Showing posts with label Traveling. Show all posts
Showing posts with label Traveling. Show all posts
, , , ,

Ibu, Spirit Perjalanan yang Ingin Berulang



Seumur hidupnya belum pernah terbang dengan pesawat.
Tahun itu, Ibu bepergian ke luar Kalimantan. Dengan penuh rasa syukur, pintu rezeki terbuka bagi saya dan suami untuk bisa membawa serta Ibu dan juga Acil (bhs. daerah untuk Tante – saudari Ibu) melancong ke Tanah Jawa. Kami berencana ke Malang. Ibu saya, belum pernah menginjakkan kaki ke Malang. Sudah beberapa kali beliau mengutarakan harapannya untuk bisa bertemu dengan Mama (mertua). Alhamdulillah, setelah berurusan dengaan sederet pekerjaan dan mendapatkan tiket pesawat, wilayah Nusantara lain bisa kami jelajahi.
Share:
Read More
, , ,

#Traveling Story : Melupakan Cara Bersyukur

Melupakan Syukur  www.bulirjeruk.com

BROMO - Sebelum Jepretan Dimulai
Dingin menjelang Subuh itu terasa lebih mengkhawatirkan daripada seekor anjing di dekat kaki. Udaranya saja menusuk, sudah pasti airnya pun lebih galak. Bagaimana kalau dingin membuat saya malas mengambil air wudhu?
Share:
Read More
,

HARUS KEMANA BILA LIBURAN DI MALANG? INTIP DULU YANG ASYIKNYA DISINI

sumber: asliindonesia.net - Keliling Kota Malang dengan MACYTO

Oke, menurut saya ini unik.
Kebayang nggak sih, teman-teman  punya kampung halaman, sedari kecil tinggal disana, berkelana, sampai kemudian akhirnya merantau. Tiap tahun bisa 2-3 kali pulang kampung. Itupun selalu menyempatkan berkeliling-keliling termasuk ke setiap lokasi wisatanya. Tapi… selalu saja ada yang  terlewatkan, selalu saja baru tahu ada lokasi wisata disana, rasanya yang itu nggak pernah dikunjungi, eh daerah itu di Malang ya? cantik banget…eh, kuliner yang itu baru ada.

Rasanya nggak pernah puas-puas dijajaki.
Share:
Read More
, , , , ,

MERINDUKAN DIENG, MY "AHA" MOMENTS TRAVEL

Paul Theroux berkata: "Perjalanan itu bersifat pribadi
Kalau pun aku berjalan bersamamu, perjalananmu bukanlah perjalananku"

Jalan-jalan ke Dieng
Suka traveling? Ikuti lombanya disini
Saya menyebut perjalanan ini CLBK, Cerita Lama (namun selalu) Berseri-seri Kembali (bila mengingatnya). Awalnya kami dari Tasikmalaya, setelah telpon-menelpon ternyata suami punya teman di Purwokerto dan mengajak untuk mampir. Berangkatlah kami dari Tasikmalaya dengan menggunakan bus.

Tidak Terbersit Kata Dieng

Traveller lokal mana yang tidak mengenal Dieng? Negeri di atas awan? Negeri yang saya pikir tidak perlulah diinginkan untuk disinggahi karena tidak mungkin juga saya kesana. Sebut saja keberuntungan, bila kemudian saya diajak menyaksikan matahari terbit di Sikunir, berkelana di antara candi-candi, mengendus aroma belerang di Sikidang, juga berkenalan dengan tanaman-tanaman yang hanya ada di Dieng.

Sementara hingga saya duduk kepanasan dalam bus yang bergoyang parah, tidak sekali pun nama Dieng bakal terlintas. Selama perjalanan yang sekitar 5 jam itu, tidak ada satu kata pun yang terlontar dari kami. Saya kira, suami sudah letih. Sementara saya punya harapan bercakap-cakap dengannya.

