Showing posts with label sejarah-balikpapan. Show all posts
Showing posts with label sejarah-balikpapan. Show all posts
, , ,

Hari Jadi Kota Balikpapan ke-124, Saatnya Bercerita Mathilda, Mathilde dan Matilda


HUT Balikpapan ke-124

AYAH DARI MATHILDA

Bocah yang lahir pada Maret ratusan tahun silam itu pasti tidak mengira bahwa penemuannya kelak akan mengubah sebuah wilayah menjadi kota yang berkembang, besar, indah dan diinginkan dunia. Jacobus Hubertus Menten nama bocah itu, lahir dari ayah yang bernama Petrus Franciscus Menten dan ibunya yang bernama Petronella Agnes Van Ooijen. Banyak sumber menyebut anak itu lahir pada tahun 1833, sementara situs berbahasa Belanda mendata kelahirannya pada 12 Maret 1832, senada pada buku “History of The Royal Dutch” karya F.C Gerretson yang menyebut Roermond, sebagai tempat kelahiran Jacobus Hubertus Menten. Kita bisa mengabaikan angka tersebut, tetapi tidak bisa mengabaikan seorang Jacobus Hubertus Menten yang lakukan selanjutnya ketika menginjakkan kaki di Pulau Kalimantan, yang membawa saya yang bersuku Banjar, kawan saya yang bersuku Jawa, Bugis, Batak, Sunda berkumpul di sebuah kota multi etnis bernama Balikpapan. Tahun 2021 ini memasuki HARI JADI KOTA BALIKPAPAN KE-124, perjalanan panjang usia yang telah memasuki masa sepuh, namun terlihat masih ranum dan ingin terus memuncak.

Jacobus Hubertus Menten
sumber : historia.id

KONSESI MATHILDA

Saya tidak ingat apakah dulu sewaktu sekolah sudah dikenalkan sosok Jacobus Hubertus Menten dan alur yang terjadi setelah apa yang dilakukannya. Maksudnya, saya percaya para guru telah menyebut kegiatan insinyur Menten anaknya Pak Menten ini, tetapi saya tidak ingat apakah sejarah Balikpapan disampaikan secara lebih mendalam dalam pelajaran khusus? Apakah ada hari-hari tertentu belajar sejarah Balikpapan saat di sekolah? Eh, kenapa jadi bertanya pada Anda, siapa yang sekolah sebenarnya ? Saya mengetahui nama Jacobus Hubertus Menten dikarenakan mengulik cerita tentang sejarah Kota Balikpapan, sambil duduk-duduk santai di perpustakaan kota, tapi lebih sering menemukan karena sengaja menelusuri lewat peramban.

Jacobus Hubertus Menten sebenarnya telah pensiun ketika mendapat izin mengeksplorasi minyak di Balikpapan. Sebelumnya, sewaktu bekerja di dinas pertambangan Belanda sebagai manajer pertambangan batubara, J.H. Menten telah menemukan indikasi sumber minyak di Kalimantan Timur. Namun sekali lagi, urusan manajer tambang ini di bidang batubara bukan perminyakan, sehingga niatnya belum kesampaian. Setelah beberapa kali penugasan di Bogor dan Sumatra, rupanya Menten anak Pak Menten ini mengundurkan diri di tahun 1882, setelah dua puluh tahun bekerja. Jika saya menjadi Jacobus Hubertus Menten yang pensiun, mungkin saya akan kembali ke negeri saya menghabiskan masa pensiun dengan berleha-leha, berkebun stroberi, membaca buku yang tidak sempat saya baca ketika sibuk. Sayang, Jacobus Hubertus Menten bukan saya. Dia memilih berkarir mandiri. Berkat pertemanannya dengan Sultan Kutai, Aji Sulaiman, J.H. Menten mendapat hak eksploitasi batubara pada 2 Desember 1882 yang meliputi kedua wilayah tepi sungai Mahakam. Konsesi ini kemudian dialihkan ke perusahaan Steenkoolmatschappij Oost-Borneo pada tahun 1888. 

