, , ,

Terpikat Eksotisme Prajurit Pesisir Wonderful Indonesia di Timur Borneo


Mangrove Center Graha Indah Balikpapan

Gunung-gunung itu adalah ‘penjaga’ di muka bumi. Air-air bening mengalir darinya.  Bahkan bila ia muntah, tanahnya menjadi subur. Manusia merasakan kesejukan dan mendapatkan kehidupan di gunung. Negeri ini memiliki banyak gunung. Tapi, apakah yang menjadi ‘penjaga’ di daerah pesisir? Sedangkan negeri ini pun memiliki sebutan negeri yang kaya akan perairannya.

Share:
Read More
, , , ,

SEMANGAT KEMANDIRIAN YANG TERUS MENAJUK DARI KAMPUNG YANG BERSANDING WADUK


Elan yang tak ingin memudur.
Tak terhitung telah berapa kali saya memasuki kawasan yang asri ini, dua diantaranya dalam kesempatan khusus dan keseluruhannya terjadi pada tahun silam. Tahun ini, saya menginjakkan kaki kembali di sebuah tempat yang bernama Kampung Berseri Astra (KBA) Karang Joang bersama rekan-rekan blogger pada beberapa pekan lalu. Berada di jalan beraspal yang mulus dan rata sejauh belasan kilometer, kami pun berbelok menyusuri lekak-lekuk kampung binaan perusahaan Astra yang berdekatan dengan Waduk Manggar ini. Tidak perlu khawatir bila ingin menuju ke tempat ini, karena nama Kampung Berseri Astra terpampang jelas di gerbang masuk. Di beberapa titik pun, dapat dilihat ‘papan nama’ KBA. Saya pikir pada tahun lalu cukup saja bertandang ke tempat ini, kemungkinan tahun ini pun rasanya akan sama saja. Nyatanya, yang saya rasakan melebihi sebuah reuni.

Pagi itu rinai hujan menyambut kedatangan kami.

Sekali lagi, saya mengira akan menemukan tatapan orang-orang dari balik rumah. Kenyataannya, area KBA Karang Joang sudah berisi kemeriahan yang dimulai sejak awal pembuka hari. Orang-orang membaur, mengenyampingkan hujan. Pada tikungan, kami pun berbelok menuju sebuah sekolah dasar. Rupanya sedang ada gerakan masyarakat sehat bersama Astra, mulai dari senam, peyuluhan serta pemeriksaan kesehatan.
Beberapa ibu lansia menebar senyum ke arah saya. Segera saya menyalami mereka satu per satu.
“Ibu-ibu sudah senam?” tanya saya.
“Oh sudah dong, pagi-pagi,” jawab mereka tertawa, memamerkan semangat yang masih mengumpul.
“Mbaknya sudah senam belum?” dengan logat khas Jawa, mereka balik bertanya.
Saya menggeleng, mengiyakan seandainya ada pikiran yang menyelinap ‘wah, mbak ini kalah jauh dari kami.’ Lalu sejenak tertawa-tawa lagi bersama mereka.


DI sisi lain, saya melihat kudapan khas Indonesia berjejer rapi beralas jalinan daun pisang di atas meja panjang. Santapan seperti klepon, getuk, tiwul, olahan dari pisang dan singkong, kacang serta ubi rebus. Beberapa jenis penganan nusantara justru terlihat asing, sampai-sampai beberapa kawan bermain tebak-tebakan nama penganan tersebut. Ibu-ibu di KBA Karang Joang inilah yang menyiapkan semuanya. Mungkin, kelak bisa diadakan festival kuliner nusantara di tempat ini. Untuk mengenal kudapan nusantara sekaligus belajar mencintainya.
dok. pribadi
Hal sederhana yang bisa menjadi prospek usaha (dok. pribadi)
Sementara itu, di sela-sela hujan yang tipis, anak-anak sekolah dasar juga mendapat perhatian dari Astra sebagai bagian dari rangkaian acara sehat bersama. Dan di tengah-tengah lapangan, sebagian anak-anak bergembira dan berlarian, sengaja membiarkan rintik-rintik hujan menjadi bagian dari motif pakaian.
Hari boleh basah, tapi semangat tak boleh padam. 
Keceriaan anak-anak di Jl. Giri Rejo 1 Karang Joang KM.15 saat acara sehat bersama Astra


BERDIKARI ADALAH PANGGILAN HATI

Kampung dengan enam Rukun Tetangga sekaligus ini masih sama nyamannya dengan terakhir kali saya datang, bersih, rapi, berseri sesuai namanya. Hanya, kian menggiurkan ketika memasuki musim panen buah-buahan. Dari kejauhan terlihat rimbunnya mangga di pepohonan, jambu, rambutan, kelengkeng, belimbing yang terlalu sedap meski hanya dipandang. Semua itu tidak tumbuh begitu saja. Nyaris semua rumah memiliki area hijau. 
menanam sayuran, kesadaran pangan mandiri (dok. pribadi)

Saya masih ingat cerita, bahwa sebelum kampung ini bertambah rapi, para transmigran datang dari Pulau Jawa lalu hidup membaur bersama penduduk suku lainnya. Balikpapan memang multietnis. Selama itu pula, kehadiran para perantau memberikan kontribusi penting bagi kawasan yang berada di Jl. Giri Rejo 1, KM.15-Karang Joang, Balikpapan ini. Kebanyakan dari mereka petani. Kemudian datanglah tahun silih berganti hingga generasi awal itu melahirkan keturunan-keturunan yang menempati setiap sisi perkampungan. 

