, , , , ,

Menjaga dan Melindungi Fauna Indonesia, Menjaga Kebanggaan Dunia


Para Legenda di Negeri Rimba

Huup, seekor kucing besar loreng menaiki pohon, melompat dari dahan tebal ke dahan kokoh lain. Betapa mudah ia meluncur ke tanah, merambat lagi menaiki pohon dan tinggal berlama-lama di atasnya. Neofelis diardi alias macan dahan Sunda namanya. Kata ‘sunda’ menunjukkan dataran Indonesia. Karena di Asia hanya ada dua spesies macan dahan, yakni macan dahan Asia dan macan dahan Sunda. Sementara subspesies macan dahan di Indonesia berdasarkan daerah penyebarannya hanya ada dua, macan dahan Sumatera (neofelis diardi Sumatraensis) dan macan dahan Kalimantan (neofelis diardi Borneensis).


Meski taring dan kumis macan dahan menunjukkan kegarangan, ia lebih suka menghindari berjumpa manusia. Bila gelapnya malam berhasil menyembunyikannya, maka di siang hari, macan berkaki pendek ini memilih pepohonan agar aman. Macan dahan memang memiliki hubungan dengan kucing, tetapi ukurannya lebih besar lima kali dari hewan rumahan itu, dan empat kali lebih kecil dari harimau Sumatera. Selain memiliki hubungan dengan kucing kampung, macan dahan juga disebut memiliki hubungan yang dekat dengan kucing purba bergigi pedang, smilodon populator berdasarkan kesimpulan ahli dari Museum Geologi Kopenhagen. Kini, hanya populasi macan dahan yang memiliki struktur gigi berpedang yang ada hingga sekarang. Berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) No. 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa, menetapkan macan dahan sebagai satwa yang dilindungi oleh negara.

Selain macan dahan Kalimantan, ada makhluk paling terkenal dari rimba Kalimantan yang tampangnya gemesin, dialah si orangutan. Di dunia, hanya Indonesia (dan sebagian hutan Malaysia) yang diamanahi Tuhan untuk menjaga orangutan. Karena itu, sebuah kebanggaan bagi negeri ini diberikan hutan tropis yang memadai sebagai tempat tinggal orangutan. Primata endemik Nusantara ini memang unik, selain badannya yang lebih besar dari primata lain, di mana jantannya bisa mencapai 150 kg, orangutan juga punya kemiripan dengan manusia. Betinanya bisa mengalami menstruasi, dan bisa hamil dengan jangka waktu yang sama dengan manusia, yakni 9 bulan. Orangutan juga bisa jatuh cinta, cemburu dan patah hati. Unik kan!

Selain orangutan Kalimantan, ada dua jenis lagi yang tersebar di Indonesia, yakni orangutan Sumatera dan orangutan Tapanuli. Baru-baru ini, orangutan bernama Rocky menjadi fenomena pertama di dunia yang disebut bisa menirukan bahasa manusia.

Orangutan termasuk satwa yang dilindungi dalam hukum nasional berdasarkan UU Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya, dan menurut CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora) termasuk satwa yang tidak boleh diperdagangkan.

Masih dari Kalimantan, mari berkenalan dengan Owa Kelempiau atau Owa Kalimantan. Sama-sama owa, tetapi baik owa Jawa, owa siamang, owa jenggot putih, memiliki perbedaan khas masing-masing. Borneo gibbon, sebutan orang luar bagi owa Kalimantan. Sebagaimana kebanyakan primata, mereka memang amat mahir bermain di atas pepohonan (arboreal) dan menggantungkan hidup di sana. Owa Kalimantan dan jenis owa lain juga dilindungi UU No.5 Th. 1990.
owa Kalimantan

Kali ini bukan primata, namun termasuk hewan langka kebanggaan rimba Kalimantan. Dia adalah beruang madu yang menjadi maskot Kota Balikpapan. Beruang madu merupakan spesies beruang terkecil di dunia. Helarctos malayanus punya sebutan lain yakni sun bear alias beruang matahari berkat tanda (mirip) “matahari” di dadanya. Lidahnya panjang dan kegemarannya mencari madu, meski bukan hanya madu yang ia konsumsi. Beruang madu memegang peranan penting dalam penyebaran benih berkat caranya memamahbiak biji-bijian. Sejak tahun 1973, telah ada peraturan yang melindungi satwa liar unik ini. Beberapa lokasi penyebaran beruang madu di dunia sudah tidak menunjukkan keberadaannya lagi. Sehingga disebut-sebut, beruang madu adalah satu-satunya beruang yang masih hidup di hutan tropis termasuk di Indonesia. Selain Kota Balikpapan, Bengkulu juga menjadikan beruang madu sebagai maskot. Lagi-lagi ini keanekaragaman di Indonesia yang sungguh membanggakan.

patung Beruang Madu

Kita berbelok sedikit ke Taman Nasional Gunung Palung, Kalimantan Barat. Ada sebuah penemuan yang menggemparkan para ilmuwan. Penemuan ini tentang tupai yang unik, atau “aneh” sebut mereka. Tidak sembarang tupai, yang satu ini lebih besar dari tupai umumnya dengan ekor berbulu yang lebih lebat dari ekor tupai lain. Penemuan tersebut menjadi unik ketika tupai yang dimaksud tertangkap kamera sedang terlihat memangsa kijang. Karena itulah ia dinamakan tupai pemangsa darah dari Kalimantan. Orang-orang kemudian menyebutnya tupai vampir. Sejatinya tupai pemangsa darah juga pemakan biji-bijian, sebagaimana dilansir dari para ilmuwan yang melanjutkan penelitian di Taman Nasional Gunung Palung tersebut. Hanya saja, penemuan dan penelitian tentang tupai pemangsa darah masih terus dilakukan. Untuk diingat, tidak banyak dokumentasi dari pihak lain yang beredar tentang tupai pemangsa darah saat ini. Tak heran, jika IUCN menyebut keberadaan tupai vampir ini terkategori rentan punah.

Beranjak ke rimba, kita maju ke pesisir. Kali ini hutan mangrove Kalimantan punya cerita tentang primata bernama bekantan. Si monyet oranye berhidung besar. Berbeda dengan primata yang memilih tinggal di kedalaman rimba, bekantan memilih hutan basah, seperti gambut, rawa atau mangrove sebagai tempat tinggal. Hewan ini cenderung pemalu. Hewan ini juga termasuk hewan endemik asal Kalimantan dan tergolong hewan yang dilindungi.

Patung Bekantan


Kalau terkesima dengan penghuni rimba Kalimantan, rimba Sumatera tidak kalah menantang. Lihat dulu tatapan predator sang pemberani harimau Sumatera. Meski tahun-tahun terakhir merupakan tahun yang sulit bagi mereka dan kita umumnya. Menemani harimau Sumatera, gajah Sumatera sebagai spesies gajah termungil di muka bumi yang turut mewarnai keberagaman fauna di rimba Sumatera. Kalau mengira tupai pemangsa darah adalah makhluk liar mungil yang keberadaannya sulit diamati, kelinci Sumatera yang liar sepertinya sama misteriusnya. Sumatran striped rabbit merupakan jenis kelinci nokturnal yang hanya bisa ditemukan di Pulau Sumatera. Jika di Pulau Jawa terdapat badak bercula satu, saudaranya di Sumatera memiliki dua cula. Kedua jenis badak ini merupakan dua dari lima spesies badak yang ada di dunia.



Hutan-hutan di Nusantara memang tampak menarik bagi fauna untuk bertempat tinggal. Masing-masing pulau di negeri ini menyuguhkan keberagaman khas faunanya. Pun burung-burung eksotis yang sulit dijumpai di tempat lain. Setidaknya ada 30 jenis burung cenderawasih di dunia, dan 28 di antaranya hadir di Papua. Semua cenderawasih ini dilindungi dengan UU No. 5 Tahun 1990.

