,

HARUS KEMANA BILA LIBURAN DI MALANG? INTIP DULU YANG ASYIKNYA DISINI

sumber: asliindonesia.net - Keliling Kota Malang dengan MACYTO

Oke, menurut saya ini unik.
Kebayang nggak sih, teman-teman  punya kampung halaman, sedari kecil tinggal disana, berkelana, sampai kemudian akhirnya merantau. Tiap tahun bisa 2-3 kali pulang kampung. Itupun selalu menyempatkan berkeliling-keliling termasuk ke setiap lokasi wisatanya. Tapi… selalu saja ada yang  terlewatkan, selalu saja baru tahu ada lokasi wisata disana, rasanya yang itu nggak pernah dikunjungi, eh daerah itu di Malang ya? cantik banget…eh, kuliner yang itu baru ada.

Rasanya nggak pernah puas-puas dijajaki.
Share:
Read More
, , , , ,

Menikmati Keramahan SAS Hospitality di Grand Tjokro Balikpapan

Menikmati Keramahan SAS Hospitality di Grand Tjokro Balikpapan

Apa jadinya bila berada di dalam komunitas namun jarang bisa bersua?

Sepertinya inilah yang saya rasakan saat berada di dalam komunitas blogger, khususnya kebersamaan dengan para blogger perempuan di Balikpapan. Maka, menjadi hal menggembirakan ketika saya berjumpa teman-teman blogger perempuan lalu kami bisa bertukar cerita dan gelak tawa.

Momen kebersamaan ini diadakan oleh GRAND TJOKRO BALIKPAPAN, Hotel 4-star di Jl. Marsma Iswahyuhdi No. 21, RT.003 -  yang terletak bersisian dengan  Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan Balikpapan. Event yang bertajuk INFLUENCER BLOGGER GATHERING, tidak hanya kehadiran blogger yang meramaikan acara namun juga teman-teman dari komunitas lain yang saya ketahui berasal dari komunitas fotografi.

From left to right: Hendy, Rosanna Simanjuntak, Riris


Tepat pukul 14.00 waktu Balikpapan, saya, Kakak Super Wow Rosanna Simanjuntak, dan Mas Hendy langsung menuju Tjokro Restaurant Pool Terrace, lokasi dimana keseruan terjadi. Dari lokasinya saja, acara ini memang dibuat santai-segar-mengalir, seperti kolam renangnya yang memanggil kami untuk berenang riang.
Pool Terrace Grand Tjokro Balikpapan

Pool Terrace Grand Tjokro Balikpapan

Pool Terrace Grand Tjokro Balikpapan; Kids Corner

Kolam Renang Grand Tjokro Balikpapan

Acara ini didaulat Kak Rani Neysa, Executive GM Secretary & Marcom sekaligus bertindak sebagai moderator acara. Sebagai perkenalan, Kak Rani meyebutkan bahwa acara gathering ini diadakan oleh SAS Hospitality, operator hotel yang terinspirasi keragaman budaya di Indonesia dan telah menangani 7 hotel yang tersebar di kota-kota di Indonesia, dengan 4 brand-nya yakni : Grand Tjokro Premiere (Bandung), Grand Tjokro (Yogyakarta, Jakarta, Balikpapan), Tjokro Hotel (Klaten), dan Tjokro Style (Yogyakarta).

Hadir di kota-kota Indonesia
Rani Neysa
Jadi, pada tanggal 23 September 2017 keseruan ini tidak hanya dirasakan blogger Balikpapan, namun juga teman-teman blogger di kota-kota tersebut. Hanya saja, khusus di Balikpapan event ini dimulai pada siang hari, sehingga kami bisa menikmati sajian Angkringan && BBQ dari yang menjadi khas GRAND TJOKRO BALIKPAPAN pada sorenya.

Setelah pengenalan singkat, kami diajak mengenal hotel lebih dekat lewat tour hotel yang juga dipandu Kak Rani, sementara teman-teman pria dipandu Bapak Sutan P. Lubis selaku GM Hotel.

