Showing posts with label fauna. Show all posts
Showing posts with label fauna. Show all posts
, , , , ,

Menjaga dan Melindungi Fauna Indonesia, Menjaga Kebanggaan Dunia


Para Legenda di Negeri Rimba

Huup, seekor kucing besar loreng menaiki pohon, melompat dari dahan tebal ke dahan kokoh lain. Betapa mudah ia meluncur ke tanah, merambat lagi menaiki pohon dan tinggal berlama-lama di atasnya. Neofelis diardi alias macan dahan Sunda namanya. Kata ‘sunda’ menunjukkan dataran Indonesia. Karena di Asia hanya ada dua spesies macan dahan, yakni macan dahan Asia dan macan dahan Sunda. Sementara subspesies macan dahan di Indonesia berdasarkan daerah penyebarannya hanya ada dua, macan dahan Sumatera (neofelis diardi Sumatraensis) dan macan dahan Kalimantan (neofelis diardi Borneensis).


Meski taring dan kumis macan dahan menunjukkan kegarangan, ia lebih suka menghindari berjumpa manusia. Bila gelapnya malam berhasil menyembunyikannya, maka di siang hari, macan berkaki pendek ini memilih pepohonan agar aman. Macan dahan memang memiliki hubungan dengan kucing, tetapi ukurannya lebih besar lima kali dari hewan rumahan itu, dan empat kali lebih kecil dari harimau Sumatera. Selain memiliki hubungan dengan kucing kampung, macan dahan juga disebut memiliki hubungan yang dekat dengan kucing purba bergigi pedang, smilodon populator berdasarkan kesimpulan ahli dari Museum Geologi Kopenhagen. Kini, hanya populasi macan dahan yang memiliki struktur gigi berpedang yang ada hingga sekarang. Berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) No. 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa, menetapkan macan dahan sebagai satwa yang dilindungi oleh negara.

Selain macan dahan Kalimantan, ada makhluk paling terkenal dari rimba Kalimantan yang tampangnya gemesin, dialah si orangutan. Di dunia, hanya Indonesia (dan sebagian hutan Malaysia) yang diamanahi Tuhan untuk menjaga orangutan. Karena itu, sebuah kebanggaan bagi negeri ini diberikan hutan tropis yang memadai sebagai tempat tinggal orangutan. Primata endemik Nusantara ini memang unik, selain badannya yang lebih besar dari primata lain, di mana jantannya bisa mencapai 150 kg, orangutan juga punya kemiripan dengan manusia. Betinanya bisa mengalami menstruasi, dan bisa hamil dengan jangka waktu yang sama dengan manusia, yakni 9 bulan. Orangutan juga bisa jatuh cinta, cemburu dan patah hati. Unik kan!

Selain orangutan Kalimantan, ada dua jenis lagi yang tersebar di Indonesia, yakni orangutan Sumatera dan orangutan Tapanuli. Baru-baru ini, orangutan bernama Rocky menjadi fenomena pertama di dunia yang disebut bisa menirukan bahasa manusia.

Orangutan termasuk satwa yang dilindungi dalam hukum nasional berdasarkan UU Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya, dan menurut CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora) termasuk satwa yang tidak boleh diperdagangkan.

Masih dari Kalimantan, mari berkenalan dengan Owa Kelempiau atau Owa Kalimantan. Sama-sama owa, tetapi baik owa Jawa, owa siamang, owa jenggot putih, memiliki perbedaan khas masing-masing. Borneo gibbon, sebutan orang luar bagi owa Kalimantan. Sebagaimana kebanyakan primata, mereka memang amat mahir bermain di atas pepohonan (arboreal) dan menggantungkan hidup di sana. Owa Kalimantan dan jenis owa lain juga dilindungi UU No.5 Th. 1990.
owa Kalimantan

