Dapur Leluhur: Menyapa Ingatan Lewat Rasa

Dapur Leluhur

Pagi hari di 24 Desember 2025, saya sudah tiba di halte Pasar Klandasan sekitar dua puluh menit sebelum pukul sepuluh.  Rencananya kami akan berbelanja di pasar untuk selanjutnya mengolah makanan bersama. Aktivitas ini merupakan bagian dari kegiatan bernama 'Dapur Leluhur' yang digagas Mas Maulana Yudhistira sang @lelakidapur dan Mbak Revalusya si @mamasayapp

Peserta dibatasi sampai 20 orang saja. Beberapa wajah sudah pernah saya kenal sebelumnya. Beberapa baru saling sapa pada hari itu. Mbak Reva mengarahkan peserta menjadi dua tim. Tepat pukul 10 kami bersiap memasuki pasar. Tim pertama bertugas mencari lauk pauk, sambal, dan bumbu. Tim kedua memilih sayur mayur. Saya berada di tim kedua, bersama kami menyusuri lorong-lorong pasar Klandasan yang telah lama tak saya jejaki, mungkin sejak renovasi. Kelokannya terasa asing meski pernah sangat akrab. Aroma pasar kali ini juga terasa lebih menyenangkan. 

Dapur Leluhur

Kami berbelanja mengikuti daftar yang sudah diberikan. Rasanya seperti acara reality show belanja cepat. Bedanya, tidak ada aktivitas buru-buru, malah inginnya memuaskan penasaran tentang apa saja yang dijual di pasar itu. Prinsip berbelanjanya pun sederhana saja: pilih pangan lokal, bukan produk olahan, dan tak memakai kantong plastik. Setelah menuntaskan daftar belanja, dana masih tersisa beberapa. Kami putuskan untuk membeli buah-buahan, dan telur. Sempat pula kami singgah untuk menyeduh jamu. Berbelanja bersama ternyata menghadirkan kesenangan yang tidak saya dapatkan dalam rutinitas harian saat ke pasar.

Setelah semua bahan dalam daftar terpenuhi, kami kembali berkumpul. Dari Klandasan, rombongan bergerak menuju sebuah kafe Twinz.co di Markoni. Di sinilah seluruh hasil belanja akan diolah hingga tersaji di atas piring.


Mengolah Rasa, Melekatkan Kebersamaan

Di meja panjang Twinz.co Cafe, bahan-bahan dihamparkan. Ada pakcoy, buncis, kecambah, tomat, cabai rawit dan cabai besar, bawang merah dan putih, serai, laos, kunyit, tahu, tempe, telur,  ikan layang, udang, telur ikan biawan, gula merah, terasi, dan daun pisang untuk pepes. Buah salak dan nanas menunggu giliran menjadi penutup. Sembari mengamati hasil belanja yang sudah ada, Mas Yudhis (begitu disapa) juga menyebutkan bahan-bahan yang ia bawa langsung dari Samarinda, di antaranya bawang rambut, limau kuit, dan kecombrang atau kembang jaong, begitu orang Kutai menyebutnya. Kegiatan 'Dapur Leluhur' ini memang dipandu oleh Mas Yudhis, yang sekaligus merancang menu apa saja yang akan dimasak. 

Dapur Leluhur
Maulana Yudhistira @lelakidapur

Setelah mengerti langkah selanjutnya, maka suasana 'dapur' mulai hidup. Tanpa perlu membagi tim lagi, setiap orang secara alami mengambil perannya masing-masing. Ada yang mengupas, mengulek bumbu, memotong, dan membersihkan bahan. Ritme kerja yang berasal dari pengalaman dan kebiasaan berbeda ini menyatu dalam koordinasi yang saling melengkapi.

Menarik, ketika melihat kegiatan memasak bersama ini, membuat ego perlahan mengecil. Proses kolaboratif ini melatih empati dan menghargai kesadaran peran, saat di mana setiap orang membawa pengalaman dapurnya masing-masing. Memasak bukan lagi sekadar menghadirkan rasa enak belaka. Ada proses belajar yang melibatkan tubuh, pikiran, dan kerja sama.

Mengolah bahan mentah menjadi makanan siap santap juga memberi pemahaman yang lebih utuh tentang rantai pangan. Setiap bahan punya perjalanan panjang: dimulai dari tanah, dirawat petani, dipanen, dibawa ke pasar, dipilih, dibersihkan, diracik, diproses, lalu disajikan. Kesadaran akan rantai ini membuat kita lebih menghargai pangan, sekaligus memahami mengapa pemborosan makanan berdampak besar pada lingkungan.

Dapur Leluhur

Dapur Leluhur
dok: Dapur Leluhur


Secara ilmiah, memasak juga menuntut kecakapan teknis. Bagaimana menyalakan api dan menjaganya stabil karena suhu memengaruhi tekstur, rasa, dan keamanan pangan. Bumbu perlu ditakar, baik dengan ukuran maupun perasaan. Ketika seluruh proses dijalani dengan sadar, memasak tidak lagi terasa sebagai pekerjaan rutin demi menuntaskan panggilan perut. Di sinilah letak penghargaan pada makanan.