KEHARMONISAN BUDAYA LOKAL DALAM KONSEP MODERN
Tour pertama dimulai dengan mengunjungi kamar-kamar yang disediakan untuk para tamu. Ada tippe 4 kamar yakni : superior, deluxe, executive dan suite room. Kamar yang pertama yakni Superior. Kamar yang dilengkapi dengan private bathroom + bathrobes, flat TV, Free Wi-Fi, juga kudapan ringan.

Superior

Tipe kedua yang Deluxe Room. Disediakan juga dua tipe ranjang, two twin bed dan king-size double bed
Deluxe



Tipe ketiga yakni Executive Room.
Tipe Executive
Credit : Bambang Herlandi (IG : @bambangherlandi)

Memotret landasan pacu. Model : Alodia Annisa
Pemandangan kamar yang tidak berhadapan dengan bandara

Lalu terakhir, Suite Room. Tipe ini lebih luas dari kamar-kamar sebelumnya dan dapat terhubung dengan ruangan lain untuk tamu atau sedang membawa anak-anak.

Sumber : www.grandtjokrobalikpapan.com
Keunikan tipe keempat kamar ini adalah mampu saling terhubung dalam konsep modern berbalut tradisional nan serupa. Dimana unsur-unsur kenyamanannya serasi dengan interior bernuansa budaya lokal setempat, seperti tameng khas Dayak dan batik KalTim.
Motif budaya lokal pada lorong-lorong kamar hotel Grand Tjokro Balikpapan
penggunaan cermin pada sisi-sisi lorong
dan pada sisi lainnya, terdapat hiasan dinding berupa lukisan
ataupun kriya tekstil dengan mengadopsi unsur budaya Indonesia

EMERALD CHINESE RESTAURANT,
KEMEWAHAN DALAM GOLDEN-RED
Hotel GRAND TJOKRO BALIKPAPAN ini memiliki tiga restoran dengan style yang berbeda-beda. Ada Batik Lounge yang cocok bagi kawula muda, pebisnis, atau mereka yang senang bertindak cepat. Lalu ada Tjokro Restaurant yang berdekatan dengan kolam renang Hotel GRAND TJOKRO BALIKPAPAN yang menyajikan menu-menu lokal dan internasional.
Yang ketiga  yaitu Emerald Chinese Restaurant, lokasi tour kami selanjutnya. Sesuai namanya restoran ini menawarkan aneka menu oriental. Sabtu lalu, saya melihat ada menu bebek peking. Pak Sutan menambahkan untuk tidak perlu khawatir menikmati menu-menu yang tersaji di restoran ini karena merupakan menu halal. InsyaAllah ya Pak.

Emerald Chinese Restaurant


Emerald Chinese Restaurant

Restoran ini juga terlihat lebih lapang sekaligus menawarkan ketenangan, cocok bagi mereka yang ingin melakukan private chat atau mungkin event khusus yang keramaiannya tidak perlu berimbas di luar area.

Emerald Chinese Restaurant

Emerald Chinese Restaurant

Oya, bicara tentang private, di sekitar Emerald Chinese Restaurant inilah terdapat 13 Private Room. yang ini dapat digunakan untuk berbagai pertemuan, jamuan plus fasilitas karaoke. (Kak Riris sebenarnya mau nyanyi, tapi dia malu-malu dilihat Mas Hendy—maaf kutulis ya Kak J)
 
Private Room, untuk karaoke bisa, untuk rapat bisa

Private Room, model : Yuli Jannaini

Private Room, tiap ruang dengan perbedaannya

Belasan ruangan khusus ini didesain berbeda-beda sesuai kebutuhan individu-individu yang bercita rasa berbeda-beda pula. Sehingga, setiap kali saya memasuki ruangan-ruangan ini, ada aura yang berbeda. Ada ruangan yang rasanya cocok buat chit-chat bareng teman cewek, ada ruangan yang sepertinya akan cocok membahas hal-hal penting, ada ruangan untuk bersantai bersama keluarga dan anak-anak kecil dimana ada satu set meja makan dan sofa santai, lalu ada ruangan dengan meja panjang dan interior cermin besar yang menurut saya cocok membahas hal-hal kekinian dan apa saja yang bikin kepo, sekepo cewek-cewek saat ketemu cermin besar. (Bawaannya pengen ngaca)
Masih ( di salah satu ruangan) Private Room