Kapan eksplorasi minyak pertamanya? Pada 29 Agustus 1888, barulah dia mengantongi  izin mengeksplorasi minyak masih dari Sultan Kutai. Sedangkan, persetujuan dari Belanda baru dia dapatkan pada 30 Juni 1891. Konsesi pertama ini bernama Louise. Wilayah konsesi ini berada di sekitar rawa-rawa serta anak sungai Mahakam di Sanga-sanga, sekarang menjadi bagian Kutai Kartanegara. Bersumber dari Pertamina, sumur minyak Louise 1 mulai dibor pada Januari 1897 dan 5 Februari 1897 menjadi penanda didapatinya minyak pertama untuk bahan bakar mesin.

Balikpapan yang saat itu menjadi bagian dari wilayah Kesultanan Kutai hanyalah teluk yang berfungsi sebagai pos penjagaan kerajaan. Konon, hanya itu. Oleh Menten, Teluk Balikpapan dijadikan lokasi pelabuhan serta pengolahan minyak. Sampai ditemukan rembesan minyak di Tandjoeng Toekoeng (Balikpapan), Jacobus Hubertus Menten mengajukan lagi izin penambangan minyaknya. Konsesi inilah yang kemudian dikenal dengan nama Mathilda. Sumur pemboran pertamanya pun bernama Mathilda. Pemborannya pertama pada tanggal 10 Februari 1897, tanggal yang menjadi penanda lahirnya Kota Balikpapan. Uniknya, ini hanya berselang 5 hari dari didapatinya minyak di kawasan Kutai. Entah bagaimana perjuangan dan perjalanan yang mepet itu. Atau mungkin saya tidak tanggap bahwa mereka dulunya punya tim yang solid dan bersinergi tinggi. 

HUT Balikpapan 10 Februari 1897
Foto sumur pemboran pertama di Balikpapan yang dikenal dengan sumur Mathilda
Foto diambil di Gedung Kreatif Klandasan

Tahun-tahun setelahnya sungguh luar biasa. Tercatat tidak hanya minyak yang dihasilkan, namun juga lilin, kaleng dan asam sulfat. Kilang-kilang di Balikpapan bisa menghasilkan rata-rata 500 ton minyak, 500 ton lilin, 450 ton asam sulfat dan 9 ribu kaleng. Balikpapan pernah tercantum sebagai daerah pengolahan terbesar ketiga di dunia. Namun, sebagaimana penemuan minyak lainnya, perebutan dan pengambilalihan kekuasaan tak dapat dielakkan.

PEREMPUAN BELANDA BERNAMA MATHILDE

Meski menjadi tokoh utama dalam penemuan Balikpapan, nama Jacobus Hubertus Menten tidak lantas menjadi familiar di kota ini. Nama sumur Mathilda lah yang terkenal.

Mengapa Mathilda? Banyak sumber menyebut Mathilda adalah putri Jacobus Hubertus Menten. Sementara situs berbahasa Belanda menyebut Mathilda adalah istri Jacobus Hubertus Menten. Sumber lain malah mengiyakan kedua anggapan di atas, bahwa Mathilda adalah nama istri dan anak J.H Menten.
jacobus menten dan mathilde menten
sumber : genealogieonline.nl

Istrinya bernama Mathilde Louise Charlotte de Wal, lahir di Makassar 1846 dan meninggal di usia 78 tahun (1924) di Belanda. Sementara anaknya Mathilde Louise Charlotte Menten, lahir 2 April 1876 di Sumatra. Kalau dipikir mungkin ada benarnya, karena Jacobus Hubertus Menten memang pernah bertugas di Sumatra. Sumber lain menyebut ada anak-anak laki-laki dalam silsilah J.H Menten, juga nama anak (mungkin perempuan) bernama Nonnie , yang juga menjadi nama sumur minyak (Nonny).  

