Guru Apalah-apalah

May 07, 2016

Berhubung ini masih bulan Mei dimana 2 Mei kemarin bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional, saya ingin berbagi pengalaman saat mengajar. Pengalaman yang sedari dulu ingin saya tuang, tapi takut-takut. Dulu, saat awal-awal punya blog, saya masih takut-takut bila ada yang membaca. Blog bagi saya adalah semacam diary, hanya boleh saya yang baca. Lucu ya, karena blog saya tidak pernah saya proteksi, jadi pasti bisa dibaca.
Saya mengajar di sebuah SMA, tempat yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Karena niat saya mendaftar di SMP-nya (yang masih satu yayasan dengan SMA). Saya sengaja mendaftar di sekolah swasta, tidak menuju negeri karena pikiran saya saat itu saya bukanlah sarjana pendidikan. Lagipula saya senang menikmati bekerja dari bawah. Ya, di Balikpapan sendiri, sekolah yang terkenal baik adalah sekolah negeri. Sementara SMP tempat saya memberanikan diri untuk mengajar bukanlah nomor satu. Tapi cukup dikenal, pun punya prestasi, dengan siswa yang mudah dibina. 
Itu sudah cukup bagi saya  memulai segalanya.

Impian ini bergeser. SMA saat itu membutuhkan guru, dan pas sekali guru yang keluar ini sebidang dengan materi ajar saya. Beginilah kalau jodoh. Tapi, yang terbesit saat itu, oh ada SMA  toh disini.

Ya, SMA yang nyaris tidak terdengar, SMA yang seringkali terdengar bila itu berbau negatif.

Dan saya tipe yang tidak tahu semuanya tentang SMA ini.

Saya seperti orang yang polos, masuk ya masuk aja, hehe (ini kalau yang baca mantan murid gimana ya)

Saat itu, sekolah ini hanya terdiri dari 3 kelas, kelas X (sepuluh), kelas XI (sebelas) IPS dan XII (dua belas) IPS. Sudah itu saja.

Saya masih ingat diskusi dengan Kepseknya saat itu: tapi sekolah kami begini loh Bu, kami cuma bisa bayar segini loh Bu
Dan dengan gagahnya saya cuma bilang, nggak pa-pa
Padahal saya nggak ngerti-ngerti amat sekolahnya seperti apa. Yang ditakuti itu apa saya juga nggak ngerti.

Dan hari pertama dimulai. Saya masuk ke kelas XII IPS untuk pertama kalinya. Memang rata-rata kelas lebih banyak cowoknya. Saya mencium bau aneh di kelas ini, saat itu saya belum tau aroma apa di kelas ini, saya pikir hanya bau keringat anak-anak cowok sehabis bermain(olahraga) di luar. Ternyata… ya nanti saya sebutkan bau apa itu.

Saya rasa, saya memulainya dengan teramat baik. Anak-anak duduk diam mendengar, kami berkenalan seadanya dan ketika jatah berkenalan sudah habis, saya mulai memasuki materi. Itu pun hanya untuk mengajak mereka mengenal materi yang akan seterusnya saya sampaikan.

Suasana benar-benar sangattt tenang, saya merasa: wah, enak kalau ngajarnya begini terus. Saya ngomong panjang lebar mungkin juga kali tinggi. Sepuasnya-puasnya, seenak-enaknya karena mereka nyimak. Hingga selesai  penyampaian, saya pun mengajukan pertanyaan: “sampai sini ada yang ingin bertanya? Tentang materi kita?”

Dan saya tidak menyangka tiga tangan teracung dengan cepat. Tinggi banget. Sebagai guru (baru) saya bangga, bahagia. Ternyata anak-anak ini menyimak. Saya terharu. Saya tunjuk satu di antaranya. Dan yang dia tanyakan adalah:

“Situ tinggalnya dimana?”

Sejenak, kaki saya rasanya ngawang-ngawang. Situ? Tinggal? Mana pertanyaan yang sesuai materi yang saya harapkan. Mana? Saya sih tidak bad mood, tapi saya jawab saja:

“Di rumah!” sambil teriak.

Iya, saya masih tinggal di rumah kok. 