SANTAI SEJENAK, BUGAR LEBIH LAMA
Beranjak dari Emerald Chinese Restaurant, kami menuju ta raaa…. TJOKRO SPA by De Tripta Health Center . Karena setelah berkeliling Hotel  GRAND TJOKRO BALIKPAPAN tentunya kami juga bisa lelah, so begitu melihat SPA, rasanya pengen terdampar di sana saja.
Di TJOKRO SPA ini, setidaknya ada 5 ruangan baik dengan bed couple maupun single, yang masing-masing dilengkapi jacuzzi. Aroma terapinya saja sudah menyeruak, memanggil-memanggil tubuh untuk rileks. Sayang cuma bisa foto-foto saja.

De TRIPTA Health Center

De TRIPTA Health Center

Salah satu tipe jacuzzi

Bisa memilih tipe bed
Tarif De Tripta Health Center

Sebentar, FYI De Tripta Health Center ini berada pada lantai yang sama dengan Tjokro Restaurant Pool Terrace, untuk menuruninya kita bisa menggunakan lift, tapi saya lebih tertarik membahas tangganya. Tangga di Hotel GRAND TJOKRO BALIKPAPAN ini bertipe melingkar, sedikit berbeda dengan tipe spiral. Tangga melingkar kesannya lebih klasik, that’s why rasanya kok sayang kalau tidak melangkah melewati tangga ini. Selain sehat, tangga ini cakep buat spot memotret.
 
Credit : Rosanna Simanjuntak
Nah, untuk seminar-seminar besar bisa menggunakan Sapphire Ballroom baik 1 maupun 2. Selain itu, bisa juga digunakan untuk menggelar pernikahan. Di Hotel GRAND TJOKRO BALIKPAPAN ini juga menyediakan wedding package lho. Sebenarnya masih ada lagi ruang meeting atau ruang gelaran event, namun kami hanya menengok hingga disini saja.
Ballroom

Hidangan di depan Ballroom

Memasuki lift

KENYAMANAN YANG TERJALIN LEWAT KEAKRABAN DI ANGKRINGAN && BBQ

SAS Hospitality menggelar Influencer-Blogger Gathering ini bertujuan untuk menjalin keakraban dengan blogger-influencer.  Karena itu, welcome back to our favourite place at Pool Terrace buat makan-makan. Yup, karena makan bersama itu mampu menjalin suasana hangat dan akrab. Dan, yang spesial adalah sudah hadirnya Angkringan && BBQ.




Mba Rani bercerita konsep angkringan ini diangkat sesuai tema yang diusung oleh Hotel GRAND TJOKRO BALIKPAPAN. Tradisional yang bersanding dengan kemodernan. Bagaimana pun juga, masyarakat kitatetap cinta dengan kuliner khas Indonesia bukan? Dan ini terbukti lho, ketika saya menuju ke angkringannya, sudah banyak yang ludes -_- sementara prasmanan masih penuh.
 
Pak Sutan 



Oya, saya suka banget welcome drink-nya yang ikut bikin segar sore kami, yang katanya Teh Serai. Wih, padahal saya dan Kak Rosanna udah nebak-nebak, “eh.. ini teh apa ya? kok enak banget. Kayak bukan teh. Kayak teh melati bukan ya? Nggak-nggak… lain. Apa ya? ambil lagi yuk.” LOL (mbok ya nanya to’)
 
Di ujung sana ada Teh Serai
Ada satu lagi menu spesial gorengan namanya Tahu Tjokro alias Tahu Telur Asin. Tahu ini rasanya super lembut. Spesial bukan hanya digoreng dengan bumbu dan disajikan dengan saus khusus, namun tahu-nya sendiri dibuat langsung oleh Grand Tjokro Balikpapan. FYI, meski namanya ada kata ‘asin’ aslinya tidak akan keasinan sama sekali.

Tahu Telur Asin

Sambil menikmati kuliner dan ngobrol faedah-unfaedah bareng teman, tiba saatnya kuis dan doorprize. Voucher yang dibagikan cukup banyak lho. Saya sendiri dapat voucher Angkringan && BBQ dan voucher Berenang.

