Showing posts with label Gardening. Show all posts
Showing posts with label Gardening. Show all posts
, , , ,

Sentuhan Surgawi di Tanah Dieng


Terusik Kenangan Dieng 

Tidak sekali pun terpikir bagi saya pergi ke Dieng. Seberapa banyak saya mendengar kata ‘Dieng’, pesona Dieng, tayangan tentang Dieng, tidak pernah ada mimpi untuk berkunjung ke negeri atas awan ini. Bukan karena saya tidak terpesona, atau tidak berhasrat mencicipi sebuah keindahan. Hanya saja, bermimpi terlalu indah membuat saya khawatir terperosok. Apalah saya yang nun jauh dari Pulau Jawa ini dengan Dieng yang tinggi di sana. Mungkin ini kata yang tidak terlalu sempurna untuk menggambarkan, tapi kira-kira begitu yang saya rasakan saat itu. 

Satu hari sebelum melakukan perjalanan ke Dieng, saya berhenti memikirkan ingin ke suatu tempat A, B maupun C. Bisa berkunjung ke Wonosobo saja tanpa diduga, menjadi bentuk syukur yang berlipat. Adalah kawan suami yang saat itu menjemput di Purwokerto, yang kami pikir beliau ini tinggal di Purwokerto tersebut. Nyatanya, perjalanan kami berlanjut hingga ke Wonosobo, menuju sebuah rumah nan sejuk di balik Gunung Sumbing. 

Saya terpukau. 

Ketertakjuban memandang Sumbing dan menikmati suasana Wonosobo rupanya masih ditambah dengan ajakan ke Dieng. Dieng? Dataran tinggi itu? yang katanya negeri di atas awan? pikir saya. Malam sebelum keberangkatan, saya masih berharap cemas. Jangan-jangan setelah terbangun, semua ajakan itu dibatalkan.

Berkunjung ke Dataran Tinggi Dieng

Syukurlah semua tidak berakhir di atas harapan semata. 

Saya akhirnya benar-bernar bertolak ke Dieng. Selama perjalanan saya disuguhkan narasi Dieng dari sebuah audio yang diputar kawan. Selama perjalanan saya mencerna penjelasan yang indah itu selaras dengan keterpesonaan saya terhadap pemandangan di depan mata yang begitu memukau. Saya merasa seperti anak kecil yang menerima hadiah, menganga dan terwow sepanjang jalan. 
pemandangan sepanjang perjalanan

Dari penuturan kawan, saya jadi tahu bahwa Dieng terletak di dua kabupaten, yakni Kabupaten Wonosobo dan Kabupaten Banjarnegara. Dieng berasal dari kata ‘di’ dan ‘hyang’ atau tempat Dewa. Sewaktu saya mendengar sebutan tempat para Dewa bersemayam, saya mengaitkan dengan keindahannya . Bebukitan yang berombak, lereng yang berundak, hijau yang tumpah di daratan, candi dan kawah adiwarna, hingga dersik yang menggelitik. Bahkan semua itu pun masih belum cukup meggambarkan Dieng. Satu tempat sejuta pesona. Datang saja ke Dieng, dan nyaris semua tempat wisata yang kau inginkan tersedia. Sebuah negeri kayangan. 

Saya bersyukur pada akhirnya bisa menikmati matahari terbit di Sikunir, mampir di Telaga Cebong, mengenal Kawah Sikidang, berjalan-jalan melihat candi-candi, menuju Telaga Pengilon dan menengok Gua Semar serta Gua Sumur. 
pagi hari di Sikunir

kawah Sikidang


Berada di ketinggian rata-rata sekitar 2000 m di atas permukaan laut, wajar bila Dieng disebut negeri di atas awan. Kabut eksotik mengawang di sekitarnya. Dingin memeluk siapa pun yang berada di sana. Saya yang memakai jaket besar kedodoran, berkemul sarung tangan pun masih kedinginan. Apa mau dikata, orang Kalimantan yang terbiasa dengan dekapan cuaca hangat ini, jadi merasa lugu di negeri yang dingin. 

Dieng merupakan dataran yang di bawahnya terdapat kaldera, masih tergolong kawasan aktif vulkanik di Jawa Tengah. Saya berasumsi inilah mengapa Dieng menjadi wilayah subur dengan aktivitas pertanian sebagai sumber penghasilan utama masyarakat di negeri atas awan ini. 

Ada hal lucu ketika mengingat tanaman dan komoditas Dieng. Orang yang mengajak kami menyebutkan tanaman yang terhampar dan yang saya tunjuk, bahwa di sana ada kentang Dieng, pepaya Dieng, cabai Dieng, dan saya mengangguk-angguk karena merasa lucu. 
Mengapa begitu mudah menamakannya dengan kata Dieng? Sampai kemudian saya tahu, misal saja pepaya Dieng atau lebih dikenal dengan carica (baca : karika) memang adalah pepaya Dieng. Maksudnya, pepaya ini bukan jenis pepaya biasa, melainkan pepaya spesial. Carica hanya tumbuh di Dieng, di udaranya yang sejuk dan ketinggiannya yang terjaga. Jika membawa tanaman pepaya carica ke daerah lain, kemungkinan akan menjadi pepaya biasa. 

