Siapa yang tidak luluh melihat tingkah anabul khususnya kucing yang ada-ada saja tingkahnya dan menggemaskan? Tahukah para pemilik kucing bahwa setiap 8 Agustus merupakan Hari Kucing Sedunia (International Cat Day). Pada momen ini, sering kali linimasa media sosial ramai oleh konten bertema kucing. Hari Kucing Sedunia memang menjadi momen untuk merayakan sahabat bulu yang telah lama hidup berdampingan dengan manusia.
Namun, selain menjadi makhluk menggemaskan di balik tingkah lucu yang mengundang senyum, ada kucing-kucing lain yang semestinya juga mendapat sorotan. Mereka adalah kucing-kucing liar (wild cats) yang sedang menghadapi realitas yang berbeda. Kucing-kucing liar yang hidupnya jauh dari kenyamanan rumah. Mereka berada dalam rimbunnya hutan, rawa-rawa, pegunungan, hingga padang rumput, yang tidak cuma kehilangan tempat tidur favorit, tetapi juga siap kehilangan tempat tinggal, kehabisan makanan, hingga berada di ambang kepunahan.
Momentum Hari Kucing Sedunia yang diinisiasi oleh International Fund for Animal Welfare (IFAW) sejak 2002 ini hadir untuk mengingatkan kita semua, bahwa kasih sayang pada keluarga Felidae tidak hanya berhenti pada kucing peliharaan saja, tetapi juga mencakup kucing liar yang menjadi garda terdepan penjaga keseimbangan ekosistem bumi.
Berdasarkan data resmi dari Cat Specialist Group di bawah International Union for Conservation of Nature (IUCN), saat ini memang diakui ada 40 spesies kucing liar di dunia, di luar kucing domestik/peliharaan (sumber: Wild Life Diaries). Mayoritas populasinya terus merosot drastis.
Beberapa spesies yang kini menjadi perhatian internasional antara lain:Harimau Sumatra, harimau satu-satunya di Indonesia. Macan Tutul Amur, salah satu kucing besar paling langka di bumi. Harimau Malaya dengan populasinya yang kini tersisa hitungan ratusan saja. Macan Tutul Salju yang terancam oleh perubahan iklim dan perburuan. Cheetah, pelari tercepat di daratan yang terus kehilangan ruang gerak akibat ekspansi pemukiman. Lynx Iberia, satwa ini sempat berada di titik terendah, dan kini perlahan pulih berkat program konservasi intensif. Kucing Bakau, kucing perairan yang terdesak karena alih fungsi lahan basah.
Kucing Liar Asli Indonesia: Unik, Penting, dan Terancam
Indonesia adalah rumah bagi beragam spesies kucing liar yang luar biasa. Sayangnya, banyak dari mereka yang posisinya sangat rawan. Berdasarkan Permen LHK No. P.106/2018, seluruh kucing liar asli Indonesia berstatus dilindungi.
Berikut adalah deretan kucing liar kebanggaan Indonesia:
1. Harimau Sumatra (Panthera tigris sondaica)
Harimau Sumatra berstatus Critically Endangered (Kritis) dalam Daftar Merah IUCN. Satwa ini menjadi satu-satunya subspesies harimau asli Indonesia yang tersisa setelah harimau Jawa dan harimau Bali dinyatakan punah.
2. Macan Tutul Jawa (Panthera pardus melas)
Secara ilmiah, satwa ini dikelompokkan sebagai kucing besar (big cats) dalam famili Felidae bersama harimau, singa, dan jaguar. Setelah harimau jawa dinyatakan punah, macan tutul jawa kini menjadi satu-satunya spesies kucing besar predator puncak yang tersisa di Pulau Jawa.
Saat ini, status konservasi macan tutul jawa menurut Daftar Merah IUCN berada dalam kategori Terancam Punah (Endangered).
3. Macan Dahan (Neofelis diardi)
Dikenal sebagai "jembatan evolusi" karena ukuran tubuhnya menjembatani kelompok kucing kecil (seperti kucing rumah) dan kelompok kucing besar (seperti harimau). Kucing ini dinobatkan sebagai pemanjat pohon terbaik di antara seluruh keluarga kucing. Secara global, spesies macan dahan menyandang status Rentan (Vulnerable) dalam Daftar Merah IUCN.
4. Kucing Emas Asia (Catopuma temminckii)
Kucing pemalu berukuran sedang ini dapat ditemukan di kawasan hutan lebat Sumatra, seperti Taman Nasional Gunung Leuser dan Kerinci Seblat. Populasinya terus terancam oleh deforestasi dan jerat pemburu.
