Menikahi Internet

June 30, 2016

<net_f5>          Asl, pls
<bulir_jeruk> Lidha, 19 F, Ina. U?
<net_f5>          Ms B, 23, Ina. Kul? Skul?
<bulir_jeruk> Kul. U?
<net_f5>          Work. Brb.
<bulir_jeruk> Where?
<net_f5>          warnet-rental. Brb
<bulir_jeruk> Busy? okey.
<net_f5>          Gak, cuma nyari kembalian yg mau bayar. Mbaknya nanti bayar uang pas aja ya.
<bulir_jeruk> ? Ni Mas Bambang yang jaga warnet ini?
<net_f5>          Yup

<bulir_jeruk> [LEAVING]
Saya merasa betul-betul kenal internet adalah dimasa-masa kuliah. Saat dimana saya jatuh cinta dengan mIRC, masa dimana saya terburu-buru mendatanginya, rela sampai malam duduk menghadapnya, tertawa bersama teman-teman ketika menceritakannya, lalu patah hati karena niat saya berburu ilmu percakapan bahasa asing sedang dia menawarkan pertemanan yang lain.

Tapi syukurlah saya tidak terjebak dalam pertemanan yang masih semu itu dan syukurlah tidak hanya mIRC yang menawarkan pertemanan, masih ada Yahoo Messenger favorit saya. Patah hati saya bisa dengan mudah dibelokkan. Saya suka tampilannya, forum yang ia tawarkan, dan pertemanan yang saya dapatkan. Ya walau pada akhirnya juga kurang mengenakkan, saya pun meninggalkannya. Lagi.
Di penghujung tahun kuliah, ketika bayangan skripsi terus memanggil saya tidak lagi berniat berteman dengan makhluk gaib. Saya butuh yang real. Tapi panggilan itu terus melambai-lambai. Bagaimana tidak, warnet ada di depan kost sendiri. Saya tinggal lompat saja rasanya sudah cukup. Lalu musim berselancar tiba di segenap penghuni kost, termasuk unduh mengunduh. Suatu ketika masuk ke kamar teman, saya berjumpa dengan mas David Beckham, manis sekali dia tersenyum pada saya. Dan dengan heboh seorang teman bercerita pada saya darimana dia mendapatkan David Beckham ini. Saya pun ikut tersenyum pada mas David Beckham ini, kasihan dia kalau tidak dibalas, siang-malam 24 jam dia senyum-senyum saja di kamar teman saya itu. Syukur saja David Beckham ini bukan orang asing sendirian. Masih ada The Moffats bersaudara, hanya saja mereka dipisahkan ruangan, tidak pernah berjumpa apalagi bersalaman. Seandainya saja mereka berdua tahu ada dimana.
Khusus The Moffats, saya tidak pernah mengerti mana adik mana kakak , yang satu saudaranya ada di ruang santai kami, tempat menonton tv, yang lain ada di kamar. Pada awalnya saya bertanya pada teman siapa mereka ini, saya malah diminta mencari di internet, “harii genee, kata teman saya”.

Sayangnya, seiring waktu, suhu dan kondisi udara wajah mereka memudar. Mereka pergi tanpa say-goodbye. Saya sendiri sedang girang-girangnya dengan trio bocah Harry Potter en de geng. Selagi saya telah bosan mencari bahan skripsi, saya akan mencari mereka. Terutama Hermione Granger, saya merasa akrab dengannya - yang mana dia tidak. Saya suka kecerdasannya, suka celotehnya, saya suka ketidakmampuannya berolahraga, saya suka asal-usulnya yang manusia biasa, dan terutama saya tatanan rambutnya. Kesannya saya banget. Nggak pernah ke salon.

Hari-hari saat disibukkan dengan skripsi saya juga mesti berkutat dengan internet. Koleksi perpustakaan tidak memadai. Saya menggunakan referensi dari sumber-sumber yang ada di internet. Saat itu masih jarang yang mengutip dari situs atau menaruh link sebagai referensi di tulisan akhirnya. Dan setiap kali mengakses internet, selagi tersisa waktu luang saya gunakan untuk membaca artikel-artikel yang menghibur. Sepintas memang tidak penting. Tapi berguna bagi saya yang (dulunya) introvert ini, yang tidak mudah membaur, pemalu dan tertutup. Saya masih punya sisi introvert, walau sekarang bisa mengantisipasinya lebih baik. Artikel-artikel ringan yang banyak tersebar di forum dan milis (mailing-list) itu berguna bagi saya untuk bersosialisasi, membangun keakraban dan menambah bahan pembicaraan. Alhamdulillah latihan banyak mengolah kemampuan bicara ini membantu mengurangi kecemasan saya di hadapan para penguji hingga meraih nilai A meski saya tidak terlalu banyak menguasai materi.