Bus kami tiba di Terminal Bulupita, terminal yang menurut saya bersih, apik dan layak jadi contoh. 
Terminal Bulupitu
Terminal Bulupitu, menyenangkan bagi anak-anak
Kawan suami menjemput  dengan mobilnya dan dengan itu pula akan menjemput istrinya. Saya pikir rumah kawan suami ini di Purwokerto,  saya baru tahu kalau ternyata rumah mereka di Wonosobo.
Rumah dimana bila langit bersih mengizinkan, akan terlihat penampakan Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing dengan jelas di sebelahnya. Rumah dimana udaranya keterlaluan segar, air bersih mengalir cuma-cuma tanpa henti, belum lagi keramahan yang tampak dari pemiliknya. Kombinasi yang bikin saya bersyukur luar biasa.

Tentu bukan hal mudah menerima udara dingin Wonosobo terutama bagi saya yang terbiasa dengan suhu Kalimantan. Karena itu tuan rumah bersedia sekali mengantar ke pemandian air panas.


Lalu, “besok ikut kita ke Dieng kan,” kata mba Eni, istri kawan suami. Dieng? Dieng yang itu kan? Yang itu yang mana juga tidak jelas saya memikirkannya. Rupanya orangtua mereka tinggal di Dieng dan mereka akan ada acara. Maka, keesokan Sabtu itu kami pun berangkat.

SEMUA SERBA DIENG
Bagaimana saya melukiskan Dieng dengan kata-kata? Rasanya susah sekali, kemungkinan tidak akan pas. Lekukan pegunungannya, hembusan anginnya, orang-orang dengan sarung kemana-mana, tanamannya.  Jiwa saya jadi terisi syukur dan decak kagum belaka. Untuk menikmati prosesnya, saya memilih lebih banyak diam selama perjalanan.
Menuju Dieng

Sementara, mbak Eni dan kedua anak-anaknya dengan rutin menjelaskan apa-apa saja yang sudah saya lihat.  Bahwa yang itu tadi namanya Cabe Dieng; pepaya yang kecil itu namanya Pepaya Dieng; nanti kita akan mampir ke Candi Dieng. Waktu itu saya berpikir betapa mudahnya memberi nama sesuatu dengan “Dieng” di akhirnya. Tapi sebenarnya memang begitulah adanya. Carica misalnya, sudah pastilah Pepaya Dieng yang memang hanya tumbuh di pegunungan.

Setelah membeli beberapa setelan penahan dingin, kami langsung mengelilingi candi.

Candi di Dieng

Candi di Dieng
Karena tidak ada persiapan, cuma bisa menebeng jaket suami

Tidak cukup puas berada disana, saya diajak ke Kawah Sikidang, kawah berbau belerang, dengan anak-anak mereka sebagai pemandunya. Disana jualah saya bertemu dengan si abadi edelweiss. Ternyata keputusan untuk tidak memilikinya susah juga ya, mana harganya cukup murah pula. Tapi, buat apalah. 
Toh, saya percaya tidak semua hal indah harus saya miliki, ada yang harus tetap di tempatnya, dengan begitu ketika saya merindu, ada usaha dan kerja keras untuk bertemu dengannya. Karena disitulah letak, mengapa ia begitu berharga.
 
Penjual Edelweiss, Kawah Sikidang-Dieng
penjual edelweiss 

Kawah Sikidang, Dieng
dua bocah yang menjadi pemandu

Barulah pada malamnya saya tahu bagaimana rasa cabe dieng itu saat menyantap makan malam di rumah mertua mba Eni. Saya juga sempat bertanya: “Pak, kok sepanjang jalan saya nggak lihat hewan ternak?” pertanyaan ini langsung disambut tawa, “sapi nggak bisa gemuk disini mbak, susah.”

Kemudian kawan suami ini menawarkan diri lagi memandu ke Sikunir. Yang benar saja, batin saya. Keluarga ini sudah penuh dengan keramahan, ditampung saja kami sudah senang. Masih disusul pula kenikmatan yang lain.

