,

[Review] Yorick : Sebuah Teladan tentang Pantang Menyerah



Penulis: Kirana Kejora
Penerbit: PT Nevsky Prospekt Indonesia
Editor: Key Almira
Desain Sampul: Sidiq Yusliana
Penata Letak: Devandra Alby
ISBN: 978-602-528-830-2
Jumlah Halaman: 336
Harga: buku fisik Rp 89.000, buku digital : Rp 37.000


"persembahan untuk seorang guru besar dengan 1000 pelajaran"

Nenek adalah nafasku.
( hlm. 100)

Tentang Pemenang:
“Pemenang sejati adalah mereka yang berani bertempur sendiri, merangkul ‘musuh’ yang bernama amarah, memeluk ‘lawan’ yang bernama dendam, lalu mengajaknya berdamai dengan cinta kasih dalam keesaan Sang Maha.”
(hlm. 321)

Tentang Cinta:
“Cukup musim saja yang dingin, bukan dirimu. Cukup musim saja yang panas, jangan hatiku. Cukup musim saja yang gugur, tidak cintaku. Bolehkah aku masih mencintainya Tuhan?
(hlm. 44)



Novel Yorick yang disebut-sebut berdasarkan kisah nyata dan telah difilmkan ini mengawali ceritanya di Saint Petersburg. Yorick, tokoh utama dalam kisah ini, kala itu bertemu dengan Nevia, perempuan yang pernah akrab di masa silamnya. Saat  Nevia berusaha menghindari Yorick, saat itu pula memori masa lalu Yorick berulang dan kita pun diajak jauh ke masa Yorick kecil.

Kisah Yorick kecil dimulai saat ia berusia 11 tahun. Yorick tinggal bersama neneknya di sebuah desa di kaki Gunung Sawal, desa Panjalu, Ciamis, Jawa Barat. Kehidupan Yorick kecil jauh dari hingar bingar kemewahan, pun tidak bisa dibilang sederhana saja. Yorick dan neneknya yang bernama Mak Encum hidup serba kekurangan. Yorick, sebagaimana  anak-anak lain yang mengidam-idamkan mainan tertentu, pernah meminta kepada Mak Encum sebuah mobil-mobilan. Mak Encum tidak langsung mengiyakan pun tidak menolak, melainkan meminta Yorick bersabar dan berdoa.

Perempuan tua buta huruf itu tidak hanya bersedia merawat Yorick dengan cinta, namun juga mendidiknya dengan kebijaksanaan. Berbagai ilmu agama dan petuah kehidupan diberikan kepada Yorick. Mak, demikian Yorick memanggilnya, tak hanya ingin Yorick tumbuh menjadi sosok yang pintar, namun juga berakhlak dan menjadi pribadi tangguh.
"Ulah keok, memeh dipacok" (jangan mundur sebelum berperang)
(hlm. 47)
Sedari kecil Yorick tidak pernah tahu siapa kedua orangtuanya, yang ia tahu Mak adalah segalanya baginya. Yorick kecil tidak memiliki teman berarti. Di sekolah ia mengalami perundungan. Adalah Trio Y yang sering mengejek Yorick karena keadaannya yang miskin dan dirinya yang juga berbeda dari anak-anak lain. Mak Encumlah yang terus menyemangatinya.

Satu-satunya kawan terbaik Yorick adalah seekor ayam yang pada akhirnya mereka harus berpisah dengan cara yang paling menyayat hati.

Mak Encum, nenek dan keluarga Yorick satu-satunya yang ia ketahui, sering jatuh sakit. Disinilah Yorick kecil mulai ditempa untuk mandiri. Neneknya dibawa pergi tanpa sepengetahuannya. Masa-masa memilukan mulai terasa. Yorick kemudian berpindah dari satu paman ke paman lain. Dari satu siksaan ke ujian hidup lain. Yorick kecil yang beranjak dewasa merasakan derita bertubi-tubi, kelaparan, menggelandang, dihina dan disiksa. Dalam masa panjang kesendirian itu tak jarang Yorick pun bertemu dengan orang-orang berhati mulia. Ada penjual soto yang menaruh iba, ada lelaki yang ia anggap bagai ayahnya sendiri, ada pula kawan-kawan yang setia.


