Menjunjung Langit Biru

November 10, 2017

Gen Langit Biru

Malam di tahun 2011 itu, kami berkunjung ke rumah kawan lama suami di suatu kota besar di negeri ini. Setelah lelah, kami pamit dan saya sedang mengira-ngira pukul berapakah saat itu sambil menengadah melihat langit yang tak berbintang. Tentu saja sulit menerka waktu lewat langit malam dibanding saat siang, kecuali lewat cara kami menguap berulang-ulang dan mengucek mata. Lalu, suami berkata, “dek, di kota ini kita susah melihat langit biru.
Sepintas dan selesai.
Tadinya saya tidak percaya. Saya percaya kota besar ini punya banyak mendung. Itu saja. Paginya, saya pun memastikan warna langit. Siang, sore dan benar, susah sekali menanti warna biru. Saya juga menantikan kapan hujan turun di hari itu dan hari-hari selanjutnya. Ternyata perjalanan kami baik-baik saja, tak ada hujan.
Tiba-tiba saya merasa bodoh.
Mendung?

Sekembalinya ke kota Balikpapan, saya menjumpai seorang bule (ekspatriat) yang sedang bersepeda dan berkata bahwa dia sungguh senang dengan kota ini, karena langitnya masih biru. Sungguh, bagi saya alasannya terdengar unik dan tidak biasa.
Mungkin karena rutinitas selalu di depan mata, setiap kali keluar rumah, selama pandangan masih jernih dan dapat bernapas, saya merasa baik-baik saja. Saya pikir langit baik-baik saja selama ia membentang dan tidak berisik. 
Benar begitu?
Sebenarnya, langit dapat nampak biru, selama cahaya matahari yang banyak yang masing-masingnya memiliki warna dan panjang gelombang sinar berbeda itu berinteraksi dengan atmoster. Ditambah dengan sebaran, pantulan, serapan juga pandangan manusia yang sensitif sehingga biru-lah yang terlihat. Saya memang masih bisa mendapati birunya langit di kota saya. Namun, kenyataannya ada beberapa tempat di dunia ini dimana birunya langit tak mudah nampak.

Karena beragam aktivitas manusia bersinggungan dengan pencemaran udara. Lapisan awan menjadi kotor dan merusak kehidupan. Karena itu Pemerintah telah menetapkan PROGRAM LANGIT BIRU lewat Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 15 Tahun 1996. Satu hal yang baru saya tahu. Ternyata Program Langit Biru merupakan satu upaya pengendalian terhadap pencemaran udara.
Menjunjung Langit Biru


Upaya yang sama diciptakan pula oleh Pertamina sebagai BUMN penyumbang deviden terbesar di Indonesia. Satu diantaranya menyiapkan proyek kilang langit biru di Cilacap yang dikenal dengan PLBC (Proyek Langit Biru Cilacap). Proyek Kilang Langit Biru ini bertujuan untuk menghasilkan bahan bakar yang ramah lingkungan.  Tentu saja, proyek kilang langit biru juga menyasar pada renovasi kilang Pertamina di wilayah-wilayah lain.
Menjunjung Langit Biru
Pertamina dan Proyek Langit Biru.

Banyaknya aktivitas manusia yang berporos pada mesin, seringkali menghasilkan timbal.
Salah satunya adalah penggunaan bahan bakar minyak (BBM) yang tidak ramah lingkungan. Karena itu Pertamina berupaya, mengganti Premium (RON 82) menjadi Pertamax (RON 92) yang bebas timbal. Walau pada awalnya timbul ketidakyakinan, namun respon positif pun mengalir setelahnya.
Menjunjung Langit Biru
 Lewat Program Langit Biru pula, Pertamina mengeluarkan produk-produk lainnya yang ramah lingkungan  seperti Envogas dan Vi-Gas.
Menjunjung Langit Biru
Envogas - Balikpapan
Sumber : kaltim.prokal.co
  
CSR Pertamina juga turut andil menciptakan lingkungan hidup dan pelestarian alam dengan beberapa programnya yakni: Green planet, Coastal Clean Up, Green and Clean, Green festival, Green Act, dan Rehabilitasi Hutan Mangrove.


Mendung adalah fitrahnya gejala alam, selama uap air yang terkandung di dalamnya tidak mengandung zat-zat yang membahayakan manusia. Daur kehidupan yang sangat alami yang dibutuhkan manusia. Karena setelah mendung hilang, langit biru pun memancar.
Tapi, akibat dari aktivitas manusia yang turut serta mencemari udara (bahkan tanpa disadari manusia itu sendiri) mendung terlalu sering bergelayut, langit biru sukar nampak.
Karena itulah dibutuhkan payung.
Payung adalah sebuah analogi, wujud dari upaya pencegahan, pengendalian, penjagaan lingkungan. Agar kita semua ikut andil menjaga bumi kita tetap hijau, langit tetap biru. Tugas menjaga lingkungan bukan hanya milik Pemerintah dan Pertamina. Tapi juga segenap lapisan masyarakat, termasuk generasi muda. Saling mendukung untuk  program langit biru erat kaitannya dengan menjalin masa depan yang cerah. Karena begitulah filosofi langit biru. Ketika kita melangkahkan kaki keluar rumah dan memandang langit yang biru, kita tahu bahwa aktivitas kita hari ini bisa lancar, tanpa sadar senyum pun mengembang dan wajar berseri.  Jangan sampai menunggu langit gelap, baru bergegas mencari payung.