Terakhir nih, kami semua diajak ke lokasi yang tidak sembarang orang bisa berada di tempat ini, yaitu rooftop. Namanya saja rooftop, ya pasti tinggi ya. Istimewanya disini kami bisa melihat runway bandara lebih jelas sejauh mata memandang. Tidak lupa juga pastinya, peristiwa ini kami akhiri dengan foto bersama.
View at rooftop.
Model : Topi Rosanna :D

Credit : Alodia Annisa (IG : @hi_alodia)

So, sebagai penutup saya mau mengucapkan TERIMAKASIH  kepada SAS Hospitality dan GRAND TJOKRO BALIKPAPAN atas keramahan dan jalinan keakrabannya. Teman-teman saya jadi bertambah lho. TERIMAKASIH pula untuk Mbak Rani dan Pak Sutan yang humble dan berkenan menyambut kami. TERIMAKASIH-TERIMAKASIH and C U again one day. :)

Salam, Lidha Maul

---------------------------------------------------------------------
Grand Tjokro Balikpapan
website : http://www.grandtjokrobalikpapan.com/
IG : @grandtjokrobalikpapan
Lokasi : Jl. Marsma S. Iswahyudi No.21 (1km dari arah Bandara SAM Sepinggan)

Share:
Read More
, , , ,

KALIMANTAN GREEN NETIZEN, KOMUNITAS YANG SIAP MEMVIRALKAN PENGHIJAUAN


Viral.
Apa sih yang sedang viral saat ini?

Kata viral termasuk istilah populer masa kini. Kata viral digunakan untuk menunjukkan sesuatu yang menyebar cepat di internet, bisa berita, gambar, meme (gambar dengan tulisan bernada humor), video, audio, atau pun status.
Adakalanya sesuatu yang viral ini adalah sesuatu yang baik, namun banyak juga yang yah… nggak banget buat disebarin, tapi ya tersebar juga. That’s why kata viral disandingkan dengan kata virus; beredar cepat dan luas.
Share:
Read More
, , ,

Coworking Space, Platform Entrepreneur Untuk Tumbuh Berkembang


Tahun 2013, saya masih ingat seorang business coach sekaligus motivator berkata, bahwa dari data-data yang ada, tingkat wirausaha di Indonesia masih rendah dibanding negara-negara lain terutama kawasan  Asia Tenggara. Padahal kemakmuran dan berkembangnya suatu negara bisa dinilai dari perkembangan wirausaha-nya.

Pola pikir masyarakat Indonesia yang cenderung masih mengenyampingkan wirausaha boleh jadi satu penyebabnya. Ada banyak dari kita yang berpikir berwirausaha berarti tidak punya pekerjaan. “Si anu itu lagi nggak ada kerjaan, makanya dia buka toko aja. Yah, sambil nunggu-nunggu nanti dapat panggilan.” Saya sangsi kalau rakyat Indonesia belum pernah mendengar kalimat seperti ini. Padahal bisa jadi Si Anu tidak sedang menunggu panggilan, tapi dia sedang memanggil banyak orang untuk bekerja di tokonya. Entah mungkin tidak dikenalkan sejak dini, maka jarang sekali ada anak-anak yang bercita-cita berwirausaha.

Tapi, tiap tahunnya wirausaha selalu berkembang. Selalu ada ide-ide baru yang muncul dari individu-individu yang ingin berdikari. Bermunculannya usaha-usaha di pinggiran jalan, kafe-kafe baru, UKM, atau usaha yang mengandalkan kreativitas, online, juga startup (usaha rintisan berbasis teknologi) membuat nuansa kemajuan yang unik hampir di setiap kota di Indonesia.
Kebayang ya, hampir setiap hari kita bisa melihat iklan atau gencarnya promosi si A, si B, teman kita yang sekarang sudah punya usaha ini dan itu. Dan kita bukannya pengen beli, kadang-kadang malah kepikiran: lha terus aku kapan punya usaha sendiri?

Saya sendiri terpaksa mengenyampingkan ide-ide mulia untuk berbisnis dikarenakan faktor tunggal; saya masih ingin fokus menulis. Sedangkan untuk modal, saya percaya materi bukanlah satu-satunya penyebab utama pembuka bisnis. Kecakapan dan bakat yang kita miliki merupakan value tersendiri, yang justru memungkinkan terjadinya diferensiasi.