Zaman telah berubah. Namun, nyatanya dibalik semarak era digital, tempat ini terus menyimpan rasa orisinal. Tanpa tergerus arus tren kekikinian atau virus negatif modernisasi, semangat gotong royong dan kekeluargaan masih menjadi ciri khas yang dapat dinikmati di kampung ini. Dengan spirit yang mengandung kearifan lokal itulah Astra memilih kawasan ini menjadi bagian dari program Corporate Social Responsibility (CSR) untuk mengembangkan wilayah yang kemudian disebut KBA secara berkelanjutan dengan mengintegrasikannya lewat 4 pilar : pendidikan, kewirausahaan, lingkungan dan kesehatan. Maka, hari itu saya berkesempatan menyaksikan lagi buah dari kolaborasi Astra dan masyarakat di area KBA.


Apa yang berbeda dari tahun sebelumnya?

Setidaknya saya tahu bagaimana rasa daun singkong goreng bercolek saus kacang, dibanding tahun sebelumnya. Tahun ini pula, saya jadi tahu rasa belimbing madu yang menjadi andalan masyarakatnya, dan berjumpa varietas jambu air yang besar dan manis.

Segelintir warga menggelar hasil panen buah-buahan dan sayurannya di serambi rumah. Warga menyebutkan kebun belimbing madu  yang berada cukup jauh dari lokasi jual-beli, sambil meminta calon pembeli untuk mencicipi lebih dulu. Belimbing madu merupakan andalan di KBA Karang Joang dari sektor pertanian, selain buah dan sayuran lainnya. Belimbing madu merupakan salah satu varietas belimbing terbaik, dengan rasa manis, empuk, tak berserat, lebih besar, mengandung banyak air dan lebih cepat panen. Lewat program CSR, Astra juga membentuk kelompok tani yang dinamakan Kelompok Tani Mekar Berseri dan telah menyalurkan bantuan, baik berupa pemberian bibit, pupuk serta pembinaan dan pendampingan.

Seorang Ibu bernama Marsiah dengan getol menjual buahnya. Dengan teknik pemasaran persuasif sederhana dan senyum ramah, Ibu Marsiah berhasil memikat calon pembelinya.

 “Yang tadinya hasil panen biasa aja, sekarang jadi lebih banyak berkat bantuan Astra. Orang-orang luar juga jadi tahu ada belimbing madu di sini. Kadang nggak perlu dijual keluar, orang-orang datang kemari,” ungkap Ibu Marsiah menjelaskan rasa penasaran saya. Maklum saja, KBA Karang Joang berjarak cukup jauh dari perkotaan,  pun sedari awal saya tidak melihat adanya pasar terdekat, sehingga bertanya-tanya bagaimana pemasaran belimbing madu ini sebenarnya. 
dok. pribadi
Olahan salak, dari salak yang dipetik sendiri (dok. pribadi)

Selagi mengitari KBA Karang Joang, tidaklah sukar menemukan tanaman pangan di pekarangan rumah masing-masing, selain karena warganya pandai bercocok tanam, mereka pun menciptakan kesadaran pangan mandiri sejak dini. Mewujudkan wilayah yang sehat, bersih, cerdas, dan produktif adalah bagian dari program Astra yang dijalankan bersama masyarakat di area KBA.

Hadirnya program KBA di KM. 15 Karang Joang ini sebenarnya bukan tanpa penolakan. Namun, seiring waktu program KBA  terus berjalan dengan mengadakan sosialisasi kepada masyarakat dan pembinaan. Astra pun mengakui masih banyak kekurangan untuk mengembangkan KBA Karang Joang, misalnya saja dalam mengoptimalkan Rumah Pintar Astra yang merupakan bagian dari program Astra Cerdas. 

Sampai saat ini Rumah Pintar Astra di KBA Karang Joang terus berusaha produktif, namun masih kurang dalam hal kepengurusan. Sehingga, beberapa kali ditemukan Rumah Pintar Astra nampak sepi dan tertutup. Padahal, selain sebagai rumah baca dan edukasi, pada bangunan yang sama juga digunakan sebagai Balai Pertemuan. Oleh karena itu, SDM yang mumpuni sangat dibutuhkan dalam hal ini.

“Kami masih mencari SDM yang tepat untuk benar-benar mampu mengelola Rumah Pintar Astra. Di sini kegiatannya sudah berjalan, dan akan bertambah. Kami memang menyasar anak muda. Selama ini ada volunteer dan juga ada anak KKN yang turut membantu,” ungkap salah satu tim koordinator CSR Astra.

Lebih lanjut disebutkan misi dari CSR Astra adalah menghantarkan kemandirian bagi wilayah yang termasuk dalam program KBA. “Selama kami masih belum melihat kemandirian yang kami harapkan dari wilayah tersebut, selama itu pula kami masih terus mendampingi wilayah itu,” ucap salah satu tim koordinator CSR Astra kembali.

Saat ini, wirausaha di KBA Karang Joang terus mencuat. Dua usaha yang digadang-gadang menjadi penjenamaan (branding) bagi KBA Karang Joang adalah belimbing madu dan majun.

MENITI KEMANDIRIAN, MENJAGA LINGKUNGAN

Majun adalah kain lap dari bahan sisa industri garmen, alias limbah yang sama sekali tidak terpakai, berupa potongan-potongan kain yang kemudian diolah untuk dimanfaatkan menjadi lap pembersih.  Kain majun yang berkualitas adalah yang memiliki daya serap yang baik, tidak berserabut, tidak berbulu. Mampu menyerap kotoran, dari yang ringan hingga yang berat, seperti oli. Karena itu para penggunanya kebanyakan adalah para mekanik dari perusahaan-perusahaan otomotif dan manufaktur.

