, , ,

Hari Jadi Kota Balikpapan ke-124, Saatnya Bercerita Mathilda, Mathilde dan Matilda


HUT Balikpapan ke-124

AYAH DARI MATHILDA

Bocah yang lahir pada Maret ratusan tahun silam itu pasti tidak mengira bahwa penemuannya kelak akan mengubah sebuah wilayah menjadi kota yang berkembang, besar, indah dan diinginkan dunia. Jacobus Hubertus Menten nama bocah itu, lahir dari ayah yang bernama Petrus Franciscus Menten dan ibunya yang bernama Petronella Agnes Van Ooijen. Banyak sumber menyebut anak itu lahir pada tahun 1833, sementara situs berbahasa Belanda mendata kelahirannya pada 12 Maret 1832, senada pada buku “History of The Royal Dutch” karya F.C Gerretson yang menyebut Roermond, sebagai tempat kelahiran Jacobus Hubertus Menten. Kita bisa mengabaikan angka tersebut, tetapi tidak bisa mengabaikan seorang Jacobus Hubertus Menten yang lakukan selanjutnya ketika menginjakkan kaki di Pulau Kalimantan, yang membawa saya yang bersuku Banjar, kawan saya yang bersuku Jawa, Bugis, Batak, Sunda berkumpul di sebuah kota multi etnis bernama Balikpapan. Tahun 2021 ini memasuki HARI JADI KOTA BALIKPAPAN KE-124, perjalanan panjang usia yang telah memasuki masa sepuh, namun terlihat masih ranum dan ingin terus memuncak.

Jacobus Hubertus Menten
sumber : historia.id

KONSESI MATHILDA

Saya tidak ingat apakah dulu sewaktu sekolah sudah dikenalkan sosok Jacobus Hubertus Menten dan alur yang terjadi setelah apa yang dilakukannya. Maksudnya, saya percaya para guru telah menyebut kegiatan insinyur Menten anaknya Pak Menten ini, tetapi saya tidak ingat apakah sejarah Balikpapan disampaikan secara lebih mendalam dalam pelajaran khusus? Apakah ada hari-hari tertentu belajar sejarah Balikpapan saat di sekolah? Eh, kenapa jadi bertanya pada Anda, siapa yang sekolah sebenarnya ? Saya mengetahui nama Jacobus Hubertus Menten dikarenakan mengulik cerita tentang sejarah Kota Balikpapan, sambil duduk-duduk santai di perpustakaan kota, tapi lebih sering menemukan karena sengaja menelusuri lewat peramban.

Jacobus Hubertus Menten sebenarnya telah pensiun ketika mendapat izin mengeksplorasi minyak di Balikpapan. Sebelumnya, sewaktu bekerja di dinas pertambangan Belanda sebagai manajer pertambangan batubara, J.H. Menten telah menemukan indikasi sumber minyak di Kalimantan Timur. Namun sekali lagi, urusan manajer tambang ini di bidang batubara bukan perminyakan, sehingga niatnya belum kesampaian. Setelah beberapa kali penugasan di Bogor dan Sumatra, rupanya Menten anak Pak Menten ini mengundurkan diri di tahun 1882, setelah dua puluh tahun bekerja. Jika saya menjadi Jacobus Hubertus Menten yang pensiun, mungkin saya akan kembali ke negeri saya menghabiskan masa pensiun dengan berleha-leha, berkebun stroberi, membaca buku yang tidak sempat saya baca ketika sibuk. Sayang, Jacobus Hubertus Menten bukan saya. Dia memilih berkarir mandiri. Berkat pertemanannya dengan Sultan Kutai, Aji Sulaiman, J.H. Menten mendapat hak eksploitasi batubara pada 2 Desember 1882 yang meliputi kedua wilayah tepi sungai Mahakam. Konsesi ini kemudian dialihkan ke perusahaan Steenkoolmatschappij Oost-Borneo pada tahun 1888. 

Kapan eksplorasi minyak pertamanya? Pada 29 Agustus 1888, barulah dia mengantongi  izin mengeksplorasi minyak masih dari Sultan Kutai. Sedangkan, persetujuan dari Belanda baru dia dapatkan pada 30 Juni 1891. Konsesi pertama ini bernama Louise. Wilayah konsesi ini berada di sekitar rawa-rawa serta anak sungai Mahakam di Sanga-sanga, sekarang menjadi bagian Kutai Kartanegara. Bersumber dari Pertamina, sumur minyak Louise 1 mulai dibor pada Januari 1897 dan 5 Februari 1897 menjadi penanda didapatinya minyak pertama untuk bahan bakar mesin.

Balikpapan yang saat itu menjadi bagian dari wilayah Kesultanan Kutai hanyalah teluk yang berfungsi sebagai pos penjagaan kerajaan. Konon, hanya itu. Oleh Menten, Teluk Balikpapan dijadikan lokasi pelabuhan serta pengolahan minyak. Sampai ditemukan rembesan minyak di Tandjoeng Toekoeng (Balikpapan), Jacobus Hubertus Menten mengajukan lagi izin penambangan minyaknya. Konsesi inilah yang kemudian dikenal dengan nama Mathilda. Sumur pemboran pertamanya pun bernama Mathilda. Pemborannya pertama pada tanggal 10 Februari 1897, tanggal yang menjadi penanda lahirnya Kota Balikpapan. Uniknya, ini hanya berselang 5 hari dari didapatinya minyak di kawasan Kutai. Entah bagaimana perjuangan dan perjalanan yang mepet itu. Atau mungkin saya tidak tanggap bahwa mereka dulunya punya tim yang solid dan bersinergi tinggi. 

HUT Balikpapan 10 Februari 1897
Foto sumur pemboran pertama di Balikpapan yang dikenal dengan sumur Mathilda
Foto diambil di Gedung Kreatif Klandasan

Tahun-tahun setelahnya sungguh luar biasa. Tercatat tidak hanya minyak yang dihasilkan, namun juga lilin, kaleng dan asam sulfat. Kilang-kilang di Balikpapan bisa menghasilkan rata-rata 500 ton minyak, 500 ton lilin, 450 ton asam sulfat dan 9 ribu kaleng. Balikpapan pernah tercantum sebagai daerah pengolahan terbesar ketiga di dunia. Namun, sebagaimana penemuan minyak lainnya, perebutan dan pengambilalihan kekuasaan tak dapat dielakkan.

PEREMPUAN BELANDA BERNAMA MATHILDE

Meski menjadi tokoh utama dalam penemuan Balikpapan, nama Jacobus Hubertus Menten tidak lantas menjadi familiar di kota ini. Nama sumur Mathilda lah yang terkenal.

Mengapa Mathilda? Banyak sumber menyebut Mathilda adalah putri Jacobus Hubertus Menten. Sementara situs berbahasa Belanda menyebut Mathilda adalah istri Jacobus Hubertus Menten. Sumber lain malah mengiyakan kedua anggapan di atas, bahwa Mathilda adalah nama istri dan anak J.H Menten.
jacobus menten dan mathilde menten
sumber : genealogieonline.nl

Istrinya bernama Mathilde Louise Charlotte de Wal, lahir di Makassar 1846 dan meninggal di usia 78 tahun (1924) di Belanda. Sementara anaknya Mathilde Louise Charlotte Menten, lahir 2 April 1876 di Sumatra. Kalau dipikir mungkin ada benarnya, karena Jacobus Hubertus Menten memang pernah bertugas di Sumatra. Sumber lain menyebut ada anak-anak laki-laki dalam silsilah J.H Menten, juga nama anak (mungkin perempuan) bernama Nonnie , yang juga menjadi nama sumur minyak (Nonny).  

