, , , ,

[Surat Untuk Masa Depan] : Adopsi Pohon Buktikan Cinta Untuk Bumi

Waktunya Bertanya Mengapa ?

Benakku dipenuhi gelombang pertanyaan. Bagaimana bisa aku menulis surat untukmu yang juga adalah aku? Apa gunanya aku menuliskan surat untukku?

Lamunanku buyar saat teringat dulu aku juga pernah membuat tulisan untuk diriku, di buku harian dan di surat-surat. Bukan karena tidak ada kawan yang menyurati. Surat dan tulisan yang kubuat untuk diriku adalah penyemangat, pengingat, sentilan. Memori yang bercakap-cakap di masa depan dari masa lalu. Aku pernah nyengir saat membacanya kembali. Aku pernah tersipu malu. Pernah bersedih dan terdiam. Aku juga pernah merenungkan banyak hal saat membacanya kembali, dan kembali menyuarakan yang hilang.

Benar, saat membacanya, banyak hal terlupakan. Sekarang aku paham mengapa aku butuh menuliskan surat-surat untuk masa depan.

Aku yang hari ini, ingin aku tetap melakukan sesuatu di masa depan.

Untuk Kehidupan yang Lebih Lama ?

Wahai aku.

Aku ingin menuliskan padamu kisah di 50 tahun mendatang. Tentu aku tidak tahu apa masih hidup saat membacanya kelak. Elemen kesombongan jelas bukan di tanganku. Tetapi, aku ingin kamu (wahai aku) bisa membacanya sesering mungkin, dengan perasaan yang lebih dalam dan amanat yang lebih kuat.

Bukankah, sebagai manusia kita ingin hidup lebih lama? Maksudku, kita tidak bisa memaknai ‘hidup lebih lama’ sama dengan badaniyah yang bertahan abadi. Itu adalah bentuk kebodohan termasyhur sepanjang masa yang digunakan tokoh-tokoh villain.

Banyak cara agar hidupmu lebih lama. Menjadi manusia bermanfaat, dikenang dan diteladani adalah cara bijak untuk menjadikan hidupmu lebih lama. Itu yang terbaik.

Sekarang, wahai aku…

Bacalah surat ini dengan perasaan yang bergairah. Ini adalah pemantik hati dan pikiran. Pergilah sejenak ke suatu tempat tenang di bawah pepohonan di mana burung-burung berkicau di pagi hari dan mengambil makan darinya. Duduklah di sana, biarkan hasratmu bergelora hanya untuk surat ini, sesaat saja untuk masa yang lebih lama.

Bismillah.

Sepucuk Surat Cinta
Untukmu yang Mencintai Hutan dan Bumi

Page 1.
Kuatkan Memori : Adalah Hutan, Tempatmu Bertualang

Izinkan aku membawamu pada Minggu yang usang. Di mana kau mengintip dari jendela di bawah kolong ranjang ayah bundamu, sembari bertanya dalam sendunya hati, “mana temanku?” Sepi adalah jawaban. Sepertinya tidak ada yang berkenan bermain pada Minggu yang tenang. Lalu, kau lari memanjat satu-satunya pohon jambu besar di belakang rumah. Membawa buku-buku kesayangan, duduk di atasnya berjam-jam. Syukur kalau ada jambunya. Kalau tidak, tak mengapa. Karena yang kau butuhkan adalah pohon itu. Tempat terbaik melarikan diri. Teman yang setia. Kadang kau mengelusnya tanpa sadar, berjanji dengan sadar akan selalu merawatnya dengan benar, tidak akan membiarkannya patah dan dipotong oleh mereka yang serakah.

Sampai hari naas itu tiba.

Rumahmu terbakar. Pohon itu pun ikut terbakar. Airmatamu deras meluncur, kau lebih sedih kehilangan pohonmu, dibanding memandang kamarmu yang hancur. Setahun kemudian, kau pindah ke sebuah rumah yang membuatmu lebih sering bertemu biawak, berkat hutan mungil terpagar di belakang rumahmu itu. Kau makin sering berburu karamunting, buah hutan yang kini ditelan zaman, berkat ajakan temanmu sepulang sekolah. Pergi ke hutan, bertualang, adalah hari-hari yang kau nantikan.