Para penggiat kain majun dari KBA Karang Joang adalah perempuan-perempuan yang tergabung dalam Srikandi Berseri. Menurut Ibu Iin, Ketua Srikandi Berseri, pada awalnya CSR Astra telah memberikan bantuan berupa mesin dan bahan baku kain yang didatangkan dari Pulau Jawa sebanyak 2 ton, dan diberikan secara bertahap. Setelah mengalami perputaran produksi beberapa kali, usaha majun sempat terhenti.

“Waktu itu kami sempat vakum lama, karena jenis kain perca dari katun khusus yang kami butuhkan harus bersaing dengan pihak lain, paling nggak kami mesti ambil 10kg,” papar Ibu Iin, di sela-sela kesibukan dengan kain majun.
Ibu Iin, Ketua Srikandi Berseri
Saat CSR Astra menyerahkan bantuan awal, bersama-sama dengan pemerintah setempat, para perempuan dari Srikandi Berseri langsung mendapat pelatihan cara menjahit yang baik untuk menghasilkan kain lap majun berkualitas yang diharapkan.

“Waktu serah terima, langsung dicek. Waktu itu juga sama Bu Arita (red. Istri Walikota Balikpapan) memotivasi ibu-ibunya jangan khawatir nggak bisa, nanti dilatih. Pas latihan ada yang sampai mundur-mundur kursinya. Wah, seru banget,” tawa Ibu Iin, mengisahkan pengalaman usaha kain majun.

Proses jahit-menjahit sendiri dilakukan di rumah-rumah warga. Kain lap majun yang dihasilkan oleh Srikandi Berseri ada 2 jenis : putih dan berwarna. Harga jual kain lap majun putih lebih mahal dari kain lap majun berwarna. Para pembelinya bisa dari anggota sendiri, pihak yang menyelenggarakan hajatan atau ada yang ingin menjualnya kembali. Astra sendiri memiliki kebutuhan besar akan kain lap majun dari Srikandi Berseri di KBA Karang Joang. Sayangnya, kebutuhan besar tersebut masih belum selaras dengan kemampuan produksi.  Lagi, Srikandi Berseri masih memerlukan penambahan tenaga kerja. Disebutkan, pengguna kain lap majun terbanyak adalah PT. Komatsu Remanufacturing Asia, perusahaan re-manufaktur yang masih merupakan jaringan bisnis Astra. 
Ibu Endang - anggota Srikandi Berseri Astra, mengangkat dua jenis kain lap majun
“Sekarang kalau sebulan sudah bisa menghasilkan 3 ton. Kemaren, Alhamdulillah dapat suntikan dana dari Astra. Mungkin, karena kami bisa bangkit, bisa menunjukkan keaktifan dan kreatif juga. Kami juga tidak mau melupakan yang membina kami dari awal. Harapan kami ke depan, perekonomian di sini terangkat, Astra tetap mendampingi, tetap mau bersilaturahim,” ungkap Ibu Iin, menyudahi perbincangan.

Wirausaha majun memang mengayun.

Namun, tidak semua wirausaha dapat dengan mudah masuk ke KBA Karang Joang. Wilayah dengan enam RT ini berdekatan dengan waduk penyuplai air minum Kota Balikpapan.
“Di sini kalau mau dibikin wirausaha, ya nggak semua wirausaha bisa karena bisa berdampak dengan daerah bahan baku air minum, yang 90%-nya diminum sama warga Balikpapan. Pemerintah sudah meminta warga di sini menjaga lingkungan. Jadi, kami belajar berekonomi mandiri tanpa harus mencemari,” tutur Muh. Tadi, Ketua RT.26.
Muh. Tadi, Ketua RT. 26 di area KBA Karang Joang

“Alhamdulillah Astra membantu bagaimana cara yang tepat agar berwirausaha tanpa merusak lingkungan. Belimbing madu dan majun tidak merusak lingkungan.” Muh. Tadi pun menyebutkan daerah penyuplai air minum tersebut adalah Waduk Manggar KM. 14 dan 15 yang berjarak lebih kurang 2 KM dari Balai Pertemuan, dan di sana terdapat jembatan yang diberi nama Jembatan Panjang DAS Manggar.
 
Jembatan yang sering dijadikan tempat wisata dan berfoto. (dok. pribadi)

Sangat membantu para pengunjung yang ingin mengenal KBA lebih dekat. (dok. pribadi)


Jembatan Panjang DAS Manggar yang membelah dua RT, masih termasuk dalam area Kampung Berseri Astra. Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, dimana terdapat banyak enceng gondok dan sampah lain, saya melihat genangan air itu tampak lebih bersih. Jembatan Panjang DAS Manggar sering dimanfaatkan untuk memancing dan berwisata oleh warga sekitar khususnya, dan warga Kota Balikpapan umumnya. 


MENJADI KAMPUNG KEBANGGAAN KOTA BALIKPAPAN

 “Data pertumbuhan UMKM di Balikpapan (per kelurahan dan kecamatan) cukup fantastis, sekitar 20.421 atau kurang. Dan 10 % diantaranya telah mengurus perizinan.” Doortje Marpaung, Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Balikpapan.*

Geliat UKM di Kota Balikpapan menjadi gerak bagi pemerintah untuk mengajak serta perusahaan  bersinergi meningkatkan perekonomian mandiri di Kota Balikpapan. Astra membaca hal ini, lewat program CSR-nya, yang membina dan memberdayakan masyarakat untuk menciptakan wilayah yang sehat, bersih, cerdas, dan produktif. Pada dasarnya, wilayah ini telah memiliki potensi SDM yang baik, ditunjang dengan lokasi yang strategis. Bersisian dengan kawasan penyuplai air minum bukanlah penghalang untuk menciptakan jenis wirausaha, melainkan tantangan untuk menciptakan peluang yang akan menjadikan KBA Karang Joang sebagai kampung percontohan mandiri yang asri bagi kampung lainnya.