Seratus tahun kemudian, pada April 1976, Mathilde Louise Charlotte Menten tercatat meninggal dunia di Limburg, Belanda. Saya jadi bertanya, selama seratus tahun kehidupannya sadarkah Mathilde bahwa namanya dipakai ayahnya sebagai nama sumur minyak dan telah dijadikan situs bersejarah di kota ini? Tahukah Mathilde bahwa hidupnya telah melampaui kemerdekaan Indonesia? Tidakkah ia ingin maen-maen ke Balikpapan gitu?

BERKAT MATHILDA

Setelah penemuan, perebutan dan pemboman kilang minyak di Balikpapan, kota ini tetap berkembang menjadi kota minyak yang bisa menghasilkan 86 juta barrel per tahun. Tentu, bukan Jacobus Hubertus Menten lagi yang mengurusnya, ‘siapa’ lagi kalau bukan Pertamina yang mengurus perminyakan di Indonesia. Kini, meski sematan Kota Minyak itu tetap ada, Balikpapan tidak lagi melakukan pengeboran minyak, melainkan unit pengolahan minyak mentah dari beberapa daerah serta impor dari luar negeri.
Sejarah Minyak hingga Hari Jadi Balikpapan ke-124
Balikpapan, Kota Minyak

Jika pengeboran minyak pertama pada tanggal 10 Februari 1897 menjadi penanda lahirnya Kota Balikpapan, mengapa nama kota ini disebut Balikpapan? Bukan Mathilda saja? Nah, awalnya saya juga tidak tahu mengapa demikian? Mengapa BALIKPAPAN ? Mengapa papan dan dibalik ? Ada Apa dengan Papan (AADP) ? Tapi, mengapa saya bertanya pada Anda, yang lahir di Balikpapan siapa ? Saya coba bertanya pada ayah-ibu saya, ternyata jawaban mereka juga samar-samar. Rupanya banyak orang Balikpapan yang hanya sedikit tahu tentang asul-usul kota mereka.

Ada dua versi yang dirilis Pemerintah Kota Balikpapan dan dua versi tambahan ditulis media setempat. Keempat versi cerita tersebut sepertinya terjadi sebelum penemuan sumur Mathilda. Ceritanya tidak akan saya muat di sini, tetapi baik “Bilipapan”, “Kuleng Papan”, atau sebutan orang Kutai “baliklah papan tu”, dan kisah putri yang bersembunyi “di balik papan”, kesemuanya adalah kisah yang indah yang mestinya dilestarikan. Hanya saja, kita tidak akan menemukan papan-papan terbalik sebagai maskot kota ini, beruang madulah yang mendapat keberuntungan itu.

Setelah penemuan minyak pula, beragam manusia datang ke Balikpapan. Beragam pekerja, pedagang, petani, pengungsi yang mencari kehidupan baru, pengunjung yang singgah dan mencari berita, hingga akhirnya membentuk sebuah kota dengan ragam etnis. Kakek-nenek dari ibu saya adalah pendatang, nenek dan kakek buyut dari ayah saya juga pendatang. Di kota ini, banyak nama jalan identik dengan suku Jawa. Coto Makassar menjadi khas kota ini, partikel ‘ay’,‘lah’, ‘kah’, ‘gin’, dan ‘pang’ yang menjadi khas orang banjar juga menjadi kebiasaan lidah orang Balikpapan.

Cukup sulit menentukan budaya asli kota ini, karena yang dikenal adalah budaya pendatang.
Tetapi, inilah berkah Balikpapan! Penuh corak dan warna yang kesemuanya bisa berbaur. Kota yang menjadi penyangga IKN ini semestinya bisa menjadi role model bagi kota-kota lain. Sudah ratusan tahun usianya hidup dalam kebersamaan, dalam toleransi dan kerukunan.

Berkah lain dari kota ini adalah kebersihan kotanya yang pernah mendapat Adipura Kencana pada 2015. Sampai sekarang saya merasa banyak berkah untuk kota ini, semoga selamanya demikian.
Hari Jadi Kota Balikpapan ke-124
Taman Adipura, Balikpapan

SITUS BERSEJARAH MATHILDA

Apa kabar Mathilda hari ini?
Anak dan istri Jacobus Hubertus Menten yang bernama Mathilda memang sudah tiada. Sumur Mathilda yang menjadi penemuan Menten pun sudah ditutup sejak tahun 1903 dan kini menjadi Monumen Mathilda. Selama ini, Tugu Mathilda berada di kawasan Pertamina dan tertutup. Saya yang hidup puluhan tahun di Balikpapan saja belum pernah mengunjungi sumur Mathilda, apalagi mau bercerita banyak. Kalau mau mengunjunginya mesti ikut event-event khusus, mungkin dari komunitas atau ajakan pihak tertentu. Hingga tahun 2020, pemerintah Kota Balikpapan berharap lokasi ini dapat dibuka untuk umum dan diberi fasilitas penunjang. Entah di tahun 2021 ini, mungkin ada perkembangan. Sementara sumur minyak Louise 1, yang sama-sama hasil penemuan Jacobus Hubertus Menten di Sanga-sanga, Kab. Kutai Kartanegara, kini telah diresmikan menjadi destinasi wisata sejarah. Saya pikir, mungkin pemetaan wisata sejarah untuk Monumen Mathilda perlu pertimbangan matang oleh Pertamina dan masih butuh evaluasi.

sumber : kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbkaltim/sumur-minyak-matilda

PEREMPUAN-PEREMPUAN MATILDA

Setelah kelahiran Mathilda, kini di Balikpapan lahir perempuan-perempuan Matilda. Tidak, ini bukan bayi-bayi perempuan, melainkan emak-emak Balikpapan. Terinspirasi nama Mathilda, Pemerintah Kota Balikpapan bersama Kantor Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan (KPwBI Balikpapan) dan Tim Penggerak PKK Kota Balikpapan meluncurkan Gerakan Wanita Matilda (Mandiri – Terampil – Berdaya) pada 30 Juli 2019. Program ini bertujuan untuk menggerakkan perempuan-perempuan di Balikpapan agar dapat mengendalikan inflasi lewat upaya serta kompetisi. Perjuangan Wanita Matilda memerangi inflasi ini dilakukan dengan menerapkan pertanian modern (urban farming), usaha-usaha apa saja yang memungkinkan perempuan untuk mengelola keuangan keluarganya, edukasi, sosialisasi kampanye inflasi, serta kompetisi antar komunitas perempuan yang mewakili daerah masing-masing.

perempuan mandiri, terampil dan berdaya
"Sosialisasi Belanja Bijak dan Cinta Rupiah"
menjadi tema sekaligus kegiatan yang diadakan oleh Gerakan Wanita Matilda

perempuan mandiri, terampil dan berdaya
'Matilda' juga mengajak untuk mengurangi penggunaan kantong belanja plastik

perempuan mandiri, terampil dan berdaya
mengendalikan inflasi, menjadikan SDM berkualitas

Belanda tidak lagi berkuasa di kota ini, dan Jepang telah lama pergi meninggalkan bekas serangannya. Meski demikian, Balikpapan tetap harus berjuang untuk masa depan. Mengemas kehidupan lebih baik dengan cara menjadikan Sumber Daya Manusia berkualitas. Selain Gerakan Wanita Matilda, yang notabene perempuan, pelaku-pelaku kreatif lain kini bisa saling bergandengan menjadi pelaku ekonomi kreatif Balikpapan atau Ekraf Balikpapan. Beberapa tahun belakangan hingga ke depan, kita dituntut bertindak lebih aktif dan kreatif, sebagai bentuk kemandirian sekaligus upaya membangun negeri. 

