Showing posts with label DIENG. Show all posts
Showing posts with label DIENG. Show all posts
, , , ,

Sentuhan Surgawi di Tanah Dieng


Terusik Kenangan Dieng 

Tidak sekali pun terpikir bagi saya pergi ke Dieng. Seberapa banyak saya mendengar kata ‘Dieng’, pesona Dieng, tayangan tentang Dieng, tidak pernah ada mimpi untuk berkunjung ke negeri atas awan ini. Bukan karena saya tidak terpesona, atau tidak berhasrat mencicipi sebuah keindahan. Hanya saja, bermimpi terlalu indah membuat saya khawatir terperosok. Apalah saya yang nun jauh dari Pulau Jawa ini dengan Dieng yang tinggi di sana. Mungkin ini kata yang tidak terlalu sempurna untuk menggambarkan, tapi kira-kira begitu yang saya rasakan saat itu. 

Satu hari sebelum melakukan perjalanan ke Dieng, saya berhenti memikirkan ingin ke suatu tempat A, B maupun C. Bisa berkunjung ke Wonosobo saja tanpa diduga, menjadi bentuk syukur yang berlipat. Adalah kawan suami yang saat itu menjemput di Purwokerto, yang kami pikir beliau ini tinggal di Purwokerto tersebut. Nyatanya, perjalanan kami berlanjut hingga ke Wonosobo, menuju sebuah rumah nan sejuk di balik Gunung Sumbing. 

Saya terpukau. 

Ketertakjuban memandang Sumbing dan menikmati suasana Wonosobo rupanya masih ditambah dengan ajakan ke Dieng. Dieng? Dataran tinggi itu? yang katanya negeri di atas awan? pikir saya. Malam sebelum keberangkatan, saya masih berharap cemas. Jangan-jangan setelah terbangun, semua ajakan itu dibatalkan.

Berkunjung ke Dataran Tinggi Dieng

Syukurlah semua tidak berakhir di atas harapan semata. 

Saya akhirnya benar-bernar bertolak ke Dieng. Selama perjalanan saya disuguhkan narasi Dieng dari sebuah audio yang diputar kawan. Selama perjalanan saya mencerna penjelasan yang indah itu selaras dengan keterpesonaan saya terhadap pemandangan di depan mata yang begitu memukau. Saya merasa seperti anak kecil yang menerima hadiah, menganga dan terwow sepanjang jalan. 
pemandangan sepanjang perjalanan

Dari penuturan kawan, saya jadi tahu bahwa Dieng terletak di dua kabupaten, yakni Kabupaten Wonosobo dan Kabupaten Banjarnegara. Dieng berasal dari kata ‘di’ dan ‘hyang’ atau tempat Dewa. Sewaktu saya mendengar sebutan tempat para Dewa bersemayam, saya mengaitkan dengan keindahannya . Bebukitan yang berombak, lereng yang berundak, hijau yang tumpah di daratan, candi dan kawah adiwarna, hingga dersik yang menggelitik. Bahkan semua itu pun masih belum cukup meggambarkan Dieng. Satu tempat sejuta pesona. Datang saja ke Dieng, dan nyaris semua tempat wisata yang kau inginkan tersedia. Sebuah negeri kayangan. 

Saya bersyukur pada akhirnya bisa menikmati matahari terbit di Sikunir, mampir di Telaga Cebong, mengenal Kawah Sikidang, berjalan-jalan melihat candi-candi, menuju Telaga Pengilon dan menengok Gua Semar serta Gua Sumur. 
pagi hari di Sikunir

kawah Sikidang


Berada di ketinggian rata-rata sekitar 2000 m di atas permukaan laut, wajar bila Dieng disebut negeri di atas awan. Kabut eksotik mengawang di sekitarnya. Dingin memeluk siapa pun yang berada di sana. Saya yang memakai jaket besar kedodoran, berkemul sarung tangan pun masih kedinginan. Apa mau dikata, orang Kalimantan yang terbiasa dengan dekapan cuaca hangat ini, jadi merasa lugu di negeri yang dingin. 