Kali ini bukan primata, namun termasuk hewan langka kebanggaan rimba Kalimantan. Dia adalah beruang madu yang menjadi maskot Kota Balikpapan. Beruang madu merupakan spesies beruang terkecil di dunia. Helarctos malayanus punya sebutan lain yakni sun bear alias beruang matahari berkat tanda (mirip) “matahari” di dadanya. Lidahnya panjang dan kegemarannya mencari madu, meski bukan hanya madu yang ia konsumsi. Beruang madu memegang peranan penting dalam penyebaran benih berkat caranya memamahbiak biji-bijian. Sejak tahun 1973, telah ada peraturan yang melindungi satwa liar unik ini. Beberapa lokasi penyebaran beruang madu di dunia sudah tidak menunjukkan keberadaannya lagi. Sehingga disebut-sebut, beruang madu adalah satu-satunya beruang yang masih hidup di hutan tropis termasuk di Indonesia. Selain Kota Balikpapan, Bengkulu juga menjadikan beruang madu sebagai maskot. Lagi-lagi ini keanekaragaman di Indonesia yang sungguh membanggakan.

patung Beruang Madu

Kita berbelok sedikit ke Taman Nasional Gunung Palung, Kalimantan Barat. Ada sebuah penemuan yang menggemparkan para ilmuwan. Penemuan ini tentang tupai yang unik, atau “aneh” sebut mereka. Tidak sembarang tupai, yang satu ini lebih besar dari tupai umumnya dengan ekor berbulu yang lebih lebat dari ekor tupai lain. Penemuan tersebut menjadi unik ketika tupai yang dimaksud tertangkap kamera sedang terlihat memangsa kijang. Karena itulah ia dinamakan tupai pemangsa darah dari Kalimantan. Orang-orang kemudian menyebutnya tupai vampir. Sejatinya tupai pemangsa darah juga pemakan biji-bijian, sebagaimana dilansir dari para ilmuwan yang melanjutkan penelitian di Taman Nasional Gunung Palung tersebut. Hanya saja, penemuan dan penelitian tentang tupai pemangsa darah masih terus dilakukan. Untuk diingat, tidak banyak dokumentasi dari pihak lain yang beredar tentang tupai pemangsa darah saat ini. Tak heran, jika IUCN menyebut keberadaan tupai vampir ini terkategori rentan punah.

Beranjak ke rimba, kita maju ke pesisir. Kali ini hutan mangrove Kalimantan punya cerita tentang primata bernama bekantan. Si monyet oranye berhidung besar. Berbeda dengan primata yang memilih tinggal di kedalaman rimba, bekantan memilih hutan basah, seperti gambut, rawa atau mangrove sebagai tempat tinggal. Hewan ini cenderung pemalu. Hewan ini juga termasuk hewan endemik asal Kalimantan dan tergolong hewan yang dilindungi.

Patung Bekantan


Kalau terkesima dengan penghuni rimba Kalimantan, rimba Sumatera tidak kalah menantang. Lihat dulu tatapan predator sang pemberani harimau Sumatera. Meski tahun-tahun terakhir merupakan tahun yang sulit bagi mereka dan kita umumnya. Menemani harimau Sumatera, gajah Sumatera sebagai spesies gajah termungil di muka bumi yang turut mewarnai keberagaman fauna di rimba Sumatera. Kalau mengira tupai pemangsa darah adalah makhluk liar mungil yang keberadaannya sulit diamati, kelinci Sumatera yang liar sepertinya sama misteriusnya. Sumatran striped rabbit merupakan jenis kelinci nokturnal yang hanya bisa ditemukan di Pulau Sumatera. Jika di Pulau Jawa terdapat badak bercula satu, saudaranya di Sumatera memiliki dua cula. Kedua jenis badak ini merupakan dua dari lima spesies badak yang ada di dunia.



Hutan-hutan di Nusantara memang tampak menarik bagi fauna untuk bertempat tinggal. Masing-masing pulau di negeri ini menyuguhkan keberagaman khas faunanya. Pun burung-burung eksotis yang sulit dijumpai di tempat lain. Setidaknya ada 30 jenis burung cenderawasih di dunia, dan 28 di antaranya hadir di Papua. Semua cenderawasih ini dilindungi dengan UU No. 5 Tahun 1990.