Dapur Leluhur
dok: Dapur Leluhur

Cerita Dari Atas Piring

Pukul satu siang, hidangan sudah tersaji. Ada tumis pakcoy dengan tahu dan kecambah. Tumis buncis dengan telur ikan biawan. Karena telur ikan biawan ini merupakan hasil fermentasi yang diasinkan, maka dilakukan perebusan lebih dahulu untuk menurunkan kadar asin. Sambal goreng tempe berpadu bawang rambut dan kembang jaong. Mas Yudhis mengenalkan menu 'seqoah touq patin' olahan khas Dayak Modang yang biasanya menggunakan patin, tetapi kali ini diganti dengan udang. Pepes ikan layang dan pepes tahu dibungkus daun pisang. Ada tempe tahu goreng, telur dadar bercampur bawang rambut, serta sambal limau kuit yang harum dan segar.

Limau kuit, begitu orang Banjar menyebutnya, berkulit kerut dengan aroma yang lebih wangi dibanding jeruk purut. Daunnya tidak digunakan, tetapi buahnya kerap menemani soto dan kali ini menjadi pusat rasa pada sambal. Sebagai kudapan, nanas, salak, dan pisang goreng tanpa tepung hadir sederhana. Nasi yang mengepul, menjadi poros yang menyatukan semuanya.

Tidak ada rasa yang gagal. Kami makan dalam keadaan lapar dan di waktu yang tepat. Makan dengan tenang, kecuali sesekali ingin menanyakan kembali tentang menu yang dilumat. Tenang tanpa perlu membandingkan menu dan rasa, karena sadar bagaimana proses panjangnya bisa hadir. Penerimaan terhadap apa yang tersaji membuat makanan itu benar-benar masuk ke tubuh dan menjadi bagian dari diri.

Selesai makan, cerita mengalir. Mas Yudhis berbagi perjalanan yang membawanya keluar-masuk dapur, pasar, dan alam. Ia tidak menyebut dirinya chef, hanya seseorang yang senang memasak untuk menjaga warisan kuliner orang tua dan menyuarakan perubahan melalui pilihan makan. Baginya, sistem pangan bermula dari kebiasaan konsumsi, dari apa yang kita letakkan di piring setiap hari.

Ia menyinggung bencana lingkungan yang kian sering datang, dan bagaimana hal itu seharusnya mendorong kita mengenal diversifikasi pangan. Ketika ragam pangan lokal dipahami dan dibiasakan, kita tidak mudah goyah saat krisis. Cerita tentang meramban, mengenali tanaman liar yang dapat dikonsumsi, hingga bagaimana kebijakan memengaruhi isi piring, membuka kesadaran bahwa makan adalah tindakan politis sekaligus ekologis.


Dapur Leluhur
dok: Dapur Leluhur

Perjalanannya mempertemukan ia dengan benih lokal, resep yang nyaris hilang, dan pengetahuan yang kemudian diwariskan kembali. Dari obrolan itu pula saya mengetahui bahwa daun murbei dapat diolah menjadi sayur, sebuah pengetahuan kecil yang terasa berharga karena lahir dari pengalaman langsung. Mas Yudhis juga bercerita tentang kembang tigarun. Orang Banjar menyebut menu jaruk tigarun, sementara orang Kutai menyebut jero tegaron. Lagi, saya baru tahu tanaman ini bisa disantap dan menjadi obat tradisional. Disebutkan pula kalangkala, buah empuk yang rasanya disebut mirip seperti alpukat. Sambil searching, saya baru mengetahui kalau keduanya dikenal sebagai tanaman Kalimantan. Sebagai orang Kalimantan, saya jadi berpikir, ke mana saja selama ini, mengapa baru mengetahui? Apa mungkin tanaman itu pernah ada di sekitar lalu menghilang karena lahannya yang telah beralih fungsi? Namun bisa saja, tanaman itu masih ada, tapi tidak banyak yang mengenalnya, jadi siapa pula yang akan menyampaikan manfaatnya? Beberapa kemungkin bisa saja menjawab. Mungkin juga kelak bisa diadakan kegiatan meramban untuk mengenal kembali alam dan menguatkan relasinya dengan manusia.


Dapur Leluhur

Sungguh hari yang menyenangkan, ketika pulang bukan hanya membawa rasa kenyang, tetapi juga cara pandang melihat makanan, bukan sebagai benda yang dibeli, dihabiskan demi kepuasan. Makanan telah ikut membentuk jati diri kita. Lewat makanan, kita menjaga ingatan, bercerita tentang bagaimana tradisi dan budaya berkumpul dalam suatu suapan.


🔴

Posting Komentar

Terimakasih telah membaca, silakan berkomentar yang baik. Mohon tidak menaruh link hidup, situs yang mengandung SARA, judi online, web scam dan phising, karena akan dihapus.

Lebih baru Lebih lama