Bicara burung, Pulau Sangihe yang masuk ke dalam Zona Wallacea tidak kalah menyimpan keeksotisan burungnya. Elegant sunbird atau burung madu Sangihe adalah burung yang sulit terlihat dan termasuk langka serta dilindungi oleh undang-undang. Sama-sama berada di Sulawesi dan zona Wallacea yang endemik, burung maleo turut serta menemani kelangkaan burung madu Sangihe.

Cenderawasih dari Papua dan Burung Madu Sangihe dan Pulau Sangihe


Kebanggaan dari Lubuk Perairan


Jika di daratan dan udara kita begitu terpukau dengan kelangkaan aneka satwanya. Mari menengok sejenak saja di perairannya.

Beberapa waktu viral foto penampakan pesut Mahakam. Meski berulang kali melewati sungai Mahakam, KalTim, saya pribadi tidak pernah menjumpai sosok pesut Mahakam ini. Sehingga ketika mendapati gambarnya beredar di jejaring sosial, sulit untuk tidak terenyuh. Betapa tidak, irrawaddy dolphin ini merupakan lumba-lumba air tawar di Indonesia yang jumlahnya terbatas. Berwajah tipis-tipis serupa dengan pesut Mahakam, di Indonesia juga terdapat dugong, disebut juga duyong atau duyung. Dugong merupakan salah satu jenis mamalia laut dari ordo sirenia satu-satunya yang masih ada. Hewan-hewan langka dan unik di perairan sesungguhnya sangat banyak. Pari manta terumbu juga menjadi hewan perairan yang dilindungi. Belum lagi keanekaragaman penyu dan saudara-saudaranya yang langka yang hidup di perairan Nusantara.

Duyung, bukan ikan.

Tidak tepat di perairan, melainkan sebuah pulau, hiduplah ancient dragon bernama Komodo, sesuai dengan nama pulaunya. Kadal raksasa yang memancing minat dunia menjadikan kebanggaan bagi Indonesia. Bagaimana tidak, jika hewan langka ini nyatanya memang hanya ada di Indonesia.


FAUNA NUSANTARA, KEBANGGAAN DUNIA


Masing-masing kawasan di Nusantara ini memang menyimpan keunikan tersendiri. Setiap pulau di Nusantara terbekati dengan biodiversitas yang tidak serupa dengan pulau di sisinya. Tanpa perlu memperdebatkan mana yang terbaik, setiap penghuninya mampu saling menyokong.

Berkat keberadaan satwa-satwa endemik di Nusantara, banyak ilmuwan dan aktivis dari luar negeri berdatangan ke Indonesia demi ikut andil dalam penelitian. Tidak tanggung-tanggung mereka juga turut bergerak melestarikan keanekaragaman fauna Indonesia. Debbie Martyr, jurnalis perempuan asal Inggris mau saja mengemas hidupnya untuk tinggal di kaki Gunung Kerinci demi berkontribusi dalam konservasi harimau Sumatera. Baru-baru ini, Debbie Martyr selaku manajer program Flora & Fauna International (FFI) bersama petugas Taman Nasional Kerinci Seblat berhasil mengembalikan kelinci langka Sumatera kembali ke habitatnya setelah hampir lolos dijual.

Aurelien Francis Brule, lelaki asal Perancis yang semasa muda sudah jatuh cinta dengan owa Kalimantan, dan telah menulis tentang owa membuat ia terjun ke Kalimantan. Tidak hanya datang dan meneliti, Aurelien Francis Brule akhirnya memilih Indonesia sebagai kewarganegaraannya, dan membangun yayasan bernama Kalaweit di Kalimantan yang sekaligus juga menjadi pulau tempat tinggalnya. Kini, pria yang menyandang nama beken Chanee Kalaweit itu telah banyak melakukan penyelamatan primata dan satwa liar Nusantara. Bersama anaknya Andrew Kalaweit, mereka masih bahu membahu menjaga kelestarian hutan sebagai habitat satwa-satwa unik ini.


Jauh sebelum sosok Kalaweit, pada abad ke-19 seorang naturalis bernama Alfred Russel Wallace melakukan ekspedisi ke Nusantara dan terkejut ketika mendapati hewan anoa, karena ia tidak bisa mendefinisikan hewan tersebut sebagai sapi atau kerbau. Benar, anoa adalah anoa, hewan endemik asal Sulawesi. Setelah mampir ke Nusantara akhirnya A.R Wallace memberikan simpulan bahwa nusantara memiliki zona endemik yang ia kemudian sebut sebagai Wallacea Line. Bukunya yang berjudul The Malay Archiplego membuat banyak peneliti lain berkunjung ke Indonesia.

Beginilah Indonesia, rupanya bukan hanya rempah yang membuat kaum luar berdatangan. Fauna Indonesia yang unik dan eksotik memancing banyak peneliti, naturalis, antropolog, atau bahkan mereka yang peduli konservasi satwa serta lingkungan hadir di negeri ini.


Apa Arti Fauna Nusantara Berarti Bagi Dunia ?

Meski luas Indonesia hanya berkisar satu koma tiga persen dari luas daratan dunia, namun diperkirakan tujuh belas persen jenis satwa liar dunia ada di Indonesia. Tidak heran jika sebutan “Mega Biodiversity Country” disematkan untuk Nusantara. Indonesia telah tercatat sebagai negara pemilik jenis-jenis mamalia terbanyak di dunia. Data dari KSDA Kementerian LHK menyebut sampai dengan tahun 2019, tercatat kurang lebih 776 jenis mamalia ada di Indonesia. Ribuan jenis burung telah menjadikan Nusantara sebagai rumah mereka, begitu pun reptil, serangga, kupu-kupu, amfibi, yang percaya bahwa negeri ini adalah tempat yang layak untuk mereka tinggali. Pun para satwa di perairan Indonesia,  diperkirakan sekitar 8500 jenis ikan ada di perairan Indonesia. Ini artinya sebanyak 45% ikan di dunia hadir di Indonesia (Kementerian Kelautan dan Perikanan, 2015)

Belum lagi adanya hewan-hewan endemik Indonesia yang telah menjadikan negeri ini rumah alam mereka sekian lama. Hewan-hewan endemik Indonesia berarti hanya bisa ditemukan di Indonesia semata. Benar, fauna #IndonesiaBikinBangga dunia. Namun, jika satwa-satwa endemik Indonesia punah, maka sesungguhnya punahlah mereka dari muka dunia ini.

Karena itu, kebanggaan mestilah dilindungi dan dijaga.


MENJAGA LINGKUNGAN BAGIAN DARI MELESTARIKAN KEBANGGAAN KEANEKARAGAMAN HAYATI INDONESIA


Indonesia memiliki bentang alam yang amat kaya. Ada pegunungan dan ada lembah, ada sungai dan lautan, hutan yang beraneka macam, hamparan padang dan karst. Negeri ini memang terlalu menakjubkan. Keanekaragaman fauna di Indonesia adalah keberuntungan yang luar biasa, berkat bentang alamnya, keadaaan geografisnya, kondisi alam, serta kekayaan floranya. Ini merupakan rantai kehidupan yang tak boleh terputus. Kekayaan alam Indonesia menjadikan satwa-satwa dapat hidup nyaman di dalamnya. Semua ini adalah kebanggaan. Amanah dari Tuhan yang harus dilestarikan.

Namun, kebanggaan butuh diasah agar tetap menajam di dada. Kebanggaan butuh dipertahankan. Tidak cukup hanya senyum simpul, lalu diam mengabaikan. Kebanggaan semestinya mampu menghentakkan nadi-nadi kebangkitan dalam diri. Ada sesuatu yang terwujud ketika rasa bangga mengembang untuk negeri. Kebanggaan terhadap fauna negeri dapat lestari, dengan cara mewujudkan pelestarian fauna.

Berbicara tentang pelestarian satwa, memang tidak serta merta semua pihak mampu terlibat langsung, apalagi bila mendefinisikan pelestarian fauna seiring kedekatan jarak. Seyogianya setiap satwa memiliki habitatnya masing-masing, dan kita selaku manusia memegang peran penting dalam menjaga lingkungan.

“Menjaga lingkungan hidup berarti berkontribusi
memelihara keanekaragaman hayati yang ada di Indonesia”


Mengapa demikian ?

