocah terbawa sejuknya malam, hingga lautan berubah lebih gelap, membiarkan rembulan membentuk mangatanya. Penghuni kota bahagia namanya, menikmati bahagianya yang sederhana. Sayang, tahun 2021 ini, tepat Hari Jadi Kota Balikpapan ke-124 telah mengukirkan kisah yang berbeda. Penghuni kota ini harus menunda keramaian dan berkumpul demi masa depan kota yang bergelar The World's Most Loveable City pada tahun 2015.

Jenggala

Para bekantan menyasar dahan, menyapu keheningan yang tersisa. Pada masanya, manusia pernah meranggas rumah mereka dan mereka balik menjejak di permukiman warga. Tak ada yang aneh dengan itu. Ini hanyalah konsekuensi magis dari alam yang tak harmonis, hingga rumah-rumah para bekantan yang disebut sebagai ekosistem mangrove itu dikembalikan. Sejatinya mangrove adalah rumah bagi satwa, sahabat bagi nelayan, mangrove adalah prajurit, ksatria dengan kaki-kakinya yang tangguh menjaga wilayah pesisir dari mara bahaya. Di sekitar kaki-kaki mangrove pula, hidup timpakul* bergelut di lumpur, penanda baiknya lingkungan yang subur.


CERITA LAWAS PESONA ALAM BALIKPAPAN

Kai (kakek, bhs. Banjar) dan Nenek pernah bercerita bahwa mulanya Balikpapan adalah hamparan hutan. Seandainya saja konsesi Mathilda tidak ada, mungkin tidak ada Kota Balikpapan hingga hari ini. Mungkin. Sambil menunjuk lokasi-lokasi yang pernah menjadi hutan, Nenek dan Kai yang pernah berlarian demi menghindari serangan bom Sekutu dan Jepang membuat saya yang masih kecil hening terpukau membayangkan kisah mereka. Beruntung di masa kecil, kami tinggal berdekatan dengan RSUD Balikpapan yang karena peralihan, kini dikenal sebagai eks. Puskib. Setidaknya masih banyak pohon cemara di sekitarnya, dan hutan kecil tempat saya memutus jalan.

Di tempat lain pun sama, masih banyak hutan di kota kala itu dan rawa yang belum tertutup tanah. Hutan yang mengizinkan saya memetik karamunting yang ranum, buah ungu manis mungil yang kini telah terkikis zaman. Belubut yang ternyata masih sepupu dengan buah markisa, dan ciplukan yang kini naik kelas sangat mudah saya temukan di masa itu. Pulang ke rumah membawa buah adalah berkah. Elok, indah dan pernah tersesat adalah kenangan masa kecil tentang hutan.

Hari Jadi Kota Balikpapan ke-124 dan Bincang Wisata
Karamunting di Hutan Kota Balikpapan

Lain kenangan hutan, lain pula tentang lautan. Wisata pantai yang saya tahu pada tahun 80-an hingga 90-an adalah Pantai Manggar dan Monumen Balikpapan. Minggu dan hari libur menjadi momen menyenangkan bagi kami yang masih bocah. Meski hanya secuil memori tentang lautan karena tidak tinggal dekat dengannya, saya masih bisa ingat duduk-duduk di dermaga Kampung Baru atau menanti kapal bersandar di Somber tuk membawa diri ke Penajam (dulu masih menjadi bagian Balikpapan) adalah seni menyelami alam.


Lalu, apa kabar wisata alam Balikpapan hari ini?

MENJENGUK PERKEMBANGAN
WISATA ALAM BALIKPAPAN

Pembangunan Balikpapan menjadi kota yang segar, terawat, layak huni dan layak investor membuat kota ini semakin maju dengan gedung-gedungnya, hotel dan mall. Meski banyak hutan yang telah beralih fungsi, Pemkot Balikpapan memberikan jaminan atas 52% wilayah kotanya akan tetap menjadi ruang hijau dan tidak akan ada konsesi batu bara meski batu bara berkualitas baik ditemukan. Hal yang patut diapresiasi dan didukung.