Namun, meskipun sebuah usaha telah memiliki diferensiasi alias nilai jual yang berbeda dari unit usaha yang beragam, banyak juga yang putus di tengah jalan. Kadang-kadang kita bertanya mengapa kafe di sebelah sana sudah tutup, padahal jualannya oke, produknya jarang ada yang jual. Mengapa si XX berhenti dengan franchise es durian perangnya, padahal siapa lagi yang ngajak perang kalau bukan dia. Atau Si Emak Rosalinda yang terpaksa gulung akun hijab onlibe shopnya gara-gara lelah menghadapi sinyal yang jungkir balik. Padahal (lagi-lagi) hanya Si Emak ini yang jualannya berbonus sisir nano anti ketombe.

Beberapa kemungkinan penyebab mengapa bisnis tidak mengalami peningkatan bisa saja ada faktor khusus dari usaha itu sendiri, mungkin juga tidak sanggup dengan persaingan bisnis  yang terus melaju. Tidak tahu cara tumbuh dan berkembang di era modernisasi. Atau salah kaprah memahami keuangan, dimana pelaku usaha gagal membedakan omzet dan profit, termasuk tidak mampu membedakan hutang dan modal. Banyak sekali faktornya. Atau seperti Emak Rosalinda yang yah.. lelah gagal sinyal aja.

Maklum saja, karena berbisnis/berwirusaha itu menciptakan diri kita sebagai sosok pemikir dan pemimpin yang tentu berbeda dengan pekerja biasa. Resiko gagalnya jauh lebih besar dengan seribu tantangan di pundak, namun sesungguhnya keberhasilannya mampu memberikan nilai bagi negeri ini.

Jangankan dalam hal berbisnis, sebagai freelancer  saja saya merasa gagal. Di tengah kesulitan ketika saya berpikir untuk semakin maju, semakin sering pula saya memikirkan space untuk kerja saya.Ya saya butuh ruang, bukan sekedar ruangan, namun juga akses buat saya untuk melebarkan sayap, mengejar target-target yang lama dipendam. Pemikiran ini saya kira sama layaknya dengan kebutuhan para pelaku usaha, mereka yang berbisnis atau apapun namanya yang ingin berkembang atau baru saja memulai usahanya.

Space yang saya maksud terkait dengan coworking space. Tapi tulisan ini memang bukan tentang saya, nanti kita akan lihat mengapa pelaku usaha/entrepreneur/startup membutuhkan coworking space ini, yang memang cocok bagi mereka yang tidak memiliki kantor, mereka yang kreatif, mereka yang gaya kerjanya berbeda dengan pekerja pada umumnya, yang ingin membangun pondasi bisnis dan percepatan bisnisnya.

Co-Working Space ~
Istilah coworking space baru familiar buat saya kira-kira 2-3 tahun belakangan ini. Saya yakin bisa gagap mengartikan apa itu coworking space, karena ingin menyebutnya sebagai kantor namun tidak serupa sebagaimana kantor pada umumnya. Atau bagaimana kalau saya sebut coworking space sebagai platform bekerja idaman?  

Pada dasarnya coworking space memang merupakan sebuah area bekerja, yang tidak hanya menawarkan para freelance atau pelaku usaha bisa bekerja dengan tenang namun juga menawarkan konsep bekerja yang nyaman baik dari arsitekturnya maupun sarana-prasarana, coworking space juga menawarkan hubungan yang positif dan aktif, tempat berbagi dan tentunya menjadi tempat menuangkan ide hingga membantu ide ini untuk berkembang.