Alkisah, ketika sebagian kawasan hutan mangrove di kota ini terkikis, maka yang terjadi selanjutnya adalah musibah. Banjir melanda, kerusakan di depan mata, dan kawanan primata singgah di rumah warga. Sampai kemudian manusia mengembalikan habitat primata ini, dimulai dengan menanam dan menjaga lingkungan hidup mangrove. Maka, yang terjadi selanjutnya adalah kenyamanan. Tidak ada lagi banjir menerjang, para primata bebas mencari makan, nelayan bisa mencari ikan, dan satwa-satwa yang berhabitat di sekitar mangrove seperti kepiting, timpakul kembali datang.

Dengan demikian adalah benar, menjaga keutuhan lingkungan hidup mampu membantu mengamankan masa depan keanekaragaman hayati di Indonesia.


MENJAGA DAN MELINDUNGI FAUNA,
WUJUD KEBANGGAAN UNTUK NEGERI


Ada bagian-bagian dalam diri saya ketika masih kecil yang beranggapan betapa menjemukannya tinggal di Kalimantan. Hutan dan hutan lagi, sepi. Syukur, bagian-bagian itu tidak bertahan lama. Bagian-bagian itu tumbuh merevitalisasi diri dan kian lama menyatakan kebanggaannya terhadap hutan Borneo, hutan yang menjadi kebanggaan Indonesia serta dunia.

Makin bertambah usia, saya makin nyaman berwisata ke hutan. Hutan di Kota Balikpapan memang menawarkan kondisi yang berbeda dibanding hutan-hutan di kawasan Kalimantan lain. Sehingga perjumpaan dengan banyaknya satwa khas Borneo teramat minim, terlebih satwa yang saya harap, memilih tinggal di dalam rimba saja. Tetapi, membentuk kebanggaan tidak harus berjumpa satwa yang diinginkan, menjaga dan melindungi fauna tidak membuat kita memaksakan harus bertemu muka. Saya tidak harus menyelam ke dalam lautan untuk jatuh cinta pada dugong, tidak harus menuju gua untuk bertemu reptil langka. Kedangkalan ilmu, malah bisa membuat habitat mereka rusak.


Beberapa cara dan gaya hidup kita
sebenarnya dapat membantu dalam
menjaga dan melindungi fauna Nusantara. 
Apa saja itu ?


#Berwisata Tanpa Merusak Alam

Traveling telah menjadi tren di abad 21. Tidak dipungkiri jika wisata alam menjadi favorit ragam generasi. Aktivitas ini bernilai positif jika dibarengi dengan niat dan tindakan positif pula, yakni tidak membuang sampah secuil apa pun di alam, tidak merusak keanekaragaman hayati, tidak melakukan vandalisme, serta memahami kondisi tempat wisata.

wisata ke habitat bekantan.

wisata di Pulau Kembang, habitat bagi para monyet.
Hati-hati jangan buang sampah, jangan merusak.

#Menjaga dan Melindungi Hutan Serta Habitat Satwa Lain

Kita bisa berkontribusi menjaga dan melindungi hutan tanpa memaksakan diri ke hutan. Cara ini bisa ditempuh dengan membangun solidaritas dan spirit dalam diri bersama para pecinta lingkungan lewat berbagai gerakan atau kampanye mencintai hutan. Cara lain adalah dengan turut serta menanam pohon demi keberlangsungan hutan, baik langsung maupun lewat organisasi konservasi dan pemerintah. Memang, tidak semua fauna berada di hutan, ada juga yang di lautan. Maka, cara yang sama bisa digunakan untuk melibatkan diri demi kelestarian fauna.

gerakan cinta lingkungan

turut menanam pohon dari jauh.


#Tidak Melakukan Perburuan Liar dan Memperjualbelikan Satwa yang Dilindungi

Ini tentu tidak nyaman untuk ditulis. Namun, keadaan saat ini membuktikan banyak hewan khas Indonesia terkategori terancam punah. Saat ini, harimau Sumatera serta jalak Bali sudah masuk IUCN Red List. IUCN (International Union for Conservation of Nature) dan CITES Appendices adalah lembaga yang menjadi rujukan mengenai status konservasi secara global. Diprediksi banyak hewan langka dan endemik negeri akan punah dalam beberapa tahun ke depan. Sedih? Ya. Kebanggaan kita bisa saja lenyap, jika tindak-tanduk kita terhadap satwa serta lingkungan tidak terjaga. Dua penyebab makin berkurangnya satwa langka adalah adanya perburuan liar dan perdagangan bebas. Disinyalir ada pihak-pihak yang tidak memahami bahwa satwa yang diburu atau diperdagangkan merupakan satwa langka dan endemik. Karena itu, baik kiranya jika kita mau mengenal keanekaragaman satwa langka dan endemik di Indonesia.


#Gaya Hidup Ramah Lingkungan

Gaya hidup ramah lingkungan rupanya turut membantu kebermanfaatan konservasi masa depan. Mengonsumsi makanan-minuman yang ramah lingkungan, mengurangi kemasan yang non-ramah lingkungan, bijak menggunakan kosmetik dan busana, rupanya punya peran dalam kelestarian fauna dan lebih lanjut mewujudkan pembangunan berkelanjutan (sustainable) di Indonesia.

jika berada di atas perairan, jangan membuang sampah secuil pun ke air.



#Masyarakat Adat dan Upaya Pelestarian Satwa

Masyarakat adat memiliki andil penting dalam menjaga kelestarian satwa, khususnya mereka yang tinggal di sekitar habitat satwa. Bagi masyarakat adat yang tinggal di hutan, maka hutan merupakan jati diri mereka. Suku Dayak Iban mempunyai sanksi yang tegas kepada mereka yang berburu satwa dilindungi di hutan adat mereka. Tertarik dengan burung enggang? Jangan coba-coba mencurinya, karena ada hukum adat Dayak Iban yang melindungi. Berkat keteguhan merawat dan menjaga ekosistem hutan ini, masyarakat Dayak Iban menerima Equator Prize 2020 dari Program PBB (UNDP). Equator Prize merupakan penganugerahan kepada masyarakat yang luar biasa yang telah berkontribusi melalui konservasi dan pemanfaatan keanekaragaman hayati yang berkelanjutan.

Mungkin, kalau berkunjung ke hutan, ada baiknya kita bersilaturahim dulu ke penduduk setempat.

*
Kepunahan satwa berarti rusaknya ekosistem, Suatu ketika, sang predator di sebuah kawasan tiada, rupanya hewan-hewan berupa hama bagi manusia makin merajalela merusak alam dan rumah-rumah warga. Selama ini sang predator terkenal karena memakan hewan-hewan hama yang menganggu masyarakat. Cerita ini hanyalah contoh ketika kita kehilangan satwa yang satu maka gangguan akan muncul di lain waktu. Sejatinya begitulah dengan kepunahan hewan. Di Indonesia banyak sekali hewan langka dan endemik, kepunahannya akan merusak kehidupan. Penyakit, bencana bisa saja berkunjung. Rangkaian kehidupan kita bisa saja terputus.

Kita tidak ingin kerusakan itu terjadi, kita ingin kebanggaan ini terus menggema di dada dan mewujud nyata di lingkungan. Jika negeri ini mengoleksi sebagian besar jenis satwa di dunia, maka memang layak negeri ini disebut surga bagi satwa. Kita tidak berharap surga itu rusak. Karena itu mari menjaga dan melindungi fauna, dengan menjaga lingkungan, dengan menjaga bumi.

#UntukmuBumiku.
Fauna Nusantara by lidhamaul
***


Sumber dan bahan bacaan :

https://greeners.com

https://www.faunadanflora.com/

https://www.profauna.net/id
https://gardaanimalia.com/

https://www.beruangmadu.org/

www.nationalgeographic.co.uk/travel/2014/

https://www.wwf.id/

https://www.goodnewsfromindonesia.id/2020/06/02/misteri-tupai-penghisap-darah-pemangsa-kijang-yang-hidup-di-belantara-borneo
Peraturan Menteri LHK nomor 106 tahun 2018
http://bkipm.kkp.go.id/ tentang juknis pemetaan sebaran agen hayati dilindungi

IUCN dan CITES site.