Dieng merupakan dataran yang di bawahnya terdapat kaldera, masih tergolong kawasan aktif vulkanik di Jawa Tengah. Saya berasumsi inilah mengapa Dieng menjadi wilayah subur dengan aktivitas pertanian sebagai sumber penghasilan utama masyarakat di negeri atas awan ini. 

Ada hal lucu ketika mengingat tanaman dan komoditas Dieng. Orang yang mengajak kami menyebutkan tanaman yang terhampar dan yang saya tunjuk, bahwa di sana ada kentang Dieng, pepaya Dieng, cabai Dieng, dan saya mengangguk-angguk karena merasa lucu. 
Mengapa begitu mudah menamakannya dengan kata Dieng? Sampai kemudian saya tahu, misal saja pepaya Dieng atau lebih dikenal dengan carica (baca : karika) memang adalah pepaya Dieng. Maksudnya, pepaya ini bukan jenis pepaya biasa, melainkan pepaya spesial. Carica hanya tumbuh di Dieng, di udaranya yang sejuk dan ketinggiannya yang terjaga. Jika membawa tanaman pepaya carica ke daerah lain, kemungkinan akan menjadi pepaya biasa. 

Sececah Keunikan Surgawi Terhampar di Dieng

Dari Kentang, Carica dan Cabai di Dieng 

Surga adalah kemewahan tiada tara. Telah termaktub dalam kitab suci. Kata surga juga menjadi pengibaratan bagi keelokan tempat-tempat di muka bumi. Datang saja ke Dieng, dan kau akan merasakanketertarikan akan pesona Dieng dan kalau kau punya perasaan mendalam, kau pasti akan kagum pada Sang Penciptanya. Sungguh luar biasa apa yang telah Dia ciptakan di Tanah Dieng. 

Setibanya di Dieng kami diajak untuk singgah di rumah orang tua dan saudara kawan. Keduanya adalah petani. Di belakang rumahnya saya bisa melihat tanaman kentang, wortel berpadu dengan kolam berisi ikan-ikan yang ramai. Seingat saya mereka pun baru saja panen kentang. Kami makan dari hasil pertanian Dieng dibarengi suguhan cabai Dieng. Lagi-lagi kawan saya berkata bahwa cabai Dieng itu istimewa, cabai gendut yang super pedas, dan lagi-lagi saya mengangguk, sambil menahan pedas.
lahan pertanian yang sempat terpotret

Saya suka tanah Dieng ini. Di waktu siang, saya menyempatkan menyentuh tanahnya. Mungkin agak norak bagi Anda yang membaca ini. Tidak mengapa. Saya ingat tanahnya hitam, tidak keras, cukup lembab, melambangkan tanah yang subur. Sebuah sumber menyebutkan bahwa tanah Dieng berkemampuan untuk menyediakan lengas yang tinggi, yang dibutuhkan tanaman. Kesuburannya berasal dari unsur haranya, dan serapan pupuk organik yang baik. Unsur lain melengkapi alasan mengapa kentang menjadi komoditi utama dalam pertanian, berkat keempukan kentang Dieng yang sudah ternama.
petani kentang di Dieng
sumber : https://lifestyle.okezone.com

Carica dan Cabai dari Dieng Plateau 
Selain kentang, saya masih takjub dengan dua tanaman ini. Sebagai penggemar tanaman dan kebun rumahan, baru kali itu saya menemui pepaya dan cabai yang unik. 

Menurut sejarah masyarakat di sana, asal mula carica disebut-sebut dibawa oleh Pemerintah Hindia Belanda pada masa dulu dan dikembangkan di Dieng. Hingga akhirnya carica menjadi pepaya khas Dieng dan juga menjadi oleh-oleh khas Dieng. Sebut saja manisan carica, dan orang-orang pasti mengira Anda dari Dieng. Carica punya sebutan lain yakni pepaya gunung, karena memang hanya cocok ditanam di daerah dataran tinggi, sekitar 1500 m di atas permukaan laut. 
pepaya carica
Sumber : Wikipedia

