DIBALIK DOMPET YANG HILANG ADA DOA YANG MENGEMBALIKAN

June 21, 2017


"Berdoalah kepadaku Niscaya Akan Kuperkenankan Bagimu"

(TQS 40:60)



Saat itu masih awal pernikahan kami yang belum genap setahun. Kami menempati sebuah rumah pinjaman yang cukup lapang, sepi, jauh dari hiruk pikuk kota dengan kesan tak terpelihara.  Karena rumah tersebut dipinjamkan seorang kawan yang baik hingga kami bisa mencari kontrakan, itulah sebabnya tidak banyak renovasi yang kami perbuat. Kadang ada yang menyebutnya seram.

Baik seram bermakna horor, juga seram karena adanya isu kemalingan.

Saat itu saya dan suami sedang bepergian, kami baru pulang menjelang maghrib. Kami ini datang dengan terburu-buru karena setelah itu masih ada acara lagi. Seperti biasanya saya selalu masuk rumah terlebih dahulu, karena saya pikir suami masih ada di belakang, tentu tidak ada niat menutup pintu. Kemudian saya menyegerakan sholat.

Tapi, sebelum sholat saya merapikan isi tas saya. Saat itu ada uang titipan orang. Saya keluarkan uang itu, rapikan dalam amplop, saya taruh di atas meja. Saya juga mengeluarkan buku-buku (entah buku apa) dan menaruh di atas amplop. Lalu meletakkan tas saya di sekitarnya. Adegan susun-menyusun ini sebenarnya tanpa pertimbangan penting. Hanya mengecek uang titipan saja. Mungkin kalau dengan pertimbangan akan saya taruh uang itu di dalam kamar lebih dahulu. Kemudian saya sholat.

Sementara suami saya lain lagi. Rupanya dia kebelet, lalu buru-buru masuk kamar mandi. Eh, gak taunya dilanjut mandi. Ya gak ada masalah sih, kalau saja PINTU SUDAH DIPASTIKAN TERTUTUP DAN TERKUNCI. Sayangnya NGGAK!

Selesai sholat, saya merasa ada sesuatu yang aneh. Ada yang tidak pada tempatnya. Ada yang tidak beres. Tapi, saya nggak bisa jelasin bagaimana. Ketika kami mau berangkat lagi, masing sudah sholat dan saya sudah siap. Perasaan saya betul-betul nggak enak.

Akhirnya saya cek uang dalam amplop itu.
Ternyata......
Ada.

Ya sudah beres. Tapi saya tetap merasa ada yang keliru. Ada yang berubah posisinya. Ada yang bergerak.

Sebagaimana persiapan keluar rumah, saya kemudian mengecek dompet saya di dalam tas. Meraba-raba, mengaduk-mengaduk. Dan jess... TIDAK ADA DOMPET DI DALAM TAS SAYA.

Tas sayalah yang bergerak dari posisinya.  Seseorang telah masuk ke rumah kami tanpa suara.

Kami berdua panik. Memastikan apa yang ada dan apa yang hilang. Pintu samping, tempat kami masuk terbuka sedikit. Saya syok! Kejadian itu BENAR-BENAR TANPA SUARA.

Sepatu safety suami saya hilang, kaus kakinya berceceran di halaman. Sebenarnya ada lagi yang hilang, tapi saya sudah lupa, karena kisah ini sudah lama terjadi.

Saya langsung kalut, saya merasa butuh pegangan namun tidak punya apa-apa kecuali DOA.

Saya adalah korban. Maka, sebagaimana orang-orang yang mendapat musibah atau dianiaya, doa mereka dikabulkan. Demikan yang saya pahami.

Dan saya pun berdoa :
"Ya Allah, aku ikhlaskan seluruh uangku yang ada di dalam dompet. Namun, aku memohon kepadaMu, kembalikan dompetku dan semua kartu didalamnya dengan cara yang Engkau izinkan. Ya Allah, gantilah sepatu suamiku dengan yang lebih baik. Dan Ya Allah, siapa pun yang telah mengambil semua ini, berikanlah dia petunjukmu. Berikan dia hidayahmu. Sesungguhnya itu mudah bagiMu."
(Doa ini sebenarnya panjang, tapi saya tulis intinya saja)

Selesai.

Kemudian hidup berlanjut seperti biasa. Saya lupakan kejadian itu termasuk doanya.

Tidak disangka, hadiah itu kemudian bermunculan satu persatu. Saya nggak ingat persisnya kapan. Suami saya, akhirnya betul-betul mendapat sepatu yang lebih bagus dari sebelumnya.

Lalu waktu berjalan lagi, 1-2 bulan kemudian seorang perempuan datang ke rumah ortu (dan saya ada disana)
Saya tidak kenal siapa perempuan itu, pun dia tidak tahu saya. Dia mencari saya untuk mengantarkan sebuah dompet. Jelaslah saya kaget.