Share:
Read More
, , , ,

[Surat Untuk Masa Depan] : Adopsi Pohon Buktikan Cinta Untuk Bumi

Waktunya Bertanya Mengapa ?

Benakku dipenuhi gelombang pertanyaan. Bagaimana bisa aku menulis surat untukmu yang juga adalah aku? Apa gunanya aku menuliskan surat untukku?

Lamunanku buyar saat teringat dulu aku juga pernah membuat tulisan untuk diriku, di buku harian dan di surat-surat. Bukan karena tidak ada kawan yang menyurati. Surat dan tulisan yang kubuat untuk diriku adalah penyemangat, pengingat, sentilan. Memori yang bercakap-cakap di masa depan dari masa lalu. Aku pernah nyengir saat membacanya kembali. Aku pernah tersipu malu. Pernah bersedih dan terdiam. Aku juga pernah merenungkan banyak hal saat membacanya kembali, dan kembali menyuarakan yang hilang.

Benar, saat membacanya, banyak hal terlupakan. Sekarang aku paham mengapa aku butuh menuliskan surat-surat untuk masa depan.

Aku yang hari ini, ingin aku tetap melakukan sesuatu di masa depan.

Untuk Kehidupan yang Lebih Lama ?

Wahai aku.

Aku ingin menuliskan padamu kisah di 50 tahun mendatang. Tentu aku tidak tahu apa masih hidup saat membacanya kelak. Elemen kesombongan jelas bukan di tanganku. Tetapi, aku ingin kamu (wahai aku) bisa membacanya sesering mungkin, dengan perasaan yang lebih dalam dan amanat yang lebih kuat.

Bukankah, sebagai manusia kita ingin hidup lebih lama? Maksudku, kita tidak bisa memaknai ‘hidup lebih lama’ sama dengan badaniyah yang bertahan abadi. Itu adalah bentuk kebodohan termasyhur sepanjang masa yang digunakan tokoh-tokoh villain.

Banyak cara agar hidupmu lebih lama. Menjadi manusia bermanfaat, dikenang dan diteladani adalah cara bijak untuk menjadikan hidupmu lebih lama. Itu yang terbaik.

Sekarang, wahai aku…

Bacalah surat ini dengan perasaan yang bergairah. Ini adalah pemantik hati dan pikiran. Pergilah sejenak ke suatu tempat tenang di bawah pepohonan di mana burung-burung berkicau di pagi hari dan mengambil makan darinya. Duduklah di sana, biarkan hasratmu bergelora hanya untuk surat ini, sesaat saja untuk masa yang lebih lama.

Bismillah.

Sepucuk Surat Cinta
Untukmu yang Mencintai Hutan dan Bumi

Page 1.
Kuatkan Memori : Adalah Hutan, Tempatmu Bertualang

Izinkan aku membawamu pada Minggu yang usang. Di mana kau mengintip dari jendela di bawah kolong ranjang ayah bundamu, sembari bertanya dalam sendunya hati, “mana temanku?” Sepi adalah jawaban. Sepertinya tidak ada yang berkenan bermain pada Minggu yang tenang. Lalu, kau lari memanjat satu-satunya pohon jambu besar di belakang rumah. Membawa buku-buku kesayangan, duduk di atasnya berjam-jam. Syukur kalau ada jambunya. Kalau tidak, tak mengapa. Karena yang kau butuhkan adalah pohon itu. Tempat terbaik melarikan diri. Teman yang setia. Kadang kau mengelusnya tanpa sadar, berjanji dengan sadar akan selalu merawatnya dengan benar, tidak akan membiarkannya patah dan dipotong oleh mereka yang serakah.

Sampai hari naas itu tiba.

Rumahmu terbakar. Pohon itu pun ikut terbakar. Airmatamu deras meluncur, kau lebih sedih kehilangan pohonmu, dibanding memandang kamarmu yang hancur. Setahun kemudian, kau pindah ke sebuah rumah yang membuatmu lebih sering bertemu biawak, berkat hutan mungil terpagar di belakang rumahmu itu. Kau makin sering berburu karamunting, buah hutan yang kini ditelan zaman, berkat ajakan temanmu sepulang sekolah. Pergi ke hutan, bertualang, adalah hari-hari yang kau nantikan.

Sebagai anak Kalimantan, pelan-pelan kau membangun cintamu terhadap hutan dan pepohonan. Terhadap alam yang asri. Alam Sehat Lestari yang alami. Tapi, kau masih kecil. Belum benar-benar paham. Kau hanya tahu bahwa pulaumu dinobatkan sebagai paru-paru dunia. Kau tahu bumi banyak bergantung padanya. Kau tahu berkelana di hutan itu menyenangkan. Itu saja.
Hutan masa kecil
hutan masa kecil

Lalu, kau beranjak dewasa. Rupanya banyak hal yang kau lewatkan. Sewaktu kuliah, pergi bolak-balik dengan bus, berulang kali kau melihat asap tebal di hutan yang kau lewati. Kau pikir itu bagian dari kerja alam. Kau kembali sibuk dengan urusanmu.


Page 2.
Kau Makin Belajar : Tanpa Pepohonan, Kau Bukan Siapa-siapa

Tetapi, aku senang kau tetap menjadi dirimu. Kau masih bergelora saat menyusuri hutan. Belajar menghargai alam dengan tidak mencemarinya, tidak asal membuang sampah dan hanya meninggalkan jejak langkah. Kau beruntung, teman-temanmu punya jiwa yang sama denganmu. Kau beruntung mau belajar banyak dari mereka dan mana saja. Padahal dulunya kau hanya anak kecil yang senang bermain-main di hutan, makan dari tanaman rimba di sana. Belum terpikir bagimu bagaimana menanam pohonnya, bukan? Belum terpikir untuk mengabadikan hutan, bukan? Kau yang dulu hanya tahu bahwa pepohonan berguna bagi manusia untuk menghasilkan oksigen. Dari pohon-pohon itu, kayunya bisa diambil dan dimanfaatkan. Meski kau bersentuhan dengan pohon dan hutan, kau belum benar-benar bisa mengira akan ke mana dunia bergerak kelak, ya kan? Masih tidak tergambar bagimu hidup tanpa hutan di masa depan, benar kan?
tanaman di hutan

Hingga diskusi-diskusimu bersama teman yang sering bertema hutan, lingkungan dan alam membawamu kepada perubahan yang menyenangkan. Sepertinya sinapsismu makin banyak terbentuk. Seakan ada ‘klik’ nyaring di kepalamu.

Kau senang ikut kegiatan lingkungan. Kau gembira dengan ajakan menanam sejuta pohon,. Kau makin akrab dengan tanah dan kau bisa bersedih ketika tidak ada yang memedulikan itu.

pohon tertinggi
tumbuh menjadi manfaat bagi dunia

Kau makin belajar, bahwa tanpa pepohonan kau bukan siapa-siapa. Benar, manusia bisa memanfaatkan pohon untuk kehidupan. Dari pohon lahir kertas-kertas, pakaian, kursi, rumah dan masih banyak lagi.

Tetapi, aku bermaksud mengingatkanmu kalimat ini :

“Sesungguhnya kamu adalah pemimpin di muka bumi.”

Apa ini sudah menamparmu? Itulah manusia, yang ditunjukkan Tuhan sebagai pemimpin di muka bumi. Sebagai pemimpin, kamu punya nilai penting untuk menjaga alam dan bumi ini. Amanat tertinggi di semesta. Kamu tidak boleh merusaknya.

Apa hatimu sudah mulai bergejolak sekarang? Karena aku tahu kau juga tahu, bumi ini beranjak sekarat. Alamnya rusak, pepohonan tumbang, hutan menghilang. Cuaca protes, dan bumi mulai banyak bergerak akibat akar-akarnya terlalu banyak dicabut. Kalau sudah begini apalah artinya nilai kepemimpinan, jika apa yang harus dijaganya terlepas dari tangan.