Sececah Keunikan Surgawi Terhampar di Dieng

Dari Kentang, Carica dan Cabai di Dieng 

Surga adalah kemewahan tiada tara. Telah termaktub dalam kitab suci. Kata surga juga menjadi pengibaratan bagi keelokan tempat-tempat di muka bumi. Datang saja ke Dieng, dan kau akan merasakanketertarikan akan pesona Dieng dan kalau kau punya perasaan mendalam, kau pasti akan kagum pada Sang Penciptanya. Sungguh luar biasa apa yang telah Dia ciptakan di Tanah Dieng. 

Setibanya di Dieng kami diajak untuk singgah di rumah orang tua dan saudara kawan. Keduanya adalah petani. Di belakang rumahnya saya bisa melihat tanaman kentang, wortel berpadu dengan kolam berisi ikan-ikan yang ramai. Seingat saya mereka pun baru saja panen kentang. Kami makan dari hasil pertanian Dieng dibarengi suguhan cabai Dieng. Lagi-lagi kawan saya berkata bahwa cabai Dieng itu istimewa, cabai gendut yang super pedas, dan lagi-lagi saya mengangguk, sambil menahan pedas.
lahan pertanian yang sempat terpotret

Saya suka tanah Dieng ini. Di waktu siang, saya menyempatkan menyentuh tanahnya. Mungkin agak norak bagi Anda yang membaca ini. Tidak mengapa. Saya ingat tanahnya hitam, tidak keras, cukup lembab, melambangkan tanah yang subur. Sebuah sumber menyebutkan bahwa tanah Dieng berkemampuan untuk menyediakan lengas yang tinggi, yang dibutuhkan tanaman. Kesuburannya berasal dari unsur haranya, dan serapan pupuk organik yang baik. Unsur lain melengkapi alasan mengapa kentang menjadi komoditi utama dalam pertanian, berkat keempukan kentang Dieng yang sudah ternama.
petani kentang di Dieng
sumber : https://lifestyle.okezone.com

Carica dan Cabai dari Dieng Plateau 
Selain kentang, saya masih takjub dengan dua tanaman ini. Sebagai penggemar tanaman dan kebun rumahan, baru kali itu saya menemui pepaya dan cabai yang unik. 

Menurut sejarah masyarakat di sana, asal mula carica disebut-sebut dibawa oleh Pemerintah Hindia Belanda pada masa dulu dan dikembangkan di Dieng. Hingga akhirnya carica menjadi pepaya khas Dieng dan juga menjadi oleh-oleh khas Dieng. Sebut saja manisan carica, dan orang-orang pasti mengira Anda dari Dieng. Carica punya sebutan lain yakni pepaya gunung, karena memang hanya cocok ditanam di daerah dataran tinggi, sekitar 1500 m di atas permukaan laut. 
pepaya carica
Sumber : Wikipedia

Lain carica, lain pula cabai Dieng. Kawan saya ini menjelaskan bahwa cabai Dieng yang tingkat kepedasannya menjadi ciri khas ini bernama cabai gendol atau nama lainnya habanero. Sewaktu mendengar habanero, baru saya merasa pernah mendengarnya. Kalau tidak salah di kalangan pecinta tanaman cabai. Tingkat kepedasan cabai habareno mencapai 100.000-350.000 skala scoville (skala yang menjadi tolok ukur tingkat kepedasan cabai). Semakin tinggi skalanya, semakin pedas rasanya.
cabai gendol
sumber : Wikipedia

Sempat saya bertanya, mengapa cabai yang begitu pedas yang dibudidayakan? Jawabannya sungguh sederhana dan mengena. Wajar saja, karea Dieng Plateau merupakan daerah yang dingin, jadi cocok dengan yang super pedas. Oh, iya benar juga, saya pikir. Entah mengapa saat itu, saya jadi telat mikir. 

Meneropong Dieng, Warisan Budaya yang Komplit

Sayangnya, sebuah kesedihan sempat merayap di benak. Obrolan menarik yang diceritakan kemudian tentang pertanian di Dieng adalah pada tahun yang berkelanjutan, telah terjadi degradasi lahan, di mana lahan yang seharusnya menjadi lahan konservasi berubah menjadi lahan pertanian. Tentu ini miris, mengingat dalam waktu yang lama, kondisi ini bisa saja akan merusak Dieng Plateau. Obrolan kami memang tidak banyak membeberkan data. Sampai saya menemukan artikel-artikel yang membahas lahan Dieng yang semakin kritis akibat cara tanam yang tidak ramah lingkungan.

Dulu, saya berpikir kerusakan warisan budaya mungkin lebih banyak disebabkan vandalisme. Nyatanya, warisan budaya masih terbagi menjadi Warisan Budaya Benda dan Warisan Budaya Takbenda. Termasuk Warisan Budaya Takbenda adalah adat (kebiasaan) masyarakat serta pengetahuan mengenai alam baik mikrokosmos, makrokosmos, adaptasi, dan pengolahan alam. Bagaimana mempertahankan alam agar tidak menjadi rusak dan mengalami bencana adalah juga bagian dari mempertahankan warisan budaya. 