5. Kucing Batu (Pardofelis marmorata)
Kucing liar berukuran kecil ini masuk ke dalam famili Felidae dan subfamili Felinae (kucing kecil). Berbeda dengan harimau atau macan tutul jawa yang merupakan kucing besar, kucing batu memiliki ukuran tubuh yang setara dengan kucing rumah biasa. Satwa ini kerap dijuluki sebagai versi mini dari macan dahan. Bulunya yang tebal dihiasi pola totol atau lingkaran abstrak menyerupai marmer (Marbled Cat). Di Indonesia, kucing batu dapat ditemukan di hutan hujan tropis yang lebat di dua pulau besar, yaitu Sumatra (sepanjang lanskap Bukit Barisan) dan Kalimantan. Mereka adalah hewan interior hutan yang sangat sensitif terhadap kehadiran manusia
6. Kucing Tandang atau Kucing Kepala Datar (Prionailurus planiceps)
Berkerabat sangat dekat dengan kucing bakau (fishing cat) dan kucing kuwuk (leopard cat). Kucing ini adalah spesialis lahan basah dataran rendah. Mereka hanya hidup di dekat aliran air rawa gambut, hutan bakau, dan tepi sungai di wilayah Sumatra, Kalimantan, dan Semenanjung Malaya. Menurut Daftar Merah IUCN, status konservasi kucing kepala datar dikategorikan sebagai Genting (Endangered). Satwa ini dinobatkan sebagai salah satu spesies kucing paling langka dan paling terancam punah di seluruh dunia.
Di Indonesia, kucing tandang dilindungi secara mutlak di bawah Peraturan Menteri LHK No. P.106/2018. Di pasar internasional, statusnya masuk ke dalam Apendiks I CITES yang melarang keras segala bentuk perdagangan komersial.
7. Kucing Bakau (Prionailurus viverrinus)
Sama seperti kucing kepala datar, jenis kucing ini termasuk dalam kucing kecil (Felinae). Sebutannya pemburu ikan yang hidup di kawasan lahan basah, karena mereka menjadikan perairan sebagai taman bermain dan ladang berburu utamanya. Mereka memiliki adaptasi fisik yang luar biasa untuk gaya hidup semi-akuatik, termasuk kemampuannya berenang dan menyelam.
Menurut Daftar Merah IUCN, status konservasi kucing bakau secara global dikategorikan sebagai Rentan (Vulnerable). Namun, populasi mereka di Asia Tenggara (termasuk Indonesia) berada di ambang batas yang jauh lebih kritis. Investigasi pakar bahkan menunjukkan bahwa Pulau Jawa menjadi satu-satunya harapan terakhir habitat kucing bakau di Indonesia, setelah catatan keberadaannya di Sumatra tidak lagi ditemukan.
8. Kucing Merah Kalimantan atau Borneo Bay Cat (Catopuma badia)
Satwa ini memegang predikat sebagai salah satu kucing liar paling langka, paling terisolasi, dan paling misterius di dunia. Kucing merah kalimantan hanya hidup di Pulau Kalimantan (mencakup wilayah Indonesia serta Sabah dan Sarawak di Malaysia) dan tidak ditemukan di tempat lain mana pun di bumi. Ukuran tubuhnya mirip dengan kucing rumah, namun mereka memiliki ekor yang jauh lebih panjang dan struktur tubuh yang ramping.
Berstatus Endangered (Terancam Punah). Menariknya, satwa langka ini tertangkap kamera pengintai di Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM), Kalimantan Utara, pada tahun 2023 dan dipublikasikan pada 2025. Penemuan ini sangat penting karena menjadi kemunculan pertama yang terekam setelah menghilang dari pengamatan langsung atau kamera sejak tahun 2003 (20 tahun silam).
9. Kucing Hutan atau Kucing Kuwuk (Prionailurus bengalensis)
Memiliki corak mirip macan tutul mini. Ciri khas utamanya adalah corak bulunya yang indah. Tubuhnya dihiasi totol-totol hitam dengan latar belakang bulu berwarna kuning kecokelatan, persis seperti macan tutul versi mini. Kucing hutan memiliki sebaran geografis yang sangat luas di Indonesia. Mereka dapat ditemukan di pulau-pulau besar seperti Sumatra, Kalimantan, dan Jawa, serta beberapa pulau kecil di sekitarnya termasuk Bali.
Secara global, status konservasi kucing hutan menurut Daftar Merah IUCN dikategorikan sebagai Risiko Rendah (Least Concern). Meskipun populasinya secara umum masih stabil di Asia, beberapa subpopulasi lokal di wilayah tertentu di Indonesia menghadapi tekanan yang semakin berat.
Wild Cats dan Ancaman Kepunahan
Ancaman terbesar bukan berasal dari alam, melainkan dari aktivitas manusia.
1. Hilangnya Hutan
Pembukaan hutan untuk berbagai keperluan membuat habitat kucing liar semakin sempit. Ketika hutan terfragmentasi, mereka kesulitan mencari makan, berkembang biak, dan berpindah wilayah.
2. Berkurangnya Satwa Mangsa
Rusa, kijang, babi hutan, burung, hingga mamalia kecil ikut menurun akibat perburuan dan rusaknya habitat. Akibatnya, kucing liar kehilangan sumber makanan.
3. Konflik dengan Manusia
Saat habitat menyempit, beberapa kucing liar memasuki kebun atau permukiman sehingga memicu konflik. Tidak sedikit yang akhirnya dibunuh karena dianggap membahayakan atau memangsa ternak.