DARI MATHILDA HINGGA HARI JADI KOTA BALIKPAPAN KE-124

Logo HUT Balikpapan 124
Dari pengeboran sumur Mathilda hingga tahun ini yang bertepatan dengan hari jadi Kota Balikpapan ke-124. Sebenarnya masih teramat banyak orang Balikpapan yang tidak mengenal sejarah dan asal-usul nama Balikpapan. Kita bisa mencari cerita sejarah Balikpapan dengan menelusuri lewat peramban, tapi sukar mengetahuinya lewat lisan-lisan warga kota. Tulisan-tulisan sejarah Balikpapan memang disediakan, tapi belum mengikat banyak warganya. Beberapa peminat sejarah Balikpapan menyebut literatur sejarah Balikpapan masih minim. Entahlah. Meski demikian, upaya-upaya untuk melestarikan sejarah kota patut diapresiasi. Foto-foto sejarah Balikpapan telah terpampang di Rumah Dahor (Dahor Heritage), Gedung Kreatif Klandasan, dan perpustakaan kota yang ini baik untuk generasi mendatang juga generasi lawas macam saya yang masih kurang pengetahuan tentang kota sendiri. Beberapa destinasi wisata sejarah juga dikelola dan bisa dinikmati publik.


Bagaimana kota minyak tetap bisa berkembang tanpa minyak? Sebenarnya ini hal yang lazim. Tidak selamanya manusia berharap pada SDM – Sumber Daya Minyak, karena sebagai manusia potensi utama yang mesti dikelola adalah dirinya sendiri, SDM – Sumber Daya Manusia. Tahun berganti tahun, kota industri dan bisnis yang juga diberi amanah menjaga hutan dan lautan harus terus melaju dengan Sumber Daya Manusia -nya. Dari Mathilda, Balikpapan menuju ke Matilda, satu cara mengembangkan potensi Sumber Daya Manusia Balikpapan. Tulisan ini memang tidak khusus membahas sumber daya manusia di Balikpapan. Tulisan ini bertujuan untuk turut serta menggairahkan langkah agar tetap bisa bersama membangun kota yang telah mendapat penghargaan Adipura Kencana beberapa kali, mengedepankan spirit agar mampu mengasah menjadi manusia berkualitas. Spirit itu bisa saja berasal dari pemahaman sejarah dan hari ulang tahun Kota Balikpapan menjadi momentum tuk mengingat sejarah. Karena sejarah dapat menjadi pegangan, menjadi pelajaran bagi manusia yang mau melangkah ke depan.  

Alhamdulillah, Balikpapan masih diberi kehidupan setelah ratusan tahun sejak penemuan minyaknya. Masih bisa merayakan HUT Balikpapan walau dalam keadaan berbeda. Memperingati HARI JADI KOTA BALIKPAPAN KE-124 dalam ketenangan kiranya bisa menciptakan khidmat yang mendalam.
Selalu banyak doa baik-baik ditaburkan untuk kota ini.

***
lomba HUT Balikpapan ke-124


---
Sumber tulisan dan bahan bacaan :
  1. Buku "History of The Royal Dutch" karya F.C Gerretson
  2. https://www.historia.id
  3. https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbkaltim/sejarah-kolonialisasi-di-kota-balikpapan/
  4. https://www.pertamina.com/id/news-room/energia-news/sumur-louise-1-destinasi-wisata-sejarah-baru-di-sangasanga-
  5. https://www.geni.com/people/Mathilde-Louise-Charlotte-Menten/6000000163167779833
  6. https://ancestors.familysearch.org/en/LZYN-LPF/mathilde-louise-charlotte-menten-1876-1976
  7. http://web.balikpapan.go.id/detail/read/46
  8. https://www.inibalikpapan.com/empat-versi-asal-usul-nama-balikpapan/
  9. https://kalimantan.bisnis.com/read/20190730/407/1130391/gerakan-wanita-matilda-jadi-program-baru-kantor-perwakilan-bank-indonesia-balikpapan-kendalikan-inflasi

Share:
Read More
, , , , ,

Celoteh Potensi dan Wisata Alam di Hari Jadi Kota Balikpapan ke-124

Wisata Alam di Balikpapan

Segara

Malam mulai melemparkan senja yang sedari tadi telah memikat manusia. Lintas generasi duduk mengamini keindahan senja di garis pantai kota sembari menenteng kamera, atau mencelupkan salome ke sausnya yang pekat. Membiarkan diri terbius cakrawala adalah kesadaran bahwa manusia bukan satu-satunya keindahan di muka bumi. Sayup-sayup kumandang azan menarik massa ke dalam masjid legendaris kota untuk menjawab syukur pada Pencipta senja, hingga malam benar-benar mengambil alih dan orang-orang datang kembali beserta keluarga mencicipi kuliner di tepi segara. Suara tawa bocah terbawa sejuknya malam, hingga lautan berubah lebih gelap, membiarkan rembulan membentuk mangatanya. Penghuni kota bahagia namanya, menikmati bahagianya yang sederhana. Sayang, tahun 2021 ini, tepat Hari Jadi Kota Balikpapan ke-124 telah mengukirkan kisah yang berbeda. Penghuni kota ini harus menunda keramaian dan berkumpul demi masa depan kota yang bergelar The World's Most Loveable City pada tahun 2015.

Jenggala

Para bekantan menyasar dahan, menyapu keheningan yang tersisa. Pada masanya, manusia pernah meranggas rumah mereka dan mereka balik menjejak di permukiman warga. Tak ada yang aneh dengan itu. Ini hanyalah konsekuensi magis dari alam yang tak harmonis, hingga rumah-rumah para bekantan yang disebut sebagai ekosistem mangrove itu dikembalikan. Sejatinya mangrove adalah rumah bagi satwa, sahabat bagi nelayan, mangrove adalah prajurit, ksatria dengan kaki-kakinya yang tangguh menjaga wilayah pesisir dari mara bahaya. Di sekitar kaki-kaki mangrove pula, hidup timpakul* bergelut di lumpur, penanda baiknya lingkungan yang subur.


CERITA LAWAS PESONA ALAM BALIKPAPAN

Kai (kakek, bhs. Banjar) dan Nenek pernah bercerita bahwa mulanya Balikpapan adalah hamparan hutan. Seandainya saja konsesi Mathilda tidak ada, mungkin tidak ada Kota Balikpapan hingga hari ini. Mungkin. Sambil menunjuk lokasi-lokasi yang pernah menjadi hutan, Nenek dan Kai yang pernah berlarian demi menghindari serangan bom Sekutu dan Jepang membuat saya yang masih kecil hening terpukau membayangkan kisah mereka. Beruntung di masa kecil, kami tinggal berdekatan dengan RSUD Balikpapan yang karena peralihan, kini dikenal sebagai eks. Puskib. Setidaknya masih banyak pohon cemara di sekitarnya, dan hutan kecil tempat saya memutus jalan.

Di tempat lain pun sama, masih banyak hutan di kota kala itu dan rawa yang belum tertutup tanah. Hutan yang mengizinkan saya memetik karamunting yang ranum, buah ungu manis mungil yang kini telah terkikis zaman. Belubut yang ternyata masih sepupu dengan buah markisa, dan ciplukan yang kini naik kelas sangat mudah saya temukan di masa itu. Pulang ke rumah membawa buah adalah berkah. Elok, indah dan pernah tersesat adalah kenangan masa kecil tentang hutan.

Hari Jadi Kota Balikpapan ke-124 dan Bincang Wisata
Karamunting di Hutan Kota Balikpapan

Lain kenangan hutan, lain pula tentang lautan. Wisata pantai yang saya tahu pada tahun 80-an hingga 90-an adalah Pantai Manggar dan Monumen Balikpapan. Minggu dan hari libur menjadi momen menyenangkan bagi kami yang masih bocah. Meski hanya secuil memori tentang lautan karena tidak tinggal dekat dengannya, saya masih bisa ingat duduk-duduk di dermaga Kampung Baru atau menanti kapal bersandar di Somber tuk membawa diri ke Penajam (dulu masih menjadi bagian Balikpapan) adalah seni menyelami alam.