Dari tahun ke tahun wisata di Balikpapan sebenarnya makin menjamur dan membaik. Tengok saja Mangrove Center di Graha Indah, yang sebagiannya sempat menjadi kawasan banjir dan terjangan angin. Derita lama itu kini berubah menjadi cerita penghargaan demi penghargaan di mana kawasannya menjadi ekowisata yang banyak dikunjungi turis lokal hingga mancanegara.
Bincang Wisata di Hari Jadi Kota Balikpapan ke 124
menelusuri kawasan mangrove dari Mangrove Center Balikpapan 

Kebun Raya Balikpapan juga punya cerita menarik. Kawasan konservasi sekaligus eduwisata dengan luas 309,8 Ha beberapa waktu lalu memamerkan koleksi bunga bangkainya. Sungguh momen langka saat menyaksikan mekarnya amorphophallus paeoniifolius yang hanya beberapa hari saja, yang sebelumnya hanya bisa disaksikan di layar atau harus berkunjung ke daerah tertentu dulu. Lebih dari itu, Kebun Raya Balikpapan telah menjadi wisata hutan unggulan di Balikpapan, berkat cakupan wilayahnya, keanekaragaman hayati, kedekatannya dengan waduk, dan paket lengkap belajar dan berpetualang.
Enggang dan nepenthes menjadi penyambut di gerbang masuk Kebun Raya Balikpapan


Bincang Wisata di Hari Jadi Kota Balikpapan ke-124
salah satu area di Kebun Raya Balikpapan yang menarik banyak minat pengunjung

Bincang Wisata di Hari Jadi Kota Balikpapan ke-124
bunga bangkai di Kebun Raya Balikpapan yang telah mekar beberapa hari.
Meski demikian tetap menawan

Masih seputar kawasan Karang Joang, terdapat pula kawasan Hutan Lindung Sungai Wain. Hutan primer ini juga menjadi rumah bagi hewan dan tanaman endemik. Begitu banyak perubahan pengelolaan wisata alam dari sekian puluh tahun dan ini patut diacungi jempol. Pengelolaan yang tidak hanya menjamah keinginan pengunjung, namun juga mampu menjaga kebutuhan lingkungan layaknya kebersihan, kelestarian, kealamian. Sekali lagi, masih banyak kawasan hutan yang menjadi topik wisata di Balikpapan yang semestinya bisa menjadi khazanah pengetahuan khususnya bagi warga Kota Balikpapan. 


Bagaimana dengan kawasan wisata perairan di Balikpapan?

Tidak lengkap rasanya tanpa membincangkan Pantai Manggar Segarasari. Sebagai sosok yang sedari kecil berkunjung ke Pantai Manggar, amat terasa perubahan tempat ini, yang telah menjadi lebih bersih, lebih sehat, terjaga dan makin erat membantu perekonomian warga sekitarnya. Sepanjang garis pantai itu dapat pula ditemukan wisata-wisata pantai lain: Pantai Lamaru, Pantai Teritip dan berbelok arah ada Pantai Seraya, Pantai Kemala, serta kawasan Melawai. Mampir ke Jembatan Ulin Kariangau untuk menikmati lautan juga tak kalah elok. Rasa-rasanya mampu mendendangkan hati yang resah.
Bincang Wisata di Hari Jadi Kota Balikpapan ke-124
lebih bersih, tertata.

Bincang Wisata di Hari Jadi Kota Balikpapan ke-124
pantai lain di Balikpapan yang tak kalah menawan

Waduk Manggar yang bersisian dengan kawasan hutan pun tak kalah rupawan. Tidak berlebihan kiranya jika menyebut gema alamnya, mampu melerai batin yang kusut. Bendungan Teritip yang juga disiapkan sebagai tempat wisata teranyar yang menggabungkan alam dan buatan kiranya bisa menjadi wisata perairan yang mengasyikkan.
Bincang Wisata di Hari Jadi Kota Balikpapan ke-124
waduk manggar

MENGGALI POTENSI
PERMATA TERSEMBUNYI

Bukan hal baru bila orang luar bertanya tentang wisata Balikpapan dan muncul anggapan bahwa wisata Balikpapan bersifat ‘itu-itu saja’. Mendefinisikan dan mengimajinasikan wisata bisa berbeda pada tiap orang. Saya bersyukur menjadi bagian kehidupan Balikpapan yang dilimpahi rasa syukur. Biar kata ada pendapat ‘wisatanya itu-itu saja’, kami adalah orang-orang yang bahagia menikmati wisata di kota kami. Ungkapan ‘bahagia itu sederhana’ saya kira nyata adanya.

“Nggak ada air terjun di sini ? Gunung-gunung?” tanya si pendatang.

“Oh, kami punya banyak gunung di sini. Ada Gunung Sari, Gunung Malang, Gunung Pasir, Gunung Guntur, Gunung Komendur, Gunung Kawi, Gunung Tembak, Gunung Belah, Gunung Samarinda dan masih banyak lagi yang kesemuanya kami abadikan dalam nama jalan dan kelurahan. Anda mau ke mana?” jawab orang setempat berkelakar.

Semenjak ditemukan minyak yang menjadi penanda hari jadi Kota Balikpapan, banyak yang percaya bahwa masih banyak potensi kekayaan di kota ini, baik yang sudah digali namun belum mengumandang, atau yang masih tersembunyi. Kini, kita menyebutnya the hidden gems, mengacu pada potensi wisata yang belum banyak terjamah dan terkenal.