Walau sekarang kemandirian tersebut masih terus melangkah. Besar harapan, kelak KBA Karang Joang menjadi kebanggaan Balikpapan.

Pihak CSR Astra untuk KBA Karang Joang mengatakan, “kalau kemandirian di KBA Karang Joang ini terwujud, maka selanjutnya akan bisa ditambah Kampung Berseri Astra lagi di wilayah Balikpapan yang lain.”
***
_________________________
* kutipan merupakan hasil reportase penulis
**tulisan ini diikutkan dalam Anugerah Pewarta Astra


Salam.



Share:
Read More
, , , ,

Menghidupkan Tempat Kenangan Bersama Huawei Nova 3i

Huawei Nova 3i


Saya berguling-guling di tanah, bukan karena suatu perlombaan, bukan karena saya anak kecil yang baru berjumpa pasir. Sebuah bola baru saja bergulir cepat menghantam dada. Menubruk tanpa saya sadari, atau siapa pun bisa menangkisnya. Anak-anak yang sedari tadi bermain bersama saya, melepas atribut mereka dan seketika berkerumun. Mereka memamerkan wajah-wajah pucat dan kemarahan. Lapisan-lapisan wajah itu juga tampak sama-sama berisi ketakutan seperti ketakutan yang sedang saya hadapi. Sebagian lagi meneriakkan nama saya. Sebagian berusaha mencari pertolongan. Tapi, saya tidak bisa menjawab mereka, sesuatu tercekat di leher. Tidak ada yang bisa keluar, tidak udara, tidak pula kata-kata. Cuma rasa sakit. Saya tahu saya belum mati, tapi saya tidak tahu berapa lama saya akan kesulitan bernapas.
*
Share:
Read More
,

PERNAHKAH MEMBUKA BUAH INI DENGAN MENJEPITNYA DI PINTU?


Buah Kecapi

Pada masanya.
Seorang Ibu duduk membuka dagangannya, mengamparkan sebuah baki enamel berwarna putih bercorak bunga. Di atas bakinya terhampar buah keras berwarna kuning. Anak-anak SD mengitarinya sambil mengeluarkan tebakan : 


“ Buah, buah apa yang namanya sama kayak alat musik?” 

Sebagian anak-anak menjawab, sebagian lagi, melempar candaan.

Di sisi baki itu, tersedia wadah lain berisi garam bercampur potongan cabai.Meski setiap hari berjualan buah itu, tapi setiap tahunnya, buah itu selalu berkenan muncul.
Saya tidak tahu, apakah memori saya dan kalian akan sama.
Tapi, ini memang kenangan saya sewaktu kecil.

Buah ini bernama KECAPI.

Saya percaya masih banyak yang tahu buah ini, meski beberapa anak kecil (yang saya tanyai) sempat kebingungan dan bertanya-tanya, buah apa ini namanya? Emang bisa dimakan?
Waktu kecil saya penggemar kecapi. (Ya ya ya, sampai sekarang juga) Setiap kali ada yang menjual kecapi, saya pasti membelinya. Pasti.Jujur, mungkin karena buah ini tergolong buah murah(an). 

Apalah menyebutnya : tidak ada gizinya? Tidak nutrisinya? tidak ada dagingnya?
Mungkin karena itu, buah kecapi sekarang jarang terlihat, jarang ada yang menjualnya. Jangan harap 5 tahun sekali bisa melihat buah ini,1 tahun sekali saja belum tentu.

Buah Kecapi
Satu pohon milik teman yang berdekatan dengan rumah saya saat masih kecil, sudah ditebang. Sedangkan buah kecapi yang baru-baru ini saya temukan, saya beli ketika berjalan-jalan ke sebuah perkampungan, tepat di sebuah warung. Di belakang warung tersebut, masih nampak pohon kecapi. Pohonnya besar, dengan penampakan bulatan-bulatan kuning menyebar. Ramai sekali kecapinya. Si pemilik warung berpikir, daripada berjatuhan, lebih baik dia coba menjual. Dan tepat itulah, saya lewat di depan warungnya. Pohon kecapi memang besar, dan si pemilik warung memang punya lahan yang luas.


saya beli di suatu warung yang di belakangnya terdapat pohon kecapi
Harganya kecapi itu hanya Rp 5.000 per bungkus (1 bungkus lebih dari 1kg). Saya katakan, saya mau yang masih nampak batangnya. Dan pemilik warung mengiyakan saja... karena selain buah kecapi jarang ada yang menjual, sebenarnya buah kecapi juga jarang ada yang suka. Karena itu, ketika saya minta kecapi yang masih banyak daun dan batangnya (karena yang sudah dibungkus tidak ada batangnya) si pemilik warung rela mengambil kecapi-kecapi yang masih berserakan. Bahkan ia lebihkan. Saya memborong sampai 10K. 

Sebenarnya kecapi-kecapi ini hanya akan saya makan sendirian. Suami manalah dia suka, Cmumut apalagi. 

Satu kenangan tentang buah kecapi ini adalah teknik membukanya. Dulu, kala masih SD, kami membuka kecapi dengan cara menjepitnya di pintu. Lalu kreek!! biji manis putih buah kecapi yang mengandung asem itu terlihat. Tapi itu cara praktisnya.