Syukurlah, Yorick masih mau mengandalkan akal budinya. Ia terus semangat mengejar ilmu, bekerja apa saja tak patah semangat. Bersyukur dan berterima kasih pada mereka yang telah baik berbuat baik pada dirinya.

Yorick jatuh cinta pada dunia IT. Bisa dikatakan, bidang inilah yang akan menjadi kunci pembuka kesuksesan Yorick di kemudian hari. Berbekal ketekunan itu, Yorick dapat menghidupi dirinya dan membuka usaha bersama kawan-kawannya, Rotten, Tejo, Iyan, Aziz, Pak Kin dan Pak Hanafi

Namun sayang seribu sayang, Mak Encum, sang maha guru dengan 1000 pelajaran, telah berpulang ke hadirat Ilahi dengan menyisakan penyesalan mendalam bagi Yorick yang tidak bisa menemani Emak di hari-hari terakhirnya. Ia merasa gagal saat ingin membahagiakan Emak dan memenuhi pesan terakhir Mak Encum. Waktu pun terus bergulir menyisakan kekosongan dalam diri Yorick.

Kini, Yorick telah membangun kerajaannya, telah mengaplikasikan nasihat-nasihat Mak Encum pada lajur hidupnya. Bisnisnya berkembang ke berbagai negara setelah jatuh berkali-kali. Semua itu karena spirit dari sosok perempuan mulia yang senantiasa hidup dalam benak dan hatinya.

Namun, Mak Encum bukanlah satu-satunya perempuan yang hadir dalam kisah Yorick. Ada Tia, gadis Pontianak dan Nevia, perempuan yang dijumpai Yorick di Rusia. Sebagai mana layaknya pria dewasa, Yorick pun mengalami jatuh cinta. Cinta yang pada akhirnya membawa Yorick belajar untuk memahami arti cinta sejati sesungguhnya. 



---U L A S A N ---

Awalnya saya cukup ragu bisa menyelesaikan Novel yang telah difilmkan ini dengan segera. Nyatanya, novel berjumlah 336 halaman ini begitu indah dan ringan untuk dibaca. Untaian kata demi kata, kalimat menuju kalimat, disajikan oleh Kirana Kejora dengan amat nyaman. Saya merasa terbuai, terlena dengan diksi yang oleh penulis dengan ragam prestasi ini taburkan dalam Novel Yorick, novel dengan rasa autobiografi. Kisah Yorick pun sama mengagumkannya dengan rangkaian kata yang disematkan dalam setiap halamannya.
Sikap Yorick  yang tenang tapi waspada dalam setiap kesempatan, karakternya yang tertutup namun pikirannya membuka. Kecerdasannya mungkin bisa dianggap di atas rata-rata, yang saya rasa masih banyak manusia yang sama. Namun, tekadnya memang melebihi kebanyakan manusia.

Tentang tekad dan tak patah semangat yang digaungkan dalam novel tidak seketika membuat saya percaya begitu saja. Sampai pada bagian di mana Yorick mengalami kejatuhan berkali-kali, dan ia memikirkan cara bangkit berkali-kali pula. Seakan-akan alas kejatuhannya adalah sarana untuk melontar diri agar bangkit seketika. Maka benarlah kisah ini. Apresiasi terbesar saya untuk Yorick adalah saat ia berani mengambil risiko bisnis yang membuat orang lain bisa menutup mata. Bagi saya ini sungguh fantastis.

Keberanian Yorick dewasa bertolak belakang dengan Yorick kecil, yang lebih sering mengalah dengan kehidupan. Syukurlah, bagi Yorick pengalaman masa kecilnya adalah cambukan untuk maju. Kedewasaannya bertumbuh seiring kepergiaan Emak. Sehingga yang terpancar pada Yorick setelah terpisah dari nenek hanya ketegaran dan ketangguhan. Saya tidak melihat dirinya yang rapuh atau mengalami perundungan seperti masa kecilnya. Bahkan saat harus menginap di rumah sakit pun, Yorick masih bisa mencandai kawannya.