Mengapa demikian ?
Karena negeri kayangan ini sungguh unik. Di atasnya terhampar banyak situs cagar budaya yang merupakan dari Warisan Budaya berwujud fisik. Ada komplek percandian, artefak, bahkan penemuan candi bukan hal aneh di Dieng hingga sekarang. Selain itu, masih ada adat istiadat, kesenian, lansekap, cerita-cerita rakyat dan penemuan benda-benda kuno yang juga termasuk warisan budaya. Melindungi alamnya, melindungi pula warisan di atasnya.

Menjaga Tanah Dieng, Menjaga Warisan Budaya, Menjaga Negeri


Keunggulan Dieng itu terletak pada keindahan alam, tradisi dan peninggalan sejarahnya. Semua itu butuh upaya untuk dilestarikan. Sementara kerusakan alam yang dilakukan manusia perlahan-lahan dapat merusak Warisan Budaya yang bernapas di Dieng. Bahkan wacana Dieng Plateau sebagai situs warisan dunia pernah dikemukakan. Siapa yang tidak bangga jika demikian? Namun, perlindungan Warisan Budaya tidak mungkin meninggalkan perlindungan terhadap warisan lainnya. Adaptasi dan kebiasaan masyarakat yang tidak berkenan terhadap penjagaan alam, seyogyanya patut dibenahi. Dengan demikian, tradisi elok masyarakatnya dalam melestarikan lingkungan menjadi kombinasi dengan keunggulan lain di Dieng yang patut dipertahankan. 

Dieng, sececah pesona surga ada di tempat ini. Ada sentuhan surgawi di tanah Dieng. dari datarannya rata hingga yang berlekuk. Surga mana yang tidak ingin kita jaga? Satu bentuk penjagaan surga adalah tidak mengabaikan larangan. Upaya perlindungan Warisan Budaya sangat membutuhkan masyarakat yang terbina. Ini bisa dimulai dari petani-petani muda, dengan mengarahkan pada pola pikir yang berorientasi cinta alam, maka kiat bertaninya pun akan mengedepankan perlindungan terhadap alam. Hutan di Dieng yang menipis bisa ditanami kembali. Dieng bisa menjadi penghasil komoditi selain kentang. Ini justru akan menambah kekayaan alam di Dieng.

Sampai sekarang, melukiskan keindahan negeri kayangan Dieng lewat kata-kata ternyata masih tidak mudah bagi saya. Saya masih berharap bisa merasakan sejuknya Dieng kembali, menyusuri danaunya, mencicipi carica, menanti matahari terbit, duduk terpukau di atas awan sembari menatap barisan pegunungan, dan tak lupa bersyukur pada-Nya. Semoga.

***

Bahan Bacaan :
sececah = secolek, https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/sececah
https://nasih.files.wordpress.com/2011/05/2010-kesuburan-lahan-petani-kentang-di-dieng.pdf
https://id.wikipedia.org/wiki/Warisan_Budaya_Takbenda_Indonesia
https://lifestyle.okezone.com/read/2015/09/04/298/1208126/kentang-dieng-terkenal-karena-empuknya








Share:
Read More
, , , , , , , ,

Menumbuhkan Cinta Hutan dengan Pangan dari Hutan



Nikmatnya Makanan Hutan Dalam Kisah Ibu

Berpuluh-puluh tahun lalu, ibu selalu menceritakan kepada saya betapa indah masa kecilnya bersama buah-buahan eksotis dan masakan dari pedalaman Kalimantan. Beliau lahir dan menikmati masa kecil di sebuah kampung dekat hutan di Kalimantan Selatan. Sedangkan saya lahir di Kota Balikpapan, Kalimantan Timur. Saya terbawa masuk dalam kisah ibu, tentang nikmatnya memetik sendiri durian berwarna merah, memanjat pohon langsat, mencicipi rasa mangga yang manis dalam ramania, makan buah kapul, duku hutan (ihau), tarap, maritam (rambutan hutan), putaran, hambawang, lahung, keledang, kasturi, rumbia, mundar. Belum lagi sayurannya yang diambil dari buah-buah langka dan masyarakatnya yang mencari sendiri kulat (jamur) untuk disup. Semua langsung terbayang lezatnya.
Share:
Read More
, , , ,

PEREMPUAN YANG BANGGA MEMBAGI KISAHNYA DARI RUMAH

Bangga Menjadi Blogger
photo by Arnel Hasanovic from unsplash.com. 
Edited by me.

Saya teringat secarik kertas yang telah saya selipkan berulang kali dalam map berisi kertas-kertas dan catatan pekerjaan. Sehelai kertas yang saya cetak mendadak di sebuah warnet, setelah beberapa jam sibuk mencari dan mengolah materi ajar. Belasan tahun lalu, tempat saya mengajar belum dibarengi jaringan internet yang memadai. Kertas yang saya selipkan di map kerja bukanlah bagian dari bahan mengajar, melainkan informasi tentang lomba menulis untuk guru. Meski demikian, nilainya setara dengan informasi kenaikan gaji. 