Cara kalemnya, ya dengan dikupas.
Buah Kecapi
menurut saya, ukuran buah kecapi yang saya beli ini tidak begitu besar
Buah Kecapi
cara praktis membuka buah kecapi : jepit di pintu
Buah Kecapi
kroakk! pecah sudah, tinggal dimakan saja. Eh diemut-emut.

Cara makan buah kecapi ini sederhana sekali, karena dagingnya sedikit, dan sebagian rasa manisnya justru menempel pada biji, maka makannya cukup diemut-emut saja. Kalau suka bisa dicocol garam plus cabai. 

Mungkin.. yah hanya mungkin, karena itu tidak banyak yang suka buah kecapi. 

Buah kecapi juga punya getah, jangan harap setelah dibuka bisa terlihat putih seterusnya. Jika sudah dibuka, perlahan buah kecapi akan berubah menjadi kecokelatan.
 
Buah Kecapi
penampakan di dalam buah kecapi

Buah Kecapi

Buah Kecapi
biasanya 1 buah kecapi mengandung 4-5 biji kecapi
Dari beberapa artikel disebutkan, bahwa buah kecapi berkasiat untuk mengatasi kram perut, melancarkan pencernaan, mengandung anti oksidan, anti kanker, dan bisa untuk mengurangi kolesterol. Entah penelitian ilmiahnya bagaimana, saya tidak memahaminya. 

Karena terbiasa hanya memakan saja, saya juga tidak tahu apakah orang-orang punya cerita lain tentang buah kecapi ini? Mungkinkan bisa dijadikan sebagai campuran masakan? Atau dibuat minuman? Atau dibuat kreativitas lain? Entahlah, saya kurang tahu.


Mungkin kalian yang membaca punya cerita yang berbeda dari saya. Boleh banget berbagi di sini :)



Salam,
Lidha Maul
Share:
Read More
, , ,

Pengumuman Pemenang Mini Giveaway pulsa 50K : Sampah Plastik

sampah Plastik


Pengumuman ini adalah lanjutan dari blogpost sebelumnya : Sampah Plastik, Tema Lingkungan Hidup 2018

Awal Juli 2018 ini, Balikpapan menjadi kota kedua setelah Banjarmasin yang melarang penggunaan kantong plastik di jaringan pasar modern. Kabarnya, penerapan ini cukup sukses dan berjalan lancar di Banjarmasin. Masyarakatnya pun terbiasa. Sedangkan di Balikpapan, aturan ini baru dimulai 3 Juli 2018. Sebelumnya saya melihat beberapa pasar modern besar mencantumkan pengumuman ini kala ingin berbelanja, ada juga yang mencantumkannya di dekat kasir. Ada yang memulainya tepat 1 Juli, dan 2 Juli 2018. Meski disebutkan aturan 'anti kantong plastik' ini terjadi di 120 unit pasar modern setempat, namun, dari pengamatan saya pribadi penerapan ini terjadi di seluruh supermarket, sementara saat saya berbelanja di sebuah minimarket ternama, masih diberi kantong plastik.


Share:
Read More
, , , , ,

Sampah Plastik, Tema Hari Lingkungan Hidup 2018 dan Mini Giveaway



Sudah pada tahu ya, tanggal 5 Juni 2018 lalu adalah ‘Hari Lingkungan Hidup Sedunia’. Setiap tahun tema yang diangkat berbeda. Tahun 2017 misalnya, isu yang dibahas adalah ‘Connecting People to Nature’. Sedangkan untuk tahun 2018 ini, tema yang diangkat adalah “Beat Plastic Pollution” atau ‘Kendalikan Sampah Plastik’ dengan menjadikan India sebagai host nation alias tuan rumah penyelenggara Hari Lingkungan Hidup Sedunia. India dipercaya sebagai negara yang dapat membantu dirinya sendiri dalam penanganan sampah, lewat masyarakatnya yang kreatif dan kebijakan pemerintahnya. Hanya India yang dapat mengubah India. Berdasarkan laporan tahun 2015-2016, diketahui bahwa India  menggunakan sekitar 900.000 ton PET (polietilena tereftalatn atau plastik #1) untuk dijadikan botol minuman ringan, furnitur, karpet, panel, dan lain-lain. Sekitar 25.000 ton sampah plastik dihasilkan setiap tahun di India, yang hanya 60 persen, didaur ulang. Dari data yang ada, Delhi menyumbang 689,52 ton sampah plastik disusul oleh Chennai (429,39 ton) lalu Mumbai.

Oke, stop menceritakan India. Lalu, bagaimana dengan Indonesia sendiri?
Ternyata terdapat fakta menyedihkan bahwa Indonesia menempati ranking ke-2 di dunia dari riset 20 negara yang membuang sampah plastik ke laut. Sampah plastik sendiri sekitar 14% dari total sampah yang ada baik di darat maupun yang dibuang ke laut. Waw, ranking kedua. Serem sih buat saya, apalagi Indonesia punya sebutan negara maritim. (Riset ini sekitar tahun 2010, yang diterbitkan tahun 2015. Entah tahun 2017-2018, kemungkinan bertambah.)

Ada yang pernah melihat foto kuda laut menggandeng cotton bud ? Foto viral yang beredar tahun 2017? Saya sempat melihatnya, di antara rasa kagum dan sedih.
Viral yang menyedihkan
Sumber : IG @justinhofman

Foto di atas dihasilkan oleh Justin Hofman, seorang fotografer wildlife yang biasa bekerja untuk Natgeo. Fotonya telah mendapat penghargaan, foto yang tadi tidak mau ia publikasikan akhirnya diposting di Instagram agar semua orang melihatnya. Tidak hanya itu, Justin Hofman juga membuat tag lokasi. Tahu dimana? Sumbawa, Nusa Tenggara, Indonesia.
Viral yang menyedihkan.