Masa terburuk Yorick adalah ketika kehilangan nenek yang sepenuhnya ia cintai. Pada bagian inilah, saya merasakan kehancuran seorang Yorick yang lalu menjadi luka menganga, meski tak menyurutkan langkahnya untuk bangkit.
Sayangnya, porsi Mak Encum dalam kisah ini terasa sedikit. Masa 11 tahun itu diceritakan tidak sampai setengah novel dengan memadatkan dialog berisi petuah. Selebihnya, Mak hadir dalam bayang-bayang yang mengaliri kekuatan hidup Yorick di masa depan. Keberhasilan Yorick pun menjadi pertanyaan, apakah ini murni tempaan Mak atau telah bercampur dengan rasa bersalahnya.

Bagian 'mengerikan’ dari kisah Yorick adalah saat ia  pulang dari masjid dan mendapati kehampaan, sampai harus berpindah dari satu paman ke paman lain. Saya merasa kecut, tak ragu menangis, sembari membayangkan Yorick kecil yang kebingungan. Sungguh keras kehidupanmu, Nak. Sayangnya, lewat paman-paman dan perjumpaan dengan sang ayah, saya tetap tidak berhasil mendeskripsikan susur galur Yorick dengan tepat atau alasan terbesar mengapa Yorick sedari bayi diasuh Mak Encum.

Ada banyak sekali analogi yang dibuat Kirana Kejora dalam buku ini, yang semuanya terasa manis. Meski begitu, saya cukup terganggu dengan beberapa penarikan kesimpulan, baik tentang Yorick dan hal-hal yang terjadi. Sebagai pembaca, saya berharap bisa menarik kesimpulan sendiri lewat dialog atau penggambaran yang utuh, bukan narasi-narasi kesimpulan oleh penulis.

Porsi teman-teman Yorick pada novel ini menurut saya tertata baik. Setidaknya saya bisa menangkap eratnya persahabatan yang mereka bangun yang akhirnya bergulir menjadi persaudaraan. Menyentuh.

Saya juga suka saat Kirana Kejora menceritakan Saint Petersburg yang membuat saya seakan berada di sana. Terasa teduh dan indah.


Bagaimana dengan kisah cinta Yorick?
Bila ada perempuan-perempuan di luar sana yang berkata: ‘cowok itu suka nggak peka’, bolehlah kiranya saya sematkan ini kepada Yorick. Sepertinya ketidakpekaan ini memang sering diderita oleh pria-pria pebisnis, IT-man, maupun pria-pria workaholic. 
Kisah cinta Yorick bukanlah hal yang mendominasi dalam novel ini, melainkan sebagai bumbu yang akan mengarahkan pada rasa cinta sesungguhnya. Saya rasa ini sungguh menarik. Mengingat beberapa kisah motivasi tokoh lainnya masih menyelipkan stereotip drama percintaan yang senada.

Latar dan Alur
Berlatar di Rusia dan Indonesia, yakni Panjalu dan Bandung. Untuk tahunnya, saya mencatat Yorick berkuliah pada tahun 2000-an. Novel ini memiliki alur maju mundur. Awalnya, saya bingung mengapa mundur terlalu jauh. Sampai pada bagian akhir, barulah saya memahami kesimpulan besar yang ingin dipetik dari alur maju-mundur ini.


---C O V E R---

Desain cover yang meletakkan warna brown color palette, bagi saya terasa pas dengan isi novel yang memiliki sentuhan muram. Dengan pose Yorick dan Mak Encum, sudah cukup mewakili getir kisah drama mereka yang keseluruhannya menjadi khidmat dan syahdu.


---K E L E B I H AN---

1) Disediakan novel dalam bentuk buku digital dengan harga lebih murah (Rp 37.000)
2) Banyak kutipan yang bisa diseduh dari novel ini, yang semuanya berguna untuk kehidupan siapa pun yang membacanya, sedikit diantaranya adalah petuah berbahasa lokal setempat.