Lalu, apa kabar wisata alam Balikpapan hari ini?

MENJENGUK PERKEMBANGAN
WISATA ALAM BALIKPAPAN

Pembangunan Balikpapan menjadi kota yang segar, terawat, layak huni dan layak investor membuat kota ini semakin maju dengan gedung-gedungnya, hotel dan mall. Meski banyak hutan yang telah beralih fungsi, Pemkot Balikpapan memberikan jaminan atas 52% wilayah kotanya akan tetap menjadi ruang hijau dan tidak akan ada konsesi batu bara meski batu bara berkualitas baik ditemukan. Hal yang patut diapresiasi dan didukung.

Dari tahun ke tahun wisata di Balikpapan sebenarnya makin menjamur dan membaik. Tengok saja Mangrove Center di Graha Indah, yang sebagiannya sempat menjadi kawasan banjir dan terjangan angin. Derita lama itu kini berubah menjadi cerita penghargaan demi penghargaan di mana kawasannya menjadi ekowisata yang banyak dikunjungi turis lokal hingga mancanegara.
Bincang Wisata di Hari Jadi Kota Balikpapan ke 124
menelusuri kawasan mangrove dari Mangrove Center Balikpapan 

Kebun Raya Balikpapan juga punya cerita menarik. Kawasan konservasi sekaligus eduwisata dengan luas 309,8 Ha beberapa waktu lalu memamerkan koleksi bunga bangkainya. Sungguh momen langka saat menyaksikan mekarnya amorphophallus paeoniifolius yang hanya beberapa hari saja, yang sebelumnya hanya bisa disaksikan di layar atau harus berkunjung ke daerah tertentu dulu. Lebih dari itu, Kebun Raya Balikpapan telah menjadi wisata hutan unggulan di Balikpapan, berkat cakupan wilayahnya, keanekaragaman hayati, kedekatannya dengan waduk, dan paket lengkap belajar dan berpetualang.
Enggang dan nepenthes menjadi penyambut di gerbang masuk Kebun Raya Balikpapan


Bincang Wisata di Hari Jadi Kota Balikpapan ke-124
salah satu area di Kebun Raya Balikpapan yang menarik banyak minat pengunjung

Bincang Wisata di Hari Jadi Kota Balikpapan ke-124
bunga bangkai di Kebun Raya Balikpapan yang telah mekar beberapa hari.
Meski demikian tetap menawan

Masih seputar kawasan Karang Joang, terdapat pula kawasan Hutan Lindung Sungai Wain. Hutan primer ini juga menjadi rumah bagi hewan dan tanaman endemik. Begitu banyak perubahan pengelolaan wisata alam dari sekian puluh tahun dan ini patut diacungi jempol. Pengelolaan yang tidak hanya menjamah keinginan pengunjung, namun juga mampu menjaga kebutuhan lingkungan layaknya kebersihan, kelestarian, kealamian. Sekali lagi, masih banyak kawasan hutan yang menjadi topik wisata di Balikpapan yang semestinya bisa menjadi khazanah pengetahuan khususnya bagi warga Kota Balikpapan. 


Bagaimana dengan kawasan wisata perairan di Balikpapan?

Tidak lengkap rasanya tanpa membincangkan Pantai Manggar Segarasari. Sebagai sosok yang sedari kecil berkunjung ke Pantai Manggar, amat terasa perubahan tempat ini, yang telah menjadi lebih bersih, lebih sehat, terjaga dan makin erat membantu perekonomian warga sekitarnya. Sepanjang garis pantai itu dapat pula ditemukan wisata-wisata pantai lain: Pantai Lamaru, Pantai Teritip dan berbelok arah ada Pantai Seraya, Pantai Kemala, serta kawasan Melawai. Mampir ke Jembatan Ulin Kariangau untuk menikmati lautan juga tak kalah elok. Rasa-rasanya mampu mendendangkan hati yang resah.
Bincang Wisata di Hari Jadi Kota Balikpapan ke-124
lebih bersih, tertata.

Bincang Wisata di Hari Jadi Kota Balikpapan ke-124
pantai lain di Balikpapan yang tak kalah menawan

Waduk Manggar yang bersisian dengan kawasan hutan pun tak kalah rupawan. Tidak berlebihan kiranya jika menyebut gema alamnya, mampu melerai batin yang kusut. Bendungan Teritip yang juga disiapkan sebagai tempat wisata teranyar yang menggabungkan alam dan buatan kiranya bisa menjadi wisata perairan yang mengasyikkan.
Bincang Wisata di Hari Jadi Kota Balikpapan ke-124
waduk manggar

MENGGALI POTENSI
PERMATA TERSEMBUNYI

Bukan hal baru bila orang luar bertanya tentang wisata Balikpapan dan muncul anggapan bahwa wisata Balikpapan bersifat ‘itu-itu saja’. Mendefinisikan dan mengimajinasikan wisata bisa berbeda pada tiap orang. Saya bersyukur menjadi bagian kehidupan Balikpapan yang dilimpahi rasa syukur. Biar kata ada pendapat ‘wisatanya itu-itu saja’, kami adalah orang-orang yang bahagia menikmati wisata di kota kami. Ungkapan ‘bahagia itu sederhana’ saya kira nyata adanya.

“Nggak ada air terjun di sini ? Gunung-gunung?” tanya si pendatang.

“Oh, kami punya banyak gunung di sini. Ada Gunung Sari, Gunung Malang, Gunung Pasir, Gunung Guntur, Gunung Komendur, Gunung Kawi, Gunung Tembak, Gunung Belah, Gunung Samarinda dan masih banyak lagi yang kesemuanya kami abadikan dalam nama jalan dan kelurahan. Anda mau ke mana?” jawab orang setempat berkelakar.

Semenjak ditemukan minyak yang menjadi penanda hari jadi Kota Balikpapan, banyak yang percaya bahwa masih banyak potensi kekayaan di kota ini, baik yang sudah digali namun belum mengumandang, atau yang masih tersembunyi. Kini, kita menyebutnya the hidden gems, mengacu pada potensi wisata yang belum banyak terjamah dan terkenal.

Hari Jadi Kota Balikpapan ke-124
permata tersembunyi, mungkin masih tersimpan di tempat sunyi.

Sebut saja etlingera balikpapanensis alias jahe Balikpapan yang hidup di Hutan Lindung Sungai Wain yang sampai sekarang masih bersembunyi untuk dikenal luas. Jahe raksasa yang menjadi tanaman endemik ini masih diteliti untuk diketahui manfaatnya lebih banyak lagi selain anti kanker, anti diabetes, anti inflamasi. Penelitiannya juga mencakup kemampuan rimpang besar ini sebagai penangkal virus yang namanya tersohor di masa pandemi. Namun, berapa banyak warga Balikpapan yang tahu jenis jahe yang tergolong tanaman endemik ini? Benar, selain karena masih adanya penelitian, gaungnya pun belum merakyat. Sampai sekarang, menelusuri berita tentang jahe Balikpapan di situs-situs lokal, masih kalah tenar namanya dari penjual jamu jahe.
Bincang Wisata di Hari Jadi Balikpapan ke-124
jahe Balikpapan dan sumber informasi yang masih minim.
sumber foto : https://kaltim.idntimes.com

Anda tahu kangkung ? Ah, pertanyaan apa ini. Tentu saja Anda sudah tahu kangkung. Tapi, masih banyak orang berpikir bahwa jenis tanaman ramah air yang mudah tumbuh liar ini hanya sayur biasa, kalah kelas dibanding selada. Pikiran ini bisa berubah jika bicara kangkung di Pulau Lombok (NTB). Kangkungnya yang istimewa membuat banyak turis pulang membawa oleh-oleh kangkung.

