PELAJARAN DARI KLARIFIKASI SARI ROTI

December 08, 2016

Pelajaran dari Klarifikasi Sari Roti

Dalam bisnis, para pelaku usaha tidak hanya menempuh serangkaian panjang untuk menciptakan produk berkualitas namun juga usaha keras lain untuk sampai ke konsumen. Dalam tingkatan tertinggi di konsumen, faktor kepercayaan memegang peranan tertinggi.
Dalam beberapa hari ini ada agenda rakyat besar yang telah terjadi di Ibukota. Kita menyebutnya #AksiDamai212. Beberapa hastag ditambahkan kata 'super' mengingat tidak pernah ada sebelumnya kejadian aksi serupa pun yang terbesar . Dalam #AksiDamai212 ini ada beberapa cuplikan gambar para pedagang Sari Roti dengan gerobaknya yang bertuliskan kata gratis.


Sumber gambar: minangkabaunews.com

Pada tanggal 6 Desember 2016 ada keramaian ketika pihak Sari Roti mengeluarkan pernyataan klarifikasi terkait #AksiDamai212. Kiranya izinkan saya mengutip klarifikasi ini:

Sehubungan dengan beredarnya informasi mengenai adanya pembagian produk Sari Roti secara gratis oleh penjual roti keliling (hawker tricycle) pada Aksi Super Damai 212, dengan ini kami sampaikan bahwa:

 1. PT Nippon Indosari Corpindo Tbk. selaku produsen produk Sari Roti memberikan apresiasi sebesar-besarnya atas terlaksananya Aksi Super Damai 212 yang berjalan dengan lancar dan tertib pada tanggal 2 Desember 2016.
2. PT Nippon Indosari Corpindo Tbk. senantiasa berkomitmen menjaga Nasionalisme, keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan Bhinneka Tunggal Ika dengan senantiasa berusaha untuk menjadi perusahaan kebanggaan Indonesia.
3. Dengan tidak mengurangi apresiasi kami atas Aksi Super Damai kemarin, dengan ini kami sampaikan bahwa PT Nippon Indosari Corpindo Tbk. tidak terlibat dalam semua kegiatan politik. Kemunculan informasi mengenai pembagian produk Sari Roti secara gratis oleh penjual roti keliling (hawker tricycle), merupakan kejadian yang berada diluar kebijakan dan tanpa seijin PT Nippon Indosari Corpindo Tbk.
Sehubungan dengan hal tersebut diatas, dengan ini PT Nippon Indosari Corpindo Tbk. menyampaikan bahwa:
1. Produk Sari Roti tersebut adalah produk yang dibeli oleh salah seorang Konsumen melalui salah satu Agen yang berlokasi di Jakarta.
2. Pihak Pembeli meminta agar produk tersebut dapat diantarkan ke area pintu masuk Monas dan dipasangkan tulisan “gratis” tanpa pengetahuan dan perijinan dari pihak PT Nippon Indosari Corpindo Tbk.
3. Demikian informasi ini kami sampaikan agar tidak terjadi kesalahpahaman di berbagai pihak. PT Nippon Indosari Corpindo Tbk. berkomitmen untuk selalu menjaga Nasionalisme, keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan Bhinneka Tunggal Ika, serta tidak terlibat dalam semua aktivitas kegiatan politik.

Ketika mengetahui pengumuman klarifikasi ada beberapa hal yang menarik minat saya :

PERLUKAH SUATU PRODUK/BRAND MELAKUKAN KLARIFIKASI?

Jawabnya: SANGAT PERLU.  Suatu brand apalagi brand yang sudah punya nama di masyarakat perlu melakukan klarifikasi terkait kesalahpahaman, ada fitnah yang muncul, opini sesat tentang brand, dan kejadian yang dapat menjatuhkan nama brand, atau pun merusak pasar.

