, , ,

Mengantisipasi Kecemasan Virus Korona


Satu minggu sebelum pengumuman social distancing dan anjuran di rumah saja.

Saya masih menggendong Cmumut yang badannya bolak-balik demam sambil menunggu hasil lab selesai. Rupanya hasilnya cepat keluar dan dengan santun dokter menjelaskan bahwa si neng kecil ini positif demam berdarah sehingga harus rawat inap. Deg.

Hari itu juga saya melarikannya ke rumah sakit untuk permohonan rawat inap. Waktu itu media-media sudah ramai memberitakan kasus positif coronavirus pertama di Indonesia. Masyarakat kita menyebutnya virus korona. Saya tidak ingat bagaimana perasaan saya saat itu, sepertinya sudah campur baur dengan rasa capek. Uniknya, saya masih berpikir bahwa berada di RS mungkin akan bisa mengisi energi dalam beberapa hari ke depan, dibanding kalau saya harus merawat si neng di rumah. Tapi, yang pasti saya tahu saya mesti berjibaku dengan waktu sebelum di kota saya sendiri akan ramai dengan berita virus korona.

"VIRUS KORONA adalah virus corona merupakan keluarga besar virus yang menyebabkan infeksi saluran pernapasan atas ringan hingga sedang, seperti penyakit flu.
Sampai saat ini terdapat tujuh coronavirus (HCoVs) yang telah diidentifikasi, yaitu:
HCoV-229E.
HCoV-OC43.
HCoV-NL63.
HCoV-HKU1.
SARS-COV (yang menyebabkan sindrom pernapasan akut).
MERS-COV (sindrom pernapasan Timur Tengah).
COVID-19 atau dikenal juga dengan Novel Coronavirus (menyebabkan wabah pneumonia di kota Wuhan, Tiongkok pada Desember 2019, dan menyebar ke negara lainnya mulai Januari 2020. Indonesia sendiri mengumumkan adanya kasus covid 19 dari Maret 2020. (Halodoc.com)"

Memang dari awal sayalah yang menginap di RS dan lebih banyak menemani si kecil. Sudah pasti dong ya, agar paksu bisa bekerja. Berita mengejutkan selanjutnya terjadi pada hari kedua saat di RS : paksu sakit. Ya ampun, saya pikir ada apa sih dengan kedua orang terdekat ini? Syukurlah paksu sudah dewasa (ya iya, kalau beliau anak-anak, nggak dibolehin kawin ama emak bapaknya LOL) jadi beliau bisa bisa mengupayakan kesehatannya sendiri. Saya sempat pulang tuk menyiapkan makanan, selebihnya mengomando saja via alat komunikasi.
maafkan, tampang kami yang kucel
Semenjak ada kasus positif terinfeksi virus korona di Indonesia, hari-hari di RS itu terasa berbeda dibanding sebelumnya. Kami, para orang tua pendamping anak lebih sering membahas perkembangan wabah. Kemudian muncul desas-desus sekolah-sekolah akan diliburkan untuk sementara dan pasar-pasar akan dibersihkan. Waktu itu belum ada pengumuman tentang ODP, PDP apalagi kasus positif dan zona merah, pengumuman-pengumuman di kota saya bersifat anjuran dan himbauan, serta permbersihan di berbagai lokasi termasuk rumah sakit tempat kami menginap. Sebentar-sebentar akan ada pembersihan, pengunjung mulai dibatasi, gosip buruk pun kian beredar di luar sana.

Dua hari kemudian paksu sehat, dan si kecil menunjukkan tanda pulih, sehingga total saya berada di RS berjumlah 4 hari. Selama itu saya masih memantau berita-berita tentang wabah virus korona yang oleh WHO sudah disebut sebagai pandemi. FYI : wabah dan pandemi itu punya makna yang sama, hanya berbeda dari cakupan luasnya. 