Malam itu saya tidur lebih cepat dari biasanya, pukul 3 dini hari kami sudah harus berangkat kalau tidak mau mengalami kemacetan parah. Macet? Menuju Gunung? Apalah saya ini yang tidak tahu apa-apa ya, lupa pula kalau hari itu adalah Minggu.

Kami berempat (saya perempuan sendirian) berangkat benar-benar pukul 3 dini hari, menuju Desa Sembungan, Kec. Kejajar. Katanya, desa ini adalah desa tertinggi di Pulau Jawa dan Sikunir dengan ketinggian 2350m dpl merupakan salah satu tempat terbaik menyaksikan matahari terbit. Dari Sikunir ini, akan tertangkap pemandangan gunung-gunung lainnya jika memungkinkan.

Hal repot yang mesti saya rasakan adalah beberapa kali terpisah dengan para lelaki ini. Langkah mereka panjang-panjang dan gesit. Saya tidak letih, tapi kalau harus mengimbangi mereka pastinya kewalahan juga. Belum lagi satu-satunya senter dibawa suami yang entah ada dimana dia. Dalam keadaan seperti itu: gelap, tidak tahu arah-tujuan, tidak membawa peralatan khusus, bijak saja ya kan kalau saya bergabung dengan tim lain, hehe. Terutama kalau tim itu punya peralatan lengkap, ada perempuannya, tahu arah dan tampang saya masih bisalah disetarakan dengan mereka yang notabene mahasiswa. Toh, tidak ada yang sadar kalau anggota mereka bertambah satu.

Menuju Sikunir
perjalanan yang berisi gelap, dingin dan tidak tahu arah
Mendekati puncak, barulah saya bertemu suami lagi. Kian tinggi, takjub saya bertambah dengan pemandangan sekitar, bukan karena pesona alamnya atau ketangguhan Sikunir. Melainkan, betapa banyaknya manusia (pada hari Minggu). Kalau pesona alamnya tidak perlu disebutkan lagi, terlalu memukau untuk dituliskan.

Sikunir, Dieng

Sikunir, Dieng

Adegan lucu terjadi ketika masing-masing anak manusia ini mau ber-swafoto. Harapannya bisa selfie dengan latar sunrise atau gunung seberang pastinya, apalah daya latar belakangnya ya anak manusia yang mau ber-selfie juga.
 
Sikunir pada Hari Minggu
"tidak mengambil apapun kecuali gambar"
Sikunir, Dieng
di ufuk timur
Sikunir, Dieng
dibutuhkan mengantri yang lama untuk menuruni gunung

Sikunir, Dieng
duduk disini sembari merenungkan keMAHAanNYA adalah kenikmatan tak terkira

Setelah dari Sikunir, saya pun masih melanjutkan ke beberapa lokasi yang menarik di Dieng, lalu kami beranjak balik ke Wonosobo. Hal menarik selama perjalanan ini bagi saya bukan sekadar bisa melihat tempat yang berbeda dan menakjubkan. Perjalanan ini juga membuat saya menemukan orang-orang baik yang mampu menganggap saya yang belum dikenal ini sebagai saudara. Saya dibuat merasa dekat dengan kampung halaman mereka. Tak ada balasan langsung dari saya tuk mereka. Pun tak ada buah tangan tuk mereka. Tapi tak mengapa, bagi mereka cukup Allah saja yang membalasnya. Inilah perjalanan yang membuat saya ingin mengulangnya dua, tiga kali. Tentu tanpa merepotkan lagi keluarga yang saya kenal disana.

Perjalanan yang inginnya saya rencanakan bersama keluarga. Maklum saja, tidak hanya lewat tulisan ini, seringkali setiap kami bepergian, saya dan suami berjalan masing-masing meskipun kami berdua. Ia dengan kawannya, dan saya… sendirian. Itulah mengapa ungkapan Paul Theroux di atas serasa terlalu pas banget buat saya.

AHA !
“Dek, nanti kita mau ke Jawa lagi lho,” kata suami pada Agustus ini. Saya masih mendiamkan sampai dia berkata, “tapi nggak tahu mau tanggal berapa ini, masih cari-cari yang murah.” Lalu suami mengecek satu persatu tanggal dan dari situs penjualan tiket pesawat online.