Apakah di Balikpapan tidak ada kangkung? Kalau Anda rajin berbelanja sayur baik di pasar atau di penjual berkendara, rata-rata penjual sayur akan berkata kalau kangkung air Sumber Rejo berkualitas baik, dan biasanya bisa lebih mahal dari kangkung selain hidroponik. Berdasarkan pengalaman saya, kangkung sumber rejo terlihat lebih mulus, hijau dan segar. Dinamakan kangkung sumber rejo karena berasal dari kawasan Sumber Rejo, yang awalnya hanya lahan kangkung segar, kini menjadi destinasi wisata bernama Kampung Kangkung Kang Bejo, wisata alam berbasis ekowisata dan eduwisata yang makin berkembang.
Bincang Wisata di Hari Jadi Kota Balikpapan ke-124
Kampung Kangkung Kang Bejo
sumber foto : https://kaltim.tribunnews.com/

Dari kangkung kita ke Kampung Nelayan Berdasi di Kariangau yang juga tak kalah apik. Berpetualang mencari ikan segar makin asyik bertemu dengan bangau dan bekantan, bila beruntung. DI tempat ini, menyaksikan ikan nila dan ikan julung-julung berenang bersama bukan hal aneh. Adanya rumah apung membuat naluri ingin tahu bagaimana melayang di air makin besar, apalagi kalau kita bukan tergolong yang pernah berkendara di atas air. Meski kawasan Balikpapan banyak terdiri dari perairan, namun wisata apung masih dipertanyakan. Bahkan beberapa pengunjung dari Kampung Baru datang ke tempat ini tidak dengan angkot atau kendaraan darat, melainkan dengan kapal. Tidak banyak warga Balikpapan yang tahu rasanya keliling Balikpapan dengan kapal.

Bincang Wisata di Hari Jadi Kota Balikpapan ke-124
gazebo dan 'rumah' apung di Kampung Nelayan Berdasi

Sebenarnya masih banyak hidden gems yang bersentuhan dengan alam yang mungkin bisa ditambahkan dalam tulisan ini. Beberapa tahun lalu, ketika berolahraga pagi, saya menemukan pemandangan yang belum pernah saya temukan di Balikpapan, yakni hamparan sawah yang begitu luas. Kini, sawah di bebukitan itu berubah menjadi ladang ketela. Saya pikir, mungkin saja saya kurang berjalan-jalan keliling Balikpapan, sehingga pemandangan sawah menjadi momen langka. Namun, sawah ini bukan area wisata. Saya kira, setiap area pertanian dan perkebunan yang memiliki daya tarik wisata dan ingin dijadikan destinasi wisata perlu dipertimbangankan aspek lingkungan, sosial dan juga budaya yang menyertainya agar tidak rusak. Jangan sampai tanaman jadi stres karena adanya pengunjung. Hanya ingin menggarisbawahi, bahwa tanah Balikpapan sebenarnya punya potensi yang baik untuk tumbuh subur. Sementara untuk mengembangkan menjadi destinasi wisata, bisa dilakukan dengan membuat eduwisata alam tematik atau wisata alam berbasis smart-green-concept. Mungkin selain Kampung Kangkung Kang Bejo, akan ada kampung-kampung sayur mayur dan tanaman lainnya.

sawah di bebukitan. Cantik ya.


HARI JADI KOTA BALIKPAPAN KE-124
DAN PERAN SERTA WARGA UNTUK MASA DEPAN WISATA

Ketika berada di luar kota, saya melihat billboard memampang ajakan kunjungan ke sebuah tempat wisata. Tidak hanya sekali, ternyata praktik promosi tempat wisata secara besar-besaran ini beberapa kali saya temukan di luar daerah. Bagi traveller seperti saya, iklan semacam ini sangat membantu, sehingga saya tahu apa yang benar-benar sedang hits di daerah tersebut. Bagi warga setempat yang sedang tidak berwisata, bentuk promosi ini akan cukup memberi tanda di ingatan, apa yang kesohor di daerah mereka.

Ketika bunga bangkai mekar di Kebun Raya Balikpapan (KRB), saya tidak mengetahuinya dari banyak orang, kebetulan saja saya memfollow akun instagram KRB. Media sosial dan internet telah memberi banyak dampak baik pada hari ini. Namun, tentu tidak banyak yang mengikuti akun-akun tempat wisata di Balikpapan. Karena itu masih dibutuhkan peran warga kota yang lain hingga mampu menyasar ke lapisan masyarakat yang lain. 

Teman-teman, keluarga, tetangga, kebanyakan akan menjawab pantai ketika ditanya apa saja wisata alam di Balikpapan, dan rata-rata mereka akan menjawab minyak, ketika ditanya apa saja kekayaan alam di Balikpapan. Artinya masih diperlukan sosialisasi serta mengolaborasikan karsa dari berbagai pihak agar warga kota mampu melihat dan turut mengembangkan wisata dan potensi alam di Balikpapan. 

Di abad kreatif saat ini, peran dan dukungan warga untuk mengembangkan potensi wisata khususnya yang bersentuhan dengan alam bisa dilakukan dengan kreativitas. Tahun ini pemerintah telah menyusun masterplan Ekonomi Kreatif ( Ekraf Balikpapan ) yang diusulkan melalui anggaran Kemenparekraf RI. Apakah seni dan kreativitas bisa menyentuh sektor wisata? Tentu bisa. Tujuh belas (17) subsektor yang kini ada bisa dikembangkan hingga menyentuh level pariwisata. Sebagai warga kota, kita juga bisa menjadi relawan Ekraf Balikpapan yang untuk saat ini bisa bergabung ke official akun instagram di @ekrafbalikpapan sembari menyimak info-info berharga.
HUT Balikpapan ke-124
Banyak nilai yang didapat dari berkembangnya wisata khususnya wisata alam dan potensi kekayaannya, mulai dari kelestarian keanekaragaman hayatinya, kesadaran pangan hingga tumbuhnya perekonomian warga.

Tahun ini bertepatan dengan HUT Kota Balikpapan ke-124 ( sejak 10 Februari 1897 hingga 10 Februari 2021)Bila manusia, rasanya sudah dicap renta. Saya kira tidak dengan Balikpapan. Kota ini masih segar bugar, masih kuat melangkah. Saya bangga menjadi bagian dari kota ini. Menumbuhkan perasaan bangga adalah mindset yang mestinya dibangun sejak dini. Kebanggaan juga mampu menumbuhkan kesadaran bahwa warga Balikpapan punya peran penting membangun dan menjaga kelestarian alamnya. Pandemi mengajarkan manusia untuk hidup selaras dan berdampingan dengan alam. Wisata alam maupun wisata alam buatan bagi saya adalah salah satu gerbang untuk mengenalkan manusia dengan alam dan membangun kesadaran ekologis. 

Hari jadi Kota Balikpapan ke-124 menjadi pengingat buat saya untuk selalu bangga berada di kota dengan kekayaan alamnya. Semoga masa depan Balikpapan dan alamnya terus terjaga.