Sebagian anak tertawa, sebagian protes termasuk yang bertanya, sebagian ada yang membela. Saya jadi nggak enak, saya balas lagi, “bukan begitu. Maksud saya nggak ada pertanyaan lain apa? Sepanjang tadi saya bahas materi, masa kalian cuma nanya tinggal dimana, tinggal dimana?” dengan nada suram dan agak-agak putus asa. Waktu itu saya masih muda, belum nikah jadi penggunaan kata ‘saya’ lebih nyaman daripada kata ‘ibu’.

Ternyata ada yang membela, “loh, kan ibu juga yang suruh kita nanya. Syukur-syukur kita nanya bu.”

Saya masih diam di tempat, butuh pembelaan sebenarnya (kan tadi ibu udah kenalan masa’ kamu nggak dengar) tapi satu kelas kompak semua. Sampai satu teman mereka ngoceh lagi, “ya bu, syukur-syukur kita nanya, bisa sekolah aja syukur-syukur, mau masuk kelas aja syukur bu.”

“Ya syukuuur buuu,” kata temannya lagi.

Walaupun nadanya melas saya langsung ketawa, ih pelajar gitu lho, masih muda pasrah amat nadanya.

Akhirnya saya membalikkan tubuh, menuliskan alamat + no.hp. Dari sinilah saya menyadari benar-benar kelas apa yang saya masuki, siapa yang saya ajar. Langkah-langkah apa saja selanjutnya. Saya mulai berpikir keras justru di hari itu, di mana saya menghadap ke papan tulis. Bukan hari di mana saya berhadapan dengan Kepsek atau pemilik Yayasan. 

Saya tahu saat saya membalikkan tubuh, suara-suara di belakang bergema: 
bagus juga tulisannya ya. Masih kuliah kah dia? Kayak masih kuliah. Guru baru? ooh cuma guru baru. 
Dan saya tahu, tangan-tangan yang tadinya terangkat, mulai beralih ke sandaran kursi. Kaki-kaki yang tadinya masih diam di bawah, mulai menjelajah laci dan atas meja. Lipstik-lipstik yang tersimpan di dalam tas memunculkan diri, tidak tahan untuk tidak menyentuh bibir. Sedang rokok yang terselip entah di bagian mana mulai di oper ke kawan lain, ketika kode beraksi.

Aroma kecut ruangan tadi bukanlah sepercik bau  keringat. Aroma itu campuran rokok dan alkohol.

Ini hari pertama.

Saya sempat khawatir menceritakan ini. Syukurlah, saya lebih banyak membaca dan ternyata banyak kisah-kisah serupa yang saya alami juga disalurkan oleh guru lain di penjuru negeri.

Anak-anak yang saya ceritakan dalam kisah ini nyata adanya. Saya berharap tidak ada yang punya pikiran negatif seutuhnya terhadap mereka. Mereka punya sisi-sisi baik. Apalagi cerita ini sudah lama sekali. Sekarang sudah ada yang kuliah, bekerja, menikah, punya anak. Dan bertobat, hehehe.

Di hari pertama itu pula, saat saya keluar kelas menuju kantor, ternyata banyak guru yang menanti saya. Menduga-duga reaksi saya. Sementara saya hanya bilang, enak aja kok anak-anaknya. Oh, rupanya pernah ada kejadian guru negeri mengajar di sekolah ini dan sayang sekali kelas yang dia masuki kelas yang.. ehmm… bolehkah saya bilang bandel? Alhasil guru tersebut keluar sambil menangis dan kapok masuk kelas.

Saya tidak ingin di posisi itu. Tapi, saya juga tahu saya pasti gagal. Saya pasti kecut juga menghadapi mereka. Kalau materi saya saja mereka tidak suka, saya mesti kasih apalagi untuk mereka? 

Tapi kalau dibilang menyesal, sama sekali tidak. Malah kalau diingat-ingat saya menikmati tahun-tahun pertama ini dibanding tahun-tahun terakhir mengajar. Meski nyaris ditabrak motor oleh murid, meski kepala saya pernah kena tendangan bola, meski setiap hari disumpahi nama hewan, hehe. Biarlah tak apa.