Hari Jadi Kota Balikpapan ke-124
permata tersembunyi, mungkin masih tersimpan di tempat sunyi.

Sebut saja etlingera balikpapanensis alias jahe Balikpapan yang hidup di Hutan Lindung Sungai Wain yang sampai sekarang masih bersembunyi untuk dikenal luas. Jahe raksasa yang menjadi tanaman endemik ini masih diteliti untuk diketahui manfaatnya lebih banyak lagi selain anti kanker, anti diabetes, anti inflamasi. Penelitiannya juga mencakup kemampuan rimpang besar ini sebagai penangkal virus yang namanya tersohor di masa pandemi. Namun, berapa banyak warga Balikpapan yang tahu jenis jahe yang tergolong tanaman endemik ini? Benar, selain karena masih adanya penelitian, gaungnya pun belum merakyat. Sampai sekarang, menelusuri berita tentang jahe Balikpapan di situs-situs lokal, masih kalah tenar namanya dari penjual jamu jahe.
Bincang Wisata di Hari Jadi Balikpapan ke-124
jahe Balikpapan dan sumber informasi yang masih minim.
sumber foto : https://kaltim.idntimes.com

Anda tahu kangkung ? Ah, pertanyaan apa ini. Tentu saja Anda sudah tahu kangkung. Tapi, masih banyak orang berpikir bahwa jenis tanaman ramah air yang mudah tumbuh liar ini hanya sayur biasa, kalah kelas dibanding selada. Pikiran ini bisa berubah jika bicara kangkung di Pulau Lombok (NTB). Kangkungnya yang istimewa membuat banyak turis pulang membawa oleh-oleh kangkung.

Apakah di Balikpapan tidak ada kangkung? Kalau Anda rajin berbelanja sayur baik di pasar atau di penjual berkendara, rata-rata penjual sayur akan berkata kalau kangkung air Sumber Rejo berkualitas baik, dan biasanya bisa lebih mahal dari kangkung selain hidroponik. Berdasarkan pengalaman saya, kangkung sumber rejo terlihat lebih mulus, hijau dan segar. Dinamakan kangkung sumber rejo karena berasal dari kawasan Sumber Rejo, yang awalnya hanya lahan kangkung segar, kini menjadi destinasi wisata bernama Kampung Kangkung Kang Bejo, wisata alam berbasis ekowisata dan eduwisata yang makin berkembang.
Bincang Wisata di Hari Jadi Kota Balikpapan ke-124
Kampung Kangkung Kang Bejo
sumber foto : https://kaltim.tribunnews.com/

Dari kangkung kita ke Kampung Nelayan Berdasi di Kariangau yang juga tak kalah apik. Berpetualang mencari ikan segar makin asyik bertemu dengan bangau dan bekantan, bila beruntung. DI tempat ini, menyaksikan ikan nila dan ikan julung-julung berenang bersama bukan hal aneh. Adanya rumah apung membuat naluri ingin tahu bagaimana melayang di air makin besar, apalagi kalau kita bukan tergolong yang pernah berkendara di atas air. Meski kawasan Balikpapan banyak terdiri dari perairan, namun wisata apung masih dipertanyakan. Bahkan beberapa pengunjung dari Kampung Baru datang ke tempat ini tidak dengan angkot atau kendaraan darat, melainkan dengan kapal. Tidak banyak warga Balikpapan yang tahu rasanya keliling Balikpapan dengan kapal.

Bincang Wisata di Hari Jadi Kota Balikpapan ke-124
gazebo dan 'rumah' apung di Kampung Nelayan Berdasi

Sebenarnya masih banyak hidden gems yang bersentuhan dengan alam yang mungkin bisa ditambahkan dalam tulisan ini. Beberapa tahun lalu, ketika berolahraga pagi, saya menemukan pemandangan yang belum pernah saya temukan di Balikpapan, yakni hamparan sawah yang begitu luas. Kini, sawah di bebukitan itu berubah menjadi ladang ketela. Saya pikir, mungkin saja saya kurang berjalan-jalan keliling Balikpapan, sehingga pemandangan sawah menjadi momen langka. Namun, sawah ini bukan area wisata. Saya kira, setiap area pertanian dan perkebunan yang memiliki daya tarik wisata dan ingin dijadikan destinasi wisata perlu dipertimbangankan aspek lingkungan, sosial dan juga budaya yang menyertainya agar tidak rusak. Jangan sampai tanaman jadi stres karena adanya pengunjung. Hanya ingin menggarisbawahi, bahwa tanah Balikpapan sebenarnya punya potensi yang baik untuk tumbuh subur. Sementara untuk mengembangkan menjadi destinasi wisata, bisa dilakukan dengan membuat eduwisata alam tematik atau wisata alam berbasis smart-green-concept. Mungkin selain Kampung Kangkung Kang Bejo, akan ada kampung-kampung sayur mayur dan tanaman lainnya.

sawah di bebukitan. Cantik ya.


