Showing posts with label Literasi. Show all posts
Showing posts with label Literasi. Show all posts
,

Menumbuhkembangkan Literasi Lewat Keluarga dan Masyarakat


Awalnya saya ingin bersantai ketika membaca sebuah tulisan yang sedang viral akhir-akhir ini, sayangnya saya berubah menjadi tidak nyaman ketika menemukan penulisan di- yang tidak tepat. Ada di- yang disambung dengan kata tempat, dan di- yang terpisah dengan kata kerja. Entah bagaimana penggunaan di- yang ditulis tidak tepat oleh banyak para kreator konten saat ini mendadak menganggu saya. Padahal saya pun masih belum mahir menulis sesuai ejaan. Saya percaya dalam penulisan ini pun banyak terdapat kekeliruan. Mengemuka pertanyaan di benak saya, bagaimana jika kekeliruan ini berlanjut dan menambah kesalahan-kesalahan lain? Bagaimana kalau kita berhenti mempelajari bahasa Indonesia dan hanya menulis sesuai selera penulisan masing-masing? Tentunya identitas bangsa ini perlahan akan tergerus.

Kemampuan menulis sejalan dengan kemampuan membaca yang merupakan rangkaian dari literasi. Literasi tidak melulu tentang baca dan tulis. Meski demikian, literasi juga bisa bermakna kemampuan membaca yang lebih luas. Misalnya membaca tanda-tanda di alam, membaca situasi, membaca grafik, membaca bahasa tubuh lawan bicara, membaca infografis dan materi visual, termasuk juga membaca tanda-tanda fisik anak, bagi seorang ibu. Cara seseorang merespon sesuatu terkait dengan tingkat literasi yang ia miliki.

Berawal dari mengikuti kegiatan literasi yang digagas Balai Bahasa di kota saya, untuk pertama kalinya saya mengetahui bahwa literasi adalah kecakapan hidup yang dibutuhkan manusia. Ada enam literasi dasar yang perlu dikembangkan : literasi baca-tulis, literasi numerasi, literasi sains, literasi digital, literasi finansial, serta literasi budaya dan kewargaan.

Kebutuhan literasi bertumbuh seiring dengan perkembangan zaman. Banyak dampak positif yang kita rasakan di era ini. Namun, dampak negatif pun seakan tak mau kalah, tumbuh berdampingan di sisi positif. Isu-isu kemanusiaan, kesehatan, berita-berita hoaks, merebaknya penipuan, berita viral yang mengusik nurani, huru-hara akibat salah bicara, atau kasus-kasus permusuhan antar keluarga yang dimulai dari kegagalan berkomunikasi yang banyak terjadi di aplikasi whatsapp. Terdengar aneh, tapi ini adalah fakta. Untuk inilah dibutuhkan manusia yang berliterasi, tanggap terhadap sekitar, mampu merespon dengan tepat situasi yang ada.

Makna Literasi

Literasi berasal dari bahasa latin, literatus atau a learned person yang bermakna orang yang belajar. Kamus besar bahasa Indonesia mencatat bahwa literasi adalah kemampuan individu dalam mengolah informasi dan pengetahuan untuk kecakapan hidup. Literasi tidak selamanya merujuk pada kepekaan terhadap huruf belaka, melainkan melibatkan cakupan yang lebih luas pada keahlian berbicara, menghitung, peka terhadap kondisi dan situasi yang ada, hingga memecahkan masalah. Sebagai bentuk keberhasilannya disebut literat, yang bermakna melek atau terbukanya daya pikir. Sehingga demikian, literasi adalah modal untuk mampu secara cerdas bertahan dalam kehidupan.