Bicara burung, Pulau Sangihe yang masuk ke dalam Zona Wallacea tidak kalah menyimpan keeksotisan burungnya. Elegant sunbird atau burung madu Sangihe adalah burung yang sulit terlihat dan termasuk langka serta dilindungi oleh undang-undang. Sama-sama berada di Sulawesi dan zona Wallacea yang endemik, burung maleo turut serta menemani kelangkaan burung madu Sangihe.

Cenderawasih dari Papua dan Burung Madu Sangihe dan Pulau Sangihe


Kebanggaan dari Lubuk Perairan


Jika di daratan dan udara kita begitu terpukau dengan kelangkaan aneka satwanya. Mari menengok sejenak saja di perairannya.

Beberapa waktu viral foto penampakan pesut Mahakam. Meski berulang kali melewati sungai Mahakam, KalTim, saya pribadi tidak pernah menjumpai sosok pesut Mahakam ini. Sehingga ketika mendapati gambarnya beredar di jejaring sosial, sulit untuk tidak terenyuh. Betapa tidak, irrawaddy dolphin ini merupakan lumba-lumba air tawar di Indonesia yang jumlahnya terbatas. Berwajah tipis-tipis serupa dengan pesut Mahakam, di Indonesia juga terdapat dugong, disebut juga duyong atau duyung. Dugong merupakan salah satu jenis mamalia laut dari ordo sirenia satu-satunya yang masih ada. Hewan-hewan langka dan unik di perairan sesungguhnya sangat banyak. Pari manta terumbu juga menjadi hewan perairan yang dilindungi. Belum lagi keanekaragaman penyu dan saudara-saudaranya yang langka yang hidup di perairan Nusantara.

Duyung, bukan ikan.

Tidak tepat di perairan, melainkan sebuah pulau, hiduplah ancient dragon bernama Komodo, sesuai dengan nama pulaunya. Kadal raksasa yang memancing minat dunia menjadikan kebanggaan bagi Indonesia. Bagaimana tidak, jika hewan langka ini nyatanya memang hanya ada di Indonesia.


FAUNA NUSANTARA, KEBANGGAAN DUNIA


Masing-masing kawasan di Nusantara ini memang menyimpan keunikan tersendiri. Setiap pulau di Nusantara terbekati dengan biodiversitas yang tidak serupa dengan pulau di sisinya. Tanpa perlu memperdebatkan mana yang terbaik, setiap penghuninya mampu saling menyokong.

Berkat keberadaan satwa-satwa endemik di Nusantara, banyak ilmuwan dan aktivis dari luar negeri berdatangan ke Indonesia demi ikut andil dalam penelitian. Tidak tanggung-tanggung mereka juga turut bergerak melestarikan keanekaragaman fauna Indonesia. Debbie Martyr, jurnalis perempuan asal Inggris mau saja mengemas hidupnya untuk tinggal di kaki Gunung Kerinci demi berkontribusi dalam konservasi harimau Sumatera. Baru-baru ini, Debbie Martyr selaku manajer program Flora & Fauna International (FFI) bersama petugas Taman Nasional Kerinci Seblat berhasil mengembalikan kelinci langka Sumatera kembali ke habitatnya setelah hampir lolos dijual.

Aurelien Francis Brule, lelaki asal Perancis yang semasa muda sudah jatuh cinta dengan owa Kalimantan, dan telah menulis tentang owa membuat ia terjun ke Kalimantan. Tidak hanya datang dan meneliti, Aurelien Francis Brule akhirnya memilih Indonesia sebagai kewarganegaraannya, dan membangun yayasan bernama Kalaweit di Kalimantan yang sekaligus juga menjadi pulau tempat tinggalnya. Kini, pria yang menyandang nama beken Chanee Kalaweit itu telah banyak melakukan penyelamatan primata dan satwa liar Nusantara. Bersama anaknya Andrew Kalaweit, mereka masih bahu membahu menjaga kelestarian hutan sebagai habitat satwa-satwa unik ini.