Seratus tahun kemudian, pada April 1976, Mathilde Louise Charlotte Menten tercatat meninggal dunia di Limburg, Belanda. Saya jadi bertanya, selama seratus tahun kehidupannya sadarkah Mathilde bahwa namanya dipakai ayahnya sebagai nama sumur minyak dan telah dijadikan situs bersejarah di kota ini? Tahukah Mathilde bahwa hidupnya telah melampaui kemerdekaan Indonesia? Tidakkah ia ingin maen-maen ke Balikpapan gitu?

BERKAT MATHILDA

Setelah penemuan, perebutan dan pemboman kilang minyak di Balikpapan, kota ini tetap berkembang menjadi kota minyak yang bisa menghasilkan 86 juta barrel per tahun. Tentu, bukan Jacobus Hubertus Menten lagi yang mengurusnya, ‘siapa’ lagi kalau bukan Pertamina yang mengurus perminyakan di Indonesia. Kini, meski sematan Kota Minyak itu tetap ada, Balikpapan tidak lagi melakukan pengeboran minyak, melainkan unit pengolahan minyak mentah dari beberapa daerah serta impor dari luar negeri.
Sejarah Minyak hingga Hari Jadi Balikpapan ke-124
Balikpapan, Kota Minyak

Jika pengeboran minyak pertama pada tanggal 10 Februari 1897 menjadi penanda lahirnya Kota Balikpapan, mengapa nama kota ini disebut Balikpapan? Bukan Mathilda saja? Nah, awalnya saya juga tidak tahu mengapa demikian? Mengapa BALIKPAPAN ? Mengapa papan dan dibalik ? Ada Apa dengan Papan (AADP) ? Tapi, mengapa saya bertanya pada Anda, yang lahir di Balikpapan siapa ? Saya coba bertanya pada ayah-ibu saya, ternyata jawaban mereka juga samar-samar. Rupanya banyak orang Balikpapan yang hanya sedikit tahu tentang asul-usul kota mereka.

Ada dua versi yang dirilis Pemerintah Kota Balikpapan dan dua versi tambahan ditulis media setempat. Keempat versi cerita tersebut sepertinya terjadi sebelum penemuan sumur Mathilda. Ceritanya tidak akan saya muat di sini, tetapi baik “Bilipapan”, “Kuleng Papan”, atau sebutan orang Kutai “baliklah papan tu”, dan kisah putri yang bersembunyi “di balik papan”, kesemuanya adalah kisah yang indah yang mestinya dilestarikan. Hanya saja, kita tidak akan menemukan papan-papan terbalik sebagai maskot kota ini, beruang madulah yang mendapat keberuntungan itu.

Setelah penemuan minyak pula, beragam manusia datang ke Balikpapan. Beragam pekerja, pedagang, petani, pengungsi yang mencari kehidupan baru, pengunjung yang singgah dan mencari berita, hingga akhirnya membentuk sebuah kota dengan ragam etnis. Kakek-nenek dari ibu saya adalah pendatang, nenek dan kakek buyut dari ayah saya juga pendatang. Di kota ini, banyak nama jalan identik dengan suku Jawa. Coto Makassar menjadi khas kota ini, partikel ‘ay’,‘lah’, ‘kah’, ‘gin’, dan ‘pang’ yang menjadi khas orang banjar juga menjadi kebiasaan lidah orang Balikpapan.

Cukup sulit menentukan budaya asli kota ini, karena yang dikenal adalah budaya pendatang.
Tetapi, inilah berkah Balikpapan! Penuh corak dan warna yang kesemuanya bisa berbaur. Kota yang menjadi penyangga IKN ini semestinya bisa menjadi role model bagi kota-kota lain. Sudah ratusan tahun usianya hidup dalam kebersamaan, dalam toleransi dan kerukunan.