Untuk melakukan perjalanan ke luar kota buat kami sebenarnya sama prinsipnya dengan yang lain, yakni bisa murah-meriah-aman-nyaman. Saat ini banyak situs penjualan tiket pesawat online dan maskapai terbang yang menawarkan kemudahan dan keringanan biaya. 

Sebenarnya, ada cara gampang untuk mengetahui harga TIKET PESAWAT MURAH mana yang menjadi pilihan yaitu lewat SKYSCANNER. Ini lebih baik daripada mencari satu-persatu melalui situs maskapai-nya atau situs penjualan tiket pesawatnya. 

Skyscanner : https://www.skyscanner.co.id/
Facebook : https://www.facebook.com/SkyscannerIndonesia
Twitter : https://twitter.com/SkyscannerID
Instagram : https://www.instagram.com/skyscannerindonesia
Youtube : https://www.youtube.com/channel/UCIy5o-1kjGCAgHRT36r3iYw



BELUM TAHU KAPAN MAU TERBANG ?

Kalau saya harus mencari satu-persatu mana penawaran terbaik, tentu repot dan buang waktu. Lewat SKYSCANNER cara ini bisa diatasi.
Cara yang saya lakukan, masuk ke website SKYSCANNER, menentukan penerbangan dari- dan ke- seperti biasa dan menentukan bulan yang saya mau.


TAMPILAN DEPAN SKYSCANNER
Tiket pesawat murah
Yang saya pilih ini adalah bulan September 2017

Saya memilih bulan September, tanpa menentukan tanggalnya, kemudian saya mengklik  Cari Penerbangan   maka hasilnya akan tampak seperti di bawah ini :

Tiket pesawat murah
Estimasi ini dapat dipakai sebagai acuan
Pada gambar di atas akan terlihat estimasi harga terendah hingga tertinggi (perhatikan warna yang digunakan). Lalu klik harga yang diinginkan pada tanggal diharapkan.



ATAU MAU TERBANG DI HARI TERTENTU ?


Selain pencarian harga termurah, tentu pencarian untuk hari terbang tertentu sangat bisa. Disini saya mencoba menemukan penerbangan pada tanggal 6 September 2017:
Tiket pesawat murah
 Klik "Cari Penerbangan" dan temukan maskapai penerbangan pilihan; Ada Garuda Indonesia, Citilink, Lion Air, Silk Air, Sriwijaya Air, Singapore Airlines, dan lainnya.

Tiket pesawat murah
Manfaatkan pula fitur, “TERBAIK”TERMURAH”, dan “TERCEPAT” yang terdapat di atasnya. Jika saya mengklik   PESAN   pada Citilink, maka yang muncul adalah :
Beberapa tiket penjualan maskapai online seperti Nusatrip, Via.com, Citilink, Airpaz, Tiket2, Kiwi, Bravofly.
Tiket pesawat murah
Setelah itu klik  PESAN TIKET  yang akan langsung menuju situs penjualan tiket pesawat. So, transaksinya di sana lho. Perbedaan harga dengan situs penjualannya kemungkinan memang ada dan biasa, tindakan ini bisa dilakukan dengan cara me-refresh atau menghubungi SKYSCANNER .


MENGAPA SKYSCANNER ?


Bekerja sama dengan maskapai penerbangan dan situs tiket penjualan pesawat terbang di seluruh dunia, SKYSCANNER menjadi situs pencarian travel global terkemuka, delapan belas situsnya telah tersebar di seluruh dunia.

Dengan cara ini kita dapat membanding-bandingkan harga dan memilih yang sesuai dengan cepat.