Lain carica, lain pula cabai Dieng. Kawan saya ini menjelaskan bahwa cabai Dieng yang tingkat kepedasannya menjadi ciri khas ini bernama cabai gendol atau nama lainnya habanero. Sewaktu mendengar habanero, baru saya merasa pernah mendengarnya. Kalau tidak salah di kalangan pecinta tanaman cabai. Tingkat kepedasan cabai habareno mencapai 100.000-350.000 skala scoville (skala yang menjadi tolok ukur tingkat kepedasan cabai). Semakin tinggi skalanya, semakin pedas rasanya.
cabai gendol
sumber : Wikipedia

Sempat saya bertanya, mengapa cabai yang begitu pedas yang dibudidayakan? Jawabannya sungguh sederhana dan mengena. Wajar saja, karea Dieng Plateau merupakan daerah yang dingin, jadi cocok dengan yang super pedas. Oh, iya benar juga, saya pikir. Entah mengapa saat itu, saya jadi telat mikir. 

Meneropong Dieng, Warisan Budaya yang Komplit

Sayangnya, sebuah kesedihan sempat merayap di benak. Obrolan menarik yang diceritakan kemudian tentang pertanian di Dieng adalah pada tahun yang berkelanjutan, telah terjadi degradasi lahan, di mana lahan yang seharusnya menjadi lahan konservasi berubah menjadi lahan pertanian. Tentu ini miris, mengingat dalam waktu yang lama, kondisi ini bisa saja akan merusak Dieng Plateau. Obrolan kami memang tidak banyak membeberkan data. Sampai saya menemukan artikel-artikel yang membahas lahan Dieng yang semakin kritis akibat cara tanam yang tidak ramah lingkungan.

Dulu, saya berpikir kerusakan warisan budaya mungkin lebih banyak disebabkan vandalisme. Nyatanya, warisan budaya masih terbagi menjadi Warisan Budaya Benda dan Warisan Budaya Takbenda. Termasuk Warisan Budaya Takbenda adalah adat (kebiasaan) masyarakat serta pengetahuan mengenai alam baik mikrokosmos, makrokosmos, adaptasi, dan pengolahan alam. Bagaimana mempertahankan alam agar tidak menjadi rusak dan mengalami bencana adalah juga bagian dari mempertahankan warisan budaya. 

Mengapa demikian ?
Karena negeri kayangan ini sungguh unik. Di atasnya terhampar banyak situs cagar budaya yang merupakan dari Warisan Budaya berwujud fisik. Ada komplek percandian, artefak, bahkan penemuan candi bukan hal aneh di Dieng hingga sekarang. Selain itu, masih ada adat istiadat, kesenian, lansekap, cerita-cerita rakyat dan penemuan benda-benda kuno yang juga termasuk warisan budaya. Melindungi alamnya, melindungi pula warisan di atasnya.

Menjaga Tanah Dieng, Menjaga Warisan Budaya, Menjaga Negeri


Keunggulan Dieng itu terletak pada keindahan alam, tradisi dan peninggalan sejarahnya. Semua itu butuh upaya untuk dilestarikan. Sementara kerusakan alam yang dilakukan manusia perlahan-lahan dapat merusak Warisan Budaya yang bernapas di Dieng. Bahkan wacana Dieng Plateau sebagai situs warisan dunia pernah dikemukakan. Siapa yang tidak bangga jika demikian? Namun, perlindungan Warisan Budaya tidak mungkin meninggalkan perlindungan terhadap warisan lainnya. Adaptasi dan kebiasaan masyarakat yang tidak berkenan terhadap penjagaan alam, seyogyanya patut dibenahi. Dengan demikian, tradisi elok masyarakatnya dalam melestarikan lingkungan menjadi kombinasi dengan keunggulan lain di Dieng yang patut dipertahankan. 

Dieng, sececah pesona surga ada di tempat ini. Ada sentuhan surgawi di tanah Dieng. dari datarannya rata hingga yang berlekuk. Surga mana yang tidak ingin kita jaga? Satu bentuk penjagaan surga adalah tidak mengabaikan larangan. Upaya perlindungan Warisan Budaya sangat membutuhkan masyarakat yang terbina. Ini bisa dimulai dari petani-petani muda, dengan mengarahkan pada pola pikir yang berorientasi cinta alam, maka kiat bertaninya pun akan mengedepankan perlindungan terhadap alam. Hutan di Dieng yang menipis bisa ditanami kembali. Dieng bisa menjadi penghasil komoditi selain kentang. Ini justru akan menambah kekayaan alam di Dieng.