***

Catatan :
*timpakul = bahasa setempat untuk ikan bermata kodok, yang hidup di perairan lumpur atau dangkal.
KBBI = tembakul

Sumber dan bahan bacaan :
http://web.balikpapan.go.id/berita/read/5741
https://nomorsatukaltim.com/2021/02/02/optimalkan-ekonomi-kreatif-tahun-ini-balikpapan-susun-masterplan/
https://kaltim.idntimes.com/news/kaltim/muhammad-haikal-2/jahe-balikpapan-diteliti-untuk-jadi-obat-penangkal-virus-corona

lomba HUT Balikpapan ke-124


Share:
Read More
, , ,

GENERASI BBM RAMAH LINGKUNGAN WUJUDKAN LANGIT BIRU

"Kenapa aku harus belajar untuk masa depan yang mungkin tidak ada lagi, ketika tidak ada satu orang pun yang bergerak untuk menyelamatkan masa depan?" ucap Greta Thunberg yang diperdengarkan di Polandia pada UN Climate Change Conference, 2018. Bagi para pecinta lingkungan, sulit untuk tidak mengetahui siapa Greta Thunberg, gadis muda aktivis lingkungan yang kata-katanya menggetarkan para pemimpin dunia di KTT Perubahan Iklim PBB.
"Kalian telah mencuri impian dan masa kecil saya dengan kata-kata kosong kalian," ujarnya. Sebagian dari kita akan berpikir betapa beraninya Greta mengucapkan kalimat itu, sebagian lagi yakin bahwa ucapan itu sangat tepat untuk menohok janji-janji indah para pemimpin tentang masa depan, sementara masa yang kita hadapi saat ini masa di mana perubahan iklim terjadi, kerusakan lingkungan, virus beredar, dan masa di mana kita menyongsong musibah dan bencana-bencana alam. Jadi, masa depan seperti apa kelak yang didapat saat generasi baru terlahir?

Untuk masa depan pula, penanganan perubahan iklim harus ditempuh dari berbagai sektor. Dari sektor energi dan transportasi ditempuh pemerintah Indonesia untuk ditangani lewat program bernama Langit Biru, sejak tahun 1996. Sayangnya, program ini terasa maju-mundur, tarik-ulur, sehingga hasil yang didapat pada hari ini masih belum signifikan. Inilah yang disampaikan Ketua Pengurus Harian YLKI, Tulus Abadi pada Diskusi Publik yang saya ikuti dengan tema : Mendorong Penggunaan BBM Ramah Lingkungan Guna Mewujudkan Program Langit Biru pada 10 Maret 2021. Diskusi publik yang menyoroti Program Langit Biru dan bagaimana mewujudkan penggunaan BBM ramah lingkungan bersama segenap elemen masyarakat turut pula menghadirkan pihak-pihak terkait yang berasal dari Kota Pontianak, Samarinda, Balikpapan, Gorontalo, Kendari dan Kabupaten Kotawaringin Timur, bersama para influencer dari daerah terkait, dan penyanyi Ibu Kota Nugie, serta KBR dan YLKI sebagai penyelenggara acara.



INDAHNYA LANGIT BIRU,
MENGHIRUP UDARA TANPA RAGU

Sebenarnya pencanangan Program Langit Biru sudah dimulai sejak tahun 1996, tepatnya di Semarang oleh Menteri Lingkungan Hidup. Program Langit Biru adalah upaya mengurangi pencemaran udara khususnya yang berasal dari pemakaian energi bahan bakar baik dari sumber bergerak (kendaraan) maupun sumber tidak bergerak (industri).

Berdasarkan standar emisi Euro (standar yang digunakan negara Eropa untuk kualitas udara). Semakin tinggi standar Euro yang ditetapkan maka semakin kecil batas kandungan gas karbon dioksida, nitrogen oksida, karbon monoksida, volatil hidrokarbon, dan partikel lain yang berdampak negatif pada manusia dan alam. Dalam Permen LHK No. 20 Tahun 2017, standar Euro yang dipakai di Indonesia adalah standar emisi Euro IV, di mana kandungan nitrogen oksida pada kendaraan berbahan bakar bensin tidak boleh lebih dari 80 mg/km, 250 mg/km untuk mesin diesel, dan 25 mg/km untuk diesel particulate matter. Sementara untuk kandungan RON  (research octane number) dalam BBM minimal 91 (minimal pertalite), namun bila mengikuti standar Euro IV maka BBM ramah lingkungan yang dimaksud lebih mengarah ke pertamax turbo (RON 98).

sumber : Gaikindo

Nilai Oktan BBM :
Premium : RON 88
Pertalite : RON 90
Pertamax : RON 92
Pertamax Turbo : RON 98
Pertamax Racing : RON 100
(sumber : Pertamina)
sedikit perbedaan BBM dengan RON 88 dan BBM dengan RON 92

BBM sebagai komoditi utama kendaraan tentu mendapat sorotan penting dalam Program Langit Biru. Sampai hari ini, BBM yang tidak ramah lingkungan telah menjadi momok terbesar sebagai penyumbang polutan. Gerakan BBM ramah lingkungan merupakan wujud kesadaran dan partisipasi segenap pihak dalam menangani penurunan emisi gas buang.

 

PROGRAM LANGIT BIRU,
PROGRAM PEMERINTAH YANG MESTI TERUS DIKETUK

Data dari The Global Burden of Disease Study (GBD) menyebutkan 18% kematian di dunia sepanjang 2018 disebabkan polusi udara atau emisi yang berasal dari energi fosil. Sudah 25 tahun program ini didengungkan, namun hasil yang diharapkan belum tampak nyata. Menurut Tulus Abadi, pemerintah tampak maju-mundur menjalankan program Langit Biru. Hingga kini BBM non-ramah lingkungan masih disediakan dan menjadi incaran masyarakat.

Tulus Abadi, YLKI (kanan)

Hal sulit lain yakni masih mendominasinya bahan bakar berbasis energi fosil di sektor-sektor penghasil energi seperti pembangkit listrik. Penerapan program ini seyogianya mesti ditekan dari hulu ke hilir. Tidak hanya lapisan masyarakat, namun juga dari industri-industri rumah kaca, dan pemerintah sendiri. Maklumat Langit Biru di Indonesia, sebenarnya juga menjadi maklumat yang didengungkan di dunia lewat Protokol Paris yang ditandatangani Presiden Jokowi pada 2015, dengan tujuan mereduksi gas karbon demi menanggulangi kerusakan alam saat ini. Saat ini setidaknya masih ada 7 negara yang masih menggunakan BBM beroktan rendah atau RON 88 alias premium, yakni : Bangladesh,  Kolombia, Ukraina, Mesir, Mongolia, Uzbekistan, dan Indonesia. Ini artinya, hanya Indonesia negara di ASEAN yang masih menjual BBM non-ramah lingkungan dan artinya hampir semua negara sudah menggunakan BBM ramah lingkungan sesuai standar EURO IV, hingga EURO V dan EURO VI. 

Berdasarkan Permen Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 20 Tahun 2017, yang menyebutkan mesin bensin mengonsumsi BBM dengan RON minimal 91, kandungan timbal (Pb) minimum tidak terdeteksi, dan kandungan sulfur maksimal 50 ppm, agar sesuai standar Euro IV, maka Tulus Abadi sempat memberikan solusi bagi Pertamina agar BBM Pertalite di-upgrade sedikit untuk RON minimal 91. Sedangkan untuk sulfurnya sangat tinggi, mencapai 500ppm, jauh dari rekomendasi Permen di atas.


KLHK DAN PROGRAM LANGIT BIRU

Saya mengetahui program Langit Biru dari beberapa tahun lalu, namun menyimak obrolan dengan Pak Tulus membuat pertanyaan-pertanyaan lama saya kembali membuka. Dukungan atas program ini sudah banyak dilakukan oleh masyarakat, termasuk diri pribadi. Hanya saja, dua puluh lima tahun memang bukan waktu yang sebentar. Bagaimana peran pemerintah membangun kesadaran dan menindaklanjut program menjadi pertanyaan besar.