Aku ingin kamu juga bisa mengingat kembali cerita ini :

“Masa itu kemarau menyuramkan banyak hal. Semua nyaris kering, bahkan hampir ke semangatmu. Setelah penantian panjang, hujan turun amat deras. Kau begitu bahagia, yakin Tuhan mendengar pintamu dan kau bisa mengisi tong-tong airmu. Kemudian, seseorang bergumam, “kata siapa Tuhan menurunkan hujan untuk kita?”

Senyummu perlahan memudar. Kalimat itu masuk ke kepalamu dan susah keluar. Bagaimana kalau itu benar? Atau mungkinkah itu kebenarannya? Jangan-jangan bukan doamulah yang dikabulkan. Jangan-jangan itu doanya para satwa yang kehausan, doa para pohon yang kelelahan tuk tumbuh, rerumputan yang gagal tegak, tanah yang retak. Hanya karena kamu tidak mendengar rintihan mereka, bukan berarti semua itu tidak ada. 

Lalu, kamu beranjak keluar, menatap derasnya hujan dan rumput yang basah. Terpaku di situ. Apa mungkin itu benar? Tanyamu lagi. Bagaimana kalau hujan ini sebenarnya diturunkan untuk alam? dan manusia diminta untuk mengambilnya secukupnya, pikirmu lagi. Menampungnya untuk digunakan bersama, dan bukan mengisi tong-tongmu secara rakus."

Nah, apa kau ingat kejadian itu? Karena setelah itu, kau jadi malu untuk sombong pada alam di sekitarmu. 
Sungguh, kamu bukan siapa-siapa sayang, tanpa alam dan pepohonan itu.


Page 3 :
Keresahan : Kehilangan Demi Kehilangan


Tahun itu dipenuhi asap. Kebakaran hutan melanda sebagian negeri ini, termasuk tempatmu berada. Di sebagian daerah, pekatnya minta ampun. Tak lagi mampu mata menatap. Kepayahan akhirnya juga kau rasakan. Kau dan si kecil berjuang #melawanasap. Masker tebal masih bisa kau pakai, tapi tidak dia yang masih bayi. Pintu rumahmu lebih sering tertutup. Celah-celahnya kau jejali dengan kain basah, meski baunya masih terendus.

Kau tahu hutanmu terbakar. Kau marah, kecewa.
Tetapi, aku senang itu tidak menyebabkan kau putus harapan.
Tahu berganti dan kau melihat banyak hal.
kabut asap kalimantan
dikepung asap

Di kawasan lain di kotamu, ada cerita tentang hutan yang dibabat. Diambil untuk keperluan warga. Sayangnya, mereka tidak menanamnya kembali. Maka, berantakanlah segenap isinya. Satwa menyerang pemukiman. Orang-orang marah dengan satwa. Lupa, kalau merekalah yang menghilangkan rumah dan makanannya. Banjir menerjang rumah-rumah warga. Lupa, kalau pohon-pohon yang menjadi penghalang bencana telah mereka rampas.
banjir
banjir menuju rumah-rumah
doc. pribadi

Cerita ini membuat kita menyadari betapa penting hidup selaras dengan hutan.

Apa kau masih ingat alat-alat berat yang menghabisi hutan ?
Kau tertegun, menyaksikan betapa cepat pohon-pohon yang hidup bertahun-tahun tercerabut hingga akarnya hanya dalam hitungan jam. 

Kau bukan pemilik pohon-pohon itu, tapi kau merasa kehilangan.
excavator
kehilangan : siap ditumbangkan

Kita masih kehilangan lagi pohon-pohon itu dengan banyaknya penambangan dan pepohonannya tak dikembalikan. Lubang-lubang yang terlihat indah penanda pernah terangkatnya akar.
bekas tambang



Page 4 :
Bumiku, 50 Tahun Kemudian


Apa yang terjadi pada Bumi (lihat, aku sampai memilih huruf kapital untuk menghargainya) setelah surat ini meluncur untuk dibaca ? Jelas aku tidak tahu persisnya.

Tetapi, aku tahu Jika tidak ada reboisasi dan reforestasi, dalam 50 tahun kita akan kehilangan hutan kita. Juga planet ini. Selamatkan! Selamatkan dengan banyak menanam pohon satu, dua, dan lebih banyak lagi.

Ada banyak cara menjaga bumi. Tetapi, aku ingin bercerita tentang hutan di surat ini.

Menurut National Geographic, permukaan bumi tertutup hutan sebanyak 30%-nya. Di negeri ini, luas lahan berhutan 50,1 % dari total luas daratannya (2019). Meski kagum karena luas sekali, data ini adalah data yang cukup baru. Artinya, tetap ada hutan yang hilang, karena dulu kawasan hutan lebih luas. Kau bisa melihat data dari KLHK tentang perbandingan hutan dan non hutan di Pulau Kalimantan yang aku muat ini.

Hutan yang di dalamnya pepohonan dan satwa punya peran penting untuk bumi ini. Mereka juga pejuang-pejuang untuk keberlangsungan bumi ini, selain gunung dan perairan.

Jangan sepelekan! Hutan bisa menghasilkan oksigen untuk bumi ini, yang akan sukar kau temukan di planet lain. Dengan adanya hutan, hujan tak menyebabkan banjir dan sungai tak perlu meluap berlebihan. Hutan menghasilkan makanan untuk hewan juga makanan untuk manusia, obat-obatan, hingga perabotan. Hutan adalah rumah bagi para satwa, sehingga mereka tak perlu mampir ke rumahmu mencari makan. Hutan juga menghasilkan air dan menjaganya agar tetap tersedia. Pohon-pohonnya membuat hati dan pikiranmu tenang. Sungguh, ketenangan itu dibutuhkan manusia, jika manusia menyadarinya.
hutan tropis
sungguh, amat banyak manfaat hutan. Apa yang kau tahu, mungkin akan  terus bertambah

Hutan bisa mencegah perubahan iklim.
Krisis iklim bisa menyebabkan banyak hal : krisis kelaparan, krisis ekonomi, dan kerusakan bumi.
Semua ini adalah siklus. Lingkaran kesatuan. Jika lingkarannya diputus, terputus pula yang lain.

Tidak ada yang tahu dengan tepat apa yang terjadi 50 tahun kemudian. Tapi, kita bisa memprediksinya dari sekarang, dari apa yang terjadi pada hari ini, dan pernah terjadi di masa lalu. Dengan data dan pengalaman, perencanaan bisa dibuat sejak dini.

Bumi akan membaik, jika kita mulai perbaikan sejak sekarang.
Perbanyaklah menanam pohon. Perbanyaklah jenis pepohonan. Sekarang !


Page 5 :
Adopsi Pohon dan Adopsi Bibit Pohon Untuk Bumi Lebih Baik

Sayang,

Apa di sekitar rumahmu masih ada hutan seperti waktu dulu? Aku harap masih. Agar kamu bisa berkelana seperti dulu. Penting bagimu untuk menghirup udara bersih di hari tua. Semoga kakimu masih kuat berkelana. Tapi, kamu juga pernah menyaksikan kehilangan pepohonan itu bukan? Karena pohon-pohon itu tidak berdiri di atas tanahmu. Tidak semua pohon bisa kau tanam di atas tanahmu bukan?

Sayang,

Sepanjang usia tentu banyak yang tidak bisa aku lakukan. Aku ingin menanam pohon lebih banyak. Tetapi, aku tahu sebuah pohon memerlukan tempat untuk tegak. Aku tidak yakin punya banyak tempat untuk pohon-pohon yang ingin kutanam.

Tetapi, sayang.

Tekad adalah kekuatan hidup. Kita berenergi saat kita menjadi bermanfaat bagi yang lain, termasuk bagi alam. Hari tuaku akan berguna jika aku telah melakukan sesuatu untuk bumi ini. Apa yang aku hadapi bisa menjadi masalah, jika aku lemah. Apa yang kuhadapi akan terus menjadi persoalan, jika akal tidak digunakan.

Jika aku tidak bisa menanam pohon di lahan yang tak kumiliki, aku masih bisa Adopsi Pohon dan Adopsi Bibit Pohon.

tanam terus
mengadopsi pohon, menanam kembali

Jika aku ingin menanam pohon yang jenisnya tak ditemukan tanganku, aku bisa adopsi pohon dan adopsi bibit pohon.