Berkah lain dari kota ini adalah kebersihan kotanya yang pernah mendapat Adipura Kencana pada 2015. Sampai sekarang saya merasa banyak berkah untuk kota ini, semoga selamanya demikian.
Hari Jadi Kota Balikpapan ke-124
Taman Adipura, Balikpapan

SITUS BERSEJARAH MATHILDA

Apa kabar Mathilda hari ini?
Anak dan istri Jacobus Hubertus Menten yang bernama Mathilda memang sudah tiada. Sumur Mathilda yang menjadi penemuan Menten pun sudah ditutup sejak tahun 1903 dan kini menjadi Monumen Mathilda. Selama ini, Tugu Mathilda berada di kawasan Pertamina dan tertutup. Saya yang hidup puluhan tahun di Balikpapan saja belum pernah mengunjungi sumur Mathilda, apalagi mau bercerita banyak. Kalau mau mengunjunginya mesti ikut event-event khusus, mungkin dari komunitas atau ajakan pihak tertentu. Hingga tahun 2020, pemerintah Kota Balikpapan berharap lokasi ini dapat dibuka untuk umum dan diberi fasilitas penunjang. Entah di tahun 2021 ini, mungkin ada perkembangan. Sementara sumur minyak Louise 1, yang sama-sama hasil penemuan Jacobus Hubertus Menten di Sanga-sanga, Kab. Kutai Kartanegara, kini telah diresmikan menjadi destinasi wisata sejarah. Saya pikir, mungkin pemetaan wisata sejarah untuk Monumen Mathilda perlu pertimbangan matang oleh Pertamina dan masih butuh evaluasi.

sumber : kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbkaltim/sumur-minyak-matilda

PEREMPUAN-PEREMPUAN MATILDA

Setelah kelahiran Mathilda, kini di Balikpapan lahir perempuan-perempuan Matilda. Tidak, ini bukan bayi-bayi perempuan, melainkan emak-emak Balikpapan. Terinspirasi nama Mathilda, Pemerintah Kota Balikpapan bersama Kantor Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan (KPwBI Balikpapan) dan Tim Penggerak PKK Kota Balikpapan meluncurkan Gerakan Wanita Matilda (Mandiri – Terampil – Berdaya) pada 30 Juli 2019. Program ini bertujuan untuk menggerakkan perempuan-perempuan di Balikpapan agar dapat mengendalikan inflasi lewat upaya serta kompetisi. Perjuangan Wanita Matilda memerangi inflasi ini dilakukan dengan menerapkan pertanian modern (urban farming), usaha-usaha apa saja yang memungkinkan perempuan untuk mengelola keuangan keluarganya, edukasi, sosialisasi kampanye inflasi, serta kompetisi antar komunitas perempuan yang mewakili daerah masing-masing.

perempuan mandiri, terampil dan berdaya
"Sosialisasi Belanja Bijak dan Cinta Rupiah"
menjadi tema sekaligus kegiatan yang diadakan oleh Gerakan Wanita Matilda

perempuan mandiri, terampil dan berdaya
'Matilda' juga mengajak untuk mengurangi penggunaan kantong belanja plastik

perempuan mandiri, terampil dan berdaya
mengendalikan inflasi, menjadikan SDM berkualitas

Belanda tidak lagi berkuasa di kota ini, dan Jepang telah lama pergi meninggalkan bekas serangannya. Meski demikian, Balikpapan tetap harus berjuang untuk masa depan. Mengemas kehidupan lebih baik dengan cara menjadikan Sumber Daya Manusia berkualitas. Selain Gerakan Wanita Matilda, yang notabene perempuan, pelaku-pelaku kreatif lain kini bisa saling bergandengan menjadi pelaku ekonomi kreatif Balikpapan atau Ekraf Balikpapan. Beberapa tahun belakangan hingga ke depan, kita dituntut bertindak lebih aktif dan kreatif, sebagai bentuk kemandirian sekaligus upaya membangun negeri. 