Sebelum saya dan si kecil benar-benar pulang dari RS, saya mengajak para perawat di RS untuk mengobrol, tapi bukan tentang kondisi si kecil. Sepertinya berita tentang serangan korona jauh lebih membuat saya harus waspada. Ada dua alasan yang membuat saya lebih waspada : Satu, saya baru saja dari rumah sakit, pastinya di luar rumah dan berdasarkan pemahaman saya, rumah sakit umumnya juga menyimpan kemampuan yang besar untuk menyebarkan virus. Dua, kami sekeluarga masih dalam kondisi lemah, si kecil dan suami masih dalam tahap pemulihan, tinggal saya yang terlihat aman tapi siapa yang tahu, ya kan. Dengan demikian saya merasa harus punya banyak pengetahuan tentang virus korona ini. Setelah menyudahi obrolan dengan perawat, saya pun mengucap terima kasih dan semoga tetap nyaman serta sehat-sehat selalu kepada para perawat yang bertugas di RS. Saya tahu hari-hari selanjutnya akan berat bagi mereka.

Si kecil kemudian dibawa oleh orang tua. Di rumah orang tua saya, dia akan lebih sehat, lebih ceria dan yang terpenting rumah yang kami tinggali bisa saya bereskan lebih dulu, mengingat paksu pun sempat sakit jadi tidak mungkin bisa mengurus rumah. 

Setelah kembali membawa si kecil pulang ke rumah, tidak lama kota kami melakukan penerapan social distancing dan stay at home. Pasien dengan kasus positif virus korona pun diumumkan, hingga pemberlakukan khusus jam akses kendaraan. Kami pun melakukan karantina mandiri dengan di rumah aja hingga berminggu-minggu ke depannya.

Pentingnya Sumber Informasi Kesehatan yang Tepat

Padahal awal Maret saya masih ramai bertemu teman-teman, saya masih jalan-jalan sama si kecil, saya masih kumpul sama keluarga besar, masih ngerumpi di kafe untuk merencanakan kelas mengajar, dan segudang rencana ke depannya. Tapi rupanya ada rencana besar lain. Kalau diingat perjalanan Maret lalu, rupanya cukup menguras tenaga.

Setelah diumumkan jumlah pasien positif virus korona dari kota kami, yang notabene terbanyak se-provinsi, maka peta-peta zona aman hingga zona merah pun diberitakan. Masjid pun ditutup sementara. Kini, sudah memasuki akhir April (dan saat tulisan ini terbit di awal Mei) pasien positif pertama, kedua, ketiga dan beberapa lain dari kota saya telah sembuh dan pulang ke rumah mereka masing-masing. Ada kabar manis dan ada pula kabar sedih. Syukurlah hingga perdana Mei ini, saya tetap sehat wal'afiat.

Nah, ada hal luar biasa yang patut saya syukuri. Boleh ya bersyukur atas kemampuan diri sendiri di sini ? hehehe. Begini, selama beredar berita virus korona di Indonesia, tidak tebersit di diri saya kepanikan. Mungkin karena sebelumnya sudah terlatih untuk mengakses berita-berita hanya dari jalur terpercaya dan bisa mengabaikan berita yang sifatnya simpang siur. Sudah bukan rahasia lagi, bila di WAG sering beredar kabar hoaks. Saya pun hanya membagikan informasi yang sifatnya pasti dan dari jalur resmi.  Bahkan saya tidak ingat apa saja yang menjadi berita hoaks. Untuk persoalan kesehatan saya memilih informasi yang berasal dari Halodoc.com. Karena mengakses informasi yang tepat itu penting.

Layanan Kesehatan Online Bernama Halodoc

Halodoc merupakan layanan kesehatan berbasis online. Informasi kesehatannya bisa diakses di web dan aplikasi. Beredarnya berita palsu dan berita yang berlebihan membuat banyak kecemasan di tengah masyarakat, hingga antisipasi yang dibangun oleh masing-masing akhirnya bersifat menakutkan bagi yang lain. Bayangkan ada orang memborong masker hingga pasar kehabisan, ada yang memproteksi dirinya dengan memakai APD ke supermarket, padahal para dokter membutuhkan, ada yang berpikir orang yang flu sudah pasti kena virus korona, semua itu karena akses berita yang tak tepat.