Tidak hanya perkara pencarian tiket pesawat, SKYSCANNER juga membantu mencarikan penawaran terbaik untuk hotel dan sewa mobil. Yang paling penting semua ini, GRATIS. Untuk memudahkan lagi bergabung dengan newsletter dan unduh aplikasi 3-in-1 Skyscanner. Manfaatkan semua fitur yang digunakan.
Skyscanner Indonesia

Merencanakan perjalanan dengan SKYSCANNER adalah satu cara untuk menyamankan perjalanan. Sebagai pengingat buat saya, kalau tidak mau kepadatan di tempat wisata ya saya bisa memilih bukan pada hari libur umum. Ada kalender liburan khusus yang disediakan SKYSCANNER tiap-tiap tahunnya. Dan tidak lupa untuk memanfaatkan semua fitur yang diberikan.



Belajar dari #ahamoments perjalanan ini, jika ingin bepergian lagi saya ingin menyiapkan beberapa buah tangan, cukup yang ringan saja. Kita tidak tahu orang baik atau kawan yang mana akan kita jumpai. Memberikan sesuatu meski kecil saja bisa untuk mengikat tali persaudaraan.
Saya juga belajar dari carica, bila kita tidak bisa menikmatinya dengan cara biasa, kita bisa mengubahnya menjadi luar biasa. Sebagai pelaku usaha tentu ini menjadi ide yang menarik bagi saya dan suami. 

Sekali lagi, saya dan suami akan bepergian bersama lagi, namun bila perjalanan kami serasa pribadi dan kami akan punya cerita masing-masing tidaklah mengapa. 
Ya. Tidak mengapa, kalau pada akhirnya kisah berbeda itu menjadikan satu tujuan akhir yang baik :)

Salam,
Lidha Maul.

Tulisan ini diikutkan dalam lomba #SKYSCANNERINDONESIA
Untuk mengikutinya bisa mengklik #AHASKYSCANNER



Share:
Read More

5 Tempat Wisata di Jakarta yang Akan Membuat Liburan Keluarga Semakin Menyenangkan


Alhamdulillah, tidak terasa mau genap 10 hari Ramadhan. Tuing, tuing. Saya kok merasa cepat sekali ya.

Teman dan keluarga sudah ada yang siap-siap bikin kue, sudah ada yang ngelirik baju baru, sudah ada yang prepare jalan-jalan. Benar-benar nggak kerasa. Khusus jalan-jalan, emang persiapannya kudu jauh hari. Apalagi kalau jalan-jalannya bakalan jauh. Misalnya mau ke Jakarta.

Eits, sebentar. Kalau saya bilang Jakarta, jangan dulu dibayangkan kota yang nggak ramah, macet, polusi, atau banjir. Karena eh karena kerak telor itu nyamaan *sing a song* *suara serak*
Share:
Read More

Berwisata ke Malang dari Tahun ke Tahun (II)


Ini adalah lanjutan dari blogpost sebelumnya: yakni Pergi ke Agrowisata Batu, Coban Rondo, Museum Satwa, BNS,Cangar, Selecta dan Kali Brantas (Berwisata dari Tahun ke Tahun Part I)
Seperti kata mbak Nur Rochma, saya juga nggak khatam wisata ke Malang ini. Setiap tahun kami pergi ke Malang, ada saja yang baru buka.Yang lama belum keturutan dicicipin, ada lagi yang baru dibangun. Begitulah. Begitu deh.

Malah, di Part.2 ini saya agak melipir jauh ke Bromo. Eit, kawasan Bromo masih masuk Malang kok, tepatnya Malang Raya. 
Share:
Read More
,

Berwisata ke Malang dari Tahun ke Tahun (I)


Saya nggak pernah mengira bakal punya suami orang Jawa, apalagi yang punya rumah di Jawa tepatnya di Malang. Bagaimana pun juga di Balikpapan memang banyak suku Jawa, tapi tidak semua punya kampung halaman di Jawa.
Oleh karena itu setiap tahun kami menyempatkan pulang. Kadang, ada dua kali dalam setahun kami bisa pulang, tergantung harga tiket dan kebutuhan. Adakalanya, ketika kami pergi ke kota A-B di pulau Jawa, kami juga sempatkan pulang ke Malang.
Rasanya nggak enak nggak mampir, apalagi transportasi antar daerah di Pulau Jawa lebih mudah dibanding Kalimantan.