"Setiap Jumat, kenapa Emak selalu ajak ke makam? Biar kita selalu ingat, di dunia ini hanya sementara. Mulih kajati, mulang kaasal."
(hlm. 48)

3) Kekuatan pada novel ini adalah berdasarkan kisah asli.
4) Pembaca diajak untuk mengenal kawan-kawan baik Yorick pada akhir cerita dan mengenal bagaimana aslinya Yorick lewat sudut pandang masing-masing kawannya ini.


---K R I T I K---

Tentunya kritik di sini tidak menunjukkan saya jauh lebih baik.
Semoga saja kritik ini mampu mencapai ke arah lebih baik.

Aplikasi

Saya membeli novel Yorick dalam bentuk digital lewat aplikasi Yorick.id. Untuk membacanya saya harus membuka aplikasi terlebih dahulu yang sangat disayangkan harus pula terkoneksi dengan internet, karena kalau tidak aplikasi tidak akan berjalan. Sempat beberapa hari, aplikasi ini bermasalah. Halaman buku dan halaman buku digital ini berbeda. Misalkan pada daftar isi buku digital: ‘Bab Sang Pemburu’ jatuh pada halaman 6, pada buku fisik, bab ini ada pada halaman 1. Sehingga ketika saya mencari halaman tertentu berdasarkan daftar isi, sudah pasti tidak akan tepat.
Selain itu, saya juga tidak bisa melakukan pencarian kata.

Ejaan

Terdapat pula beberapa ejaan keliru di novel ini seperti :
aktifitas (hlm. 75, 245), seharusnya aktivitas
 mesjid (hlm. 152), seharusnya masjid
Duhur (hlm. 152) dan Maghrib (hlm. 153), seharusnya Zuhur dan Magrib.
Terdapat pula salah tik untuk penulisan tempat dan beberapa lagi yang tidak saya catat.
Meski demikian, salah tik ini memang tidak berakibat fatal mengubah makna alias sampai merusak tatanan cerita (seperti ketika Anda salah tik 'rambu' menjadi 'rabu', 'panda' menjadi 'pandai'). Setidaknya demikian yang saya temukan.

Dibuang Sayang 

Pertemuan Yorick dengan Ayah kandungnya menyisakan tanda tanya besar bagi saya. Seakan sekadar sapa lalu pergi lagi, tidak ada yang berarti. Padahal, Yorick pernah bertanya tentang orang tuanya kepada Mak Encum saat masih di Panjalu. Sampai-sampai saya berpikir, seandainya saja adegan pertemuan ini dibuang, sepertinya baik-baik saja.



Beberapa Pertanyaan :

1)
 “ Yorick petarung tangguh yang akan terus melibas badai penghalang jalannya. Tak segan ia merangkul badai, hingga ia bisa mengendalikan arah angin yang akan mengantar langkah ke mana jalan yang ia pilih.”
(hlm. 261)
Lalu, siapa kah Yorick ini? Sosok yang selalu bermusuhan dengan badai? Atau (kadang-kadang) berkawan dengan badai?

2)
“Yorick, bule kampung borangan.” (hlm. 33)
Pada bagian lain pula disebutkan Yorick berkulit putih. Pertanyaannya: mengapa seorang (anak) bule bisa menyasar di Panjalu? Walau pun saya yakin pada bagian ini mungkin tidak bisa diperjelas dan cukup menjadi pertanyaan pribadi saya saja.

3) Yorick menyarankan kepada Pak Bimo memperbaiki manajemen keuangan, karena pencatatan laba rugi tidak jelas (hlm. 259). Namun, ketika Yorick memiliki usaha, disebutkan keburukan Yorick yang tidak pernah mengecek laporan keuangan dan tidak tahu jumlah uangnya sendiri (hlm. 278).

Jadi, bagaimana bisa Yorick menyebutkan ketidakjelasan keuangan pada saat bekerja dengan Pak Bimo sementara saat memiliki usaha sendiri, ia bahkan tidak tahu jumlah uangnya?