Sedari awal ketika menyimak #AksiDamai212 dan melihat cuplikan pembagian roti gratis ini, saya pribadi sudah menyadari bahwa ada konsumen yang berbaik hati yang memborong roti Sari Roti dan berniat membagi rotinya secara gratis. Tentu saja menjadi rotinya, karena sudah menjadi haknya bukan? Alih-alih si baik hati membopong roti yang mana situasinya tidak memungkinkan, maka gerobak roti pun ditempeli kertas bertuliskan kata ‘gratis’ bagi siapapun yang ikut serta di #AksiDamai212 . Jadi, sedari awal saya sudah yakin bahwa bukan pihak Sari Roti yang menggratiskan roti mereka.

Klarifikasi mungkin dimunculkan ketika  kata ‘gratis’ ini harus dengan sepengetahuan dan perijinan pihak PT Nippon Indosari Corpindo Tbk. Ini kemudian menjadi pertanyaan baru, apakah kata ‘gratis’ di setiap gerobak Sari Roti (yang rotinya sudah laris manis dibeli) harus dengan perizinan dan sepengetahuan pihak PT Nippon Indosari Corpindo Tbk? dan adakah pembatasan jarak-batas-area terkait area pintu Monas dan bukan area Monas? Berdasarkan klarifikasi diatas, sepertinya sangat perlu untuk meminta IZIN pihak  terkait. Jika kesimpulan ini tepat, maka klarifikasi memang diperlukan pihak Sari Roti terkait manajemen marketing mereka, bahwa gerobak keliling tidak boleh bertuliskan apapun, selain yang sudah ada. Dan ini akan menjadi catatan penting bagi setiap konsumen Sari Roti, bahwa roti yang mereka beli semua dari penjual gerobak keliling haruslah diangkut semuanya, dan tidak melibatkan gerobak Sari Roti.

LALU MENGAPA RAMAI ADA PENOLAKAN?

Seorang pria bertopi cowboy datang di sebuah Event besar bertema Parenting. Dia membagi-bagikan topi cowboy serupa yang dikenakannya secara gratis. Rupanya, oleh pemilik merk topi cowboy kecewa dengan tindakan si pria tersebut dan buru-buru menegaskan bahwa pihaknya tidak terkait dengan pembagian topi gratis dan topi cowboynya tidak berhubungan  tema ‘Parenting’. Singkat cerita, si pria topi cowboy pun membalas kekecewaannya dengan tidak lagi mengenakan topi cowboy kesayangannya.  Kekecewaannya timbul setelah bertahun-tahun menyayangi merk topi cowboy tertentu, kemudian ia membelinya dalam sejumlah besar (dengan uang sendiri) dan membagikannya ke pihak lain agar pihak lain dapat merasakan apa yang ia rasakan atau minimal berkenalan dengan merk kesayangannya. Alih-alih pemilik merk topi cowboy merasa berterimakasih pada si pria karena produknya habis terjual, masih ditambah dengan promosi gratis, semuanya justru diingkari. Si pria (yang tidak lagi) bertopi cowboy pun mendatangi orang-orang yang sudah ia berikan topinya, mengatakan bahwa jangan membeli topi itu lagi, lalu membakar semua topi cowboy yang masih ia miliki. Rasa cintanya pada topi cowboy lenyap bersamaan dengan hilangnya asap yang membumbung ke langit.

Dalam menghadapi konsumen, brand harus mengingat bahwa setiap konsumen adalah individu dengan karakter berbeda. Menghadapi konsumen layaknya seorang guru yang menghadapi muridnya, layaknya dokter dengan pasiennya. Harus mampu mendengarkan, harus mampu menyimak sampai pada tingkatan bagaimana memuaskan konsumen.

Boikot produk adalah bentuk penolakan produk baik untuk kerjasama atau jual-beli. Pada dasarnya boikot produk adalah hak konsumen yang biasanya dilakukan beramai-ramai. Seingat saya ada mini market  ternama yang ditolak keberadaannya untuk dibangun (di salah satu wilayah di Indonesia), bukan karena  tidak disukai namun dikhawatirkan dapat merusak ekonomi kerakyatan di sekitarnya. Solusinya mini market ini bisa dipindahkan semisal di daerah tempat tinggal saya yang cenderung sepi dan hanya ada beberapa segelintir toko.