Mari kita ambil contoh coworking space EV Hive yang berkedudukan di Jakarta dan BSD, Tangerang. Setidaknya ada 7 lokasi Ev Hive pada saat ini. Ya, Ev Hive memang bangunan, tapi jangan bayangkan coworking space ini sebagai benda mati. Coworking Space itu hidup bersama coworkernya, tumbuh dan berkembang bersama. Menginspirasi dan menguatkan.
Ev Hive Coworking Space

BAGAIMANA BISA ?
Saya menyebutnya penyediaan kebutuhan lahir batin. Ev Hive menyediakan ruang pribadi, pertemuan dan acara-acara kegiatan bisnis para penggunanya. Karena waktu bekerja tiap individu berbeda, disediakan pula tempat beristirahat untuk kapan saja. Termasuk gaya bekerja seseorang yang lebih suka melantai atau sambil ngobrol bareng teman, silakan saja.
Interior dan beberapa kreativitas dipajang agar menarik minat dan menginspirasi. (Saya pernah menulis bahwa Kreativitas Dapat Memotivasi Pekerja)

 Ev Hive Coworking Space

Kebutuhan internet (wifi) tidak perlu ditanya, si Emak Rosalinda pun tidak perlu closing hanya karena gagal sinyal. Ada juga storage space untuk menyimpan barang-barang pribadi. Kopi? juga disediakan.



MENDUKUNG STARTUP INDONESIA
Dalam hal ini Ev Hive mendukung sepenuhnya ekosistem startup di Indonesia. Kata sepenuhnya ini dapat dilihat dari penyediaan fasilitasnya dan acara-acara yang berkaitan dengan startup, kemajuannya, upaya investasi dan bagaimana menjadikannya produktif. Ada kelas-kelas ilmu, berbagi antar komunitas dan tokoh-tokoh profesional. Wajarlah bila EV Hive turut didukung pemerintah DKI Jakarta sebagai sarana pengembangan startup dari kota Jakarta.
Ev Hive Coworking Space

Untuk mencicipinya bisa dimulai dari Rp 50.000/hari
LOKASI ::
JSC Hive
EVHive The Maja
EV Hive Dimo
Ev Hive D.Lab
EV Hive The Breeze
Satellite @SCBD 



KENAPA BUTUH COWORKING SPACE ?
Mengapa seorang freelance, entrepreneur, pelaku usaha butuh co-working space? Saya kira memang pertanyaan ini tergantung kebutuhan dasar dan definisi bekerja masing-masing pihak. Ketika kita memikirkan sebuah kantor sebagai tempat untuk fokus bekerja, kenyataannya tidak semua pekerja merasa nyaman berada di kantor. Atau sebaliknya, justru tidak punya kantor. Lalu, pilihannya jatuh ‘bekerja di rumah’ atau fleksibel saja, kalau mau meeting atau suasana beda cukup ‘melarikan diri’ ke kafe.

Namun, ada beberapa alasan mengapa coworking space seperti Ev Hive menjadi wadah (platform) yang layak untuk bekerja, berkembang, juga untuk mengakselerasi bisnis di era teknologi ini:

“Kerja apa? Kok di Rumah Aja!”
Ya begitulah, persepsi masyarakat kita yang masih menganggap kerja itu mestinya keluar dari rumah. Sedangkan di era digital seperti ini kita bisa bekerja dari rumah. Anggapan ini diperparah bila keluar dari anggota keluarga. Bukannya fokus pada percepatan usaha, malah sibuk menepis komentar negatif. Makanya saya bakalan pilih keluar dulu dari rumah agar terlihat ‘saya memang bekerja’. 

Ev Hive Coworking Space
Belum lagi perkara prestise, punya kantor itu terlihat berwibawa, dibanding yang kerjanya di dalam kamar saja. Penting ya prestise? Tetap tergantung individunya. Hanya adakalanya sekukuh apapun prinsip kita, bisa hancur juga karena persepsi orang lain. Alasan ini mungkin terkesan sederhana, bila demikian mari lanjut ke alasan berikut:

“Jualan di Teknologi, Menjual dengan Teknologi.”
Populasi pengguna internet di Indonesia terus meningkat. Ini potensi serius yang tidak boleh dilewatkan, ada market besar di sini. Berapa banyak perusahaan (sebagai) startup digital yang kini dikenal masyarakat se-Indonesia? Pastinya kita tidak asing dengan ojek online bukan. Belum lagi menempatkan promosi di sosial media yang ternyata benar menguntungkan.