Setidaknya pada saat itu.
Share:
Read More
, , , , , , ,

DI BAWAH NAUNGAN SAKURA LOKAL BERWARNA KUNING

Tabebuya - Sakura Tropis

Menjelang magrib di Kota Batu (JaTim), suami menggegas motor mencari masjid terdekat. Kami nyaris terlambat saat itu. Setibanya ‘entah di mana’ kami pun menjumpai masjid dengan bunga-bunga kuning menyala di pinggir. Saya sempat bertanya bunga apa ini, kok indah banget? Lalu, seorang Bapak lewat dan berujar : Tabebuya

Saat itu, saya kira salah dengar, dan berharap suami bisa mengulangnya. Maklum, yang saya tahu kata “Tabe” berarti permisi, berdasarkan tema-teman saya yang berasal dari suku Bugis. Jadi, seakan si Bapak yang lewat itu berkata : “Permisi-Buya”, sementara saya sedang berada di Tanah Jawa.
Share:
Read More
,

BUAH LANGKA DENGAN CARA MEMBUKANYA YANG UNIK


Buah Kecapi

Pada masanya.
Seorang Ibu duduk membuka dagangannya, mengamparkan sebuah baki enamel berwarna putih bercorak bunga. Di atas bakinya terhampar buah keras berwarna kuning. Anak-anak SD mengitarinya sambil mengeluarkan tebakan : 


“ Buah, buah apa yang namanya sama kayak alat musik?” 

Sebagian anak-anak menjawab, sebagian lagi, melempar candaan.

Di sisi baki itu, tersedia wadah lain berisi garam bercampur potongan cabai.Meski setiap hari berjualan buah itu, tapi setiap tahunnya, buah itu selalu berkenan muncul.
Saya tidak tahu, apakah memori saya dan kalian akan sama.
Tapi, ini memang kenangan saya sewaktu kecil.

Buah ini bernama KECAPI.

Saya percaya masih banyak yang tahu buah ini, meski beberapa anak kecil (yang saya tanyai) sempat kebingungan dan bertanya-tanya, buah apa ini namanya? Emang bisa dimakan?
Waktu kecil saya penggemar kecapi. (Ya ya ya, sampai sekarang juga) Setiap kali ada yang menjual kecapi, saya pasti membelinya. Pasti.Jujur, mungkin karena buah ini tergolong buah murah(an). 

Apalah menyebutnya : tidak ada gizinya? Tidak nutrisinya? tidak ada dagingnya?
Mungkin karena itu, buah kecapi sekarang jarang terlihat, jarang ada yang menjualnya. Jangan harap 5 tahun sekali bisa melihat buah ini,1 tahun sekali saja belum tentu.

Buah Kecapi
Satu pohon milik teman yang berdekatan dengan rumah saya saat masih kecil, sudah ditebang. Sedangkan buah kecapi yang baru-baru ini saya temukan, saya beli ketika berjalan-jalan ke sebuah perkampungan, tepat di sebuah warung. Di belakang warung tersebut, masih nampak pohon kecapi. Pohonnya besar, dengan penampakan bulatan-bulatan kuning menyebar. Ramai sekali kecapinya. Si pemilik warung berpikir, daripada berjatuhan, lebih baik dia coba menjual. Dan tepat itulah, saya lewat di depan warungnya. Pohon kecapi memang besar, dan si pemilik warung memang punya lahan yang luas.


saya beli di suatu warung yang di belakangnya terdapat pohon kecapi
Harganya kecapi itu hanya Rp 5.000 per bungkus (1 bungkus lebih dari 1kg). Saya katakan, saya mau yang masih nampak batangnya. Dan pemilik warung mengiyakan saja... karena selain buah kecapi jarang ada yang menjual, sebenarnya buah kecapi juga jarang ada yang suka. Karena itu, ketika saya minta kecapi yang masih banyak daun dan batangnya (karena yang sudah dibungkus tidak ada batangnya) si pemilik warung rela mengambil kecapi-kecapi yang masih berserakan. Bahkan ia lebihkan. Saya memborong sampai 10K. 

Sebenarnya kecapi-kecapi ini hanya akan saya makan sendirian. Suami manalah dia suka, Cmumut apalagi. 

Satu kenangan tentang buah kecapi ini adalah teknik membukanya. Dulu, kala masih SD, kami membuka kecapi dengan cara menjepitnya di pintu. Lalu kreek!! biji manis putih buah kecapi yang mengandung asem itu terlihat. Tapi itu cara praktisnya.

Cara kalemnya, ya dengan dikupas.
Buah Kecapi
menurut saya, ukuran buah kecapi yang saya beli ini tidak begitu besar
Buah Kecapi
cara praktis membuka buah kecapi : jepit di pintu
Buah Kecapi
kroakk! pecah sudah, tinggal dimakan saja. Eh diemut-emut.

Cara makan buah kecapi ini sederhana sekali, karena dagingnya sedikit, dan sebagian rasa manisnya justru menempel pada biji, maka makannya cukup diemut-emut saja. Kalau suka bisa dicocol garam plus cabai. 