Sampai sekarang, melukiskan keindahan negeri kayangan Dieng lewat kata-kata ternyata masih tidak mudah bagi saya. Saya masih berharap bisa merasakan sejuknya Dieng kembali, menyusuri danaunya, mencicipi carica, menanti matahari terbit, duduk terpukau di atas awan sembari menatap barisan pegunungan, dan tak lupa bersyukur pada-Nya. Semoga.

***

Bahan Bacaan :
sececah = secolek, https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/sececah
https://nasih.files.wordpress.com/2011/05/2010-kesuburan-lahan-petani-kentang-di-dieng.pdf
https://id.wikipedia.org/wiki/Warisan_Budaya_Takbenda_Indonesia
https://lifestyle.okezone.com/read/2015/09/04/298/1208126/kentang-dieng-terkenal-karena-empuknya








Share:
Read More
, , ,

#Traveling Story : Melupakan Cara Bersyukur

Melupakan Syukur  www.bulirjeruk.com

BROMO - Sebelum Jepretan Dimulai
Dingin menjelang Subuh itu terasa lebih mengkhawatirkan daripada seekor anjing di dekat kaki. Udaranya saja menusuk, sudah pasti airnya pun lebih galak. Bagaimana kalau dingin membuat saya malas mengambil air wudhu?
Share:
Read More
, , , , ,

MERINDUKAN DIENG, MY "AHA" MOMENTS TRAVEL

Paul Theroux berkata: "Perjalanan itu bersifat pribadi
Kalau pun aku berjalan bersamamu, perjalananmu bukanlah perjalananku"

Jalan-jalan ke Dieng
Suka traveling? Ikuti lombanya disini
Saya menyebut perjalanan ini CLBK, Cerita Lama (namun selalu) Berseri-seri Kembali (bila mengingatnya). Awalnya kami dari Tasikmalaya, setelah telpon-menelpon ternyata suami punya teman di Purwokerto dan mengajak untuk mampir. Berangkatlah kami dari Tasikmalaya dengan menggunakan bus.

Tidak Terbersit Kata Dieng

Traveller lokal mana yang tidak mengenal Dieng? Negeri di atas awan? Negeri yang saya pikir tidak perlulah diinginkan untuk disinggahi karena tidak mungkin juga saya kesana. Sebut saja keberuntungan, bila kemudian saya diajak menyaksikan matahari terbit di Sikunir, berkelana di antara candi-candi, mengendus aroma belerang di Sikidang, juga berkenalan dengan tanaman-tanaman yang hanya ada di Dieng.

Sementara hingga saya duduk kepanasan dalam bus yang bergoyang parah, tidak sekali pun nama Dieng bakal terlintas. Selama perjalanan yang sekitar 5 jam itu, tidak ada satu kata pun yang terlontar dari kami. Saya kira, suami sudah letih. Sementara saya punya harapan bercakap-cakap dengannya.

Bus kami tiba di Terminal Bulupita, terminal yang menurut saya bersih, apik dan layak jadi contoh. 
Terminal Bulupitu
Terminal Bulupitu, menyenangkan bagi anak-anak
Kawan suami menjemput  dengan mobilnya dan dengan itu pula akan menjemput istrinya. Saya pikir rumah kawan suami ini di Purwokerto,  saya baru tahu kalau ternyata rumah mereka di Wonosobo.
Rumah dimana bila langit bersih mengizinkan, akan terlihat penampakan Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing dengan jelas di sebelahnya. Rumah dimana udaranya keterlaluan segar, air bersih mengalir cuma-cuma tanpa henti, belum lagi keramahan yang tampak dari pemiliknya. Kombinasi yang bikin saya bersyukur luar biasa.

Tentu bukan hal mudah menerima udara dingin Wonosobo terutama bagi saya yang terbiasa dengan suhu Kalimantan. Karena itu tuan rumah bersedia sekali mengantar ke pemandian air panas.


Lalu, “besok ikut kita ke Dieng kan,” kata mba Eni, istri kawan suami. Dieng? Dieng yang itu kan? Yang itu yang mana juga tidak jelas saya memikirkannya. Rupanya orangtua mereka tinggal di Dieng dan mereka akan ada acara. Maka, keesokan Sabtu itu kami pun berangkat.