Jauh sebelum sosok Kalaweit, pada abad ke-19 seorang naturalis bernama Alfred Russel Wallace melakukan ekspedisi ke Nusantara dan terkejut ketika mendapati hewan anoa, karena ia tidak bisa mendefinisikan hewan tersebut sebagai sapi atau kerbau. Benar, anoa adalah anoa, hewan endemik asal Sulawesi. Setelah mampir ke Nusantara akhirnya A.R Wallace memberikan simpulan bahwa nusantara memiliki zona endemik yang ia kemudian sebut sebagai Wallacea Line. Bukunya yang berjudul The Malay Archiplego membuat banyak peneliti lain berkunjung ke Indonesia.

Beginilah Indonesia, rupanya bukan hanya rempah yang membuat kaum luar berdatangan. Fauna Indonesia yang unik dan eksotik memancing banyak peneliti, naturalis, antropolog, atau bahkan mereka yang peduli konservasi satwa serta lingkungan hadir di negeri ini.


Apa Arti Fauna Nusantara Berarti Bagi Dunia ?

Meski luas Indonesia hanya berkisar satu koma tiga persen dari luas daratan dunia, namun diperkirakan tujuh belas persen jenis satwa liar dunia ada di Indonesia. Tidak heran jika sebutan “Mega Biodiversity Country” disematkan untuk Nusantara. Indonesia telah tercatat sebagai negara pemilik jenis-jenis mamalia terbanyak di dunia. Data dari KSDA Kementerian LHK menyebut sampai dengan tahun 2019, tercatat kurang lebih 776 jenis mamalia ada di Indonesia. Ribuan jenis burung telah menjadikan Nusantara sebagai rumah mereka, begitu pun reptil, serangga, kupu-kupu, amfibi, yang percaya bahwa negeri ini adalah tempat yang layak untuk mereka tinggali. Pun para satwa di perairan Indonesia,  diperkirakan sekitar 8500 jenis ikan ada di perairan Indonesia. Ini artinya sebanyak 45% ikan di dunia hadir di Indonesia (Kementerian Kelautan dan Perikanan, 2015)

Belum lagi adanya hewan-hewan endemik Indonesia yang telah menjadikan negeri ini rumah alam mereka sekian lama. Hewan-hewan endemik Indonesia berarti hanya bisa ditemukan di Indonesia semata. Benar, fauna #IndonesiaBikinBangga dunia. Namun, jika satwa-satwa endemik Indonesia punah, maka sesungguhnya punahlah mereka dari muka dunia ini.

Karena itu, kebanggaan mestilah dilindungi dan dijaga.


MENJAGA LINGKUNGAN BAGIAN DARI MELESTARIKAN KEBANGGAAN KEANEKARAGAMAN HAYATI INDONESIA


Indonesia memiliki bentang alam yang amat kaya. Ada pegunungan dan ada lembah, ada sungai dan lautan, hutan yang beraneka macam, hamparan padang dan karst. Negeri ini memang terlalu menakjubkan. Keanekaragaman fauna di Indonesia adalah keberuntungan yang luar biasa, berkat bentang alamnya, keadaaan geografisnya, kondisi alam, serta kekayaan floranya. Ini merupakan rantai kehidupan yang tak boleh terputus. Kekayaan alam Indonesia menjadikan satwa-satwa dapat hidup nyaman di dalamnya. Semua ini adalah kebanggaan. Amanah dari Tuhan yang harus dilestarikan.

Namun, kebanggaan butuh diasah agar tetap menajam di dada. Kebanggaan butuh dipertahankan. Tidak cukup hanya senyum simpul, lalu diam mengabaikan. Kebanggaan semestinya mampu menghentakkan nadi-nadi kebangkitan dalam diri. Ada sesuatu yang terwujud ketika rasa bangga mengembang untuk negeri. Kebanggaan terhadap fauna negeri dapat lestari, dengan cara mewujudkan pelestarian fauna.

Berbicara tentang pelestarian satwa, memang tidak serta merta semua pihak mampu terlibat langsung, apalagi bila mendefinisikan pelestarian fauna seiring kedekatan jarak. Seyogianya setiap satwa memiliki habitatnya masing-masing, dan kita selaku manusia memegang peran penting dalam menjaga lingkungan.

“Menjaga lingkungan hidup berarti berkontribusi
memelihara keanekaragaman hayati yang ada di Indonesia”


Mengapa demikian ?