Selain memberikan informasi kesehatan, Halodoc juga menyediakan fasilitas chat dengan dokter baik umum dan spesialis kapan saja, dapat membuat kunjungan ke Rumah Sakit, mencari dokter yang tepat dan membeli obat. Bahkan kini, kita juga bisa menggunakan akses layanan Rapid Test Drive Thru melalui Halodoc.

Halau Cemas di Kala Pandemi

Biasanya saya sering bertanya pada diri sendiri, apa yang membuat cemas? Umumnya kita cemas tentang apa yang di depan. Kalau tentang hal di belakang namanya penyesalan :D. Nah, yang saya  lakukan akan membuat daftar dan solusi untuk diri sendiri. Misal nih, saya cemas besok bakal ada duit apa nggak LOL. Artinya saya mesti memantapkan diri bahwa rezeki saya emang dari dulu bukan saya yang ngatur, urusan saya adalah ikhtiar. Atau misal, saya cemas imun saya baik apa nggak, artinya saya akan menguatkan imun dengan cara yang tepat dan asupan yang benar.

Beberapa item aksi ini saya buat berdasar sudut pandang saya untuk menghalau kecemasan virus korona :

✓ Kesehatan Fisik 
Menjaga kesehatan fisik sangat penting. Ikuti anjuran yang ada, gunakan masker bila keluar rumah, cuci tangan dengan sabun atau handsanitizier jika tidak menemukan air, sering membersihkan diri dan beri asupan yang tepat.
pakai masker jika perlu keluar rumah ya. 

Rutinitas Tanpa Beban
Siapa yang merasa terbebani dengan anjuran yang ada ? Capek bersih-bersih mulu, capek sebentar-sebentar cuci tangan? Nah, cobalah lepaskan beban itu. Mari kita nikmati tanpa beban.


Ikuti Anjuran
Selain anjuran kebersihan, ada aja anjuran dan himbauan yang ditetapkan pengelola kebijakan : ada WFH, social distancing, PSBB, tidak mudik dan anjuran dari pemuka agama untuk tak berkumpul dulu di tempat ibadah. Sedih nggak sih? Ya pastinya. Apalagi di bulan Ramadan ini saya jadi tidak bisa merasakan suasana masjid. Tapi, saya tetap mengikuti anjuran-anjuran tersebut.

✓ Menunju Gaya Hidup Sehat
Tidak mudah kebiasaan yang ada. My mom sempat sakit flu beberapa waktu lalu, kemudian saya minta beliau mengubah beberapa kebiasaan makan dan cara hidupnya. Tapi, memang nggak serta merta bisa. Nah, justru di saat begini, saya belajar untuk mengubah kebiasaan buruk yang masih ada.

✓ Akses Informasi yang Tepat dan Konsultasi pada Ahlinya
Mengakses Halodoc itu sudah tepat. Seperti saya bilang, bahaya banget kalau kita mengakses informasi yang asal-asalan. Selain itu, saat kcemasan melanda kita juga bisa memanfaatkan layanan konsultasi psikologi di Halodoc.

✓ Jalin Pertemanan agar Bahagia
Tidak bisa bertemu orang-orang rasanya sungguh sesak. Tidak bisa kumpul, bercengkerama aduh rasanya miris. Alhamdulillah kita ini hidup di zaman teknologi yang sudah keren, yang memungkinkan kita untuk tetap bersapa-sapa, say hello, dan ngerumpi bareng meski online. Hal-hal begini yang membuat tetap bahagia. Apalagi di saat kita tahu kita tidak sendiri. Semua orang punya cerita sedihnya dan uniknya itu membuat kita bisa saling menguatkan.

Pokok dari menghalau kecemasan ada lima : doa, usaha, ikhlas, berbahagia, dan yakin solusinya ada. Karena kesulitan yang kita hadapi ini tidak sendirian. Ini menurut saya, Anda bisa menambahkan lagi di kolom komentar atau jika ingin bercerita. Terakhir, teriring doa dari saya semoga pandemi ini akan berlalu. Insya Allah. Aamiin.

Share:

No comments:

Post a Comment

Terimakasih telah membaca, silakan berkomentar yang baik. Mohon tidak menaruh link hidup, situs yang mengandung SARA, judi online, web scam dan phising, karena akan dihapus.