Sebagai anak Kalimantan, pelan-pelan kau membangun cintamu terhadap hutan dan pepohonan. Terhadap alam yang asri. Alam Sehat Lestari yang alami. Tapi, kau masih kecil. Belum benar-benar paham. Kau hanya tahu bahwa pulaumu dinobatkan sebagai paru-paru dunia. Kau tahu bumi banyak bergantung padanya. Kau tahu berkelana di hutan itu menyenangkan. Itu saja.
Hutan masa kecil
hutan masa kecil

Lalu, kau beranjak dewasa. Rupanya banyak hal yang kau lewatkan. Sewaktu kuliah, pergi bolak-balik dengan bus, berulang kali kau melihat asap tebal di hutan yang kau lewati. Kau pikir itu bagian dari kerja alam. Kau kembali sibuk dengan urusanmu.


Page 2.
Kau Makin Belajar : Tanpa Pepohonan, Kau Bukan Siapa-siapa

Tetapi, aku senang kau tetap menjadi dirimu. Kau masih bergelora saat menyusuri hutan. Belajar menghargai alam dengan tidak mencemarinya, tidak asal membuang sampah dan hanya meninggalkan jejak langkah. Kau beruntung, teman-temanmu punya jiwa yang sama denganmu. Kau beruntung mau belajar banyak dari mereka dan mana saja. Padahal dulunya kau hanya anak kecil yang senang bermain-main di hutan, makan dari tanaman rimba di sana. Belum terpikir bagimu bagaimana menanam pohonnya, bukan? Belum terpikir untuk mengabadikan hutan, bukan? Kau yang dulu hanya tahu bahwa pepohonan berguna bagi manusia untuk menghasilkan oksigen. Dari pohon-pohon itu, kayunya bisa diambil dan dimanfaatkan. Meski kau bersentuhan dengan pohon dan hutan, kau belum benar-benar bisa mengira akan ke mana dunia bergerak kelak, ya kan? Masih tidak tergambar bagimu hidup tanpa hutan di masa depan, benar kan?
tanaman di hutan

Hingga diskusi-diskusimu bersama teman yang sering bertema hutan, lingkungan dan alam membawamu kepada perubahan yang menyenangkan. Sepertinya sinapsismu makin banyak terbentuk. Seakan ada ‘klik’ nyaring di kepalamu.

Kau senang ikut kegiatan lingkungan. Kau gembira dengan ajakan menanam sejuta pohon,. Kau makin akrab dengan tanah dan kau bisa bersedih ketika tidak ada yang memedulikan itu.

pohon tertinggi
tumbuh menjadi manfaat bagi dunia

Kau makin belajar, bahwa tanpa pepohonan kau bukan siapa-siapa. Benar, manusia bisa memanfaatkan pohon untuk kehidupan. Dari pohon lahir kertas-kertas, pakaian, kursi, rumah dan masih banyak lagi.

Tetapi, aku bermaksud mengingatkanmu kalimat ini :

“Sesungguhnya kamu adalah pemimpin di muka bumi.”

Apa ini sudah menamparmu? Itulah manusia, yang ditunjukkan Tuhan sebagai pemimpin di muka bumi. Sebagai pemimpin, kamu punya nilai penting untuk menjaga alam dan bumi ini. Amanat tertinggi di semesta. Kamu tidak boleh merusaknya.

Apa hatimu sudah mulai bergejolak sekarang? Karena aku tahu kau juga tahu, bumi ini beranjak sekarat. Alamnya rusak, pepohonan tumbang, hutan menghilang. Cuaca protes, dan bumi mulai banyak bergerak akibat akar-akarnya terlalu banyak dicabut. Kalau sudah begini apalah artinya nilai kepemimpinan, jika apa yang harus dijaganya terlepas dari tangan.

Aku ingin kamu juga bisa mengingat kembali cerita ini :

“Masa itu kemarau menyuramkan banyak hal. Semua nyaris kering, bahkan hampir ke semangatmu. Setelah penantian panjang, hujan turun amat deras. Kau begitu bahagia, yakin Tuhan mendengar pintamu dan kau bisa mengisi tong-tong airmu. Kemudian, seseorang bergumam, “kata siapa Tuhan menurunkan hujan untuk kita?”