HARI JADI KOTA BALIKPAPAN KE-124
DAN PERAN SERTA WARGA UNTUK MASA DEPAN WISATA

Ketika berada di luar kota, saya melihat billboard memampang ajakan kunjungan ke sebuah tempat wisata. Tidak hanya sekali, ternyata praktik promosi tempat wisata secara besar-besaran ini beberapa kali saya temukan di luar daerah. Bagi traveller seperti saya, iklan semacam ini sangat membantu, sehingga saya tahu apa yang benar-benar sedang hits di daerah tersebut. Bagi warga setempat yang sedang tidak berwisata, bentuk promosi ini akan cukup memberi tanda di ingatan, apa yang kesohor di daerah mereka.

Ketika bunga bangkai mekar di Kebun Raya Balikpapan (KRB), saya tidak mengetahuinya dari banyak orang, kebetulan saja saya memfollow akun instagram KRB. Media sosial dan internet telah memberi banyak dampak baik pada hari ini. Namun, tentu tidak banyak yang mengikuti akun-akun tempat wisata di Balikpapan. Karena itu masih dibutuhkan peran warga kota yang lain hingga mampu menyasar ke lapisan masyarakat yang lain. 

Teman-teman, keluarga, tetangga, kebanyakan akan menjawab pantai ketika ditanya apa saja wisata alam di Balikpapan, dan rata-rata mereka akan menjawab minyak, ketika ditanya apa saja kekayaan alam di Balikpapan. Artinya masih diperlukan sosialisasi serta mengolaborasikan karsa dari berbagai pihak agar warga kota mampu melihat dan turut mengembangkan wisata dan potensi alam di Balikpapan. 

Di abad kreatif saat ini, peran dan dukungan warga untuk mengembangkan potensi wisata khususnya yang bersentuhan dengan alam bisa dilakukan dengan kreativitas. Tahun ini pemerintah telah menyusun masterplan Ekonomi Kreatif ( Ekraf Balikpapan ) yang diusulkan melalui anggaran Kemenparekraf RI. Apakah seni dan kreativitas bisa menyentuh sektor wisata? Tentu bisa. Tujuh belas (17) subsektor yang kini ada bisa dikembangkan hingga menyentuh level pariwisata. Sebagai warga kota, kita juga bisa menjadi relawan Ekraf Balikpapan yang untuk saat ini bisa bergabung ke official akun instagram di @ekrafbalikpapan sembari menyimak info-info berharga.
HUT Balikpapan ke-124
Banyak nilai yang didapat dari berkembangnya wisata khususnya wisata alam dan potensi kekayaannya, mulai dari kelestarian keanekaragaman hayatinya, kesadaran pangan hingga tumbuhnya perekonomian warga.

Tahun ini bertepatan dengan HUT Kota Balikpapan ke-124 ( sejak 10 Februari 1897 hingga 10 Februari 2021)Bila manusia, rasanya sudah dicap renta. Saya kira tidak dengan Balikpapan. Kota ini masih segar bugar, masih kuat melangkah. Saya bangga menjadi bagian dari kota ini. Menumbuhkan perasaan bangga adalah mindset yang mestinya dibangun sejak dini. Kebanggaan juga mampu menumbuhkan kesadaran bahwa warga Balikpapan punya peran penting membangun dan menjaga kelestarian alamnya. Pandemi mengajarkan manusia untuk hidup selaras dan berdampingan dengan alam. Wisata alam maupun wisata alam buatan bagi saya adalah salah satu gerbang untuk mengenalkan manusia dengan alam dan membangun kesadaran ekologis. 

Hari jadi Kota Balikpapan ke-124 menjadi pengingat buat saya untuk selalu bangga berada di kota dengan kekayaan alamnya. Semoga masa depan Balikpapan dan alamnya terus terjaga.

***

Catatan :
*timpakul = bahasa setempat untuk ikan bermata kodok, yang hidup di perairan lumpur atau dangkal.
KBBI = tembakul

Sumber dan bahan bacaan :
http://web.balikpapan.go.id/berita/read/5741
https://nomorsatukaltim.com/2021/02/02/optimalkan-ekonomi-kreatif-tahun-ini-balikpapan-susun-masterplan/
https://kaltim.idntimes.com/news/kaltim/muhammad-haikal-2/jahe-balikpapan-diteliti-untuk-jadi-obat-penangkal-virus-corona

lomba HUT Balikpapan ke-124


Share:
Read More