Jika aku ingin menanam pohon di tempat yang tak terjangkau langkahku, aku bisa adopsi pohon dan adopsi bibit pohon.

Jika aku sangat ingin bumi dipenuhi lebih banyak pepohonan di masa depan, aku akan adopsi pohon dan adopsi bibit pohon.

Adopsi pohon dan mengadopsi bibit pohon adalah cara untuk menghijaukan bumi di masa depan. Meninggalkan udara bersih untuk semua makluk hidup.


Adopsi Bibit adalah sebuah cara untuk berpartisipasi dalam program reforestasi melalui dukungan untuk membeli bibit pohon asli Kalimantan, penanaman dan pemeliharaan hingga dua tahun.
Dengan banyaknya bibit pohon yang ditebar, kita mengharapkan agar hutan yang terdegradasi bisa kembali hijau dan memberikan manfaat kepada kita, satwa dan planet ini.
(ASRI)


Page 6 :
Alam Sehat Lestari, Untuk Kelangsungan Bumi

Oya, apa kau masih duduk di dekat pohon sembari membaca surat ini?
Sekarang tengoklah pohon itu. Seberapa tua kah dirinya ? Pohon itu tidak bisa tumbuh dalam sehari saja. Apa kau tahu spesies pohon apa dia?

Banyak spesies pohon di dunia ini. Kita mesti menjaganya agar tidak menghilang. Hutan tropis di muka bumi adalah rumah bagi 40.000 hingga 53.000 spesies pohon, yang sebagiannya endemik. Setidaknya begitulah jumlah yang diperkirakan oleh para peneliti.

Manfaatnya pun terbagi-bagi, ada pohon buah, ada pohon kayu, ada pohon peneduh, pohon bunga, dan masih banyak lagi.

Kita ingin bumi ini asri bukan? ASRI adalah Alam Sehat Lestari, yayasan yang telah hadir sejak 2007 di Kalimantan Barat dan sejak 2009 telah aktif bekerjasama dengan Balai Taman Nasional Gunung Palung. ASRI pun telah melakukan pelbagai kegiatan kesehatan, konservasi hutan, dari reboisasi, reforestasi, memantau deforestasi, bahu membahu bersama Sahabat Hutan, juga pelatihan pemadaman kebakaran hutan. Lebih dari 220.000 pohon telah ditanam. Alam Sehat Lestari atau ASRI juga telah mendapatkan banyak penghargaan, Kalpataru adalah satu diantaranya. Lewat ASRI, adopter sepertiku bisa memilih jenis pohon di ASRI, baik pohon buah dan pohon kayu keras.
reboisasi oleh ASRI
sumber : alamsehatlestari.org

Mengadopsi bibit pohon dan adopsi pohon lewat ASRI adalah dukungan untuk bersama-sama menghijaukan bumi dan untuk keberlangsungan bumi. Aku ingin di masa mendatang tetap erat menjalin kemesraan dengan alam, yang asri, yang sehat lestari. Karena itu, aku mengadopsi pohon lewat program ASRI. 



Page 7 :
Percaya Untuk Bumi yang Asri, Sehat dan Lestari

Hai diriku di masa depan.
Atau siapa pun yang telah membaca surat ini di masa mendatang.

Menghijaukan bumi tak cukup hanya sendiri. Merawat bumi tak cukup hanya satu masa. Aku dan kamu, mari kita bergerak bersama seterusnya untuk bumi ini. Kita mencintai bumi ini, maka wajib menjaganya.

Mari buktikan cinta bumi dengan penghijauan. Satu, dua, tiga pohon dan seterusnya.
hutan tropis
Bumi 50 tahun mendatang : tetap ada hutan

Pohon yang aku tanam di saat aku menulis surat ini akan tumbuh di masa mendatang saat surat ini dibaca. Pohon yang kamu tanam di masa mendatang, akan tumbuh di masa setelahnya. Bumiku 50 tahun kemudian akan berisi pohon yang kutanam, dan bumiku 100 tahun kemudian akan menghadirkan pohon-pohon yang kita tanam.

Mari kita mewarisi bumi hal-hal baik. Mari mengadopsi pohon dan bibit pohon.
***


----------------------------------------------

sumber tulisan dan bahan bacaan :
https://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2015/08/150825_indonesia_kebakaranhutan
https://forestsnews.cifor.org/31502/menghitung-pohon-di-bumi-143-ilmuwan-menemukan-jumlahnya
http://ppid.menlhk.go.id/siaran_pers/browse/2435
https://alamsehatlestari.org/
Share:
Read More
, , , , , , ,

Menyusuri Alam, Budaya dan Kuliner Wallacea di World Food Travel Day


Begini.

Saya tidak benar-benar bepergian sambil mencicipi kuliner Wallacea. Tidak selangkah pun dari kaki saya pernah mengunjungi daerah-daerah dan pulau-pulau di kawasan bertanda Wallacea tersebut. Hingga kini. Sedih.
Share:
Read More
, , ,

Hari Jadi Kota Balikpapan ke-124, Saatnya Bercerita Mathilda, Mathilde dan Matilda


HUT Balikpapan ke-124

AYAH DARI MATHILDA

Bocah yang lahir pada Maret ratusan tahun silam itu pasti tidak mengira bahwa penemuannya kelak akan mengubah sebuah wilayah menjadi kota yang berkembang, besar, indah dan diinginkan dunia. Jacobus Hubertus Menten nama bocah itu, lahir dari ayah yang bernama Petrus Franciscus Menten dan ibunya yang bernama Petronella Agnes Van Ooijen. Banyak sumber menyebut anak itu lahir pada tahun 1833, sementara situs berbahasa Belanda mendata kelahirannya pada 12 Maret 1832, senada pada buku “History of The Royal Dutch” karya F.C Gerretson yang menyebut Roermond, sebagai tempat kelahiran Jacobus Hubertus Menten. Kita bisa mengabaikan angka tersebut, tetapi tidak bisa mengabaikan seorang Jacobus Hubertus Menten yang lakukan selanjutnya ketika menginjakkan kaki di Pulau Kalimantan, yang membawa saya yang bersuku Banjar, kawan saya yang bersuku Jawa, Bugis, Batak, Sunda berkumpul di sebuah kota multi etnis bernama Balikpapan. Tahun 2021 ini memasuki HARI JADI KOTA BALIKPAPAN KE-124, perjalanan panjang usia yang telah memasuki masa sepuh, namun terlihat masih ranum dan ingin terus memuncak.

Jacobus Hubertus Menten
sumber : historia.id

KONSESI MATHILDA

Saya tidak ingat apakah dulu sewaktu sekolah sudah dikenalkan sosok Jacobus Hubertus Menten dan alur yang terjadi setelah apa yang dilakukannya. Maksudnya, saya percaya para guru telah menyebut kegiatan insinyur Menten anaknya Pak Menten ini, tetapi saya tidak ingat apakah sejarah Balikpapan disampaikan secara lebih mendalam dalam pelajaran khusus? Apakah ada hari-hari tertentu belajar sejarah Balikpapan saat di sekolah? Eh, kenapa jadi bertanya pada Anda, siapa yang sekolah sebenarnya ? Saya mengetahui nama Jacobus Hubertus Menten dikarenakan mengulik cerita tentang sejarah Kota Balikpapan, sambil duduk-duduk santai di perpustakaan kota, tapi lebih sering menemukan karena sengaja menelusuri lewat peramban.