Memang,  suka-suka konsumen mau membeli atau tidak. Sama seperti si pria (tidak bertopi) cowboy, suka-suka dia saja mau membakar topinya, toh sudah menjadi topinya (terkait dengan pembakaran dan kerusakan lingkungan kita memang tidak sepakati). Bisa dibayangkan roti Sari Roti tanpa perlu mengeluarkan biaya promosi besar-besaran dapat laris manis hanya karena ada event besar. Namun, sayangnya dalam klarifikasi Sari Roti terdapat potongan kalimat yang kurang menyenangkan atau bahkan tidak menyenangkan yang justru dapat menimbulkan syak-wasangka, pertanyaan baru dan kebingungan belaka. Kalimat-kalimat itu seperti :


“Dengan ini kami sampaikan bahwa PT Nippon Indosari Corpindo Tbk. tidak terlibat dalam semua kegiatan politik.” 

Jelasnya isu yang  digulirkan pada tanggal  #AksiDamai212 adalah PENISTAAN AGAMA. Bukan politik.  Tidak ada bendera partai politik berkibaran pada hari itu. Kalimat ini memang disayangkan oleh berbagai pihak bisnis. Mengapa? Karena dengan pernyataan begini Sari Roti kemungkinan akan sukar menjual rotinya di hari besar Pesta Rakyat Demokrasi, karena pada hari itu banyak sekali kegiatan politik. Sari Roti juga akan dipertanyakan bila hadir di Event-event politik, agenda Dewan Rakyat, Sidang Wakil Rakyat karena semua berkaitan dengan politik. Jadi, kemungkinan pihak Sari Roti perlu mengeluarkan pernyataan lagi untuk menjelaskan kalimat diatas.

“PT Nippon Indosari Corpindo Tbk. senantiasa berkomitmen menjaga Nasionalisme, keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan Bhinneka Tunggal Ika dengan senantiasa berusaha untuk menjadi perusahaan kebanggaan Indonesia.”

Ini seharusnya memang menjadi motto bagi setiap perusahaan yang tumbuh dan berkembang di negeri ini. Sudah selayaknya setiap perusahaan baik kecil dan menengah setia pada negeri ini. Namun, ketika kalimat ini ditaruh dalam klarifikasinya baru-baru ini dan diulang hingga dua kali, tentu saja menimbulkan syak wasangka dan kebingungan yang memberikan kesan apakah #AksiDamai212 bertentangan dengan NKRI dan merusak keutuhan negara?

Seperti kita tahu bahwa beragama tidak dilarang di Indonesia, #AksiDamai212 adalah aksi legal dan mendapat izin. Aksi ini memang berkaitan dengan PENISTAAN AGAMA.  Hal yang wajar ketika tidak ada yang memakai pakaian adat, atau mengemasnya dalam bentuk seni tradisional daerah masing-masing, sekali lagi mengingat yang diserukan adalah agama dan hari berlangsungnya adalah Hari Jumat, dimana umat Islam akan melangsungkan sholat Jumat.


Bagi banyak pihak klarifikasi ini terkesan bagai kebakaran jenggot dimana tidak ada api dan asap yang terlihat. Kecuali jenggotnya. Ujung-ujungnya Sari Roti akan menuai dilema baru, namanya berubah Sara Roti. Ya, karena klarifikasinya telah masuk area SARA.


1.  Memunculkan WAR.

Klarifikasi yang dibuat pihak Sari Roti saya yakini adalah usahanya untuk bersikap netral, sayangnya asumsi yang dimunculkan tidak membuat pihak Sari Roti terlihat netral. Ini dapat memunculkan WAR diantara pihak-pihak yang siap menolak Sari Roti dan yang tidak. Dan ini amat sangat disayangkan.

Sebenarnya bagian menarik ketika sebuah brand berhadapan dengan konsumen adalah bagaimana ia mampu bersikap santai menghadapi konsumen dan situasi  yang muncul. Netral adalah kata kunci untuk melancarkan bisnis.