Ibu Ratna Kartikasari, Kepala Sub Direktorat Pengendalian Pencemaran Udara Sumber Bergerak KLHK selaku pihak pemerintah menanggapi kenyataan tentang bagaimana Program Langit Biru berjalan di lapangan. Sosialisasi dari KLHK selain dari Permen dan kebijakan, sudah lama digemakan ke masyarakat lewat kanal-kanal resmi KLHK dan kampanyenya.

Ratna Kartikasari (kanan)

Ratna Kartikasari mengakui bahwa upaya itu masih belum segencar dengan apa yang dilakukan YLKI, selaku pihak non-government. Sehingga KLHK menyambut antusias publik dan ketukan pintu. KLHK telah mengedukasi masyarakat dan industri otomotif agar sejak 2018 menyiapkan kendaraan yang bermesin BBM sesuai teknologi EURO IV. Untuk penggunaan BBM ini yang paling sesuai adalah Pertamax Turbo dengan kadar RON 98. Bicara tentang industri otomotif yang tak lepas dari tantangan Program Langit Biru, terdapat kebijakan yang mengharuskan industri otomotif memproduksi dua jenis tipe kendaraan, yakni kendaraan sesuai standar teknologi EURO II dan kendaraan sesuai EURO VI (untuk ekspor). Ratna Kartikasari juga bicara dua syarat dari tiga belas kriteria bagi kendaraan tipe baru untuk bisa mendapatkan sertifikat uji tipe. Dua kriteria yang menjadi kewenangan KLHK tersebut adalah kriteria uji kebisingan dan kriteria uji emisi. Khusus yang menjadi kriteria uji emisi inilah yang harus berlandaskan Permen LHK No. 20 Th. 2017.

KLHK sudah meluncurkan aplikasi ISPU : Indeks Standar Pencemaran Udara, yang bisa diunduh oleh pengguna android (masih android). Lewat aplikasi ini bisa dicek kualitas udara, nilai kelembaban, tekanan udara, suhu dan grafik parameternya. Pengguna juga bisa memantau kondisi udara di kota lain yang telah terkoneksi dengan pemantau kualitas udara di daerah tersebut. Setidaknya kini sudah ada 39 stasiun pemantau kualitas udara dan 11 sedang tahap pembangunan.

 

REGULASI DAN DAMPAK POLUSI

Setiap kebijakan pada dasarnya akan memiliki dua dampak : diterima dan ditolak, dilaksanakan dan diabaikan, diyakini dan dibantah, meski itu kebijakan tepat dan baik sekali pun. Saya mengapresiasi Program Langit Biru sejak lama, udara bersih adalah kebutuhan penting kehidupan. Apakah masyarakat sudah sedemikian paham tentang hal ini? Udara bersihnya iya, namun bagaimana dengan program Langit Biru-nya? Ini yang mestinya bisa terjawab dan terwujud selama 25 tahun berlalu. Bangkitnya kesadaran masyarakat, kesiapan beralih ke BBM ramah lingkungan, dan paling penting kemampuan pemerintah sebagai penyedia BBM, regulator, dan mengantisipasi hal-hal yang menyulitkan ketika kebijakan ditetapkan. Sehingga tidak ada pihak yang menjadi korban kebijakan.

Sebagai pihak regulator, pemerintahlah yang harus menjual BBM yang memenuhi standar kepentingan masyarakat luas. “Saat ini mendapatkan udara bersih bebas polusi adalah kepentingan masyarakat,” ucap Fabby Tumiwa, Direktur  Eksekutif Institute for Essential Service Reform (IESR). Pada kota-kota besar, emisi gas buang kendaraan bermotor menyumbang hingga 70% - 78% sebagai polusi udara. Fakta yang tidak dapat diabaikan, udara yang kotor dan tercemar membuat kinerja tubuh menurun dan biaya kesehatan meningkat. Biaya kesehatan yang meningkat juga harus ditanggung oleh pemerintah lewat bantuan kesehatannya atau BPJS. Data di lapangan juga menyebutkan bahwa penyakit dan gangguan yang diakibatkan udara yang terkontaminasi telah mengalami peningkatan. Berdasarkan beberapa studi telah terjadi kerugian ekonomi hingga puluhan triliun terkait dampak kesehatan yang terjadi karena polusi udara.

Sesi diskusi dengan Fabby Tumiwa kali ini menambah perenungan panjang tentang betapa mahalnya BBM non-ramah lingkungan yang terasa murah.

Secara umum, orang akan memilih sesuatu yang lebih murah dikarenakan faktor ekonomi, kebiasaan, mindset dan memang belum terbangunnya kesadaran. Anda mungkin tahu lelucon tentang masyarakat Indonesia yang lebih suka motoran ke mana-mana dibanding jalan kaki, jarak ke warung yang hanya 100 meter mendingan naik motor daripada berjalan. Ini pula yang saya petik lewat perbincangan dengan Fabby Tumiwa sebagai ujung-ujung dari bensin murah. Sebagai saran untuk pemerintah, hendaknya meningkatkan kualitas BBM yang tersedia, penerapan harga yang tepat, dan solusi agar konsumsi BBM menjadi minim, begitu ucapnya.

Bicara solusi agar konsumsi BBM dapat minim, Bu Ratna Kartikasari menyebut semakin tahun, telah tercipta sarana-prasarana yang menyokong solusi tersebut. Banyaknya pedestrian, jalur-jalur pesepeda, dan adanya sarana transportasi publik yang murah dan aman guna meminimalisir penggunaan BBM secara pribadi juga sudah disediakan pemerintah. Tinggal bagaimana membentuk mindset  di masyarakat.


PERAN PENTING PERTAMINA

Menjawab tantangan Program Langit Biru, Pertamina sebagai perusahaan pelat merah dan punya andil paling penting dalam program ini, sebenarnya telah memberikan harga khusus BBM pertalite di beberapa daerah sesuai analisa pendapatan daerah per kapita, daya beli masyarakat dan lain sebagainya. Harga yang diberikan terpaut tidak jauh dari premium, sehingga masyarakat pun tidak merasa kaget.

Mengutip pernyataan Deny Djukardi, dari Pertamina, cakupan wilayah program pertalite murah sebagai bagian dan Program Langit Biru Pertamina yang tadinya mendominasi daerah Jawa, Madura, Bali, per 7 Maret 2021 meluas ke wilayah-wilayah luar Jawa.

Baca : Menjunjung Langit Biru

Berdasarkan survei pribadi, sebenarnya sudah banyak teman-teman dan kerabat memilih produk BBM selain premium, meski bukan karena isu lingkungan melainkan kestabilan mesin kendaraan. Namun, mengapa Pertamina masih memberikan kesempatan pada BBM non-ramah lingkungan untuk beredar? Menurut Deny Djukardi, pihak Pertamina memberikan tahapan di lapangan. Sejalan dengan survei di ranah pribadi saya, hingga hari ini fakta menunjukkan bahwa banyak orang memilih meninggalkan premium. Ini artinya sudah banyak masyarakat yang merasakan kenyamanan BBM pertalite (ke atas).

“Kalah beli, menang pakai. Kita belinya lebih mahal, tapi jangka panjangnya lebih irit.
-- Deny Djukardi, Pertamina.
Deny Djukardi (narasumber)

 

MENJAGA LANGIT BIRU
BALIKPAPAN

Pembangunan di Indonesia kini telah menuju ke luar Jawa (tidak lagi Jawa-sentris), dan ini dapat dilihat dari upaya-upaya pemerintah melakukan pemerataan pembangunan di pulau-pulau lain. Pulau Kalimantan mendapat perhatian besar kali ini, apalagi setelah penetapan pemindahan ibu kota negara oleh Presiden RI. Mobilitas dinilai akan jauh meningkat, sehingga pergerakan BBM pun akan mengalami peningkatan.