Alkisah, ketika sebagian kawasan hutan mangrove di kota ini terkikis, maka yang terjadi selanjutnya adalah musibah. Banjir melanda, kerusakan di depan mata, dan kawanan primata singgah di rumah warga. Sampai kemudian manusia mengembalikan habitat primata ini, dimulai dengan menanam dan menjaga lingkungan hidup mangrove. Maka, yang terjadi selanjutnya adalah kenyamanan. Tidak ada lagi banjir menerjang, para primata bebas mencari makan, nelayan bisa mencari ikan, dan satwa-satwa yang berhabitat di sekitar mangrove seperti kepiting, timpakul kembali datang.

Dengan demikian adalah benar, menjaga keutuhan lingkungan hidup mampu membantu mengamankan masa depan keanekaragaman hayati di Indonesia.


MENJAGA DAN MELINDUNGI FAUNA,
WUJUD KEBANGGAAN UNTUK NEGERI


Ada bagian-bagian dalam diri saya ketika masih kecil yang beranggapan betapa menjemukannya tinggal di Kalimantan. Hutan dan hutan lagi, sepi. Syukur, bagian-bagian itu tidak bertahan lama. Bagian-bagian itu tumbuh merevitalisasi diri dan kian lama menyatakan kebanggaannya terhadap hutan Borneo, hutan yang menjadi kebanggaan Indonesia serta dunia.

Makin bertambah usia, saya makin nyaman berwisata ke hutan. Hutan di Kota Balikpapan memang menawarkan kondisi yang berbeda dibanding hutan-hutan di kawasan Kalimantan lain. Sehingga perjumpaan dengan banyaknya satwa khas Borneo teramat minim, terlebih satwa yang saya harap, memilih tinggal di dalam rimba saja. Tetapi, membentuk kebanggaan tidak harus berjumpa satwa yang diinginkan, menjaga dan melindungi fauna tidak membuat kita memaksakan harus bertemu muka. Saya tidak harus menyelam ke dalam lautan untuk jatuh cinta pada dugong, tidak harus menuju gua untuk bertemu reptil langka. Kedangkalan ilmu, malah bisa membuat habitat mereka rusak.


Beberapa cara dan gaya hidup kita
sebenarnya dapat membantu dalam
menjaga dan melindungi fauna Nusantara. 
Apa saja itu ?


#Berwisata Tanpa Merusak Alam

Traveling telah menjadi tren di abad 21. Tidak dipungkiri jika wisata alam menjadi favorit ragam generasi. Aktivitas ini bernilai positif jika dibarengi dengan niat dan tindakan positif pula, yakni tidak membuang sampah secuil apa pun di alam, tidak merusak keanekaragaman hayati, tidak melakukan vandalisme, serta memahami kondisi tempat wisata.

wisata ke habitat bekantan.

wisata di Pulau Kembang, habitat bagi para monyet.
Hati-hati jangan buang sampah, jangan merusak.

#Menjaga dan Melindungi Hutan Serta Habitat Satwa Lain

Kita bisa berkontribusi menjaga dan melindungi hutan tanpa memaksakan diri ke hutan. Cara ini bisa ditempuh dengan membangun solidaritas dan spirit dalam diri bersama para pecinta lingkungan lewat berbagai gerakan atau kampanye mencintai hutan. Cara lain adalah dengan turut serta menanam pohon demi keberlangsungan hutan, baik langsung maupun lewat organisasi konservasi dan pemerintah. Memang, tidak semua fauna berada di hutan, ada juga yang di lautan. Maka, cara yang sama bisa digunakan untuk melibatkan diri demi kelestarian fauna.

gerakan cinta lingkungan

turut menanam pohon dari jauh.