Lalu bagaimana dengan kelas lain? Murid-murid lain? Bagaimana guru-guru lain bercerita tentang mereka?


Untuk sementara saya cuma bisa bilang: BERSAMBUNG.

You Might Also Like

27 Comments

  1. mbak lidha ini seru banget, aku salut dan menunggu tulisan berikutnya... hemm yaampun susah ya jadi guru.

    oh ya mbak saya baca komentarnya mbak lidha dan memutuskan untuk balas disini saja. saya masih anak kemarin sore dibanding mbak lidha jauh banget pengalaman hidup saya. intinya ya saya setuju, iya kita perempuan memang banyak salahnya selalu butuh pegangan, pegangan untuk pengendalian diri sering berupa lingkungan pertemanan. pengin nyinyir sangat manusiawi kok, gakpapa diteruskan saja mungkin tujuan nyinyir yang diubah, nyinyirin diri sendiri misalnya hehe :D kalau masih nggak bisa ya tidur aja mungkin - ini kalau saya. saya masih miskin ilmu dan banyak salah. mohon ditegur kalau salah.

    saya baru ngeh kalau postingan itu memancing curhatan2 :)

    ReplyDelete
  2. Salken Mbak Lidha.. ,:-)
    Ceritanya seru,ditunggu sambungannya ya..

    ReplyDelete
  3. Salken Mbak Lidha.. ,:-)
    Ceritanya seru,ditunggu sambungannya ya..

    ReplyDelete
  4. Horor banget ya Mak sepertinya pengalamannya.. Duh aseandainya aku jadi guru, ku juga gak akan sanggup tuh kalo disuruh ngajar anak-anak SMA semacam itu.. Ditunggu banget ya Mak kelanjutan ceritanyaaaaaa. Aku penasaraaaaan. Ehehehee

    ReplyDelete
  5. Kalau sudah lewat begini momen-momen di awal mengajar jadi ngangenin ya Mba', apalagi momen yang nggak biasa kayak Mba' Maul.. :)
    Saya dulu juga pernah ngajar Mba', ngajar les waktu kuliah & ekskul waktu awal nikah. Jadi guru emang harus punya stok sabar tak terhingga ya Mba', ditunggu kelanjutannya.. :D

    ReplyDelete
  6. ikut deg-degan bacanya
    ditunggu cerita selanjutnya ya mbak

    ReplyDelete
  7. Seruuu..btw, mbak masih ngajar disana kah sekarang?

    ReplyDelete
    Replies
    1. sudah nggak lagi, kondisinya juga sudah lebih baik :)

      Delete
  8. Salut dengan perjuangan mengajar mba Lidha. Saya sering melihat anak2 sekolah, masih jam pelajaran yang suka nongrong di warung depan rumah bapak. Jengkel bgt lihatnya. Pas jam pelajaran. Meraka malah kabur. Asyik nongrong dengan asap rokok mengebul. Mungkin juga sambil minum2, ngepil, dsb. Cewek cowok berbaur.
    kadang saya mikir, bagaimana dgn guru2nya? Apa tidak ada yang negur atau memberi sanksi.
    Semacam itukah murid2nya mba Lidha?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya akui ya mbak.
      Kemana ya gurunya?pasti beda-beda situasi gurunya. Versi saya? nanti saya cerita, hehe.
      Ditegur? sanksi? sudah banget.

      Delete
  9. Mbaaak... itu di kota B? Ngeri2 gitu saya bacanya. Tapi ada proses ya, Mbak. Seru ceritanya mbak. Ditunggu lagi lanjutannya.

    ReplyDelete
  10. saya juga pernah waktu itu masih punya anak 1, tapi saya belum bisa menceritakannya, saya masih menyalahkan diri sendiri atas kekuarangan saya :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. nah..nah, kayaknya kita sama deh mbak. Mungkin saya duluan yang cerita. Soal kekurangan? wah saya banyak banget mbak dan selalu menyalahkan.