4) Sebut saja keunikan dan biarkan cukup saya yang penasaran saat nama tokoh, sungai dan penerbit berawalan sama bak saudara kembar (Nevia, Sungai Neva, dan Nevsky)

5) Selain 'NEV' ada pula inisial 'Y' yang membuat saya sempat salah mengidentifikasi. Pertanyaannya: apakah nama anak-anak Panjalu memang wajar berinisial Y? Seperti Trio Y (Yayan, Yana, Yanu) dan Yayat, anak tetangga serta Yorick sendiri?


---S A R A N---


1. Mohon perbaikan aplikasi.  Lebih baik lagi tidak ketergantungan dengan internet alias mudah dibaca saat offline.
 2. Perbaikan ejaan.



---K E S I M P U L A N---

Di sekitar kita ada banyak anak-anak yang diasuh nenek. Seringkali pola asuh ini mendapat cibiran, kritan tajam dan disebut-sebut tidak akan berhasil. Mak Encum membuktikan sebaliknya, ia menanam benih keikhlasan dan kebijaksanaan yang bertahun-tahun kemudian dapat dilihat (meski bukan olehnya). Karena aspek terpenting dalam pola asuh ini adalah kualitas Sang Pengasuh. Dalam novel ini, banyak petuah-petuah bijak dari Mak Encum. Mak memang serba kekurangan dan buta aksara, tapi tak menyurutkan langkahnya untuk mengasuh Yorick meski sentilan dari keluarga harus ia terima. Satu-satunya penghalangnya adalah usia.

Kisah Yorick yang diambil dari kisah asli ini ditutup dengan kehadiran kawan-kawan baiknya. Terenyuh, terpacu adalah hal terbaik yang saya rasakan setelah membaca. Untuk Anda yang berjuang dengan bisnisnya, terpatah-patah, dan ingin bangkit lagi, saya sarankan berkenalanlah dengan Yorick. Untuk para ibu-ibu yang dahaga ilmu parenting, yang penat mengurusi anak, ambillah ‘me time’ (waktu luang) untuk menjenguk Mak Encum. Untuk orang-orang yang menghardik anak-anak, patut kiranya merenungkan kisah ini. Dan untuk mereka yang pernah mengalami perundungan, maka duduklah sejenak, biarkan Yorick mendampingi, singkirkan dendam dan teruslah maju. Berdoa, sabar, dan yakinlah kelak akan manis.

Kutipan favorit: 
"Hal paling sulit adalah memulai, tapi tidak akan rumit bila mau belajar berjuang sendiri."


Trivia :
Cryptocurrency adalah mata uang digital yang dibuat menggunakan konsep kriptografi.
Cryptocurrency ini merupakan dua kata gabungan dari cryptography yang berarti kode rahasia dan currency yang berarti mata uang.


***



Salam,
Lidha Maul


Share:

24 comments:

  1. mbak apakah ini novel seperti biasa atau bisa online ya ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bisa dibeli buku digitalnya di aplikasi yorick.id

      Delete
  2. Lengkap banget reviewnya mbak

    ReplyDelete
  3. Aku mau kasi pendapatku ttg dari pertanyaannya, ah..

    1. Yg pasti akrab dgn badai, ya. Mungkin kadang berusaha menaklukkannya, kadang berusaha berdamai dgnnya.

    2. Misteri ini mungkin bisa terpecahkan jika kita tahu (mungkin di filmnya) sosok fisik kedua ortunya. Bisa jadi emang beliaunya blasteran ya?