Senyummu perlahan memudar. Kalimat itu masuk ke kepalamu dan susah keluar. Bagaimana kalau itu benar? Atau mungkinkah itu kebenarannya? Jangan-jangan bukan doamulah yang dikabulkan. Jangan-jangan itu doanya para satwa yang kehausan, doa para pohon yang kelelahan tuk tumbuh, rerumputan yang gagal tegak, tanah yang retak. Hanya karena kamu tidak mendengar rintihan mereka, bukan berarti semua itu tidak ada. 

Lalu, kamu beranjak keluar, menatap derasnya hujan dan rumput yang basah. Terpaku di situ. Apa mungkin itu benar? Tanyamu lagi. Bagaimana kalau hujan ini sebenarnya diturunkan untuk alam? dan manusia diminta untuk mengambilnya secukupnya, pikirmu lagi. Menampungnya untuk digunakan bersama, dan bukan mengisi tong-tongmu secara rakus."

Nah, apa kau ingat kejadian itu? Karena setelah itu, kau jadi malu untuk sombong pada alam di sekitarmu. 
Sungguh, kamu bukan siapa-siapa sayang, tanpa alam dan pepohonan itu.


Page 3 :
Keresahan : Kehilangan Demi Kehilangan


Tahun itu dipenuhi asap. Kebakaran hutan melanda sebagian negeri ini, termasuk tempatmu berada. Di sebagian daerah, pekatnya minta ampun. Tak lagi mampu mata menatap. Kepayahan akhirnya juga kau rasakan. Kau dan si kecil berjuang #melawanasap. Masker tebal masih bisa kau pakai, tapi tidak dia yang masih bayi. Pintu rumahmu lebih sering tertutup. Celah-celahnya kau jejali dengan kain basah, meski baunya masih terendus.

Kau tahu hutanmu terbakar. Kau marah, kecewa.
Tetapi, aku senang itu tidak menyebabkan kau putus harapan.
Tahu berganti dan kau melihat banyak hal.
kabut asap kalimantan
dikepung asap

Di kawasan lain di kotamu, ada cerita tentang hutan yang dibabat. Diambil untuk keperluan warga. Sayangnya, mereka tidak menanamnya kembali. Maka, berantakanlah segenap isinya. Satwa menyerang pemukiman. Orang-orang marah dengan satwa. Lupa, kalau merekalah yang menghilangkan rumah dan makanannya. Banjir menerjang rumah-rumah warga. Lupa, kalau pohon-pohon yang menjadi penghalang bencana telah mereka rampas.
banjir
banjir menuju rumah-rumah
doc. pribadi

Cerita ini membuat kita menyadari betapa penting hidup selaras dengan hutan.

Apa kau masih ingat alat-alat berat yang menghabisi hutan ?
Kau tertegun, menyaksikan betapa cepat pohon-pohon yang hidup bertahun-tahun tercerabut hingga akarnya hanya dalam hitungan jam. 

Kau bukan pemilik pohon-pohon itu, tapi kau merasa kehilangan.
excavator
kehilangan : siap ditumbangkan

Kita masih kehilangan lagi pohon-pohon itu dengan banyaknya penambangan dan pepohonannya tak dikembalikan. Lubang-lubang yang terlihat indah penanda pernah terangkatnya akar.
bekas tambang



Page 4 :
Bumiku, 50 Tahun Kemudian


Apa yang terjadi pada Bumi (lihat, aku sampai memilih huruf kapital untuk menghargainya) setelah surat ini meluncur untuk dibaca ? Jelas aku tidak tahu persisnya.

Tetapi, aku tahu Jika tidak ada reboisasi dan reforestasi, dalam 50 tahun kita akan kehilangan hutan kita. Juga planet ini. Selamatkan! Selamatkan dengan banyak menanam pohon satu, dua, dan lebih banyak lagi.

Ada banyak cara menjaga bumi. Tetapi, aku ingin bercerita tentang hutan di surat ini.