Traveling telah menjadi tren di semua kalangan. Traveling juga berperan dalam anti stres dan depresi yang banyak menjangkiti manusia masa kini. Salah satu lokasi yang menyenangkan adalah menjelajahi alam. Pernah membayangkan alam seperti apa yang ingin dikunjungi? Yang hijau, yang berseri, segar dengan langit biru? Semua sepakat, tempat seperti itu menyenangkan. Ditambah dengan tren fotografi, lokasi alam dengan latar langit biru sungguh menawan. Pergi ke gunung, ke pantai, belum apa-apa, kita sudah bisa merasakan udara yang bersih. Bayangkan kalau imajinasi seperti ini rusak. Karena ternyata udaranya telah tercemar. Alih-alih memanfaatkan traveling sebagai anti stres, yang terjadi justru sebaliknya. Perasaan optimis dan tercerahkan berangsur pudar. Efeknya setelah pulang, bisa beragam.

Seperti saya, yang memikirkan langit biru setelah melakukan perjalanan. Kini, pemikiran ini ada di tangan generasi muda. Generasi yang berani mengoptimalkan sumber daya selain alam yakni diri mereka sendiri (SDM). Kekhasan generasi millenials : mampu berpikir kritis, aktif dan kreatif. Sudah pasti kualitas hidup diharapkan lebih baik, kesehatan fisik dan psikis menjadi satu faktor utama demi mencapai impian. Mereka adalah generasi millenials, generasi langit biru, Generasi yang memanfaatkan perkembangan teknologi dan kemajuan zaman dengan tetap bertindak untuk ramah lingkungan. Generasi yang diharapkan tidak lupa bagaimana dirinya dan keindahan alam ini berasal, apapun cita-citanya dan dimana dia berada. Karena jika tetap menginginkan bumi dipijak, disitulah langit (biru) dijunjung.
Menjunjung Langit Biru

***
Tulisan ini diikutkan dalam lomba ‘Gen Langit Biru’ dengan jumlah karakter 5.990 (with spaces)
#Pertamina
#PertaminaBlogdanVlogCompetition2017
#KobarkanKebaikan
#GenLangitBiru
#Kerja3ersama

Sumber informasi:
www.pertamina.com
kaltim.prokal.co 
Kep No.15 thn 1996 ttg Program Langit Biru

You Might Also Like

25 Comments

  1. Nah kan...
    Tulisannya lebih cetarrr...
    Wahh pesaingnya banyak ini...
    hahaha....

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha, sama2 menyampaikan saja ya :)

      Delete
  2. hohoho, saya baru tahu kalau pertamax bagian dari upaya ramah lingkungan, saya pakai karena ternyata lebih enak aja sih dari premium

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oya? terimakasih ya sudah berkunjung

      Delete
  3. Aku suka kalau foto2 backgroundnya langit biru. Cakep!

    ReplyDelete
  4. dimana bumi dipijak, langit dijunjung itu maksudnya biar gak lupa adat istiadat ya? atau disini maksudnya gak lupa dengan alam? iya juga ya.. baru mikir

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya maksudnya begitu, jangan sampai kita lupa

      Delete
  5. Di beberapa kota, langit memang tampak muram. Malampun polusi cahaya memenuhi langit sehingga tidak cukup gelap untuk menghadirkan kerlip bintang. Beruntung yg rumahnya masih setiap hari menikmati langit biru.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Kang, waktu itu saya baru ngeh dan akhirnya jadi pemikiran.
      Ternyata beberapa kota sudah seperti itu

      Delete
  6. Jarang ke SPBU akhir2 ini, jd baru tau ada produk Envogas dan Vi-Gas yg ramah lingkungan :D TFS

    ReplyDelete
  7. Mbak lidha kalau nulis selalu bagus dan keren :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Rahma, saya masih belajar. Terimakasih ya udah memotivasi hari ini :)

      Delete
  8. Cara penulisannya tertata rapi yah mba. Semangat yah.

    ReplyDelete
  9. Memang sedih banget ya kalau nggak bisa melihat langit biru.
    Baca paragraf2 awal, pikiran langsung melayang ke masa depan, ke kerusakan lingkungan yang (bisa jadi) makin parah kalau nggak ditanggulangi dari sekarang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya, begitu pula yang saya pikirkan :)

      Delete
  10. Ketika ke Jepang, langitnya bersih banget. Langka sekali melihat langit yang biru nan jernih di Jakarta. Thanks for reminding us, mbak.

    ReplyDelete
  11. Semoga langit terus biru ya, mbak. Dan moga juga generasi kita selanjutnya bisa menjaganya. Btw...suka deh si kecil ekspresif banget

    ReplyDelete
  12. pake pertamaxx juga bagus sih, aku kadang pake juga biar lebih bersih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah pantas koh sering juara pertamaxx

      Delete
  13. Untuk premis yg cukup berat kalau menurut saya, bisa diracik dg kalimat yg santai. Keren, Mba. Yepsss... polusi yg bikin langit jadi rada butek yak, nggak biru lagi. Harus sama2 jaga lingkungan, minimal kita nggak melakukan pembakaran sampah ya.

    ReplyDelete

Terimakasih telah membaca, silakan berkomentar yang baik dan mohon untuk tidak menaruh link hidup.

Member of

Blogger Perempuan Blogger Perempuan rssbblogger Warung Blogger

Popular Posts