      Delete
  11. wah bersambung kayaknya, ditunggu kelanjutannya hehe :))

    ReplyDelete
  12. nggak sabar menantikan kelanjutan ceritanya..
    sepertinya saya nggak kuat jadi guru Mba Lidha, saya nggak bisa membayangkan bila berada di posisi Mba Lidha saat itu :(

    ReplyDelete
  13. surpraise juga ih mb lidh nemu anak pelajar yang agak agak horrible gini attitudenya
    masa manggilnya pae sapaaan situ

    ???

    wahhhh *jujur kutercengang

    ReplyDelete
  14. kebayang deh mba..ceritamu ini...
    duluuuuu zaman sma sebagian temen2 lelakiku ya kayak gt. suka dalam kondisi setengah sadar di kelas. dan krn aku bukan bagian dr mereka aku tuh sering diisengin sm mereka, tiba2 aku menemukan buku2 stensil di dalam tas atau laci mejaku.
    aku juga sering mendapati mrk bawa benda2 tajam..
    biasanya buat tawuran sm sma lain.
    alhamdulillah bisa selamat dan survive dr sana.
    mereka mungkin bukan jahat hanya nakal

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah, ada yang bisa menyelami perasaan saya rupanya. Meski dari sisi yang berbeda. Makasih ya Mak :)
      Kalau soal tawuran, mestinya saya bersyukur hal itu bukan habit mereka

      Delete
  15. aku menantikan kelanjutan kisah ini, merinding sendiri bayanginnya. aduh kalo saya disana mgkin ga bakalan lama. saya suka ngajar sih mba tp bukan ngajar anak gede, saya demen ngajar anak tk aja. haha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini juga mirip2 anak TK kok Monic :D

      Delete
  16. WAHH aku pas baca.... agak sedikit kaget sih, cuma karena tahu sekarang jaman udah luar biasa banyak perubahan, karena aku juga pernah ngajar di skolah tingkat SMP...
    dan anak-anaknya badung banget... walaupunga sebadung cerita mbak, tapi cara mereka "bisik bisik tetangga" saat kita membalik badan dikelas, padahal kita masih disitu... kerasa banget huhuhuhu..

    tapi hebaaaat mbak kuat!!!

    salam kenal ya, mbak!

    ReplyDelete
  17. Lid, aku speechless bacanya. Ternyata kamu pernah jadi guru to. Ini mirip temen2 SMAku. Kalo istirahat pada ngebir, ngrokok, ngganja. Padahal di kota kecil, ndeso :(. Malah pernah temenku bilang gini "Tun, nanti malem aku mau tawuran. Kalau besok aku nggak masuk, berarti aku udah mati". Huufftt...sampe sekarang dia masih jadi peminum dan pecandu. Tapi kami juga masih temenan. Entahlah, aku padahal nggak putus2 doain dia. Tapi hidayah emang bener2 rahasia ALLAH.
    Btw ditunggu kelanjutannya yaa...

    ReplyDelete
  18. Jadi SITU rumah nya dimana ??? Situ jomblo kah ??? hua hua

    ReplyDelete
    Replies
    1. #eaaa syukur maztoro bukan murid saya,hahaha

      Delete
  19. Huhuhu ceritanya seru, dulu saya juga ngalami hal yang mirip2 Mak.

    bedanya di sekolah itu saya juga menjadi siswa (jadi anak buangan selama 1 tahun karna sistem rayon). saya sekolah di belakang Terminal & pasar besar, teman2 isinya kebanyakan preman2 pasar dan terminal. yang kalau ngajak bicara perempuan, sambil ngepul asap rokok, ngangkang & cenderung intimidasi.

    awal2 serem banget sekolah disana, lama2 begitu mengenal mereka lebih jauh ternyata ada sisi baiknya juga. dan sampai sekarang masih berteman baik :)

    ReplyDelete
  20. dulu aku juga pernah mengalami kondisi serupa'takjub sekaligus pasrah menemukan kenyataan yang jauh diluar dugaan :)

    ReplyDelete
  21. Tunggukisah2 selanjutnya aaah
    Menarik :)

    ReplyDelete

Terimakasih telah membaca, silakan berkomentar yang baik dan mohon untuk tidak menaruh link hidup.

Member of

Blogger Perempuan Blogger Perempuan rssbblogger Warung Blogger

Popular Posts