Internet memudahkan banyak hal dalam hidup saya, termasuk saat saya bekerja di suatu sekolah. Dua hari dalam sepekan saya akan pergi ke warnet untuk mencari bala bantuan demi mengemas materi pelajaran agar menarik (kala sekolah belum memasang internet).
Saya juga butuh internet untuk melengkapi perangkat pembelajaran yang harus saya buat. Tidak terhingga kekuatan supernya yang telah melahirkan saya sebagai pribadi yang baru. Sampai-sampai saya senang berimajinasi, seandainya saya menikah saja dengan internet. Capek atuh ke warnet melulu.
Apa yang saya ceritakan diatas adalah hubungan sebab-akibat antara saya dan internet dengan dampaknya yang tak terkira. Makin lama saya ingin mengakui bahwa internet bukan hanya sebentuk perkembangan teknologi yang berhasil melampaui batas imajinasi manusia. Ia juga telah berhasil mewujud sebagai partner, motivator, guru, dan segala sumber inspirasi saya. Bila manusia terdiri atas berbagai saraf yang tersistematis dan rangkaian bagian tubuh yang terjalin yang kesemuanya membutuhkan 5 indera sebagai perespon dan pentransfer, maka interconnection – networking yang menghubungkan seluruh jaringan komputer ini menciptakan 3 ‘indera’ inti: visual-auditori-verbal. Dengan ini manusia bisa berkomunikasi dengan menembus dimensi baru, manusia bisa berkomunikasi sambil bertatap muka, mendengarkan, dan berbicara dengan lawan bicara. Tanpa bisa menerobos batasan lain: menyentuh dan mengindera bau. Entah di era yang akan datang, mungkin telah tercipta terobosan ini.

Internet menjadi kekuatan baru di jagat raya ini, dengan pemasok dan pengendalinya adalah manusia itu sendiri. Ironi pun serta merta timbul, karena indera saja tidak akan cukup. Masih dibutuhkan perasaan dan naluri untuk merespon suatu aktivitas. Karena itu tidak heran bila muncul dampak negatif dari internet. Kita membutuhkan filter untuk tidak senantiasa menerima dan menyerap begitu saja informasi yang berdatangan dari internet.

Lepas dari dampak positif dan negatif yang menyertainya, setidaknya saya mencatat ada beberapa hal yang menjadi dampak teknologi internet sehari-hari.

1. Bahasa
LOL. Pertamax gan. Ragam kata dan istilah yang tadinya ada di dunia maya, berpindah ke dunia nyata. Seringkali bila melakukan SMS dengan kawan, atau ngobrol-ngobrol kami menyelipkan bahasa-bahasa dari internet yang kami temukan. Obrolan memang semakin matang dan seru dengan banyaknya perbendaharaan kata. Obrolan yang sifatnya resmi, sering memasukkan kata-kata baku, yang ini bisa muncul karena kita terbiasa membaca berita/isu portal. Bukan karena rajin membuka kamus. Rasanya sangat kekinian bila memiliki banyak ragam kata yang diadopsi dari internet. Jangan sampai lawan bicara kita akan mengkudeta karena kita kurang harmonisasi dalam berbahasa. Yup, adakah yang pernah terVickyinisasi disini?

2. Sebaran Informasi
Joke dari suatu grup chat dalam beberapa detik menyebar ke beberapa grup chat lain. Ini yang saya alami. Kasus kafe jamban menjadi pembicaraan dimana-mana. Sebaran informasi yang begitu cepat membuat kita jadi memiliki trend pembahasan. Berbicara sehari-hari saja jadi memiliki tema yang nyaris merata dimana-mana. Sebelum sampai ke televisi, apapun yang dilakukan kakak Syahrini sudah bisa diketahui dan dicopy.

3. Kebutuhan
Seiring perkembangan zaman, internet masuk dalam genggaman tangan. Kehadirannya membawa dampak signifikan. Internet hadir di rumah tangga, setiap hari saya memasak, setiap masakan yang saya inginkan tanpa tahu resepnya dan adakalanya entah ingin bertanya pada siapa dapat dengan mudah diatasi internet. Download cepat, apa saja siap saji. Internet hadir sebagai kebutuhan. Mungkin diawal, internet hanyalah dianggap komplementer alias pelengkap kehidupan, mungkin pula subtitusi namun kian lama tak terbantahkan ia menjadi kebutuhan pokok insan manusia. Hari-hari tanpa kuota apalah artinya.