Mungkin.. yah hanya mungkin, karena itu tidak banyak yang suka buah kecapi. 

Buah kecapi juga punya getah, jangan harap setelah dibuka bisa terlihat putih seterusnya. Jika sudah dibuka, perlahan buah kecapi akan berubah menjadi kecokelatan.
 
Buah Kecapi
penampakan di dalam buah kecapi

Buah Kecapi

Buah Kecapi
biasanya 1 buah kecapi mengandung 4-5 biji kecapi
Dari beberapa artikel disebutkan, bahwa buah kecapi berkasiat untuk mengatasi kram perut, melancarkan pencernaan, mengandung anti oksidan, anti kanker, dan bisa untuk mengurangi kolesterol. Entah penelitian ilmiahnya bagaimana, saya tidak memahaminya. 

Karena terbiasa hanya memakan saja, saya juga tidak tahu apakah orang-orang punya cerita lain tentang buah kecapi ini? Mungkinkah bisa dijadikan sebagai campuran masakan? Atau dibuat minuman? Atau dibuat kreativitas lain? Entahlah, saya kurang tahu.


Mungkin kalian yang membaca punya cerita yang berbeda dari saya. Boleh banget berbagi di sini :)



Salam,
Lidha Maul
Share:
Read More
, , , , ,

Sampah Plastik, Tema Hari Lingkungan Hidup 2018 dan Mini Giveaway



Sudah pada tahu ya, tanggal 5 Juni 2018 lalu adalah ‘Hari Lingkungan Hidup Sedunia’. Setiap tahun tema yang diangkat berbeda. Tahun 2017 misalnya, isu yang dibahas adalah ‘Connecting People to Nature’. Sedangkan untuk tahun 2018 ini, tema yang diangkat adalah “Beat Plastic Pollution” atau ‘Kendalikan Sampah Plastik’ dengan menjadikan India sebagai host nation alias tuan rumah penyelenggara Hari Lingkungan Hidup Sedunia. India dipercaya sebagai negara yang dapat membantu dirinya sendiri dalam penanganan sampah, lewat masyarakatnya yang kreatif dan kebijakan pemerintahnya. Hanya India yang dapat mengubah India. Berdasarkan laporan tahun 2015-2016, diketahui bahwa India  menggunakan sekitar 900.000 ton PET (polietilena tereftalatn atau plastik #1) untuk dijadikan botol minuman ringan, furnitur, karpet, panel, dan lain-lain. Sekitar 25.000 ton sampah plastik dihasilkan setiap tahun di India, yang hanya 60 persen, didaur ulang. Dari data yang ada, Delhi menyumbang 689,52 ton sampah plastik disusul oleh Chennai (429,39 ton) lalu Mumbai.

Oke, stop menceritakan India. Lalu, bagaimana dengan Indonesia sendiri?
Ternyata terdapat fakta menyedihkan bahwa Indonesia menempati ranking ke-2 di dunia dari riset 20 negara yang membuang sampah plastik ke laut. Sampah plastik sendiri sekitar 14% dari total sampah yang ada baik di darat maupun yang dibuang ke laut. Waw, ranking kedua. Serem sih buat saya, apalagi Indonesia punya sebutan negara maritim. (Riset ini sekitar tahun 2010, yang diterbitkan tahun 2015. Entah tahun 2017-2018, kemungkinan bertambah.)

Ada yang pernah melihat foto kuda laut menggandeng cotton bud ? Foto viral yang beredar tahun 2017? Saya sempat melihatnya, di antara rasa kagum dan sedih.
Viral yang menyedihkan
Sumber : IG @justinhofman

Foto di atas dihasilkan oleh Justin Hofman, seorang fotografer wildlife yang biasa bekerja untuk Natgeo. Fotonya telah mendapat penghargaan, foto yang tadi tidak mau ia publikasikan akhirnya diposting di Instagram agar semua orang melihatnya. Tidak hanya itu, Justin Hofman juga membuat tag lokasi. Tahu dimana? Sumbawa, Nusa Tenggara, Indonesia.
Viral yang menyedihkan.



Mengapa Plastik ?
Memakai plastik itu memang praktis, hidup jadi mudah ketika plastik ditemukan. Saya sendiri masih banyak menggunakan plastik. Selain mudah, plastik memang lebih murah. Sayangnya, penggunaan plastik mengancam kelestarian bumi. Plastik adalah bahan yang sukar diurai oleh alam. Butuh 100 tahun untuk bisa hancur. Pabrik plastik pertama kali didirikan tahun 1910 sedangkan tahun 1930 produk plastik mulai dikenalkan di masyarakat. Itu artinya, ada plastik yang baru hancur tahun 2010. Memang, sekarang sudah ada plastik biodegradable yang lebih cepat terurai oleh alam. Juga ada inovasi plastik dari serat singkong. Tapi, setahu saya penerapan ini lebih banyak pada penggunaan kantong plastik dan botol minuman. Sementara masih ada jenis-jenis plastik lainnya yang sukar terurai.