Jacobus Hubertus Menten sebenarnya telah pensiun ketika mendapat izin mengeksplorasi minyak di Balikpapan. Sebelumnya, sewaktu bekerja di dinas pertambangan Belanda sebagai manajer pertambangan batubara, J.H. Menten telah menemukan indikasi sumber minyak di Kalimantan Timur. Namun sekali lagi, urusan manajer tambang ini di bidang batubara bukan perminyakan, sehingga niatnya belum kesampaian. Setelah beberapa kali penugasan di Bogor dan Sumatra, rupanya Menten anak Pak Menten ini mengundurkan diri di tahun 1882, setelah dua puluh tahun bekerja. Jika saya menjadi Jacobus Hubertus Menten yang pensiun, mungkin saya akan kembali ke negeri saya menghabiskan masa pensiun dengan berleha-leha, berkebun stroberi, membaca buku yang tidak sempat saya baca ketika sibuk. Sayang, Jacobus Hubertus Menten bukan saya. Dia memilih berkarir mandiri. Berkat pertemanannya dengan Sultan Kutai, Aji Sulaiman, J.H. Menten mendapat hak eksploitasi batubara pada 2 Desember 1882 yang meliputi kedua wilayah tepi sungai Mahakam. Konsesi ini kemudian dialihkan ke perusahaan Steenkoolmatschappij Oost-Borneo pada tahun 1888. 

Kapan eksplorasi minyak pertamanya? Pada 29 Agustus 1888, barulah dia mengantongi  izin mengeksplorasi minyak masih dari Sultan Kutai. Sedangkan, persetujuan dari Belanda baru dia dapatkan pada 30 Juni 1891. Konsesi pertama ini bernama Louise. Wilayah konsesi ini berada di sekitar rawa-rawa serta anak sungai Mahakam di Sanga-sanga, sekarang menjadi bagian Kutai Kartanegara. Bersumber dari Pertamina, sumur minyak Louise 1 mulai dibor pada Januari 1897 dan 5 Februari 1897 menjadi penanda didapatinya minyak pertama untuk bahan bakar mesin.

Balikpapan yang saat itu menjadi bagian dari wilayah Kesultanan Kutai hanyalah teluk yang berfungsi sebagai pos penjagaan kerajaan. Konon, hanya itu. Oleh Menten, Teluk Balikpapan dijadikan lokasi pelabuhan serta pengolahan minyak. Sampai ditemukan rembesan minyak di Tandjoeng Toekoeng (Balikpapan), Jacobus Hubertus Menten mengajukan lagi izin penambangan minyaknya. Konsesi inilah yang kemudian dikenal dengan nama Mathilda. Sumur pemboran pertamanya pun bernama Mathilda. Pemborannya pertama pada tanggal 10 Februari 1897, tanggal yang menjadi penanda lahirnya Kota Balikpapan. Uniknya, ini hanya berselang 5 hari dari didapatinya minyak di kawasan Kutai. Entah bagaimana perjuangan dan perjalanan yang mepet itu. Atau mungkin saya tidak tanggap bahwa mereka dulunya punya tim yang solid dan bersinergi tinggi. 

HUT Balikpapan 10 Februari 1897
Foto sumur pemboran pertama di Balikpapan yang dikenal dengan sumur Mathilda
Foto diambil di Gedung Kreatif Klandasan

Tahun-tahun setelahnya sungguh luar biasa. Tercatat tidak hanya minyak yang dihasilkan, namun juga lilin, kaleng dan asam sulfat. Kilang-kilang di Balikpapan bisa menghasilkan rata-rata 500 ton minyak, 500 ton lilin, 450 ton asam sulfat dan 9 ribu kaleng. Balikpapan pernah tercantum sebagai daerah pengolahan terbesar ketiga di dunia. Namun, sebagaimana penemuan minyak lainnya, perebutan dan pengambilalihan kekuasaan tak dapat dielakkan.

PEREMPUAN BELANDA BERNAMA MATHILDE

Meski menjadi tokoh utama dalam penemuan Balikpapan, nama Jacobus Hubertus Menten tidak lantas menjadi familiar di kota ini. Nama sumur Mathilda lah yang terkenal.

Mengapa Mathilda? Banyak sumber menyebut Mathilda adalah putri Jacobus Hubertus Menten. Sementara situs berbahasa Belanda menyebut Mathilda adalah istri Jacobus Hubertus Menten. Sumber lain malah mengiyakan kedua anggapan di atas, bahwa Mathilda adalah nama istri dan anak J.H Menten.
jacobus menten dan mathilde menten
sumber : genealogieonline.nl

Istrinya bernama Mathilde Louise Charlotte de Wal, lahir di Makassar 1846 dan meninggal di usia 78 tahun (1924) di Belanda. Sementara anaknya Mathilde Louise Charlotte Menten, lahir 2 April 1876 di Sumatra. Kalau dipikir mungkin ada benarnya, karena Jacobus Hubertus Menten memang pernah bertugas di Sumatra. Sumber lain menyebut ada anak-anak laki-laki dalam silsilah J.H Menten, juga nama anak (mungkin perempuan) bernama Nonnie , yang juga menjadi nama sumur minyak (Nonny).  

Seratus tahun kemudian, pada April 1976, Mathilde Louise Charlotte Menten tercatat meninggal dunia di Limburg, Belanda. Saya jadi bertanya, selama seratus tahun kehidupannya sadarkah Mathilde bahwa namanya dipakai ayahnya sebagai nama sumur minyak dan telah dijadikan situs bersejarah di kota ini? Tahukah Mathilde bahwa hidupnya telah melampaui kemerdekaan Indonesia? Tidakkah ia ingin maen-maen ke Balikpapan gitu?

BERKAT MATHILDA

Setelah penemuan, perebutan dan pemboman kilang minyak di Balikpapan, kota ini tetap berkembang menjadi kota minyak yang bisa menghasilkan 86 juta barrel per tahun. Tentu, bukan Jacobus Hubertus Menten lagi yang mengurusnya, ‘siapa’ lagi kalau bukan Pertamina yang mengurus perminyakan di Indonesia. Kini, meski sematan Kota Minyak itu tetap ada, Balikpapan tidak lagi melakukan pengeboran minyak, melainkan unit pengolahan minyak mentah dari beberapa daerah serta impor dari luar negeri.
Sejarah Minyak hingga Hari Jadi Balikpapan ke-124
Balikpapan, Kota Minyak

Jika pengeboran minyak pertama pada tanggal 10 Februari 1897 menjadi penanda lahirnya Kota Balikpapan, mengapa nama kota ini disebut Balikpapan? Bukan Mathilda saja? Nah, awalnya saya juga tidak tahu mengapa demikian? Mengapa BALIKPAPAN ? Mengapa papan dan dibalik ? Ada Apa dengan Papan (AADP) ? Tapi, mengapa saya bertanya pada Anda, yang lahir di Balikpapan siapa ? Saya coba bertanya pada ayah-ibu saya, ternyata jawaban mereka juga samar-samar. Rupanya banyak orang Balikpapan yang hanya sedikit tahu tentang asul-usul kota mereka.

Ada dua versi yang dirilis Pemerintah Kota Balikpapan dan dua versi tambahan ditulis media setempat. Keempat versi cerita tersebut sepertinya terjadi sebelum penemuan sumur Mathilda. Ceritanya tidak akan saya muat di sini, tetapi baik “Bilipapan”, “Kuleng Papan”, atau sebutan orang Kutai “baliklah papan tu”, dan kisah putri yang bersembunyi “di balik papan”, kesemuanya adalah kisah yang indah yang mestinya dilestarikan. Hanya saja, kita tidak akan menemukan papan-papan terbalik sebagai maskot kota ini, beruang madulah yang mendapat keberuntungan itu.

Setelah penemuan minyak pula, beragam manusia datang ke Balikpapan. Beragam pekerja, pedagang, petani, pengungsi yang mencari kehidupan baru, pengunjung yang singgah dan mencari berita, hingga akhirnya membentuk sebuah kota dengan ragam etnis. Kakek-nenek dari ibu saya adalah pendatang, nenek dan kakek buyut dari ayah saya juga pendatang. Di kota ini, banyak nama jalan identik dengan suku Jawa. Coto Makassar menjadi khas kota ini, partikel ‘ay’,‘lah’, ‘kah’, ‘gin’, dan ‘pang’ yang menjadi khas orang banjar juga menjadi kebiasaan lidah orang Balikpapan.