4. Lingkungan Pertemanan
Dulu, saya punya banyak kenalan namun tak bisa saya sebut mereka sebagai teman. Sekarang, saya bisa membuat pertemanan tanpa perlu berkenalan. Facebook membuktikan. Teman kini menjadi dua. Dua dunia. Dunia nyata dan maya. Aktivitas mengobrol sehari-hari tak lagi sesama yang terindera. Seringnya dengan mereka yang tak kasatmata. Jembatan dunia maya menuju dunia nyata disebut kopdar.


5. Mengubah Jarak
Saat ini saya lebih banyak belajar online. Kini, guru dan murid bisa melakukan aktivitas belajar-mengajar tanpa perlu bertemu. Saya mengambil banyak tutorial grafis di internet dan sama sekali tak pernah bertemu dengan orang-orang tersebut. Beberapa baju gamis saya pun saya terima tanpa susah payah berdebat dengan penjual. Bahkan bisa saya ingin membeli dompet impor misalnya; Dompet Korea Love Wallet, tak perlu susah menyusuri lokasi. Cukup duduk-duduk santai dan menggulirkan jemari. Selang beberapa hari barang pun datang.


Inilah beberapa dampak teknologi internet yang saya rasakan dan alami. Jika internet menjadi kebutuhan di masa sekarang maka akan sulit sekali melepaskannya. Akses informasi dan komunikasi saya tercepat saat ini adalah internet. Siapa sangka saya pun menikah dengan seorang pekerja IT jaringan. WiFi di rumah kami digarap olehnya. Hari-hari saya terbantukan dengan adanya internet. Saya belajar, berbagi, berkomunikasi melalui internet. Suami pula yang mengajarkan saya dunia blogging di masa-masa awal.  Pada akhirnya saya bisa bilang, saya memang menikahi internet.

"Lomba ini diselenggarakan oleh IDCopy.net danEliska.id"
Salam

You Might Also Like

33 Comments

  1. kayaknya kalau gak kenal internet jaman sekarang itu jadi tersa jadul gitu ya, ibuku usia 83 thn tak ajarin buka intrenet, tuk baca2 dan punya FB untuk aku tag tulisan2ku biar beliau baca. Nenek2 juga update internet

    ReplyDelete
    Replies
    1. 83 mbak? masih bisa? luar biasa.
      Iya, tukang ojek aja sekarang kudu internetan

      Delete
  2. Bagian mircnya ya ampuun...ngalamin bgt masa itu pas SMA ;D

    ReplyDelete
    Replies
    1. jadi ingat gimana-gimana gitu ya mba :)

      Delete
  3. aku penggemar ilustrasinya mbak lidha lhoo
    pengin diajarin ih ;)

    haha aku juga main mirc mbaak, tanpa kuota terasa hampa sekarang

    ReplyDelete
    Replies
    1. mbak yu, yang diatas ini gratisan aja. Kapan2 aja ya drawingnya ^_^
      ciee yang ingat masa silam, apalagi kalau mau belanja ol ya Nin :D



      Delete
  4. wkwkwkwwkwk.. postingan ini mengingatkan jaman dulu pas aku doyan mirc, bahkan baru berakhir tahun kemarin 2015, baru pensiun dari mirc :D
    dan sekarang pun masih banyak teman-teman yang 'rindu' padaku untuk kembali ke mirc, hihihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. ech, nambah lagi boleh lah ya..
      kalau saya sampai sekarang ada satu teman mirc yang sudah kayak saudara, meski dia di Riau, tapi komunikasi sampai saat ini baik. meski juga perbedaan keyakinan juga tetap bisa bersahabat :)

      Delete
    2. boleh..bolehhh bangettt.
      Sumpah penasaran nih, saya nggak pernah awet dapat teman begitu, ujung-ujungnya gak nyaman :D

      Delete
    3. saya pun cuma dapat satu :D karena yang lain ya hanya sebatas say hello.. nah ini emang awet banget, aku ol mirc dari jaman putih abu-abu, kenal sama dia yang udah kuliah semester akhir. ya, banyak cerita seru, berantem selisih pendapat juga ada. tapi ya, mungkin karena dia lebih dewasa pemikirannya, jadi tetap berteman, bahkan saya dikenalkan sama adik dan tim kerjanya.. wkwkwkw ya, cuma satu itu, teman dari mirc yang paling baik. :D

      Delete
  5. Oh jadi inisial Mas Bambang itu Ms B to? tadinya aku bacanya Miss Be, hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. dialog diatas hanya fiktif ya Ran, tapi mas bambangnya so real!

      Delete
  6. Mas Bambang kemarin belum bayar Uang teh manis di warteg depan ruko. Wkwkwkwkwkwkwk

    Btw, saya masih ngalamin MIRC juga, meski saat itu udah ga boom, karena udah kegeser dengan friendster yang mana temen2 saya bisa gitu bikin friendster macem sinetron, ada part-partnya saking kepenuhannya. Ckckckck, tapi sekarang sih justru jadi ga begitu huwow banget, internet butuh pasti, tapi kadar noraknya sedikit berkurang :D.