SEMUA SERBA DIENG
Bagaimana saya melukiskan Dieng dengan kata-kata? Rasanya susah sekali, kemungkinan tidak akan pas. Lekukan pegunungannya, hembusan anginnya, orang-orang dengan sarung kemana-mana, tanamannya.  Jiwa saya jadi terisi syukur dan decak kagum belaka. Untuk menikmati prosesnya, saya memilih lebih banyak diam selama perjalanan.
Menuju Dieng

Sementara, mbak Eni dan kedua anak-anaknya dengan rutin menjelaskan apa-apa saja yang sudah saya lihat.  Bahwa yang itu tadi namanya Cabe Dieng; pepaya yang kecil itu namanya Pepaya Dieng; nanti kita akan mampir ke Candi Dieng. Waktu itu saya berpikir betapa mudahnya memberi nama sesuatu dengan “Dieng” di akhirnya. Tapi sebenarnya memang begitulah adanya. Carica misalnya, sudah pastilah Pepaya Dieng yang memang hanya tumbuh di pegunungan.

Setelah membeli beberapa setelan penahan dingin, kami langsung mengelilingi candi.

Candi di Dieng

Candi di Dieng
Karena tidak ada persiapan, cuma bisa menebeng jaket suami

Tidak cukup puas berada disana, saya diajak ke Kawah Sikidang, kawah berbau belerang, dengan anak-anak mereka sebagai pemandunya. Disana jualah saya bertemu dengan si abadi edelweiss. Ternyata keputusan untuk tidak memilikinya susah juga ya, mana harganya cukup murah pula. Tapi, buat apalah. 
Toh, saya percaya tidak semua hal indah harus saya miliki, ada yang harus tetap di tempatnya, dengan begitu ketika saya merindu, ada usaha dan kerja keras untuk bertemu dengannya. Karena disitulah letak, mengapa ia begitu berharga.
 
Penjual Edelweiss, Kawah Sikidang-Dieng
penjual edelweiss 

Kawah Sikidang, Dieng
dua bocah yang menjadi pemandu

Barulah pada malamnya saya tahu bagaimana rasa cabe dieng itu saat menyantap makan malam di rumah mertua mba Eni. Saya juga sempat bertanya: “Pak, kok sepanjang jalan saya nggak lihat hewan ternak?” pertanyaan ini langsung disambut tawa, “sapi nggak bisa gemuk disini mbak, susah.”

Kemudian kawan suami ini menawarkan diri lagi memandu ke Sikunir. Yang benar saja, batin saya. Keluarga ini sudah penuh dengan keramahan, ditampung saja kami sudah senang. Masih disusul pula kenikmatan yang lain.

Malam itu saya tidur lebih cepat dari biasanya, pukul 3 dini hari kami sudah harus berangkat kalau tidak mau mengalami kemacetan parah. Macet? Menuju Gunung? Apalah saya ini yang tidak tahu apa-apa ya, lupa pula kalau hari itu adalah Minggu.

Kami berempat (saya perempuan sendirian) berangkat benar-benar pukul 3 dini hari, menuju Desa Sembungan, Kec. Kejajar. Katanya, desa ini adalah desa tertinggi di Pulau Jawa dan Sikunir dengan ketinggian 2350m dpl merupakan salah satu tempat terbaik menyaksikan matahari terbit. Dari Sikunir ini, akan tertangkap pemandangan gunung-gunung lainnya jika memungkinkan.

Hal repot yang mesti saya rasakan adalah beberapa kali terpisah dengan para lelaki ini. Langkah mereka panjang-panjang dan gesit. Saya tidak letih, tapi kalau harus mengimbangi mereka pastinya kewalahan juga. Belum lagi satu-satunya senter dibawa suami yang entah ada dimana dia. Dalam keadaan seperti itu: gelap, tidak tahu arah-tujuan, tidak membawa peralatan khusus, bijak saja ya kan kalau saya bergabung dengan tim lain, hehe. Terutama kalau tim itu punya peralatan lengkap, ada perempuannya, tahu arah dan tampang saya masih bisalah disetarakan dengan mereka yang notabene mahasiswa. Toh, tidak ada yang sadar kalau anggota mereka bertambah satu.