Benar itu dompet saya. Benar, semua uangnya sudah tidak ada. Benar, semua kartu di dalamnya masih ada.


Saya nggak bisa ngomong apa-apa ke mbak itu, Ibu saya yang lebih banyak bercakap-cakap. Yang membuat saya takjub adalah penemuan dompet itu berseberangan dari tempat tinggal saya (anggap saja saya di selatan, dompet saya di utara).


Seseorang menemukannya dan bercerita kepada si mbak. Karena si mbak sering main ke daerah ortu (KTP saya masih sesuai alamat ortu) maka dia berniat mengembalikannya.


Tahukah setelah saya berduaan dengan dompet itu apa yang terjadi? Saya nangis. Perasaan saya membuncah. Nggak karuan. Bahwa saat saya berdoa dulu, saya betul-betul mendetilkan keadaan dompet saya jika kembali.  Bahwa saya paham saya kemalingan, dompet saya pastilah kotor. Tapi saya nggak mau ada yang rusak. Dan betul, dompet itu terlihat kotor, tapi masih bagus. Bahwa saya paham saya kemalingan, kartu ID dan lainnya mungkin ada yang rusak, ada yang sobek sedikit dan lusuh tapi masih berfungsi. Dan betul, ada yang lusuh, ada yang terungkap ujungnya, robek tapi ATM saya memang masih berfungsi.

Perasaan saya saat itu antara senang sekaligus malu pada Allah Ta'ala yang Maha Mengabulkan.



Sesungguhnya Dia Tidak Akan Mengingkari JanjiNya
“Tidaklah seorang hamba yang ditimpa musibah mengucapkan, “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, ya Allah berilah aku pahala dalam musibahku ini dan gantilah untukku dengan sesuatu yang lebih baik,” kecuali Allah akan memberikan pahala dalam musibahnya dan akan memberikan kepadanya ganti yang lebih baik.” (HR. Ahmad 3/27)

Mengapa Dompet ?
Kalau sekarang saya ditanya demikian, saya pikir betapa nyebelinnya saya kok mengharapkan dompet yang gak seberapa. Tapi dulu, dompet itu memang berharga. Baru beli dan saya suka. Kedua, ini tentang keyakinan yang terbayarkan. Pernahkah  berdoa tapi kita nggak yakin doa kita dikabulkan? Saya pernah. Jadi, yang saya butuhkan sebenarnya adalah (belajar) mengimani apa yang harus saya yakini. Kenyataan bahwa dompet saya bisa kembali adalah LEBIH BERHARGA dari dompet itu sendiri. 

Pahamkan maksud saya?

Karena setelah itu saya berikan saja dompet favorit itu, yang saya butuhkan adalah mencintai apa yang saya yakini, bukan mencintai dompetnya.


Jangan Buang Doamu!
Ibu saya bilang jangan buang-buang doa. Sekarang saya ngerti apa yang ibu maksud. Ada waktu ijabah untuk berdoa dan manusia sering membuangnya dengan menyibukkan yang lain. 

Ingat nggak? "doanya orang yang teraniaya itu dikabulkan" lalu apa jadinya kalau seseorang dianiaya? Yang paling cepat dia akan mendoakan MUSIBAH KEMBALI PADA YANG MENGANIAYANYA. 

Padahal saat itu doa sedang dikabulkan, sementara kita sibuk mengumpulkan amunisi buat nyumpahin si dia yang sudah menyakiti. Ini yang dimaksud ibu saya buang-buang doa. Maksudnya udah buang kesempatan baik buat meminta.

Saya bersyukur nggak nyumpahin habis-habisan si maling. Tapi saya pilih agar dia mendapat hidayah bla bla bla dan dompet saya kembali. Thats why, kisah ini berharga sekali buat saya. Karena ya itu tadi mendoakan orang kebaikan saat dia nggak baik sama kita itu nggak mudah (buat saya)

Terakhir, karena ini menjelang akhir Ramadhan, reminder juga buat saya agar jangan buang-buang doa. Karena banyak doa akan dikabulkan di bulan suci. Tetaplah meminta kepadaNya, niscaya Dia akan mengabulkan. Tetaplah semangat dan yakin akan janjiNya.

Amiin Allahumma Amiin

Wallahu'alam
Mohon Maaf Lahir Bathin.

Salam, Lidha Maul



You Might Also Like

31 Comments

  1. Terbawa alur cerita, ikut2an tegang, euui.
    Terima kasih untuk tentang "jangan buang doa" itu ya.
    So... menginspirasi!

    ReplyDelete
  2. Mengimani doa itu emang banyak godaannya, ya, Mbak. Takut enggak pantes memohon ini itu, enggak yakin Allah bakal mengabulkan, gak sabar mengharap hasil dari doa kita, dll..
    Semoga saya bisa meneladani hikmah dari kisah mb Lidha ini.