2. Menciptakan Pelangi Baru
Dalam dunia bisnis selalu saja ada  persaingan. Sukar sekali menyebut sebuah produk dengan hanya 1 merk saja. Satu merk produk, lambat laun akan dikawal merk baru bermunculan. Produk susu, air mineral,  handphone, kamera, pensil, termasuk juga roti. Ada banyak merk roti setipe di Indonesia bukan? Tinggal target pasarnya saja yang bisa berbeda. Setelah mencuatnya klarifikasi PT Nippon Indosari Corpindo Tbk., sahamnya sempat turun tipis. Ini memang dibantah oleh analis dengan menyebutkan tidak ada hubungannya klarifikasi dan penurunan saham.
Terlepas dari kondisi pasar Sari Roti, setiap produk apapun akan berlomba-lomba memamerkan keutuhan produknya apalagi di saat produk setipe sedang melemah di mata konsumen.

Kita tahu Presiden Jokowi  sedang menggaungkan ekonomi kerakyatan baik lewat pasar tradisional maupun UKM. Selalu ada produk dengan brand baru yang terus bermunculan. Saat ini produk kuliner cukup cepat merajai. Produk roti lokal berani mengejar kualitas produk lokal lainnya yang sudah kenamaan.

Masyarakat pun mulai mampu berpikir untuk lebih mengedepankan produk lokal yang baru naik. Dengan pernyataan Sari Roti dan fenomena boikot, produk roti-roti  setipe yang tadinya tidak terlihat bisa saja akan muncul di meja-meja makan konsumen di pagi hari. Dan para pelaku usaha baru akan melihat sebagai sebuah kesempatan menarik untuk membuka usaha di bidang yang sama.

3. Memisahkan Ego

Adakalanya  menjadi admin/penjual olshop sukar sekali menempatkan diri pribadi dan akun yang dibawa. Status dan komentar negatif tak jarang keluar akun jualan. Ini bisa membuat konsumen tidak nyaman. Klarifikasi Sari Roti telah menimbulkan tanda tanya dan memberi kesan tidak nyaman saat foto-fotonya ada pada #AksiDamai212. Apakah sebuah brand sangat tidak menginginkan dagangannya laris manis? Ataukah ada unsur ketidaksukaan individu-individu di dalamnya terhadap #AksiDamai212? Jika benar demikian, sangat penting untuk memisahkan ego pribadi dengan kepentingan banyak pihak. Seorang dokter misalnya, sangat tidak suka dengan tetangganya, namun ketika tetangganya berobat, dokter akan tetap melayaninya. Saya sendiri percaya hal ini bukan perkara mudah, karena setiap individu punya ketidaksukaan terhadap sesuatu.

4. Pilihan Kata

Dalam promosi visual, tidak hanya pemilihan gambar yang tepat namun juga pilihan kata. Begitu pun dalam situasi lain seperti pengumuman dan pernyataan klarifikasi.  Sebuah brand tidak mungkin tidak melakukan kesalahan kata, ini adalah hal yang lumrah. Dalam pengumuman klarifikasi Sari Roti memang tidak menyebutkan secara eksplisit tidak menyukai #AksiDamai212 atau Anti #AksiDamai212, tapi menempatkan pernyataan: “tidak terlibat dalam semua kegiatan politik.kemudianagar tidak terjadi kesalahpahaman di berbagai pihak.” kemudian “berkomitmen untuk selalu menjaga Nasionalisme, keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan Bhinneka Tunggal Ika.  Pernyataan ini memang tidak ada salahnya, namun menempatkannya pada Klarifikasi #AksiDamai212  telah disikapi tidak nyaman oleh berbagai pihak termasuk konsumen. Seyogyanya jika pihak Sari Roti benar mengapresiasi #AksiDamai212, dan jika klarifikasi hanya terkait gerobak Sari Roti yang ditulisi ‘gratis’ termasuk jarak-batas-area-Monas yang disinggung, hendaknya mengena pada bagian itu semata.

Maka, akan sangat penting bagi pelaku usaha untuk berpikir sebelum mengeluarkan kalimat baik dalam pernyataannya maupun bentuk promosinya.