Beberapa tahun lalu, Pemerintah menerapkan kantong plastik berbayar setiap kali berbelanja. Saya masih ingat, saat itu banyak teman-teman blogger yang menuliskan opini mereka. Upaya ini sebenarnya punya niat baik untuk mengurangi penggunaan kantong plastik, tapi sayangnya tidak cukup berhasil. Masyarakat masih sangat rela hati membayar 200-500perak demi mendapat kantong plastik daripada membawa keranjang belanja sendiri dari rumah. Ya, ribet juga kali ya.

Sementara itu, walaupun ada peraturan tentang sampah publik dan regulasi produksi massal plastik, tapi dari kacamata saya pribadi, masyarakat masih belum merasakannya. Misal, tempat-tempat pembuangan sampah di perumahan. Sejauh ini, memang ada pemisahan jenis-jenis sampah di beberapa lokasi seperti arena wisata, fasilitas publik, jalan-jalan umum yang nantinya akan dibawa ke TPA. Tapi, di dekat rumah sendiri, sampahnya super duper bercampur baur. Hal yang mengesalkan juga adalah, ketika melihat fenomena masyarakat yang enggan mengedukasi dirinya sendiri dalam membuang sampah. Masih banyak masyarakat yang membuang limbah plastik ke perairan. 

A post shared by Lidha Maul (@bulirjeruk) on
(Sampah plastik di Waduk Manggar, yang di pinggir bisa diambil, yang di tengah?)

Saya mencatat beberapa alasan mengapa orang-orang mudah banget lempar sampah (plastik) ke alam :

1) “Tidak ada yang melihat.”

Kota Balikpapan memang menerapkan batas waktu pembuangan sampah, lewat dari batas waktu yang ditentukan akan dikenai denda. Tapi, beberapa kali saya melihat orang-orang melempar sampah dari kendaraan, saat jalan atau saat berwisata, tempat-tempat dimana tidak ada pengawasan setiap saat. Saya jadi berpikir apa iya, harus diawasi setiap saat? Apa harus terciduk dulu lalu dikirim ke akun gosip?

2) “Biar aja, ntar ada petugas bersih-bersihnya juga.”
Saya tidak tahu di kota-kota lain. Namun, di Kota Balikpapan ada petugas aktif yang membersihkan jalan-jalan dengan berseragam khusus. Sayangnya, masih ada saja pola pikir anti ribet negatif yang membuat dalil semena-mena : selama ada petugas, buang sampah sebiji-dua biji tak apalah. Tindakan seperti ini sebenarnya layak disebut semena-mena.

3)  “Alah, semua juga banyak yang buang sampah di sini.”
Lho kok? Bukannya menjadi insipirasi, malah terkontaminasi penyakit buang sampah sembarangan. Pernah mendengar pernyataan seperti ini?

4) Segan menyimpan sementara
Sedari kecil saya diajarkan untuk menyimpan sementara sampah yang saya miliki apabila tidak menemukan tempat sampah. Caranya, sampah disimpan di dalam tas atau saku. Ternyata banyak juga yang tidak menyukai cara ini. Omong-omong, tas saya sendiri kerap penuh sampah karena ternyata benar-benar lupa membuangnya. Mungkin, bagi orang lain ini memang menyebalkan.

Sebenarnya pengelolaan sampah plastik bisa menjadi satu upaya wirausaha, karena di pasaran sudah disediakan Mesin Pencacah Plastik yang dapat dibeli oleh individu. Memang, karena tipe plastik berbeda-beda (PET, LDPE, PVC, HDPE, PP, dan PS) sehingga pengolahannya pun berbeda.

Hal ini seperti yang terjadi di Kamikatsu, Jepang – The Zero Waste Town– dimana pemerintahnya sangat serius menangani sampah. Mereka memisahkan 34 kategori sampah dan memiliki target pada tahun 2020 menjadi 100% Zero Waste. Sangat inspiratif untuk bisa ditiru negeri ini.




Zero Waste :
Lauren Singer dan Sampah yang Hanya Sestoples

Zero Waste adalah konsep meminimalisir sampah dan mengelolanya dengan prinsip 3R (Reuse, Reduce, Recycle). Istilah Zero Waste kemudian menjadi bagian gaya hidup kekinian yang positif. Banyak sekali praktisi Zero Waste yang mampu menginspirasi kita, contohnya adalah Lauren Singer (@trashisfortossers) yang sukses menginspirasi banyak orang untuk mengubah gaya hidupnya. Bagaimana tidak, dalam 5 tahun Lauren Singer  hanya mengumpulkan sampah sebanyak 1 stoples. Sekali lagi 1 stoples saja, yang rata-rata berisi sampah label baju.
Lauren Singer
Sumber : IG @trashisfortossers

WAW. Saya kagumnya kebangetan sekaligus juga ‘ngeri’. Itu artinya Lauren Singer tidak pernah beli Indom*e, belanja sayur bungkusan, apalagi beli sebungkus micin. Lebih membingungkan lagi (bagi saya) berarti Lauren Singer tidak juga menggunakan pembalut instan.

Ternyata benar, Lauren berbelanja menggunakan keranjang atau kain pembungkus, memasak sendiri masakannya, menggunakan stoples kaca, membuat pasta gigi dan sampo sendiri, dan untuk urusan kewanitaan Lauren memilih menggunakan cawan menstruasi dan menganjurkan wanita lain menggunakan menspad kain.