Manfaat Literasi:

  1. Memperbaiki kemampuan berbahasa
  2. Mengembangkan minat baca-tulis lebih baik
  3. Meningkatkan wacana dan kecerdasan berpikir
  4. Tanggap terhadap situasi
  5. Mampu mengembangkan potensi diri secara tepat
  6. Mampu beradaptasi dengan lingkungan sosial
  7. Mampu memecahkan persoalan-persoalan kehidupan
  8. Sebagai identitas bangsa

Enam Literasi Dasar

1. Literasi Baca Tulis

Tidak salah jika disebutkan literasi baca tulis merupakan moyang literasi. Karena menulis dan membaca sudah diterapkan sejak manusia awal diciptakan, sejak manusia baru dilahirkan dan sebelum literasi lain berkembang. Hingga kini, literasi baca tulis mengalami perkembangan. Jika dulu dikenal dengan pemberantasan buta huruf sebagai gerakan menumbuhkan literasi baca tulis, masa kini praktik-praktik literasi baca tulis bertumbuh seiring dengan pertumbuhan informasi yang meluas. Membaca dan menulis pun erat kaitannya dengan kemampuan berbahasa, berbicara, sehingga mampu beradaptasi dengan lingkungan sosial. 

Di era melimpahnya informasi yang dapat menjadi positif dan negatif melalui media-media sosial dan konten-konten yang masif diproduksi individu-individu kreatif seperti saat ini, maka literasi baca tulis merupakan kecakapan mengolah dan menyaring informasi yang ada, menganalisis serta menanggapi secara cerdas sesuai kecakapan yang dibutuhkan.

Kita dapat menyebutkan bahwa masyarakat yang buta huruf saat ini akan sukar dicari. Sayangnya, ketidakbutaan huruf ini tidak diimbangi dengan kegemaran membaca dan menulis serta kontuinitas untuk terus belajar.

2. Literasi Numerasi

Siapa pun yang mendengar kata numerasi pasti akan mengaitkannya dengan angka dan perhitungan. Literasi numerasi adalah kemampuan yang mencakup penerapan keterampilan tentang segala hal yang berkaitan dengan bilangan, kemampuan membaca data dan grafik, bagan dan tabel, peka terhadap nilai-nilai matematis yang akan menjadi pemecahan persoalan kehidupan. Cerdas matematika tidak persis sama dengan cakap numerasi, misalkan ada siswa yang dapat menyelesaikan pembagian 5 : 3 sehingga nilainya 1,667 sementara dalam kehidupan ada perhitungan dan pertimbangan lain yang dibutuhkan, misalkan saat seorang ibu membagi lima kamar untuk 3 orang anaknya, tentu anak yang tersisa tidak akan dibagi menjadi desimal dan pecahan tertentu bukan? Seorang ibu yang tanggap ketika membaca termometer setelah dikenakan anaknya juga merupakan bagian literasi numerasi.

Literasi numerasi juga erat kaitannya dengan perkembangan peradaban zaman. Arsitektur, desain dan konstruksi-konstruksi bangunan yang ada sangat membutuhkan kecakapan numerasi. Seiring perkembangan abad ke-21, platform-platform yang diakses warga digital sudah sangat tentu sejalan dengan kecakapan numerasi.

3. Literasi Sains

Sains selalu terkait dengan ilmu pengetahuan. Di sekolah kita mengenal pelajaran ilmu pengetahuan alam, kimia, serta ilmu pengetahuan dalam bidang teknologi. Literasi sains berkaitan dengan pemanfaatan ilmunya yang akan mendorong kebaikan bagi bumi dan seisinya. Sebagai contoh, pelestarian hutan mangrove yang terus digalakkan seiring dengan meningkatnya pemahaman terhadap kemaslahatan mangrove bagi bumi. Contoh lain, gerakan mencuci tangan oleh pihak tertentu ternyata membuka kesadaran masyarakat untuk rajin menjaga kebersihan.

4. Literasi Digital

Masa kini adalah eranya teknologi. Manusia mana yang jemarinya belum pernah sekali pun menyentuh teknologi gawai? Dapat dikatakan dialah manusia yang tidak tersentuh perubahan zaman. Literasi digital mungkin adalah istilah termuda dibanding literasi lain. Meski begitu, melek digital sama pentingnya dengan lima literasi yang ada. Melek digital berarti mempersiapkan diri memilah, memroses, menyaring dan menyalurkan kecakapan secara tepat guna. Kemudahan mengakses gawai yang tak diimbangi pemahaman yang memadai akan membuat menjadi pribadi yang mudah terombang-ambing dan terprovokasi. Karena itu menjadi literat digital sangat dibutuhkan untuk menghadapi luapan teknologi digital yang tak terbendung, carut-marut informasi yang tanpa batas, tuntutan kreativitas yang tidak disertai muatan nilai positif, berita-berita hoaks, atau pun tindakan-tindakan penipuan.
literasi digital : menyikapi hoaks