Mengapa Plastik ?
Memakai plastik itu memang praktis, hidup jadi mudah ketika plastik ditemukan. Saya sendiri masih banyak menggunakan plastik. Selain mudah, plastik memang lebih murah. Sayangnya, penggunaan plastik mengancam kelestarian bumi. Plastik adalah bahan yang sukar diurai oleh alam. Butuh 100 tahun untuk bisa hancur. Pabrik plastik pertama kali didirikan tahun 1910 sedangkan tahun 1930 produk plastik mulai dikenalkan di masyarakat. Itu artinya, ada plastik yang baru hancur tahun 2010. Memang, sekarang sudah ada plastik biodegradable yang lebih cepat terurai oleh alam. Juga ada inovasi plastik dari serat singkong. Tapi, setahu saya penerapan ini lebih banyak pada penggunaan kantong plastik dan botol minuman. Sementara masih ada jenis-jenis plastik lainnya yang sukar terurai.

Beberapa tahun lalu, Pemerintah menerapkan kantong plastik berbayar setiap kali berbelanja. Saya masih ingat, saat itu banyak teman-teman blogger yang menuliskan opini mereka. Upaya ini sebenarnya punya niat baik untuk mengurangi penggunaan kantong plastik, tapi sayangnya tidak cukup berhasil. Masyarakat masih sangat rela hati membayar 200-500perak demi mendapat kantong plastik daripada membawa keranjang belanja sendiri dari rumah. Ya, ribet juga kali ya.

Sementara itu, walaupun ada peraturan tentang sampah publik dan regulasi produksi massal plastik, tapi dari kacamata saya pribadi, masyarakat masih belum merasakannya. Misal, tempat-tempat pembuangan sampah di perumahan. Sejauh ini, memang ada pemisahan jenis-jenis sampah di beberapa lokasi seperti arena wisata, fasilitas publik, jalan-jalan umum yang nantinya akan dibawa ke TPA. Tapi, di dekat rumah sendiri, sampahnya super duper bercampur baur. Hal yang mengesalkan juga adalah, ketika melihat fenomena masyarakat yang enggan mengedukasi dirinya sendiri dalam membuang sampah. Masih banyak masyarakat yang membuang limbah plastik ke perairan. 

A post shared by Lidha Maul (@bulirjeruk) on
(Sampah plastik di Waduk Manggar, yang di pinggir bisa diambil, yang di tengah?)

Saya mencatat beberapa alasan mengapa orang-orang mudah banget lempar sampah (plastik) ke alam :

1) “Tidak ada yang melihat.”

Kota Balikpapan memang menerapkan batas waktu pembuangan sampah, lewat dari batas waktu yang ditentukan akan dikenai denda. Tapi, beberapa kali saya melihat orang-orang melempar sampah dari kendaraan, saat jalan atau saat berwisata, tempat-tempat dimana tidak ada pengawasan setiap saat. Saya jadi berpikir apa iya, harus diawasi setiap saat? Apa harus terciduk dulu lalu dikirim ke akun gosip?

2) “Biar aja, ntar ada petugas bersih-bersihnya juga.”
Saya tidak tahu di kota-kota lain. Namun, di Kota Balikpapan ada petugas aktif yang membersihkan jalan-jalan dengan berseragam khusus. Sayangnya, masih ada saja pola pikir anti ribet negatif yang membuat dalil semena-mena : selama ada petugas, buang sampah sebiji-dua biji tak apalah. Tindakan seperti ini sebenarnya layak disebut semena-mena.

3)  “Alah, semua juga banyak yang buang sampah di sini.”
Lho kok? Bukannya menjadi insipirasi, malah terkontaminasi penyakit buang sampah sembarangan. Pernah mendengar pernyataan seperti ini?

4) Segan menyimpan sementara
Sedari kecil saya diajarkan untuk menyimpan sementara sampah yang saya miliki apabila tidak menemukan tempat sampah. Caranya, sampah disimpan di dalam tas atau saku. Ternyata banyak juga yang tidak menyukai cara ini. Omong-omong, tas saya sendiri kerap penuh sampah karena ternyata benar-benar lupa membuangnya. Mungkin, bagi orang lain ini memang menyebalkan.

Sebenarnya pengelolaan sampah plastik bisa menjadi satu upaya wirausaha, karena di pasaran sudah disediakan Mesin Pencacah Plastik yang dapat dibeli oleh individu. Memang, karena tipe plastik berbeda-beda (PET, LDPE, PVC, HDPE, PP, dan PS) sehingga pengolahannya pun berbeda.

Hal ini seperti yang terjadi di Kamikatsu, Jepang – The Zero Waste Town– dimana pemerintahnya sangat serius menangani sampah. Mereka memisahkan 34 kategori sampah dan memiliki target pada tahun 2020 menjadi 100% Zero Waste. Sangat inspiratif untuk bisa ditiru negeri ini.