#Tidak Melakukan Perburuan Liar dan Memperjualbelikan Satwa yang Dilindungi

Ini tentu tidak nyaman untuk ditulis. Namun, keadaan saat ini membuktikan banyak hewan khas Indonesia terkategori terancam punah. Saat ini, harimau Sumatera serta jalak Bali sudah masuk IUCN Red List. IUCN (International Union for Conservation of Nature) dan CITES Appendices adalah lembaga yang menjadi rujukan mengenai status konservasi secara global. Diprediksi banyak hewan langka dan endemik negeri akan punah dalam beberapa tahun ke depan. Sedih? Ya. Kebanggaan kita bisa saja lenyap, jika tindak-tanduk kita terhadap satwa serta lingkungan tidak terjaga. Dua penyebab makin berkurangnya satwa langka adalah adanya perburuan liar dan perdagangan bebas. Disinyalir ada pihak-pihak yang tidak memahami bahwa satwa yang diburu atau diperdagangkan merupakan satwa langka dan endemik. Karena itu, baik kiranya jika kita mau mengenal keanekaragaman satwa langka dan endemik di Indonesia.


#Gaya Hidup Ramah Lingkungan

Gaya hidup ramah lingkungan rupanya turut membantu kebermanfaatan konservasi masa depan. Mengonsumsi makanan-minuman yang ramah lingkungan, mengurangi kemasan yang non-ramah lingkungan, bijak menggunakan kosmetik dan busana, rupanya punya peran dalam kelestarian fauna dan lebih lanjut mewujudkan pembangunan berkelanjutan (sustainable) di Indonesia.

jika berada di atas perairan, jangan membuang sampah secuil pun ke air.



#Masyarakat Adat dan Upaya Pelestarian Satwa

Masyarakat adat memiliki andil penting dalam menjaga kelestarian satwa, khususnya mereka yang tinggal di sekitar habitat satwa. Bagi masyarakat adat yang tinggal di hutan, maka hutan merupakan jati diri mereka. Suku Dayak Iban mempunyai sanksi yang tegas kepada mereka yang berburu satwa dilindungi di hutan adat mereka. Tertarik dengan burung enggang? Jangan coba-coba mencurinya, karena ada hukum adat Dayak Iban yang melindungi. Berkat keteguhan merawat dan menjaga ekosistem hutan ini, masyarakat Dayak Iban menerima Equator Prize 2020 dari Program PBB (UNDP). Equator Prize merupakan penganugerahan kepada masyarakat yang luar biasa yang telah berkontribusi melalui konservasi dan pemanfaatan keanekaragaman hayati yang berkelanjutan.

Mungkin, kalau berkunjung ke hutan, ada baiknya kita bersilaturahim dulu ke penduduk setempat.

*
Kepunahan satwa berarti rusaknya ekosistem, Suatu ketika, sang predator di sebuah kawasan tiada, rupanya hewan-hewan berupa hama bagi manusia makin merajalela merusak alam dan rumah-rumah warga. Selama ini sang predator terkenal karena memakan hewan-hewan hama yang menganggu masyarakat. Cerita ini hanyalah contoh ketika kita kehilangan satwa yang satu maka gangguan akan muncul di lain waktu. Sejatinya begitulah dengan kepunahan hewan. Di Indonesia banyak sekali hewan langka dan endemik, kepunahannya akan merusak kehidupan. Penyakit, bencana bisa saja berkunjung. Rangkaian kehidupan kita bisa saja terputus.

Kita tidak ingin kerusakan itu terjadi, kita ingin kebanggaan ini terus menggema di dada dan mewujud nyata di lingkungan. Jika negeri ini mengoleksi sebagian besar jenis satwa di dunia, maka memang layak negeri ini disebut surga bagi satwa. Kita tidak berharap surga itu rusak. Karena itu mari menjaga dan melindungi fauna, dengan menjaga lingkungan, dengan menjaga bumi.

#UntukmuBumiku.
Fauna Nusantara by lidhamaul
***


Sumber dan bahan bacaan :

https://greeners.com

https://www.faunadanflora.com/

https://www.profauna.net/id
https://gardaanimalia.com/

https://www.beruangmadu.org/

www.nationalgeographic.co.uk/travel/2014/

https://www.wwf.id/

https://www.goodnewsfromindonesia.id/2020/06/02/misteri-tupai-penghisap-darah-pemangsa-kijang-yang-hidup-di-belantara-borneo
Peraturan Menteri LHK nomor 106 tahun 2018
http://bkipm.kkp.go.id/ tentang juknis pemetaan sebaran agen hayati dilindungi

IUCN dan CITES site.




Share:
Read More