Menurut National Geographic, permukaan bumi tertutup hutan sebanyak 30%-nya. Di negeri ini, luas lahan berhutan 50,1 % dari total luas daratannya (2019). Meski kagum karena luas sekali, data ini adalah data yang cukup baru. Artinya, tetap ada hutan yang hilang, karena dulu kawasan hutan lebih luas. Kau bisa melihat data dari KLHK tentang perbandingan hutan dan non hutan di Pulau Kalimantan yang aku muat ini.

Hutan yang di dalamnya pepohonan dan satwa punya peran penting untuk bumi ini. Mereka juga pejuang-pejuang untuk keberlangsungan bumi ini, selain gunung dan perairan.

Jangan sepelekan! Hutan bisa menghasilkan oksigen untuk bumi ini, yang akan sukar kau temukan di planet lain. Dengan adanya hutan, hujan tak menyebabkan banjir dan sungai tak perlu meluap berlebihan. Hutan menghasilkan makanan untuk hewan juga makanan untuk manusia, obat-obatan, hingga perabotan. Hutan adalah rumah bagi para satwa, sehingga mereka tak perlu mampir ke rumahmu mencari makan. Hutan juga menghasilkan air dan menjaganya agar tetap tersedia. Pohon-pohonnya membuat hati dan pikiranmu tenang. Sungguh, ketenangan itu dibutuhkan manusia, jika manusia menyadarinya.
hutan tropis
sungguh, amat banyak manfaat hutan. Apa yang kau tahu, mungkin akan  terus bertambah

Hutan bisa mencegah perubahan iklim.
Krisis iklim bisa menyebabkan banyak hal : krisis kelaparan, krisis ekonomi, dan kerusakan bumi.
Semua ini adalah siklus. Lingkaran kesatuan. Jika lingkarannya diputus, terputus pula yang lain.

Tidak ada yang tahu dengan tepat apa yang terjadi 50 tahun kemudian. Tapi, kita bisa memprediksinya dari sekarang, dari apa yang terjadi pada hari ini, dan pernah terjadi di masa lalu. Dengan data dan pengalaman, perencanaan bisa dibuat sejak dini.

Bumi akan membaik, jika kita mulai perbaikan sejak sekarang.
Perbanyaklah menanam pohon. Perbanyaklah jenis pepohonan. Sekarang !


Page 5 :
Adopsi Pohon dan Adopsi Bibit Pohon Untuk Bumi Lebih Baik

Sayang,

Apa di sekitar rumahmu masih ada hutan seperti waktu dulu? Aku harap masih. Agar kamu bisa berkelana seperti dulu. Penting bagimu untuk menghirup udara bersih di hari tua. Semoga kakimu masih kuat berkelana. Tapi, kamu juga pernah menyaksikan kehilangan pepohonan itu bukan? Karena pohon-pohon itu tidak berdiri di atas tanahmu. Tidak semua pohon bisa kau tanam di atas tanahmu bukan?

Sayang,

Sepanjang usia tentu banyak yang tidak bisa aku lakukan. Aku ingin menanam pohon lebih banyak. Tetapi, aku tahu sebuah pohon memerlukan tempat untuk tegak. Aku tidak yakin punya banyak tempat untuk pohon-pohon yang ingin kutanam.

Tetapi, sayang.

Tekad adalah kekuatan hidup. Kita berenergi saat kita menjadi bermanfaat bagi yang lain, termasuk bagi alam. Hari tuaku akan berguna jika aku telah melakukan sesuatu untuk bumi ini. Apa yang aku hadapi bisa menjadi masalah, jika aku lemah. Apa yang kuhadapi akan terus menjadi persoalan, jika akal tidak digunakan.

Jika aku tidak bisa menanam pohon di lahan yang tak kumiliki, aku masih bisa Adopsi Pohon dan Adopsi Bibit Pohon.

tanam terus
mengadopsi pohon, menanam kembali

Jika aku ingin menanam pohon yang jenisnya tak ditemukan tanganku, aku bisa adopsi pohon dan adopsi bibit pohon.

Jika aku ingin menanam pohon di tempat yang tak terjangkau langkahku, aku bisa adopsi pohon dan adopsi bibit pohon.

Jika aku sangat ingin bumi dipenuhi lebih banyak pepohonan di masa depan, aku akan adopsi pohon dan adopsi bibit pohon.