    Nice sharing ini mah pokoknya :*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, itu.. takut gak pantes akhirnya gak jadi berdoa -_-

      Delete
  3. Terimakasih sharingnya. Semoga menjadi pengingat, mendoakan yg baik2 ke org lain walaupun mencelakakan...

    ReplyDelete
  4. Alhamdulillah dompetnya ketemu, meskipun saya penasaran bagaimana bisa ya?

    Reminder buat saya juga ya, mba Lid. Berdoa yang baik-baik karena kebaikan itu juga akan berimbas pada kita. Nice sharing!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Entah mbak, jarak dompet dan rumah pun jauh kali.

      Delete
  5. Persis kaya cerita temenku, Mba. Dia dicopet di bus, berdoanya juga gitu, karena dompetnya banyak surat2 penting. Ditemuin sama orang, dengan kondisi basah penuh lumpur habis kehujanan, tapi isinya komplit, kecuali uang tentu saja.

    Ah, makasih remindernya Mba. Kekuatan doa itu kita tau, tapi kekuatan yakin akan terkabulnya doa yang kadang masih samar, hiks.

    ReplyDelete
  6. Mengimani doa itu sungguh hal yang sangat-sangat berharga. Saya pun pernah meragukan doa yang saya panjatkan, terkait apakah saya mampu atau gak. Bahkan kadang ragu itu muncul karena takut, takut kalau doa yang saya panjatkan membuat Allah gak berkenan sama doa saya. Huhuhu, jadi sedih apalagi Ramadan sebentar lagi berlalu.

    ReplyDelete
  7. merinding aku mba bacanya noted banget jangan buang doa 🙏🏻

    ReplyDelete
    Replies
    1. yang ngalamin juga Teh. Makasih ya udah mampir

      Delete
  8. Subhanallah. Kok jd inget Preman Pensiun yak. Cerita nyata yg sangat menginspirasi. Maaf lahir n batin ya Mb Lid..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama2 mbak Diba. Maaf lahir batin juga

      Delete
  9. masyaAllah mbak, pengingat bagi saya nih :(

    ReplyDelete
  10. Subhanallah Mbak Lid.. Sangat menginspirasi ceritanya, reminder pada diri sendiri jangan menyia-nyiakan waktu yang mustajab untuk berdoa tetapi juga jangan memubadzirkan doa. Suwun Mbak Lidha..

    ReplyDelete
  11. Allah memang selalu mengabulkan do'a hambanya ya Mba'.. :)
    Kitanya aja yang kadang sempet ragu. :(
    Nice sharing Mba'.. :)

    ReplyDelete
  12. Kita harus yakin dengan doa kita. Allah bisa mengabulkan, bisa menundanya atau tidak mengabulkan karena tau yang terbaik untuk kita.
    Makanya, betul kata Mbak.. Jangan buang doa!

    ReplyDelete
  13. Ya Allaah, jadi teringat benerapa hari lalu saya juga kehilangan dompet dan segala isinya. Yang paling penting kartu2 berharga, tapi jadi lega juga karena nggak membuang doa sia-sia. Terima kasih remindernya Mba, salam kenal.

    ReplyDelete
  14. wow itulah keajaiban dari Allah ya mbak

    ReplyDelete
  15. Iya banget. Setiap ada kehilangan, pasti ada datang pengganti yang lebih baik. Walopun awalnya terasa berat, tapi seiring waktu dan ikhlas, akhirnya lupa. Dan biasanya, saat lupa itulah, datang keajaiban. :)

    ReplyDelete
  16. I never lose my wallet in Hospital and One day hamba Allah send all material (card, sim, stnk, id and etc) in my home. But he not publish her adress, MashaAllah.
    Bereave teach me about how to ikhlas and bersyukur.

    ReplyDelete
  17. Keren banget pengalamannya Mba. Percaya sama doa yang dilarung ke Allah, InsyaAllah Allah beri jalan

    ReplyDelete
  18. Tersentuh bacanya, soo inspiring, maaf lahir batin maak..

    ReplyDelete
  19. Syukur dompetnya kembali ya mba Lidha..Memang benar nasihat itu, jangan habiskan nafas dengan doa negatif...selalu manfaatkan..terima kasih sudah sharing

    ReplyDelete
  20. Terima kasih banyak ya, Mbak. Cerita ini mengingatkan saya untuk tetap percaya dengan kekuatan do'a dan ikhlas. :)

    ReplyDelete
  21. Subhanallah mbak ceritanya, semua permasalahan akan terasa ringan dan menemukan jalan keluar jika kita tidak lupa untuk mengaduh kepada Allah rabbalalamin

    ReplyDelete

Terimakasih telah membaca, silakan berkomentar yang baik dan mohon untuk tidak menaruh link hidup.

Member of

Blogger Perempuan Blogger Perempuan rssbblogger Warung Blogger

Popular Posts