Zero Waste :
Lauren Singer dan Sampah yang Hanya Sestoples

Zero Waste adalah konsep meminimalisir sampah dan mengelolanya dengan prinsip 3R (Reuse, Reduce, Recycle). Istilah Zero Waste kemudian menjadi bagian gaya hidup kekinian yang positif. Banyak sekali praktisi Zero Waste yang mampu menginspirasi kita, contohnya adalah Lauren Singer (@trashisfortossers) yang sukses menginspirasi banyak orang untuk mengubah gaya hidupnya. Bagaimana tidak, dalam 5 tahun Lauren Singer  hanya mengumpulkan sampah sebanyak 1 stoples. Sekali lagi 1 stoples saja, yang rata-rata berisi sampah label baju.
Lauren Singer
Sumber : IG @trashisfortossers

WAW. Saya kagumnya kebangetan sekaligus juga ‘ngeri’. Itu artinya Lauren Singer tidak pernah beli Indom*e, belanja sayur bungkusan, apalagi beli sebungkus micin. Lebih membingungkan lagi (bagi saya) berarti Lauren Singer tidak juga menggunakan pembalut instan.

Ternyata benar, Lauren berbelanja menggunakan keranjang atau kain pembungkus, memasak sendiri masakannya, menggunakan stoples kaca, membuat pasta gigi dan sampo sendiri, dan untuk urusan kewanitaan Lauren memilih menggunakan cawan menstruasi dan menganjurkan wanita lain menggunakan menspad kain.

Luar biasa bukan ? Pastinya seorang Lauren Singer tidak akan ribut-ribut kehilangan Tupperw*re.  

Oke, cukup menceritakan Lauren Singer.

Lalu, sebenarnya apa Reduce, Reuse, Repurpose, dan Recycle itu ? Untuk contoh sampahnya, akan saya pakai plastik saja ya, sesuai tema Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2018, #BeatPlasticPollution :
Botol plastik yang dimanfaatkan ulang

1. Reduce
Berarti mengurangi volume sampah. Misalnya : dahulu membuang sampah plastik satu keranjang, kemudian volumenya berkurang hanya ¼ saja. Caranya : memilih tidak menggunakan kantong plastik, memilih menggunakan gelas daripada plastik saat membeli es kelapa.

2. Reuse
Menggunakan kembali. Karena plastik merupakan wadah awet, sehingga bisa digunakan berulang kali. Misalnya botol minuman plastik bisa dipakai kembali sebagai tempat pensil.

3. Repurpose
Biasanya reuse dan repurpose agak sulit membedakan. Repurpose berarti mengubah tujuan. Misalnya, jika botol minuman plastik diubah menjadi hiasan dinding.

4. Recycle
Alias daur ulang, dimana ada mekanisme pengolahan kembali menjadi bentuk yang berbeda. Contoh lagi, mobil mainan plastik didaur ulang menjadi kursi plastik.


Kira-kira begitu perbedaan 4R yang saya pahami dan menjadi penutup tulisan ini.

Eit tapi belum benar-benar ditutup ya J
Terakhir, saya mau buat GIVEAWAY PULSA SENILAI 50K UNTUK 2 ORANG.

Karena ini Giveway kecil-kecilan, caranya juga mudah banget :

Cukup tuliskan tuliskan di kolom komentar, penanganan sampah plastik yang telah atau teman-teman ingin terapkan di dalam kehidupan. Contoh :
- Selama ini saya telah berbelanja tanpa menggunakan kantong plastik lagi dan tidak membeli botol minuman plastik lagi. Atau,
- Setiap plastik di rumah saya ubah menjadi titik-titik dan titik-titik. Atau,
- Saya ingin penanganan sampah plastik di Indonesia seperti bla-bla-bla. Atau,
- Saya sangat terbantu dengan plastik tapi tidak sakit hati bila kehilangan Tupperwa*re :D

Intinya berkomentar tentang sampah plastik sertakan email di dalam kolom komentar
Itu saja. Ditunggu sampai 30 Juni 2018  ya :)

Selamat ‘Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2018’ – Yuk kendalikan sampah plastik, meski belum bisa zero waste sepenuhnya, setidaknya jangan buang sampah plastik sembarangan, meskipun itu sebungkus jajanan permen.

Salam.
Lidha Maul

================
Sumber informasi :
- https://rockingmama.id/post/gaya-hidup-zero-waste-lauren-singer-yang-sangat-menginspirasi
- https://economictimes.indiatimes.com
- cnnindonesia.com
- sains.kompas.com

Share:
Read More
,

INI DIA KEBUTUHAN BERKEBUN YANG SAYA INGINKAN UNTUK RAMADAN EKSTRA DAN TIPS BELANJA HEMAT DI TOKOPEDIA



Belanja Kebutuhan di Ramadhan

Minggu-minggu menjelang Ramadan ini terhitung padat dan sibuk, rencana mau mudik sebelum Ramadan pun batal.. Syukur alhamdulillah rumah sedang dalam perbaikan.


Satu sisi ini baik, satu sisi pula, karena perbaikan, pekarangan jadi hancur (untuk sementara). Tumpukan tanah, batu, bongkaran dimana-mana. Tanaman-tanaman saya penuh debu dan ada yang terpaksa direlakan. Tapi, saya nggak merasa sedih juga sih, karena tanaman-tanaman yang ikut rusak itu, sudah saya anggap sedekah.


Intinya, krena perbaikan rumah, karena akhirnya belum bisa mudik, karena mesti mengembalikan kondisi rumah agar nyaman kembali, termasuk meramaikan kembali dengan tanaman-tanaman saya saat bulan suci ini, maka saya menyebutnya Ramadan Ekstra.  Ekstra rencana, ekstra kerja keras, ekstra pengeluarannya, ektra segalanya deh agar semua bisa beres saat Idul Fitri nanti. Tapi, biar pun bakalan ekstra pengeluaran, saya tetap mau ekstra hemat.