    Semoga menang yaa mbaa Lidha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, itu saya suka: udah berkurang noraknya. Internet butuh, pastinya tp ya ada pembatasan. Soal friendster, udah gak pake tuh. Karena saat itu udah membatasi.
      *mudahan mas bambangnya gak keselek ya*

      Delete
  7. Mba Lidh...
    Tulisannya terasa sangat ringan, menyenangkan.

    Aah...kerreen banget.
    In syaa allah menang yaa, mba.

    ReplyDelete
  8. Haha I jadi nostalgia.

    Saya juga sempet main mIRC dulu. Emang seru sih. Ibarat chating dengan makhluk antah berantah. Soalnya kita gak bisa liat penampakan orang nya.

    ReplyDelete
  9. hahahah jaman MIRC XD
    dulu, aku ga tau kalau internet bakal seperti ini dikemudian hari, blog dll juga bakal hits. tapi entah nanti beberapa tahun lagi apa coba perkembangan tekhnologinya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya nih, apalagi ya ntar di hari kita tua (kita?)

      Delete
  10. MIRC itu apa Mba Lidha? sumpah saya gak pernah dengar sebelumnya :(
    saya akrab dengan dunia internet itu baru pada tahun 2009, saat awal-awal kemunculan facebook. sebelumnya, pernah sih masuk warnet tapi untuk cari tugas doang dan belum terpikirkan bahwa ternyata main internet adalah sesuatu yang menyenangkan :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. mIRC itu jauh sebelum facebook mbak, sebelum friendster :)
      Saya juga nyari tugas doang awalnya, saat kuliah..tapi sambil mbak. Sambil chatting, hihihi

      Delete
  11. jadi inget jaman mIRC,,, dulu itu saya jaman SMP kelas 1. hhahahah terus akhirnya punya friendster kelas 2 SMP... terus SMA kelas 2 booming Facebook.

    sekarang bener banget deh kalau internet bisa banyak manfaatnya, apalagi bisa memperluas jaringan pertemanan, bisa mempromosikan blog dan barang jualan dll.
    saya setujuuuu dengan 5 poin di atas! semuanya sangat dirasakan :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Begh, runut sekali itu Han..ane aja lewat prenster, en udah booming pesbuk baru nyoba lagi,itupun karena teman2 pada pake.

      Delete
  12. Sukses yahh kak! semoga menang! wahhh mIRC.. jangan-jangan kita dari zaman yang sama yah kak XD bwahwhahwahwha saya jangan-jangan kena vicknisasi tingkat amatir WOAhhh...

    ReplyDelete
    Replies
    1. amiiin, hehehe.
      jangan2 kita dari zaman yang sama? apa mungkin KAK Iip lebih senior dari saya? *nunggu ada yang manggil adek*

      Delete
  13. Gak begitu akrab dengan MiRC mb...friendster dlu pas SMA punya akun tapi dah lupa...sumpah namanya alay.

    Terkadang semakin lama orang berinteraksi di media sosial dan ranah maya, semakin dewasalah dan bijak ketika berbagi status/postingan.
    ya pkoknya internet memiliki berbagai dampak (baik positif/negatif) tinggal kitanya pinter2 menyikapinya... :)

    Judulnya ngeri2 sedap...menikahi internet :p

    ReplyDelete
  14. aku juga dulu keranjingan Mirc hehehe, tiap hari nongkrongnya di warnet, betah berjam-jam >_<

    ReplyDelete
  15. jangan2 sebenarnya menikahnya sama warnet yah, bukan sama internetnyaaah :))))
    Etapi memang jaman sekarang apa2 bisa dicari dulu via internet... Tersimpan segudang informasi yang berguna di dalamnya asal tahu mencari :)

    ReplyDelete
  16. kayanya saya udah pernah komen di sini *lupa2 inget* :D

    ReplyDelete
  17. Kirain cerita tentang orang yang berbeda jarak melalui internet :))

    ReplyDelete
  18. Internet udah jd bagian hidup kita, sehari tanpa internet aja dah bingung mau ngapain

    ReplyDelete
  19. Dulu dalam seminggu Pak Pos bisa datang berkali-kali, sekarang dalam setahun pun belum tentu ada sekali (dan yang dibawa juga bukan surat, tapi paket) :)

    ReplyDelete

Terimakasih telah membaca, silakan berkomentar yang baik dan mohon untuk tidak menaruh link hidup.

Member of

Blogger Perempuan Blogger Perempuan rssbblogger Warung Blogger

Popular Posts