5. Literasi Finansial

Jika Anda pernah tahu, bahwa seorang audit profesional dapat melihat ‘kecelakaan’ yang mungkin saja terjadi pada sebuah perusahaan hanya dengan melihat laporan keuangan perusahaan tersebut. Anda dan saya tidak perlu menjadi seorang audit untuk bisa melek finansial. Pada dasarnya literasi finansial tidak melulu berkaitan dengan satu sektor saja, misal perusahaan, sebagai satuan yang tumbuh di masyarakat, keluarga pun dihadapkan pada kemampuan untuk menjadi literat finansial. Literasi finansial berarti cerdas dalam mengelola sumber daya dana, terampil memanfaatkannya, jujur dan mampu mengalokasikan dengan tepat. Literasi finansial juga sangat mungkin berkaitan dengan penghematan yang dipikirkan seorang ibu dan aktifnya kegiatan-kegiatan UMKM di tengah masyarakat.

6. Literasi Budaya dan Kewargaan

Anda tentu pernah melihat vandalisme di seputar cagar budaya, atau melihat betapa bingungnya anak muda ketika ditanya jumlah sila Pancasila. Saya yakin Anda pernah melihatnya. Semua itu berkaitan dengan literasi budaya dan kewargaan. Negeri ini memiliki banyak budaya, suku dan ras. Di tengah keberagaman itu, mesti dibarengi dengan saling menghormati agar terjadi keselarasan. Karena bagaimana pun budaya merupakan identitas bangsa Indonesia. 

Itulah enam kecakapan hidup yang dibutuhkan dalam bernegara saat ini. 

Literasi ini saling bertalian satu dengan yang lain. Anda tidak bisa membuang literasi baca-tulis dan numerasi, jika ingin cerdas sains, dan tidak bisa lepas dari digital jika ingin meluaskan jejaring. Literasi finansial juga sangat dibutuhkan jika Anda tidak ingin terbebani kala mengakses informasi dan tentu saja ketika cakap di lima literasi, masih ada aturan-aturan pakem serta keterlibatan budaya yang harus Anda ikuti sebagai warga negara yang baik.


Keterlibatan Keluarga dan Masyarakat
Dalam Membudayakan Literasi

Ketika ada anak tetangga saya yang berbicara lancar menggunakan bahasa Indonesia baku, ternyata banyak yang masih menertawakan anak ini.

Kita tidak terbiasa menggunakan kata-kata baku. Kita terbiasa menggunakan ‘ndak’, ‘nggak’ dibanding kata ‘tidak’. Kita merasa lucu jika disapa ‘Anda’ dibanding ‘masnya’ atau ‘mbaknya’. Masyarakat kita merasa geli jika mendengar sebuah kalimat bertata SPOK, “kakak dan adik telah menyepelekan ucapan ibu tadi pagi,” yang dirasa lebih nyaman dibaca melalui teks dibanding dalam pengucapan keseharian. Pola ketidakterbiasaan ini menjadi sistemik di kalangan masyarakat. Penerapan bahasa Indonesia yang tepat ini masih terus ditimpa dengan penggunaan bahasa gaul yang dianggap lebih merakyat.

Bila kecakapan berbahasa ini terus menerus menurun maka mungkin saja bangsa ini bisa kehilangan identitas aslinya sebagai bangsa Indonesia. Ini baru dari sisi kecakapan berbahasa, yang menjadi bagian dari enam literasi dasar yang ada. 

Hal inilah yang tentu mendorong perlu adanya katalisator di tengah-tengah masyarakat untuk turut serta aktif membudayakan literasi, karena membudayakan literasi berarti mencerdaskan bangsa.