Luar biasa bukan ? Pastinya seorang Lauren Singer tidak akan ribut-ribut kehilangan Tupperw*re.  

Oke, cukup menceritakan Lauren Singer.

Lalu, sebenarnya apa Reduce, Reuse, Repurpose, dan Recycle itu ? Untuk contoh sampahnya, akan saya pakai plastik saja ya, sesuai tema Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2018, #BeatPlasticPollution :
Botol plastik yang dimanfaatkan ulang

1. Reduce
Berarti mengurangi volume sampah. Misalnya : dahulu membuang sampah plastik satu keranjang, kemudian volumenya berkurang hanya ¼ saja. Caranya : memilih tidak menggunakan kantong plastik, memilih menggunakan gelas daripada plastik saat membeli es kelapa.

2. Reuse
Menggunakan kembali. Karena plastik merupakan wadah awet, sehingga bisa digunakan berulang kali. Misalnya botol minuman plastik bisa dipakai kembali sebagai tempat pensil.

3. Repurpose
Biasanya reuse dan repurpose agak sulit membedakan. Repurpose berarti mengubah tujuan. Misalnya, jika botol minuman plastik diubah menjadi hiasan dinding.

4. Recycle
Alias daur ulang, dimana ada mekanisme pengolahan kembali menjadi bentuk yang berbeda. Contoh lagi, mobil mainan plastik didaur ulang menjadi kursi plastik.


Kira-kira begitu perbedaan 4R yang saya pahami dan menjadi penutup tulisan ini.

Eit tapi belum benar-benar ditutup ya J
Terakhir, saya mau buat GIVEAWAY PULSA SENILAI 50K UNTUK 2 ORANG.

Karena ini Giveway kecil-kecilan, caranya juga mudah banget :

Cukup tuliskan tuliskan di kolom komentar, penanganan sampah plastik yang telah atau teman-teman ingin terapkan di dalam kehidupan. Contoh :
- Selama ini saya telah berbelanja tanpa menggunakan kantong plastik lagi dan tidak membeli botol minuman plastik lagi. Atau,
- Setiap plastik di rumah saya ubah menjadi titik-titik dan titik-titik. Atau,
- Saya ingin penanganan sampah plastik di Indonesia seperti bla-bla-bla. Atau,
- Saya sangat terbantu dengan plastik tapi tidak sakit hati bila kehilangan Tupperwa*re :D

Intinya berkomentar tentang sampah plastik sertakan email di dalam kolom komentar
Itu saja. Ditunggu sampai 30 Juni 2018  ya :)

Selamat ‘Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2018’ – Yuk kendalikan sampah plastik, meski belum bisa zero waste sepenuhnya, setidaknya jangan buang sampah plastik sembarangan, meskipun itu sebungkus jajanan permen.

Salam.
Lidha Maul

================
Sumber informasi :
- https://rockingmama.id/post/gaya-hidup-zero-waste-lauren-singer-yang-sangat-menginspirasi
- https://economictimes.indiatimes.com
- cnnindonesia.com
- sains.kompas.com

Share:
Read More
,

INI DIA KEBUTUHAN BERKEBUN YANG SAYA INGINKAN UNTUK RAMADAN EKSTRA DAN TIPS BELANJA HEMAT DI TOKOPEDIA



Belanja Kebutuhan di Ramadhan

Minggu-minggu menjelang Ramadan ini terhitung padat dan sibuk, rencana mau mudik sebelum Ramadan pun batal.. Syukur alhamdulillah rumah sedang dalam perbaikan.


Satu sisi ini baik, satu sisi pula, karena perbaikan, pekarangan jadi hancur (untuk sementara). Tumpukan tanah, batu, bongkaran dimana-mana. Tanaman-tanaman saya penuh debu dan ada yang terpaksa direlakan. Tapi, saya nggak merasa sedih juga sih, karena tanaman-tanaman yang ikut rusak itu, sudah saya anggap sedekah.


Intinya, krena perbaikan rumah, karena akhirnya belum bisa mudik, karena mesti mengembalikan kondisi rumah agar nyaman kembali, termasuk meramaikan kembali dengan tanaman-tanaman saya saat bulan suci ini, maka saya menyebutnya Ramadan Ekstra.  Ekstra rencana, ekstra kerja keras, ekstra pengeluarannya, ektra segalanya deh agar semua bisa beres saat Idul Fitri nanti. Tapi, biar pun bakalan ekstra pengeluaran, saya tetap mau ekstra hemat.