Untuk penghematan ini, saya sudah merencanakan membeli beberapa kebutuhan berkebun di Tokopedia, sekaligus tips-tips belanja hemat di  bulan Ramadhan yang teman-teman juga bisa tiru :

Pertama:
Membuat daftar kebutuhan:
1. Sarung tangan gali
Sebelumnya saya sudah punya sarung tangan untuk berkebun, sayangnya sudah rusak. Sarung tangan lainnya, khusus bertukang. Itu lho, sarung tangan yang ada totol-totol di sisi sebelahnya (ada yang bilang sarung tangan bintik,  entah nama lainnya). Tapi, sarung tangan ini kurang pas untuk aktivitas berkebun yang cenderung banyak bersentuhan dengan tanah, apalagi kalau tanahnya lembab. Kemudian saya menemukan sarung tangan ini di Tokopedia, cocok banget buat maen-maen tanah.
Sarung Tangan Berkebun


2. Tools Berkebun serbaguna
Sekop mini saya, gagangnya sudah hancur termakan usia (dan kemalasan si pemiliknya merawat). Lagipula 1 sekop mini ternyata nggak cukup, karena mesti rebutan dengan Cmumut, saya pun memutuskan tuk mencari di Tokopedia dan ternyata menemukan sekop multifungsi seperti ini :
Katanya nih, cocok juga untuk pekebun pemula alias rumahan.

3. Vertical Planter.
Agar tidak menyesakkan pekarangan yang sudah terasa penuh, ada baiknya saya merencanakan menanam dengan metode vertikal untuk mengantisipasi lahan terbatas.


Kedua.
Setelah membuat daftar kebutuhan, biasanya akan ada banyak pilihan produk di Tokopedia. Karena itu, cek dulu harga masing-masing toko online yang menyediakan produk serupa di Tokopedia sebelum membeli. Selain memastikan memastikan produk memang murah, saya juga memilih agar produk yang saya beli tidak murahan.

Ketiga.
Membaca spesifikasi produk dan ulasan pembeli sejelas-jelasnya dan berulang. Dari situ saya tahu, bahwa barang yang saya inginkan memang nyata adanya, jelas transaksinya dan ada kepuasan pembeli lain pula. Karena berbelanja di bulan Ramadan, inginnya adem ayem, lancar dan akadnya jadi pahala ya kan.

Keempat.
Tambahan nih, untuk penghematan di bulan Ramadan, saya pilih produk dari penghasil lokal. Karena kalau mutunya bagus, dengan harga yang miring, saya tentu bisa irit berbelanja bukan?

Kelima
Untuk menghemat ongkos kirim, saya bisa memilih seller yang terdekat. Biasanya,  saya memang sukar menemukan toko online/penjual yang menjual produk yang saya incar dan lokasinya berdekatan dengan lokasi saya (di Balikpapan) alias sekota alias sepropinsi. Tapi, meskipun sukar, saya tetap bisa menemukan setidaknya yang cukup dekat dari lokasi saya agar ongkos kirim yang saya tanggung tidak terlampau berat.

Keenam
Selain mencari seller terdekat, agar bisa menghemat ongkos kirim, pilih juga metode pengiriman yang paling efisien. Karena di Tokopedia menyediakan berbagai metode pengiriman dan saya tinggal menyesuaikan kebutuhan dan dana saya. Karena setiap pilihan pengiriman akan diperlihatkan nominalnya.

Ketujuh
Memilih cara pembayaran yang tepat. Ada beragam metode pembayaran yang disediakan Tokopedia yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan buyer.

Kedelapan.
Pastinya manfaatkan Promo dan Diskon. Jika saya tidak langsung berbelanja pada saat saya mencari produk, maka hal yang saya lakukan adalah menyimpan source link produk yang saya incar. Tujuannya apa? Ya, apalagi kalau bukan memanfaatkan promo-promo dan diskon, khususnya di bulan Ramadan ini dimana Tokopedia memberikan rangkaian promonya  seepaaanjaaanggg Ramadan. Dengan kedelapan cara ini, saya kepengen bisa ekstra hemat berbelanja kebutuhan berkebun di Tokopedia.

Malah sebenarnya nih, Tokopedia juga mengadakan Ramadan Ekstra.
Saya belum tahu gimana rasanya Ramadan Ekstra dari Tokopedia ini, karena belum berbelanja. Tapi, katanya sih ada rahasia kejutan pada 25 Mei dari Tokopedia yang akan membuat Ramadan Ekstra menjadi lebih Ekstra, layaknya festival belanja online “Black Friday”.
Aish, sudahlah rahasia,  pakai kejutan, ada ekstranya pulak.

Tapi, baiklah, kutandai dulu kau tanggal 25 Mei, biar ndak lupa.

Ngomong-ngomong soal Ramadan Ekstra, impian saya Ramadan tahun ini bisa menjadi Ramadan yang Ekstra. Ekstra ibadahnya, ekstra produktif, ekstra kreatif, ekstra waktu tuk membaca buku, ekstra berdoa, dan tentang pekarangan saya, jumlah tanamannya mesti ekstra pula dari sebelumnya. Tak lupa saya juga mau ekstra hemat, jangan sampai berlebihan atau mubazir. 
Ekstra hijau, ekstra bahagia

Saya sudah mencatatat beberapa kekurangan diri ini di Ramadan lalu dan berharap Ramadan ini tidak megulanginya. Pastinya,  saya ingin Ramadan tahun ini, membuat diri saya lebih baik dari tahun sebelumnya. Aamiin.
Semoga, teman-teman yang akan menjalankan Ramadan tahun ini pun demikian.


Salam,
Lidha Maul

Share:
Read More