Peran Keluarga

Keluarga merupakan satuan kekerabatan terkecil yang hadir di tengah-tengah masyarakat. Keluarga kecil terdiri dari ayah, ibu dan anak. Sedangkan keluarga besar mencakup silsilah dari keluarga kecil tersebut. Orang tua punya peranan penting dalam membudayakan literasi di tengah keluarganya. Orang tua punya andil besar meningkatkan minat baca anak, dengan terlebih dahulu memiliki minat baca yang tinggi.
Ada beberapa cara agar anak memiliki minat baca tulis yang baik :
  • Menyediakan fasilitas buku sesuai kebutuhan anak.
  • Menghias rumah dengan poster-poster edukasi.
  • Mengajak anak bepergian ke perpustakaan atau lokasi TBM.
    saat di perpustakaan
  • Mengadakan permainan-permainan edukatif.
    memamerkan playdough di tangan kanan dan puzzle usang di tangan kirinya.
  • Berbincang dan berkomunikasi dengan ragam diksi.
  • Menjadi pendengar bagi anak.
  • Memahami kebutuhan belajar anak.
  • Mengajak anak menyalurkan kreativitasnya.
  • Membacakan buku sebelum tidur.
  • Mendongeng, berpantun atau bermain lempar kata.

Sedangkan untuk meningkatkan literasi di tengah keluarga antar anggota keluarga setu dengan lain dapat dilakukan hal-hal berikut:
  • Setiap anggota keluarga menyediakan porsi waktu untuk membaca teks dan melatih diri menulis setiap harinya.
  • Berkomunikasi efektif dengan anggota keluarga.
  • Pergi ke museum atau lokasi wisata dengan unsur budaya, sehingga wacana budaya bertambah.
  • Mengajak keluarga untuk cerdas finansial, misal bercocok tanam untuk menghemat pengeluaran, atau mengolah sumber daya yang ada untuk diolah menjadi usaha, termasuk juga mencatat pengeluaran dan pemasukan yang terjadi.
    hidroponik, urban farming yang menjadi solusi di tengah mahal dan sukarnya sayur di perkotaan
    • Mendiskusikan berita atau informasi yang diterima dengan anggota keluarga sebelum menyebarkannya.
    • Menyediakan waktu untuk mengikuti kelas-kelas edukasi dan kegiatan literasi.
      kegiatan literasi

    • Miliki falsafah dan prinsip hidup yang sesuai norma.

    Keluarga literat bisa menjadi pionir literasi bagi keluarga lain di sekitar. Mengajak anak-anak tetangga membaca buku yang ada di rumah kita sesuai usianya adalah cara sederhana membuka peluang keluarga lain untuk melakukan hal yang sama.


    Peran Masyarakat

    Masyarakat di Indonesia umumnya adalah keluarga-keluarga dan individu yang membentuk sekelompok manusia dalam lingkungan yang sama. Manusia-manusia ini terjalin dan berinteraksi untuk kemudian membentuk aturan yang sama. 

    Masyarakat memiliki banyak peran untuk munumbuhkembangkan literasi. Masyarakat yang literat menunjukkan bangsa yang literat pula.

    Adapun peran yang dapat dilakukan masyarakat dalam membudayakan literasi yakni:
    • Membuka taman-taman atau wadah baca di lingkungan sekitar
      bersama teman komunitas saat berada di TBM yang ada di masyarakat
      Pena dan Buku, TBM yang ada di pasar, menarik minat baca anak-anak sekitar pasar.
      (foto:  Pena dan Buku)
      • Mengadakan lomba cerdas cermat dengan soal-soal yang berkaitan enam literasi dasar, yang dapat diikuti anak-anak maupun dewasa. Lomba-lomba lain yang bisa dibuat misalnya lomba pantun, baca puisi, atau pidato. Lomba menggambar dan mewarnai. Lomba-lomba ini bisa disisipkan saat perayaan HUT RI.

      • Mengagendakan festival buku dan seni di kampung atau lingkungan.

      • Menerjunkan generasi muda untuk mengikuti kegiatan literasi yang nantinya dapat dapat menjadi pegiat dan penggiat literasi di lingkungan tempat ia tinggal.