5. Klarifikasi dan Kepentingan Promosi

Klarifikasi perlukah?
Ya perlu, hanya dalam kasus ini menjadi unik. Klarifikasi atas apa? Siapakah yang telah memfitnah Sari Roti? Adakah kebijakan yang terlanggar? Adakah pencemaran nama baik? Apakah jika memang Sari Roti yang menggratiskan rotinya merupakan kebijakan yang keliru?
Apakah jika roti Sari Roti digratiskan pihak Sari Roti keberatan? Bukankah berarti ada promosi disana? Bukankah seharusnya pihak Sari Roti berterimakasih rotinya telah habis dibeli? Banyak pertanyaan yang dapat muncul.

Di lain pihak, klarifikasi Ini sebenarnya dapat menjadi ajang promosi. Seorang kawan bertanya, “roti Sari Roti yang kayak apa ya? enak ya?” Ya, karena di wilayah sekitarnya tidak ada Sari Roti. Saya tidak tahu apakah Sari Roti telah menjamah semua wilayah di Indonesia? Karena sayang sekali jika tidak, karena pada beberapa konsumen kehebohan klarifikasi ini menuai rasa penasaran. Dalam titik tertentu, rasa penasaran adalah strategi marketing yang bagus.  

Hakekatnya, sebuah produk sama seperti manusia, ia butuh untuk berkembang agar eksistensinya tetap terjaga.  Ia butuh bernapas di tempat yang baru, berbeda, dan ‘berinteraksi’ dengan individu lain. Ia butuh terus dikenal(kan) agar sampai dalam tahap kepercayaan. Konsumen yang percaya  akan terus membeli/memakai produk tersebut meskipun bisa saja  sedang ada masalah di balik produk tersebut. Sebaliknya, menjatuhkan kepercayaan konsumen adalah menghilangkan rasa cinta terhadap produk.

Klarifikasi Pihak Sari Roti terkait #AksiDamai212 adalah HAK pihak terkait. Siapa pun yang menolak Sari Roti pun adalah HAK mereka, yang mau membeli pun HAK konsumen. Pergantian konsumen adalah hal yang lumrah. Atau konsumenkah yang mau mengulurkan tangan pada roti-roti baru? Semua tergantung konsumen. Kita lihat saja roti apa yang kelak membumi di Indonesia. Memang dalam bisnis selalu ada Pe-eR menarik.

Terimakasih.
----------

Sumber Lainnya :
http://www.sariroti.com/post/berita-pers/pengumuman-1/
https://finance.detik.com/bursa-dan-valas/3364899/saham-sari-roti-anjlok-132
http://www.antaranews.com/berita/598153/presiden-jokowi-nyatakan-ukm-tumbuhkan-ekonomi-kerakyatan

http://mix.co.id/headline/blunder-pr-sari-roti-terkait-aksisuperdamai212

You Might Also Like

41 Comments

  1. Saya sempat debat alot sama pak bos terkait permasalahn ini hahaha, argumen saya hampir sama dengan mba sedangkan pak bos justru berbeda. Yang akhirnya menyebutkan jika saya perlu belajar bahasa indonesia yang baik dan benar wkwkwk...satu sekolah beda pandangan inilah yg dinamakan beda paradigma :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. dikau bahasa apa Teh, wkwkw. Ya, kita pasti punya beda kok, dan mesti hati2 ranah mau yang mu kita jamah, kalau perbedaan bisa mencolok nantinya

      Delete
  2. hmmm, saya no comment sama yg 1 ini soalnya gak ada juga sari roti di Bau-Bau, hihihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. hihihi...sudah mbak Ira jangan komen, jangan.

      Delete
  3. mantaff dehh mbaa..memang benar apa yang dikatakan mba herva selalu ada perbedaan itu indah..hhehe...tapi kalo mengutip di atas, memang yg namanya juga perusahaan yng besar dan mempunyai sebuah brand harus bisa menjaga kwalitas dan kwantitas agar tidak bisa di hubungkan dengan politik....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, itu dia. Perbedaan itu pasti ada. Yang tadinya sudah adem ayem aja kan. Ini pe-ernya sebuah brand.

      Delete
  4. Saya pribadi merasa karena doi brand besar, ternama dengan pemilik non muslim.

    Jadi muncullah klarifikasi tersebut.