Ini era teknologi membuat kita harus tahu cara tumbuh dan berkembang agar tidak buru-buru closing. Sepanjang pengamatan saya, mendirikan suatu usaha itu masih mudah, mempertahankannya bisa ‘berdarah-darah’. Otomatis seorang pelaku usaha harus pandai melihat perubahan selera konsumen dan tren terbaru yang dapat menarik minat.
Dengan teknologi bisa? Data dari Kominfo menyebutkan Indonesia adalah raksasa dunia digital Asia yang sedang tertidur. Lembaga riset digital emarketer memperkirakan pada 2018 jumlah pengguna aktif smartphone di Indonesia lebih dari 100 juta orang (kominfo.go.id).
Ini baru bicara smartphone belum teknologi yang lain. Bisa dibayangkan potensi pasarnya?

“Support Me, Please.”
Bisa disebut coworking space karena wadah ini menjadi perekat antar komunitas. Dengan demikian ada momen berbagi dan saling bekerjasama. Meskipun entrepreneur itu sifatnya berdikari -berdiri di atas kaki sendiri- tetap dia membutuhkan pihak lain karena tidak semua printilan pasti terurus. Karena proses saling membutuhkan ini, proses saling mendukung satu sama lain pun tercipta. Ev Hive juga menyediakan fasilitator yang tepat agar penggunanya terhubung satu sama lain.
Ev Hive Coworking Space

Ada permasalahan? Ada solusi yang bisa muncul dari pihak kedua, ketiga, keempat. Koneksi yang baik dapat menunjang keberlangsungan bisnis lho.

 “Bertemu Komunitas, Bertemu Potensi Pasar.”
Saya perhatikan, pertemuan individu-individu di dalam satu komunitas atau bahkan pertemuan antar komunitas satu dengan lain, biasanya membuka peluang pasar untuk pihak lain. Satu contoh yang saya temukan seperti ini; Technopreneur A menceritakan dia tidak menyediakan produk XYZ sementara konsumennya sangat sering meminta produk tersebut, lalu ada Mompreneur B yang menyediakan produk XYZ namun tidak memiliki konsumen yang berarti. Maka, yang terjadi dalam komunitas atau antar komunitas bukan hanya saling mendukung namun juga mampu berkolaborasi bisnis.

Ev Hive Coworking Space


“Bukan Cuma Ngantor, Tapi Juga Upgrade Skill
Ketika entrepreneur membuka bisnis atau melakukan percepatan bisnis (akselerasi) yang dipikirkan adalah menghadirkan produk/service/fitur yang sesuai hasratnya. Bukan persoalan salah atau benar, namun hal ini haruslah memuat kepastian apakah sesuai dengan selera konsumen atau tidak. Karena setelah diluncurkan, ternyata tidak sesuai dengan kebutuhan konsumen atau sifatnya parsial, sayang sekali bukan?

Ev Hive Coworking Space

Satu lagi, ada masalah serius lain di kalangan entrepreneur, yakni belum mampu memahami permasalahan keuangannya sendiri. Sebagus apapun konsep bisnis yang dimiliki tapi tidak mampu mengelola keuangannya dengan tepat, sama saja bunuh diri. Karena itu ilmu lain pun diperlukan. Coba tengok event-event dan kelas yang diselenggarakan Ev Hive, bisnis memang harus berkembang, namun jangan lupakan keahlian diri.

 “Tidak Merasa Bekerja, Hanya Menyalurkan Hobi”

Ini menurut saya, bahwa bekerja yang nyaman itu saya tidak merasa bekerja, melainkan hobi. Atau bekerja yang nyaman itu adalah hobi yang dibayar (Kang Emil). Saya melihat coworking space sebagai wadah penyaluran hobi yang nyaman dan menghasilkan, dimana entrepreneur bisa berkembang di dalamnya hingga tumbuh menjadi profesional. #EvHive is #newwaytowork.

--------------------------------------------------------------
Halo, terimakasih sudah membaca artikel ini. 
Yuk bantu vote di http://bit.ly/votingevhive 
lalu dapatkan hadiah UANG TUNAI 
dengan menyebarkan link referral yang didapat.


Terimakasih dan semangat menyebarkan :)

***

Sumber foto Ev Hive : website dan sosial media Ev Hive

+++++++
EDIT : Kabar terbaru Ev Hive telah berganti menjadi Cocowork
Share:
Read More