Adopsi pohon dan mengadopsi bibit pohon adalah cara untuk menghijaukan bumi di masa depan. Meninggalkan udara bersih untuk semua makluk hidup.


Adopsi Bibit adalah sebuah cara untuk berpartisipasi dalam program reforestasi melalui dukungan untuk membeli bibit pohon asli Kalimantan, penanaman dan pemeliharaan hingga dua tahun.
Dengan banyaknya bibit pohon yang ditebar, kita mengharapkan agar hutan yang terdegradasi bisa kembali hijau dan memberikan manfaat kepada kita, satwa dan planet ini.
(ASRI)


Page 6 :
Alam Sehat Lestari, Untuk Kelangsungan Bumi

Oya, apa kau masih duduk di dekat pohon sembari membaca surat ini?
Sekarang tengoklah pohon itu. Seberapa tua kah dirinya ? Pohon itu tidak bisa tumbuh dalam sehari saja. Apa kau tahu spesies pohon apa dia?

Banyak spesies pohon di dunia ini. Kita mesti menjaganya agar tidak menghilang. Hutan tropis di muka bumi adalah rumah bagi 40.000 hingga 53.000 spesies pohon, yang sebagiannya endemik. Setidaknya begitulah jumlah yang diperkirakan oleh para peneliti.

Manfaatnya pun terbagi-bagi, ada pohon buah, ada pohon kayu, ada pohon peneduh, pohon bunga, dan masih banyak lagi.

Kita ingin bumi ini asri bukan? ASRI adalah Alam Sehat Lestari, yayasan yang telah hadir sejak 2007 di Kalimantan Barat dan sejak 2009 telah aktif bekerjasama dengan Balai Taman Nasional Gunung Palung. ASRI pun telah melakukan pelbagai kegiatan kesehatan, konservasi hutan, dari reboisasi, reforestasi, memantau deforestasi, bahu membahu bersama Sahabat Hutan, juga pelatihan pemadaman kebakaran hutan. Lebih dari 220.000 pohon telah ditanam. Alam Sehat Lestari atau ASRI juga telah mendapatkan banyak penghargaan, Kalpataru adalah satu diantaranya. Lewat ASRI, adopter sepertiku bisa memilih jenis pohon di ASRI, baik pohon buah dan pohon kayu keras.
reboisasi oleh ASRI
sumber : alamsehatlestari.org

Mengadopsi bibit pohon dan adopsi pohon lewat ASRI adalah dukungan untuk bersama-sama menghijaukan bumi dan untuk keberlangsungan bumi. Aku ingin di masa mendatang tetap erat menjalin kemesraan dengan alam, yang asri, yang sehat lestari. Karena itu, aku mengadopsi pohon lewat program ASRI. 



Page 7 :
Percaya Untuk Bumi yang Asri, Sehat dan Lestari

Hai diriku di masa depan.
Atau siapa pun yang telah membaca surat ini di masa mendatang.

Menghijaukan bumi tak cukup hanya sendiri. Merawat bumi tak cukup hanya satu masa. Aku dan kamu, mari kita bergerak bersama seterusnya untuk bumi ini. Kita mencintai bumi ini, maka wajib menjaganya.

Mari buktikan cinta bumi dengan penghijauan. Satu, dua, tiga pohon dan seterusnya.
hutan tropis
Bumi 50 tahun mendatang : tetap ada hutan

Pohon yang aku tanam di saat aku menulis surat ini akan tumbuh di masa mendatang saat surat ini dibaca. Pohon yang kamu tanam di masa mendatang, akan tumbuh di masa setelahnya. Bumiku 50 tahun kemudian akan berisi pohon yang kutanam, dan bumiku 100 tahun kemudian akan menghadirkan pohon-pohon yang kita tanam.

Mari kita mewarisi bumi hal-hal baik. Mari mengadopsi pohon dan bibit pohon.
***


----------------------------------------------

sumber tulisan dan bahan bacaan :
https://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2015/08/150825_indonesia_kebakaranhutan
https://forestsnews.cifor.org/31502/menghitung-pohon-di-bumi-143-ilmuwan-menemukan-jumlahnya
http://ppid.menlhk.go.id/siaran_pers/browse/2435
https://alamsehatlestari.org/
Share:
Read More