    Mungkin posisi dia juga bagaikan simalakama yaa...?
    Ini negeri benar-benar Bhineka Tunggal Ika.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hmm, ibarat kalau nonton drakor terus benci banget deh ama tokoh tertentu, tapi toh kalau ketemu di dunia nyata ketemu ama aktornya tetep aja mau foto bareng kan Len *eaa, apaan coba ini.
      Maksudnya siapapun pasti punya ketidaksukaan thd sesuatu, kalau pun bagai simalakama mungkin klarifikasi bisa dikhususkan pada pihak2 yang mempertanyakan keberadaan sari roti disana, bukan masuk ke ranah publik.

      Jadi, biarkan Sari Roti tetap menjadi Roti Indonesia yang bisa dimakan semua suku, ras dan agama.

      Delete
  5. Sari roti nya blunder. Salah milih kata2 malah berakhir runyam. Dan ini bs dijadikan pelajaran berharga untuk kita semua.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, ini pelajran juga kok buat kita.

      Delete
  6. menurut klarifikasi ini jadi bikin makin rumit masalahnya. padahal sama halnya dengan produk makanan atau minuman lain yang dipakai di acara aksi, toh mereka nggak mengeluarkan biaya untuk ikut ambil bagian dalam urusan dana. tapi ya balik lagi ke soal brand. mgkn brandnya nggak mau dikaitkan dengan apapun yang lagi heboh.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Mbak Ila, kita mengerti aja sih kalau brandnya gak mau dikaitkan dengan apapun yg lagi heboh, cuma ada sayangnya gitu

      Delete
  7. Menyayanhkan klarifikasi sari roti ini hiks ..jd memunculkan masalah baru, ..ada anggota keluarga saya yg jadi diatributor roti ini. Betul kata mba, harusnya netral aja.

    ReplyDelete
    Replies
    1. ada yg jadi distributor, ada yang ajdi mamang keliling, mereka patut juga dipikirkan

      Delete
  8. Tulisannya apik mbak, sebenarnya dengan klarifikasi yang kurang tepat pada pemilihan kata-kata Sari Roti sudah menaikkan pangsa pasarnya sendiri, tetapi sayangnya bukan karena rotinya yang semakin terkenal tetapi karena beritanya. Apa ini termasuk strategi marketing juga untuk menaikkan nama? Entahlah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hmm,biasanya ketika iklan dimunculkan, konsumen sudah dihadapkan pada ketersediaan barang

      Delete
  9. Setuju mbaa..aku juga sangat menyayangkan klarifikasi sari roti yang menggunakan kalimat tendensius. Padahal dulu sering beli roti itu. Kalo sekarang..hmmm.. No comment deh hihihi

    ReplyDelete
  10. Aku malah pas itu telat taunya tentang Sari Roti ini. Ujug2 pak suami bilang, mulai besok jangan beli Sari Roti lagi.

    Ladalaaah, kenapa? Ada apa?
    Ternyata ini.

    Kalau nggak salah abis kasus ini saham Sari Roti terjun bebas ya Mba?

    ReplyDelete
    Replies
    1. gak bebas juga sih, menurut analis hanya pergerakan pasar

      Delete
  11. Baru tahu ada isu hangat rupanya. Mudah-mudahan gak jadi Sara Roti ya, Hahaha...
    Mau urus Coastal Clean Up saja dulu.

    ReplyDelete
  12. kita mah no komen saja karena perbedaan kalau didebat kusir gak akan habisnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Mbak Tira, kalau perbedaannya udah pasti ada mbak. Kita fokus ke produknya ya dan klarifikasinya :)

      Delete
  13. hai Mbak salam kenal. Baca bbrp yg bahas ttg roti ini. Katanya ada kaitan dng pajak juga, sehingga perusahaan perlu klarifikasi. Mrk ga ingin dicap promosi gratis. Kan gara2 foto viral gerobak2 roti lengkap dng merknya. Misalnya, roti2 itu ditarok kresek aja, aman deh. Awalnya memang sahamnya turun sedikit, sesudahnya malah melejit. Setelah banyak yg tahu kronologinya. CMIIW...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai juga, slaam kenal ya :)
      Kalau begitu kita sepakat klarifikasi memang perlu ya, dengan catatan ada pembenahan dalam bahasanya, misal memfokuskan tulisan gratisnya dengan tetap berterimakasih pada si pembeli yg sudah membeli dalam jumlah banyak. Soal gerobak memang milik Sari Roti jadi harus izin dgn mereka.
      Kedua, kalau dirasa bisa klarifikasi tidak jatuh ke ranah publik melainkan hanya ke pihak2 yg membutuhkan. Walau agak susah mungkin dilakukan oleh pihak perusahaan ini.
      Jadi, mungkin fokusnya ke pembenahan bahasa