Sebagai pintu gerbang dan kota penyangga (calon) IKN, serta pemilik bandara terbesar di KalTim dan pelabuhannya yang lintas pulau, Balikpapan mesti berbenah sejak dini dalam hal mobilitas. Saya yang lahir dan besar di kota yang sering dikira sebagai ibu kota propinsi Kalimantan Timur ini masih bisa menikmati indahnya langit biru hingga hari ini. Ketika kami tidak dapat menikmati langit biru, itu pertanda mendung. Tapi, saya menyadari, kian tahun kendaraan makin memenuhi kota ini. Sewaktu kecil, sulit bagi saya menemukan kemacetan kecuali di hari lebaran. Kini, kemacetan itu tak perlu menunggu hari besar.

Namun, saya masih bersyukur kota ini masih kondusif. Pihak pemerintah dan masyarakat bahu membahu menjaga, melestarikan kota yang masih berisi hutan alaminya ini. Bapak Tommy Alfianto, dari DLH Balikpapan menyebut adanya program aksi penurunan efek gas rumah kaca, yang sudah disusun sejak 2010. Data dari Pertamina menyebut bahwa masih ada 20% pengguna premium di Kota Balikpapan. Tommy menyampaikan bahwa dua puluh persen ini menjadi target pihaknya untuk ditekan. Pertamina sendiri menyiapkan diskon khusus bagi masyarakat untuk beralih ke pertalite, yang kemungkinan dimulai pada tahun ini.

langit biru di atas sebagian hutan Kota Balikpapan

Sementara itu, Agus Budi, Kepala Bappeda Litbang Balikpapan, menyebutkan bahwa Pemkot kota ini punya komitmen terhadap tiga kebijakan strategis : (1) mengintegrasikan gerakan penurunan emisi termasuk pengelolaan limbah, (2) menjaga kawasan lindung sebanyak 52% dari total kawasan di Balikpapan dan hanya mengembangkan kawasan budi daya sebanyak 40% (3) memastikan Balikpapan sebagai daerah bebas tambang batubara, meski terdapat batu bara berkualitas baik di sini. Sebagai warga Balikpapan, saya mengakui tidak ada tambang batu bara di kota ini. Bicara tentang komitmen, tidak lepas dari implementasi, sampai kini Balikpapan sudah berupaya mengurangi berbagai sumber kerja polutan, termasuk mengelola TPA di kota ini.

Selain narasumber terkait dari Balikpapan dan Samarinda (KalTim), narasumber dari Pontianak, Kotawaringin, Gorontalo juga memberikan pemaparan menarik. Masing-masing daerah punya upaya mengurangi pencemaran udara.


INFLUENCER DAN BANGKITNYA KESADARAN GENERASI BBM RAMAH LINGKUNGAN

Diskusi publik ini semestinya membuat kita berbenah, tapi siapakah ‘kita’ di sini ? Selama kesadaran menjaga lingkungan masih terbatas pada sebagian pihak, maka kebersamaan ‘kita’ sebagai bangsa yang sadar akan lingkungan belum terpenuhi. Membangun kesadaran ini mesti diemban semua pihak, sampai lingkup terkecil sekali pun.

Di era digital, peran influencer tak pelak membawa dampak bagi para pengikutnya. Apa yang dilakukan, dikampanyekan, disuarakan influencer menjadi daya tarik para warga net. Artis dan penyanyi sekelas Nugie, menyuarakan lingkungan lewat karya-karyanya. Sumbangsihnya tak lepas dari pemahaman akan bahaya kerusakan alam serta tahu bersikap. Bagaimana dengan influencers lain ? Diskusi publik ini juga menghadirkan Rion Laode, penyanyi Indonesian Idol asal Kendari, vlogger dari Pontianak, Irfan Ghafur – si anak indie, komika dan selebgram asal Samarinda,  Rika Kornelisa - selebgram dari Kotawaringin Timur.

Nugie : musisi, pemerhati lingkungan

Irfan Ghafur : apa kabar semesta ?

Sebenarnya kesadaran milenial dengan pola hidup sehat, ramah lingkungan, minimalis dan eco-green terlihat membaik kian tahun. Namun mesti diakui juga, kebaikan ini belum meluas. Irfan Ghafur, komika asal Samarinda rupanya cukup mewakili suara rakyat nun jauh. Betapa pun BBM ramah lingkungan terasa keren, tapi saat mahal menjadi tidak bisa makan, karena masih banyak rakyat yang menggantungkan hidup di jalan, menjadi kuri,  ojek atau jualan sayur keliling. Suara-suara rakyat semacam ini patut diapresiasi, sehingga pemerintah bahu-membahu, bersanding rakyat menetapkan solusi, membangun kesadaran demi mengentaskan masalah yang sekiranya muncul. Seorang Irfan juga menyoroti isu lingkungan yang mungkin belum menjadi fokus kebanyakan penggiat konten, bisa saja karena pemahaman ramah lingkungan yang masih terbatas dan lazim, misal : bagaimana membuang sampah, mengolah sampah yang benar. Sementara isu besar dari lingkungan yang terkait dengan kebijakan masih sedikit mendapat sorotan dari para content creators. Hal senada juga nampak diakui Nugie.

Lalu bagaimana para content creators, artis dan influencers dapat menyuarakan Program Langit Biru, khususnya menjadi generasi BBM ramah lingkungan ? Ini bisa dilakukan dengan mengadopsi beberapa langkah berikut :

  1. Menjelaskan (lewat konten atau karyanya) kelebihan BBM ramah lingkungan dibanding BBM yang tidak ramah lingkungan dari sisi kebaikan kendaraan. Sumber otomotif menyebut tipe mesin kendaraan zaman sekarang sudah berjodoh kok dengan bbm beroktan tinggi.

  2. Membuat konten tentang kerusakan-kerusakan alam dan pencemaran udara yang bisa terjadi akibat penggunaan BBM non-ramah lingkungan.

  3. Menyesuaikan gaya bahasa karena tidak semua nyaman dengan istilah yang tidak familier, seperti RON, timbal, EURO IV, emisi. Ibu saya akan pusing dengan ragam kata itu, tapi beliau tahu bagaimana nasib manusia bila udara tercemar karena polusi kendaraan, tahu bahwa lebih baik banyak berjalan kaki selama jarak tempuh wajar, tahu kalau langit biru adalah langit yang sehat karena tidak adanya asap.

  4. Alternatif berkendara dan gaya hidup sehat. Para penggiat konten bisa membuat sajian informatif tentang gaya hidup minim berkendara, misal : bersepeda, jalan kaki. Atau konten dukungan terhadap trasportasi umum.



  5. Edukatif, menyenangkan. Bukan rahasia kalau masyarakat suka dengan konten yang menghibur. Di antara mereka ada prinsip : hidup ini sudah beban, jangan lagi ditambah persoalan. Di sini, peran influencer menjadi dinamis dan mengubah persoalan terlihat solutif adalah bentuk kreativitas abad ini.

Mewujudkan Langit Biru dengan mendukung BBM ramah lingkungan adalah upaya menjaga keberlangsungan bumi. Kita semua suka memandang langit biru bersih dengan gumpalan awan putih menawan bukan ? Di saat pandemi begini, di kota besar dengan mobilitas tinggi, langit biru tak malu-malu lagi menampakkan diri. Namun, pandemi bukan solusi. Kesadaran, kontinuitas dan mobilitas kitalah yang menentukan kita sebagai generasi BBM ramah lingkungan guna mewujudkan generasi langit biru.

***


Share:
Read More