    3. Menurutku setiap manusia itu abu2, ga saklek begini dan begitu seperti tokoh protagonis dan antagonis di sinetron.
    Pada dasarnya dia ga terlalu suka ngurusi printilan keuangan, bisa jadi. Tapi kalau efeknya terasa sangat besar sehingga dia menganggap akan mengancam kesehatan perusahaan, ya bisa jadi juga.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Boleh-boleh, hayuk kasih-kasih ^_^
      1. Sependapat kok mba :), ini cuma tentang pemilihan kata-katanya saja, tapi tidak mengubah teladannya yang memang sering berjumpa badai kehidupan.
      2. nah ini, mari kita nobar yuk... hahaha
      3. yes, manusia itu emang abu2. Cuma pengen tahu bagaimana dia bisa menyebutkan laporan keuangan tidak jelas kepada Pak Bimo, gitu deh mba wkwkwkw

      Sebenarnya sebagai pembaca kita pasti asumsi masing-masing ya kan, terjawab/tidak terjawab pun tidak akan mengubah kepuasan saya thd novel ini. Karena saya puas setelah membacanya :D

      Delete
  4. wah udah ngereview Yorick.. kubelum dapaet novelnya nih buat direview. Good Luck ya Lid. .

    ReplyDelete
  5. Reviewnya tajam dan lugas, pastinya ada sisi saran yang disampaikan. Jadi ingin punya novelnya

    ReplyDelete
  6. Masya Allah keren banget review-nya. Detail 😍
    Saya suka gaya review Mbak Lidha.

    Btw, manis banget bagian ini:

    Tentang Cinta:
    “Cukup musim saja yang dingin, bukan dirimu. Cukup musim saja yang panas, jangan hatiku. Cukup musim saja yang gugur, tidak cintaku. Bolehkah aku masih mencintainya Tuhan?
    (hlm. 44)

    Wah, bagus nih dikutip terus dikasih ke Pak suami😍

    ReplyDelete
  7. Review nya lengkap banget jd penasaran ingin baca buku dan nonton filmnya, penasaran dg tokoh Yorick d kehidupan nyatanya siapa y?

    ReplyDelete
  8. Mbak review nya lengkap banget. Kadang kalau udah ada review lengkap gini males buat baca. Tapi kok penasaran ya karena banyak banget yang lagi ngomongin bukunya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini gak spoiler xixixi
      dan detailnya tetap terjaga :)

      Delete
  9. Mba Lidha. Reviewnya lengkap banget dan bikin penasaran buat baca.

    ReplyDelete
  10. Ga jadi beli bukunya
    Sudah cukup baca reviewnya aja

    Hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Silakan beli bukunya Pak.
      Setiap orang punya sudut pandangnya masing-masing

      Delete
  11. Wah mbak lidha cucok banged......reviewnya lengkap dan wow......

    ReplyDelete
  12. Keren mbak. Review lengkap disertai dengan kritik. Jadi pengen baca juga.

    ReplyDelete
  13. Udah 2 review ku baca jadi makin tertarik. Ini lalau beli bukunya dlm.bentuk pdf atau harus dibaca di googlebook?
    Pernah beli buku di playstore tapi ternyata bukan dlm bantuk pdf.

    ReplyDelete
    Replies
    1. ada saya tulis di atas mas :) bisa beli di aplikasinya mas Laras >>> aplikasi Yorick.id
      Yuk, kau pasti suka kok, sekalian memicu kita tuk menulis lagi

      Delete
  14. Fix aku mau baca...
    Desa Panjalu, tempat yang pernah saya kunjungi beberapa kali pas kuliah, numpang tidur drmh teman, dan menikmati tempat yang khas banget sama pedesaan...

    ReplyDelete
  15. Lengkap banget reviewnya, Mbak. Getir juga perjalanan hidup Yorick ya. Tentang typo, sewaktu sering ngereview buku saya juga suka mengkritisi hal itu. Eh, pas buku sendiri terbit rasanya pengin ngumpet pas melihat ada typo di buku yang sudah dicetak. Hihihi...

    ReplyDelete
  16. Idem nih dengan mba Mugniar.

    Aku juga 'meleleh'sama bagian ini:


    “Cukup musim saja yang dingin, bukan dirimu. Cukup musim saja yang panas, jangan hatiku. Cukup musim saja yang gugur, tidak cintaku. Bolehkah aku masih mencintainya Tuhan?


    ReplyDelete

Terimakasih telah membaca, silakan berkomentar yang baik dan mohon untuk tidak menaruh link hidup.