Untuk penghematan ini, saya sudah merencanakan membeli beberapa kebutuhan berkebun di Tokopedia, sekaligus tips-tips belanja hemat di  bulan Ramadhan yang teman-teman juga bisa tiru :

Pertama:
Membuat daftar kebutuhan:
1. Sarung tangan gali
Sebelumnya saya sudah punya sarung tangan untuk berkebun, sayangnya sudah rusak. Sarung tangan lainnya, khusus bertukang. Itu lho, sarung tangan yang ada totol-totol di sisi sebelahnya (ada yang bilang sarung tangan bintik,  entah nama lainnya). Tapi, sarung tangan ini kurang pas untuk aktivitas berkebun yang cenderung banyak bersentuhan dengan tanah, apalagi kalau tanahnya lembab. Kemudian saya menemukan sarung tangan ini di Tokopedia, cocok banget buat maen-maen tanah.
Sarung Tangan Berkebun


2. Tools Berkebun serbaguna
Sekop mini saya, gagangnya sudah hancur termakan usia (dan kemalasan si pemiliknya merawat). Lagipula 1 sekop mini ternyata nggak cukup, karena mesti rebutan dengan Cmumut, saya pun memutuskan tuk mencari di Tokopedia dan ternyata menemukan sekop multifungsi seperti ini :
Katanya nih, cocok juga untuk pekebun pemula alias rumahan.

3. Vertical Planter.
Agar tidak menyesakkan pekarangan yang sudah terasa penuh, ada baiknya saya merencanakan menanam dengan metode vertikal untuk mengantisipasi lahan terbatas.


Kedua.
Setelah membuat daftar kebutuhan, biasanya akan ada banyak pilihan produk di Tokopedia. Karena itu, cek dulu harga masing-masing toko online yang menyediakan produk serupa di Tokopedia sebelum membeli. Selain memastikan memastikan produk memang murah, saya juga memilih agar produk yang saya beli tidak murahan.

Ketiga.
Membaca spesifikasi produk dan ulasan pembeli sejelas-jelasnya dan berulang. Dari situ saya tahu, bahwa barang yang saya inginkan memang nyata adanya, jelas transaksinya dan ada kepuasan pembeli lain pula. Karena berbelanja di bulan Ramadan, inginnya adem ayem, lancar dan akadnya jadi pahala ya kan.

Keempat.
Tambahan nih, untuk penghematan di bulan Ramadan, saya pilih produk dari penghasil lokal. Karena kalau mutunya bagus, dengan harga yang miring, saya tentu bisa irit berbelanja bukan?

Kelima
Untuk menghemat ongkos kirim, saya bisa memilih seller yang terdekat. Biasanya,  saya memang sukar menemukan toko online/penjual yang menjual produk yang saya incar dan lokasinya berdekatan dengan lokasi saya (di Balikpapan) alias sekota alias sepropinsi. Tapi, meskipun sukar, saya tetap bisa menemukan setidaknya yang cukup dekat dari lokasi saya agar ongkos kirim yang saya tanggung tidak terlampau berat.

Keenam
Selain mencari seller terdekat, agar bisa menghemat ongkos kirim, pilih juga metode pengiriman yang paling efisien. Karena di Tokopedia menyediakan berbagai metode pengiriman dan saya tinggal menyesuaikan kebutuhan dan dana saya. Karena setiap pilihan pengiriman akan diperlihatkan nominalnya.

Ketujuh
Memilih cara pembayaran yang tepat. Ada beragam metode pembayaran yang disediakan Tokopedia yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan buyer.

Kedelapan.
Pastinya manfaatkan Promo dan Diskon. Jika saya tidak langsung berbelanja pada saat saya mencari produk, maka hal yang saya lakukan adalah menyimpan source link produk yang saya incar. Tujuannya apa? Ya, apalagi kalau bukan memanfaatkan promo-promo dan diskon, khususnya di bulan Ramadan ini dimana Tokopedia memberikan rangkaian promonya  seepaaanjaaanggg Ramadan. Dengan kedelapan cara ini, saya kepengen bisa ekstra hemat berbelanja kebutuhan berkebun di Tokopedia.

Malah sebenarnya nih, Tokopedia juga mengadakan Ramadan Ekstra.
Saya belum tahu gimana rasanya Ramadan Ekstra dari Tokopedia ini, karena belum berbelanja. Tapi, katanya sih ada rahasia kejutan pada 25 Mei dari Tokopedia yang akan membuat Ramadan Ekstra menjadi lebih Ekstra, layaknya festival belanja online “Black Friday”.
Aish, sudahlah rahasia,  pakai kejutan, ada ekstranya pulak.

Tapi, baiklah, kutandai dulu kau tanggal 25 Mei, biar ndak lupa.

Ngomong-ngomong soal Ramadan Ekstra, impian saya Ramadan tahun ini bisa menjadi Ramadan yang Ekstra. Ekstra ibadahnya, ekstra produktif, ekstra kreatif, ekstra waktu tuk membaca buku, ekstra berdoa, dan tentang pekarangan saya, jumlah tanamannya mesti ekstra pula dari sebelumnya. Tak lupa saya juga mau ekstra hemat, jangan sampai berlebihan atau mubazir. 
Ekstra hijau, ekstra bahagia

Saya sudah mencatatat beberapa kekurangan diri ini di Ramadan lalu dan berharap Ramadan ini tidak megulanginya. Pastinya,  saya ingin Ramadan tahun ini, membuat diri saya lebih baik dari tahun sebelumnya. Aamiin.
Semoga, teman-teman yang akan menjalankan Ramadan tahun ini pun demikian.


Salam,
Lidha Maul

Share:
Read More