Cukup sulit menentukan budaya asli kota ini, karena yang dikenal adalah budaya pendatang.
Tetapi, inilah berkah Balikpapan! Penuh corak dan warna yang kesemuanya bisa berbaur. Kota yang menjadi penyangga IKN ini semestinya bisa menjadi role model bagi kota-kota lain. Sudah ratusan tahun usianya hidup dalam kebersamaan, dalam toleransi dan kerukunan.

Berkah lain dari kota ini adalah kebersihan kotanya yang pernah mendapat Adipura Kencana pada 2015. Sampai sekarang saya merasa banyak berkah untuk kota ini, semoga selamanya demikian.
Hari Jadi Kota Balikpapan ke-124
Taman Adipura, Balikpapan

SITUS BERSEJARAH MATHILDA

Apa kabar Mathilda hari ini?
Anak dan istri Jacobus Hubertus Menten yang bernama Mathilda memang sudah tiada. Sumur Mathilda yang menjadi penemuan Menten pun sudah ditutup sejak tahun 1903 dan kini menjadi Monumen Mathilda. Selama ini, Tugu Mathilda berada di kawasan Pertamina dan tertutup. Saya yang hidup puluhan tahun di Balikpapan saja belum pernah mengunjungi sumur Mathilda, apalagi mau bercerita banyak. Kalau mau mengunjunginya mesti ikut event-event khusus, mungkin dari komunitas atau ajakan pihak tertentu. Hingga tahun 2020, pemerintah Kota Balikpapan berharap lokasi ini dapat dibuka untuk umum dan diberi fasilitas penunjang. Entah di tahun 2021 ini, mungkin ada perkembangan. Sementara sumur minyak Louise 1, yang sama-sama hasil penemuan Jacobus Hubertus Menten di Sanga-sanga, Kab. Kutai Kartanegara, kini telah diresmikan menjadi destinasi wisata sejarah. Saya pikir, mungkin pemetaan wisata sejarah untuk Monumen Mathilda perlu pertimbangan matang oleh Pertamina dan masih butuh evaluasi.

sumber : kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbkaltim/sumur-minyak-matilda

PEREMPUAN-PEREMPUAN MATILDA

Setelah kelahiran Mathilda, kini di Balikpapan lahir perempuan-perempuan Matilda. Tidak, ini bukan bayi-bayi perempuan, melainkan emak-emak Balikpapan. Terinspirasi nama Mathilda, Pemerintah Kota Balikpapan bersama Kantor Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan (KPwBI Balikpapan) dan Tim Penggerak PKK Kota Balikpapan meluncurkan Gerakan Wanita Matilda (Mandiri – Terampil – Berdaya) pada 30 Juli 2019. Program ini bertujuan untuk menggerakkan perempuan-perempuan di Balikpapan agar dapat mengendalikan inflasi lewat upaya serta kompetisi. Perjuangan Wanita Matilda memerangi inflasi ini dilakukan dengan menerapkan pertanian modern (urban farming), usaha-usaha apa saja yang memungkinkan perempuan untuk mengelola keuangan keluarganya, edukasi, sosialisasi kampanye inflasi, serta kompetisi antar komunitas perempuan yang mewakili daerah masing-masing.

perempuan mandiri, terampil dan berdaya
"Sosialisasi Belanja Bijak dan Cinta Rupiah"
menjadi tema sekaligus kegiatan yang diadakan oleh Gerakan Wanita Matilda

perempuan mandiri, terampil dan berdaya
'Matilda' juga mengajak untuk mengurangi penggunaan kantong belanja plastik

perempuan mandiri, terampil dan berdaya
mengendalikan inflasi, menjadikan SDM berkualitas

Belanda tidak lagi berkuasa di kota ini, dan Jepang telah lama pergi meninggalkan bekas serangannya. Meski demikian, Balikpapan tetap harus berjuang untuk masa depan. Mengemas kehidupan lebih baik dengan cara menjadikan Sumber Daya Manusia berkualitas. Selain Gerakan Wanita Matilda, yang notabene perempuan, pelaku-pelaku kreatif lain kini bisa saling bergandengan menjadi pelaku ekonomi kreatif Balikpapan atau Ekraf Balikpapan. Beberapa tahun belakangan hingga ke depan, kita dituntut bertindak lebih aktif dan kreatif, sebagai bentuk kemandirian sekaligus upaya membangun negeri. 

DARI MATHILDA HINGGA HARI JADI KOTA BALIKPAPAN KE-124

Logo HUT Balikpapan 124
Dari pengeboran sumur Mathilda hingga tahun ini yang bertepatan dengan hari jadi Kota Balikpapan ke-124. Sebenarnya masih teramat banyak orang Balikpapan yang tidak mengenal sejarah dan asal-usul nama Balikpapan. Kita bisa mencari cerita sejarah Balikpapan dengan menelusuri lewat peramban, tapi sukar mengetahuinya lewat lisan-lisan warga kota. Tulisan-tulisan sejarah Balikpapan memang disediakan, tapi belum mengikat banyak warganya. Beberapa peminat sejarah Balikpapan menyebut literatur sejarah Balikpapan masih minim. Entahlah. Meski demikian, upaya-upaya untuk melestarikan sejarah kota patut diapresiasi. Foto-foto sejarah Balikpapan telah terpampang di Rumah Dahor (Dahor Heritage), Gedung Kreatif Klandasan, dan perpustakaan kota yang ini baik untuk generasi mendatang juga generasi lawas macam saya yang masih kurang pengetahuan tentang kota sendiri. Beberapa destinasi wisata sejarah juga dikelola dan bisa dinikmati publik.


Bagaimana kota minyak tetap bisa berkembang tanpa minyak? Sebenarnya ini hal yang lazim. Tidak selamanya manusia berharap pada SDM – Sumber Daya Minyak, karena sebagai manusia potensi utama yang mesti dikelola adalah dirinya sendiri, SDM – Sumber Daya Manusia. Tahun berganti tahun, kota industri dan bisnis yang juga diberi amanah menjaga hutan dan lautan harus terus melaju dengan Sumber Daya Manusia -nya. Dari Mathilda, Balikpapan menuju ke Matilda, satu cara mengembangkan potensi Sumber Daya Manusia Balikpapan. Tulisan ini memang tidak khusus membahas sumber daya manusia di Balikpapan. Tulisan ini bertujuan untuk turut serta menggairahkan langkah agar tetap bisa bersama membangun kota yang telah mendapat penghargaan Adipura Kencana beberapa kali, mengedepankan spirit agar mampu mengasah menjadi manusia berkualitas. Spirit itu bisa saja berasal dari pemahaman sejarah dan hari ulang tahun Kota Balikpapan menjadi momentum tuk mengingat sejarah. Karena sejarah dapat menjadi pegangan, menjadi pelajaran bagi manusia yang mau melangkah ke depan.  

Alhamdulillah, Balikpapan masih diberi kehidupan setelah ratusan tahun sejak penemuan minyaknya. Masih bisa merayakan HUT Balikpapan walau dalam keadaan berbeda. Memperingati HARI JADI KOTA BALIKPAPAN KE-124 dalam ketenangan kiranya bisa menciptakan khidmat yang mendalam.
Selalu banyak doa baik-baik ditaburkan untuk kota ini.

***
lomba HUT Balikpapan ke-124


---
Sumber tulisan dan bahan bacaan :
  1. Buku "History of The Royal Dutch" karya F.C Gerretson
  2. https://www.historia.id
  3. https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbkaltim/sejarah-kolonialisasi-di-kota-balikpapan/
  4. https://www.pertamina.com/id/news-room/energia-news/sumur-louise-1-destinasi-wisata-sejarah-baru-di-sangasanga-
  5. https://www.geni.com/people/Mathilde-Louise-Charlotte-Menten/6000000163167779833
  6. https://ancestors.familysearch.org/en/LZYN-LPF/mathilde-louise-charlotte-menten-1876-1976
  7. http://web.balikpapan.go.id/detail/read/46
  8. https://www.inibalikpapan.com/empat-versi-asal-usul-nama-balikpapan/
  9. https://kalimantan.bisnis.com/read/20190730/407/1130391/gerakan-wanita-matilda-jadi-program-baru-kantor-perwakilan-bank-indonesia-balikpapan-kendalikan-inflasi

Share:
Read More