      Delete
  14. menurutku klarifikasinya kurang enak dibaca mbak, apalagi suasa lagi sensitif tapi aku sendiri nggak setuju boikot karena bisa mematikan pencaharian banyak orang bisabisa nanti

    ReplyDelete
  15. ya, nggak cuma Ninda, banyak ekonom, analis yang menyayangkan bahasa klarifikasi ini.
    Soal boikot, saya juga nggak sepakat kok. Kasian mamang rotinya dan orang2 kecil.

    ReplyDelete
  16. Kemarin itu aku baca status BBM temen yang katanya nggak mau lagi beli roti sari roti, gara-gara itu tooh. Huum, padahal aku suka sama roti ini loh Mbak Lidha. Sandwichnya enak.

    ReplyDelete
  17. lagunya terkenal banget tuh sampe sekarang gak pernah mati lagu itu, keren banget promosi yang dilakukan perusahaan tersebut,

    ReplyDelete
  18. Salam kenal Mba Lidha...
    Roti Favorite keluarga dirumah
    Tahu masalah ini dari suami sebelumnya engga enggeh berita ini, dan masih tetep beli sih rotinya, abisnya enak, anak-anak suka
    Dan masalah klarifikasinya setuju sama mba Lidha harusnya Netral se Netral"nya...

    ReplyDelete
  19. Saya hanya bs mengambil pelajaran bahwa sbg produsen kita hrs netral dan tetap menyenangkan konsumen agar selalu setia dan membeli produknya, krn sifat konsumen memang beda2 dan itu hak mereka

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dan itu tidaklah mudah ya kan :)
      Terimakasih sudah mampir

      Delete
  20. Tiap sore ada yang jual roti ini, kasian kalo gak dibeli. Cari duit sulit sementara dia punya anak tiga. Masalahnya sama pemilik sarti..saya mah ga ada masalah sama yang dagang sarti keliling. kaga tega..

    ReplyDelete
    Replies
    1. ya tetap baik saja mbak :)
      Semoga berkah si pedagang dan mbaknya

      Delete
  21. Sebetulnya gak salah klarifikasi Sari Roti. Tapi memang pelajarannya adalah bagaimana mengolah komunikasi. Sebelum menjadi sebuah klarifikasi, baiknya SR atau brand manapun melihat tipe pasar mayoritas mereka, bagaimana komunikasinya, serta kapan waktu yang tepat untuk klarifikasi. Jadi meminimalkan rasa sakit hati di satu pihak dan dituduh menyakiti. Berasa udah ahli ya saya komentar begini hahaha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. apalagi saya ya mbak yang nulis, hahaha
      pe er dan pelajaran buat bersama juga sih mbak

      Delete
  22. Banyak pelajaran yang bisa dipetik ya dari kejadian ini... Setuju dengan Mbak :)

    ReplyDelete
  23. Sari Roti, saya masih makan roti ini kok Mba, meski seringnya memang sebelum ada event seperti ini belinya yang merk Lau. Terkadang, memang sulit yaaa berusaha menjaga agar tidak menyakiti orang.

    ReplyDelete
  24. Wah, kalau fenomena yang satu ini ane tidak ikut-ikutan
    banyak pembelajaran yang bisa di ambil

    ReplyDelete
  25. Nyimakkk ...
    kayaknya sudah redam sekarang ini

    ReplyDelete
  26. banyak juga ya pelajaran yang bisa diambil dari peristiwa ini ...

    ReplyDelete

Terimakasih telah membaca, silakan berkomentar yang baik dan mohon untuk tidak menaruh link hidup.

Member of

Blogger Perempuan Blogger Perempuan rssbblogger Warung Blogger

Popular Posts