DARI MATHILDA HINGGA HARI JADI KOTA BALIKPAPAN KE-124

Logo HUT Balikpapan 124
Dari pengeboran sumur Mathilda hingga tahun ini yang bertepatan dengan hari jadi Kota Balikpapan ke-124. Sebenarnya masih teramat banyak orang Balikpapan yang tidak mengenal sejarah dan asal-usul nama Balikpapan. Kita bisa mencari cerita sejarah Balikpapan dengan menelusuri lewat peramban, tapi sukar mengetahuinya lewat lisan-lisan warga kota. Tulisan-tulisan sejarah Balikpapan memang disediakan, tapi belum mengikat banyak warganya. Beberapa peminat sejarah Balikpapan menyebut literatur sejarah Balikpapan masih minim. Entahlah. Meski demikian, upaya-upaya untuk melestarikan sejarah kota patut diapresiasi. Foto-foto sejarah Balikpapan telah terpampang di Rumah Dahor (Dahor Heritage), Gedung Kreatif Klandasan, dan perpustakaan kota yang ini baik untuk generasi mendatang juga generasi lawas macam saya yang masih kurang pengetahuan tentang kota sendiri. Beberapa destinasi wisata sejarah juga dikelola dan bisa dinikmati publik.


Bagaimana kota minyak tetap bisa berkembang tanpa minyak? Sebenarnya ini hal yang lazim. Tidak selamanya manusia berharap pada SDM – Sumber Daya Minyak, karena sebagai manusia potensi utama yang mesti dikelola adalah dirinya sendiri, SDM – Sumber Daya Manusia. Tahun berganti tahun, kota industri dan bisnis yang juga diberi amanah menjaga hutan dan lautan harus terus melaju dengan Sumber Daya Manusia -nya. Dari Mathilda, Balikpapan menuju ke Matilda, satu cara mengembangkan potensi Sumber Daya Manusia Balikpapan. Tulisan ini memang tidak khusus membahas sumber daya manusia di Balikpapan. Tulisan ini bertujuan untuk turut serta menggairahkan langkah agar tetap bisa bersama membangun kota yang telah mendapat penghargaan Adipura Kencana beberapa kali, mengedepankan spirit agar mampu mengasah menjadi manusia berkualitas. Spirit itu bisa saja berasal dari pemahaman sejarah dan hari ulang tahun Kota Balikpapan menjadi momentum tuk mengingat sejarah. Karena sejarah dapat menjadi pegangan, menjadi pelajaran bagi manusia yang mau melangkah ke depan.  

Alhamdulillah, Balikpapan masih diberi kehidupan setelah ratusan tahun sejak penemuan minyaknya. Masih bisa merayakan HUT Balikpapan walau dalam keadaan berbeda. Memperingati HARI JADI KOTA BALIKPAPAN KE-124 dalam ketenangan kiranya bisa menciptakan khidmat yang mendalam.
Selalu banyak doa baik-baik ditaburkan untuk kota ini.

***
lomba HUT Balikpapan ke-124


---
Sumber tulisan dan bahan bacaan :
  1. Buku "History of The Royal Dutch" karya F.C Gerretson
  2. https://www.historia.id
  3. https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbkaltim/sejarah-kolonialisasi-di-kota-balikpapan/
  4. https://www.pertamina.com/id/news-room/energia-news/sumur-louise-1-destinasi-wisata-sejarah-baru-di-sangasanga-
  5. https://www.geni.com/people/Mathilde-Louise-Charlotte-Menten/6000000163167779833
  6. https://ancestors.familysearch.org/en/LZYN-LPF/mathilde-louise-charlotte-menten-1876-1976
  7. http://web.balikpapan.go.id/detail/read/46
  8. https://www.inibalikpapan.com/empat-versi-asal-usul-nama-balikpapan/
  9. https://kalimantan.bisnis.com/read/20190730/407/1130391/gerakan-wanita-matilda-jadi-program-baru-kantor-perwakilan-bank-indonesia-balikpapan-kendalikan-inflasi

Share:
Read More