4. Perburuan dan Perdagangan Ilegal
Kulit, taring, tulang, hingga anak kucing liar masih diperdagangkan secara ilegal. Praktik ini menjadi ancaman serius bagi spesies yang populasinya sudah kecil.
5. Kerusakan Lahan Basah
Bagi spesies seperti kucing kepala datar dan kucing bakau, hilangnya rawa, sungai, dan hutan mangrove berarti hilangnya tempat mencari makan sekaligus tempat berkembang biak.
Perlindungan terhadap Kucing Alam Liar
Kucing liar adalah predator alami yang menjaga keseimbangan rantai makanan. Kehadiran mereka membantu mengendalikan populasi satwa mangsa sehingga ekosistem tetap sehat.
Ketika predator puncak menghilang, keseimbangan alam ikut terganggu. Populasi mangsa dapat meningkat tidak terkendali, vegetasi berubah, dan pada akhirnya memengaruhi kualitas hutan maupun sumber air yang juga dibutuhkan manusia. Perlindungan terhadap kucing liar berarti menjaga keseluruhan ekosistem tempat mereka hidup.
Peran Masyarakat Umum
Masyarakat umum memiliki peran yang sangat besar dalam menentukan masa depan kucing-kucing liar Indonesia agar tidak punah. Langkah-langkah nyata yang bisa kita lakukan tidak harus selalu turun ke dalam hutan, melainkan bisa dimulai dari aktivitas sehari-hari kita.
1. Tidak Membeli, Memelihara, dan Memburu Kucing Liar yang Dilindungi
Cek lebih dulu fakta tentang kucing yangg ingin dijadikan peliharaan. Kucing hutan (kuwuk) masih sering dijual secara ilegal di media sosial dengan label “kucing eksotis”. Menolak membelinya berarti ikut memutus rantai pasokan perdagangan satwa liar. Cara mengenal satwa dilindungi ini adalah dengan melihat fisiknya yang berbeda. Cara lain yakni dengan mengindetifikasinya lewat informasi digital.
Biarkan mereka hidup di alam. Kucing liar dapat mengalami stres ketika dikurung di rumah dan rentan mengalami kematian. Mereka juga berpotensi membawa penyakit yang dapat menular ke manusia maupun kucing domestik.
Hindari persilangan ilegal. Jangan mendukung tren mengawinkan kucing liar dengan kucing rumahan secara ilegal demi menghasilkan “kucing eksotis” untuk kepentingan komersial atau gengsi.
2. Tidak Membeli Produk Berbahan Satwa Liar
Boikot komoditas ilegal. Hindari membeli produk fashion, pajangan, atau obat tradisional yang menggunakan kulit, taring, tulang, maupun bagian tubuh kucing besar seperti harimau dan macan tutul.
Laporkan pelanggaran. Jika menemukan penjualan satwa dilindungi atau bagian tubuhnya, baik di pasar fisik maupun marketplace online, laporkan kepada pihak berwenang atau BKSDA (Balai Konservasi Sumber Daya Alam) setempat.
3. Jaga Habitat Lewat Gaya Hidup Ramah Lingkungan
Pilih produk berkelanjutan. Pilihan ini dapat membantu mengurangi tekanan terhadap hutan yang menjadi habitat satwa liar.
Kurangi sampah plastik. Limbah plastik dapat mencemari ekosistem darat, rawa, sungai, dan pesisir. Menjaga kebersihan ekosistem tersebut turut membantu melindungi habitat kucing liar, termasuk kucing bakau dan kucing kepala datar.
4. Edukasi Sesama dan Berbagi Informasi
Gunakan media sosial untuk edukasi. Bagikan informasi mengenai pentingnya kucing liar bagi keseimbangan ekosistem. Sebagai predator, keberadaan mereka membantu menjaga populasi satwa mangsa dan kesehatan ekosistem.
Ubah stigma sebagai hama. Edukasi masyarakat di sekitar kawasan hutan agar tidak langsung membunuh kucing liar ketika satwa tersebut masuk ke area perkebunan atau mendekati permukiman. Dorong solusi yang lebih aman, seperti memperkuat dan menutup kandang ternak agar tidak mudah dimasuki predator.
5. Dukung Lembaga Konservasi Resmi
Donasi atau menjadi relawan. Dukung yayasan maupun organisasi yang bergerak dalam penyelamatan dan konservasi satwa liar, seperti WWF-Indonesia, Forum HarimauKita, atau Yayasan IAR Indonesia.
Ikut program adopsi digital. Sejumlah lembaga menyediakan program “adopsi satwa” secara digital. Donasi dari program tersebut dapat digunakan untuk mendukung perawatan, rehabilitasi, hingga pelepasliaran satwa kembali ke habitatnya.
Hari Kucing Sedunia sebagai Pengingat
Peringatan ini juga menjadi pengingat bahwa keluarga kucing jauh lebih luas daripada yang kita lihat di rumah dan lingkungan sekitar.
Di balik rimbunnya hutan Indonesia keberadaan mereka semakin langka dan menipis. Masa depan mereka bergantung pada hutan yang tetap lestari, penegakan hukum terhadap perdagangan satwa liar, dan kepedulian masyarakat.