Menuju Sikunir
perjalanan yang berisi gelap, dingin dan tidak tahu arah
Mendekati puncak, barulah saya bertemu suami lagi. Kian tinggi, takjub saya bertambah dengan pemandangan sekitar, bukan karena pesona alamnya atau ketangguhan Sikunir. Melainkan, betapa banyaknya manusia (pada hari Minggu). Kalau pesona alamnya tidak perlu disebutkan lagi, terlalu memukau untuk dituliskan.

Sikunir, Dieng

Sikunir, Dieng

Adegan lucu terjadi ketika masing-masing anak manusia ini mau ber-swafoto. Harapannya bisa selfie dengan latar sunrise atau gunung seberang pastinya, apalah daya latar belakangnya ya anak manusia yang mau ber-selfie juga.
 
Sikunir pada Hari Minggu
"tidak mengambil apapun kecuali gambar"
Sikunir, Dieng
di ufuk timur
Sikunir, Dieng
dibutuhkan mengantri yang lama untuk menuruni gunung

Sikunir, Dieng
duduk disini sembari merenungkan keMAHAanNYA adalah kenikmatan tak terkira

Setelah dari Sikunir, saya pun masih melanjutkan ke beberapa lokasi yang menarik di Dieng, lalu kami beranjak balik ke Wonosobo. Hal menarik selama perjalanan ini bagi saya bukan sekadar bisa melihat tempat yang berbeda dan menakjubkan. Perjalanan ini juga membuat saya menemukan orang-orang baik yang mampu menganggap saya yang belum dikenal ini sebagai saudara. Saya dibuat merasa dekat dengan kampung halaman mereka. Tak ada balasan langsung dari saya tuk mereka. Pun tak ada buah tangan tuk mereka. Tapi tak mengapa, bagi mereka cukup Allah saja yang membalasnya. Inilah perjalanan yang membuat saya ingin mengulangnya dua, tiga kali. Tentu tanpa merepotkan lagi keluarga yang saya kenal disana.

Perjalanan yang inginnya saya rencanakan bersama keluarga. Maklum saja, tidak hanya lewat tulisan ini, seringkali setiap kami bepergian, saya dan suami berjalan masing-masing meskipun kami berdua. Ia dengan kawannya, dan saya… sendirian. Itulah mengapa ungkapan Paul Theroux di atas serasa terlalu pas banget buat saya.

AHA !
“Dek, nanti kita mau ke Jawa lagi lho,” kata suami pada Agustus ini. Saya masih mendiamkan sampai dia berkata, “tapi nggak tahu mau tanggal berapa ini, masih cari-cari yang murah.” Lalu suami mengecek satu persatu tanggal dan dari situs penjualan tiket pesawat online.

Untuk melakukan perjalanan ke luar kota buat kami sebenarnya sama prinsipnya dengan yang lain, yakni bisa murah-meriah-aman-nyaman. Saat ini banyak situs penjualan tiket pesawat online dan maskapai terbang yang menawarkan kemudahan dan keringanan biaya. 

Sebenarnya, ada cara gampang untuk mengetahui harga TIKET PESAWAT MURAH mana yang menjadi pilihan yaitu lewat SKYSCANNER. Ini lebih baik daripada mencari satu-persatu melalui situs maskapai-nya atau situs penjualan tiket pesawatnya. 

Skyscanner : https://www.skyscanner.co.id/
Facebook : https://www.facebook.com/SkyscannerIndonesia
Twitter : https://twitter.com/SkyscannerID
Instagram : https://www.instagram.com/skyscannerindonesia
Youtube : https://www.youtube.com/channel/UCIy5o-1kjGCAgHRT36r3iYw



BELUM TAHU KAPAN MAU TERBANG ?

Kalau saya harus mencari satu-persatu mana penawaran terbaik, tentu repot dan buang waktu. Lewat SKYSCANNER cara ini bisa diatasi.
Cara yang saya lakukan, masuk ke website SKYSCANNER, menentukan penerbangan dari- dan ke- seperti biasa dan menentukan bulan yang saya mau.