      • Mengaktifkan dasawisma. Saya tidak tahu apakah ini bisa sama dengan lingkungan Anda. Dengan mengaktifkan dasawisma, perempuan-perempuan di lingkungan menjadi teredukasi, punya penyaluran yang tepat atas kreativitas yang dimiliki. Biasanya kegiatan dasawisma lebih mengarah pada literasi finansial. Sebagaimana kita tahu ‘the power of emak-emak’ adalah kekuatan terdahsyat di muka bumi yang sulit ditanggalkan, maka dari itu berikan wadah penyalurannya. 
      • Menyiapkan kampung literasi. Untuk menuju ke tahap ini, tentu dibutuhkan kematangan persiapan. Selain kampung literasi, masih ada tema lain, seperti kampung sains, kampung digital, dan kampung budaya.

        pojok-pojok baca di pinggiran jalan Kampung Literasi Balikpapan
        foto milik : kampoeng literasi bpn

      • Mengagendakan kegiatan pada hari Bumi atau hari ramah lingkungan. Mengapa bumi? Perlu diketahui bahwa literasi juga bermakna kecakapan membaca tanda-tanda alam. Bumi dan manusia saling membutuhkan. Oleh Tuhan, manusia diunggulkan sebagai pemimpin di muka bumi. Karena itu sangat dibutuhkan manusia-manusia literat. Literasi sains memungkinkan manusia memproduksi produk-produk ramah lingkungan. Literasi finansial menciptakan manusia memilah produk ramah di kantong dan ramah lingkungan. Literasi digital memungkinkan gerakan cinta bumi meluas ke lingkungan masyarakat lainnya, dan literasi numerasi memungkinkan manusia menggunakan sumber daya alam pada angka yang tepat.

      • Mengajak serta pemuka agama berperan dalam menumbuhkembangkan literasi.

      • Menyediakan hari tertentu dengan mengumpulkan masyarakat di lingkungan terkait untuk mendengarkan materi-materi yang berkaitan dengan perkembangan zaman. Misal : antisipasi hoaks, tema kesehatan, SDM dan lainnya.

      Penutup

      Dalam perspektif lain, saya melihat literasi sebagai proses berpikir yang membentuk manusia-manusia berakal yang syarat dasarnya adalah gemar membaca. ‘Iqro’ adalah kebiasaan yang harus diperjuangkan di tengah keluarga. Budaya membaca harus ditanamkan kepada anak-anak sejak dini. Mereka yang cinta membaca akan menjadi virus literasi bagi sekitar. 

      Lewat peran keluarga dan masyarakat inilah literasi kita berkembang dan akan menjadi ciri khas negeri ini. Mewujudkan masyarakat berdikari, melek digital, tidak mudah terprovokasi dan saling menghormati adalah cita-cita kita bersama. Literasi bisa dimulai dari langkah kecil dan itu bisa dimulai dari langkah kita sendiri.


      ***

      -----------------------------------------
      Sumber bacaan :
      Modul literasi baca-tulis
      https://id.wikipedia.org/wiki/Literasi


      #opini
      #SahabatKeluarga
      #LiterasiKeluarga







      Share:
      Read More
      , , , , , , , , , ,

      BELAJAR MEMBUAT SINOPSIS YANG FILMIS? ADA DI WORKSHOP WRITERPRENEUR


      Ketika berteman dengan blogger buku, saya baru tahu bahwa tulisan di belakang sebuah buku bukanlah sinopsis, melainkan blurb. Tulisan yang bersifat menjual, yang berguna untuk memancing naluri pembaca. Saya selalu mengira itu sinopsis. Lalu saya yakin sekali, betapa agak memalukannya diri ini.
      (Betapa agak = agak dengan level tertinggi *halah*)
      Saya yang suka ngaku-ngaku cinta buku ini, minim sekali pemahaman tentang buku. Padahal mimpinya pengen punya novel solo. Sementara ini baru rilis 8 buku antologi, kalau pun ada buku solo itu pun baru buku nikah.
      Eit, tapi itu pun mesti duet dulu ya.
      Lupa -_-
      Share:
      Read More