Share:
Read More
, ,

5 Destinasi Liburan Paling Menarik di Papua

5 Destinasi Liburan Paling Menarik di Papua

#SajianInformatif

Sebentar lagi, musim liburan akan tiba. Sudahkah teman-teman menentukan ke mana akan berlibur nanti? Jika belum, berlibur di dalam negeri bisa menjadi opsi karena ada banyak tempat wisata yang menakjubkan dan spektakuler di sini.

Salah satu destinasi wisata yang cukup terkenal dan mulai ramai diperbincangkan adalah Papua. Di sana, Ada banyak tempat wisata menarik yang eksotis dan menawarkan pengalaman wisata yang tidak akan pernah teman-teman lupakan. Salah satu destinasi wisata terkenal di Papua adalah Raja Ampat.
Share:
Read More

4 Resto di Bandung dengan Nuansa Alam

Hai, ada yang mau jalan-jalan ke Bandung?
Pasti udah pada tahu ya kalau Bandung termasuk kota yang jadi incaran wisata. Termasuk saya juga ngincer. Kota ini merupakan kota tujuan wisata yang sangat populer, tidak hanya di kalangan muda tapi juga semua generasi. Kok bisa? Ya karena di Bandung banyak tersedia wisata yang bisa dinikmati semua usia. Dari wisata kuliner, wisata belanja fashion, wisata kota, wisata alam.
Share:
Read More
, ,

MENAPAKI JEJAK KEMEWAHAN MASA SILAM

TRAVEL BERSAMA TRAVEL WISH TIXTON

Kembali ke Masa Lampau
Luc-Henri Fage dan Jean Michael Chazine, yang satu sutradara film dokumenter sedang satu lagi seorang etno-arkeolog adalah peneliti yang beruntung yang tidak hanya mengalami satu momentum namun berlipat ganda. Bagaimana tidak, di tahun 1994 mereka menyibak kabut  dan bisa dibilang “panen” besar setelah itu. Tidak ada yang pernah tahu, tidak ada yang pernah mengira. Ternyata merekalah yang pertama. Tahukah apa yang mereka panen? TANGAN-TANGAN MASA LALU
Share:
Read More

Menelusuri Pesona Kearifan Lokal Kampung Naga

Bagaimana rasanya hidup tanpa gadget? Tanpa elektrik? Tanpa dunia maya? Tanpa TV? Akankah serasa ke masa lampau ?

Bila demikian telusurilah Kampung Naga, tempat dimana kita tidak akan menemukan Naga satu pun.

Berada di di daerah perbatasan Tasikmalaya – Garut, singgah di Kampung Naga adalah kejadian yang tidak direncanakan. Saya dan suami pernah mengunjungi Tasikmalaya. Ketika itu kami berkendara menuju Garut dengan dua orang kawan suami; Pak Mugni – Pak Upik. Dua lelaki yang biasanya dipanggil ‘Kang’ namun saya terlampau kikuk menggunakan kata ini.
Share:
Read More
,

Berguru Ilmu Sereh di Jonggol Hingga Tamasya ke Bogor

JONGGOL

Siapa yang sih nggak pernah dengar kata Jonggol. Tempat yang sering jadi bahan olokan sejak saya masih kecil. Bahkan kini sampai ada lagunya. Jonggol ditandai sebagai tempat yang jauh. Dulu sekali, saya bahkan mengira Jonggol adalah negeri khayalan. Kenyataannya Jonggol adalah sebuah Kecamatan di Kabupaten Bogor. Mau dibilang jauh dari Jakarta ya bisa, dari ibukota Jawa Baratnya ya iya juga.

Karena awal April ini saya berkesempatan ke negeri antah-berantah itu tapi karena kami bertolak dari Cileungsi, jujur jauhnya tidak terasa.
Tahu, kenapa nggak kerasa?


Share:
Read More