TAMPILAN DEPAN SKYSCANNER
Tiket pesawat murah
Yang saya pilih ini adalah bulan September 2017

Saya memilih bulan September, tanpa menentukan tanggalnya, kemudian saya mengklik  Cari Penerbangan   maka hasilnya akan tampak seperti di bawah ini :

Tiket pesawat murah
Estimasi ini dapat dipakai sebagai acuan
Pada gambar di atas akan terlihat estimasi harga terendah hingga tertinggi (perhatikan warna yang digunakan). Lalu klik harga yang diinginkan pada tanggal diharapkan.



ATAU MAU TERBANG DI HARI TERTENTU ?


Selain pencarian harga termurah, tentu pencarian untuk hari terbang tertentu sangat bisa. Disini saya mencoba menemukan penerbangan pada tanggal 6 September 2017:
Tiket pesawat murah
 Klik "Cari Penerbangan" dan temukan maskapai penerbangan pilihan; Ada Garuda Indonesia, Citilink, Lion Air, Silk Air, Sriwijaya Air, Singapore Airlines, dan lainnya.

Tiket pesawat murah
Manfaatkan pula fitur, “TERBAIK”TERMURAH”, dan “TERCEPAT” yang terdapat di atasnya. Jika saya mengklik   PESAN   pada Citilink, maka yang muncul adalah :
Beberapa tiket penjualan maskapai online seperti Nusatrip, Via.com, Citilink, Airpaz, Tiket2, Kiwi, Bravofly.
Tiket pesawat murah
Setelah itu klik  PESAN TIKET  yang akan langsung menuju situs penjualan tiket pesawat. So, transaksinya di sana lho. Perbedaan harga dengan situs penjualannya kemungkinan memang ada dan biasa, tindakan ini bisa dilakukan dengan cara me-refresh atau menghubungi SKYSCANNER .


MENGAPA SKYSCANNER ?


Bekerja sama dengan maskapai penerbangan dan situs tiket penjualan pesawat terbang di seluruh dunia, SKYSCANNER menjadi situs pencarian travel global terkemuka, delapan belas situsnya telah tersebar di seluruh dunia.

Dengan cara ini kita dapat membanding-bandingkan harga dan memilih yang sesuai dengan cepat.

Tidak hanya perkara pencarian tiket pesawat, SKYSCANNER juga membantu mencarikan penawaran terbaik untuk hotel dan sewa mobil. Yang paling penting semua ini, GRATIS. Untuk memudahkan lagi bergabung dengan newsletter dan unduh aplikasi 3-in-1 Skyscanner. Manfaatkan semua fitur yang digunakan.
Skyscanner Indonesia

Merencanakan perjalanan dengan SKYSCANNER adalah satu cara untuk menyamankan perjalanan. Sebagai pengingat buat saya, kalau tidak mau kepadatan di tempat wisata ya saya bisa memilih bukan pada hari libur umum. Ada kalender liburan khusus yang disediakan SKYSCANNER tiap-tiap tahunnya. Dan tidak lupa untuk memanfaatkan semua fitur yang diberikan.



Belajar dari #ahamoments perjalanan ini, jika ingin bepergian lagi saya ingin menyiapkan beberapa buah tangan, cukup yang ringan saja. Kita tidak tahu orang baik atau kawan yang mana akan kita jumpai. Memberikan sesuatu meski kecil saja bisa untuk mengikat tali persaudaraan.
Saya juga belajar dari carica, bila kita tidak bisa menikmatinya dengan cara biasa, kita bisa mengubahnya menjadi luar biasa. Sebagai pelaku usaha tentu ini menjadi ide yang menarik bagi saya dan suami. 

Sekali lagi, saya dan suami akan bepergian bersama lagi, namun bila perjalanan kami serasa pribadi dan kami akan punya cerita masing-masing tidaklah mengapa. 
Ya. Tidak mengapa, kalau pada akhirnya kisah berbeda itu menjadikan satu tujuan akhir yang baik :)

Salam,
Lidha Maul.

Tulisan ini diikutkan dalam lomba #SKYSCANNERINDONESIA
Untuk mengikutinya bisa mengklik #AHASKYSCANNER



Share:
Read More