Beralih ke Deterjen-Pembersih Ramah Lingkungan

November 25, 2015

Sangat disayangkan ketika materi disajikan, saya harus meninggalkan ruang berkali-kali. Dikarenakan C’Mumut sedang gencar-gencarnya mengeksplorasi ruangan dan tidak tampak tanda-tanda dia akan menjadi pendengar yang baik justru dia yakin sekali dia lah narasumber satunya-satunya. Maka, tulisan ini adalah hasil keterbatasan mendengar dan menyaksikan.

Dengan judul Pelatihan Pembuatan Sabun, Softener dan Shampo, acara yang diadakan oleh IIBF Balikpapan ini didominasi peserta dari kalangan wirausaha. Acara ini menghadirkan dua pasangan narasumber: Bapak Wardjito Soeharso dan Ibu Nenih Hanifah sebagai pemrakarsa sekaligus pemilik produk Smart Clean, produk pembersih dan pewangi pakaian lokal.

Berawal dari keprihatinan terhadap bahaya limbah detergen dan materi pencucian lainnya bagi alam dan lingkungan sekitar, pasangan ini mulai mencari materi yang aman dan ramah lingkungan. Kekhawatiran ini bukan hanya pada mereka yang mengalirkan
limbah langsung ke sungai (baca: mencuci di tempat umum) namun juga pada rumah tangga, tempat pencucian mobil, rumah makan, dan lainnya termasuk industri dan lainnya.

Kekhawatiran ini tentu beralasan, karena faktanya pencemaran lingkungan kini terlihat jelas. Sejauh yang diketahui bahan baku pembersih saat ini menggunakan surfaktan. Beberapa nama populer diantaranya adalah ABS (Alkyl Benzene Sulfonat) dan LAS, bahan kimia aktif yang berasal dari turunan minyak bumi. Masih ada bahan lainnya seperti builder, filler, antiredeposisi agent, additif (bahan tambahan untuk membuat deterjen lebih menarik, misal: pemutih, pewarna).


Daya bersih memang sangat baik,namun memiliki dampak buruk. Beberapa diantaranya adalah tidak bisa diurai kembali oleh alam, mengandung logam berat, racun bagi biota air dan pemicu bagi terganggunya kesehatan manusia.

Oleh karena itu, pasangan memulainya dari mengenyampingkan bahan baku yang merusak dan menggantinya dengan bahan baku yang ramah lingkungan. Produk SmartClean menggunakan bahan baku texapon (SLES), yang berasal dari turunan minyak kelapa. Kelebihannya adalah mudah diurai kembali oleh alam, mudah ditoleransi oleh tubuh, dan daya bersih cukup baik walau tidak sekuat yang berbahan ABS dan LAS.








Tadinya saya kira, pelatihan pembuatan sabun ini akan benar-benar dimulai dari awal sekomplit-komplitnya. Rupanya bahan dasar utamanya sudah disediakan. Benar juga, yang namanya bahan dasar kan membutuhkan penelitian, sedang peserta urusannya berdagang. Bahan dasar yang sudah jadi ini dalam bentuk pasta, kemudian dicampur dengan air dengan syarat dan kondisi air tertentu serta takaran yang sesuai. Prosesnya gampang-gampang susah.   Yang namanya gampang-gampang susah itu gampangnya lebih banyak dari susahnya, kalau susah-susah gampang baru kebalikannya. Intinya, siapa pun bisa. Pembersih yang dibuat di pelatihan ini ada deterjen, sabun cuci piring, sabun mandi, pembersih lantai.

Favorit saya adalah antrinya para botol bekas.




Bu Nenih menyarankan jika kelak diedarkan ke masyarakat, gunakan saja produk daur ulang. Lebih baik menggunakan wadah yang telah ada (bekas) daripada produk baru. Beliau juga bercerita bahwa produknya sudah banyak yang menggunakan. Konsumennya didominasi rumah sakit. Harga yang ditawarkan sangat kompetitif alias murah. Mengingat banyak sekali produk ramah lingkungan (green product) yang relatif mahal. Maka, sebisa mungkin produk yang ditawarkan pasangan ini selayaknya akan menjangkau semua kalangan konsumen.
Selanjutnya, pasangan ini akan memberikan pelatihan yang sama di LP (Lembaga Pemasyarakatan) Balikpapan. Sukses untuk mereka berdua dan produknya.

Untuk para peserta sendiri, bersiap-siap membawa botol-botol yang sudah diisi. Ini enaknya pelatihan, pulang bawa oleh-oleh.  Jadi, berminat beralih ke pembersih ramah lingkungan?

Tambahan:
Yang saya cermati adalah obrolan saya dengan Bu Nenih, bahwa produknya tidak panas di tangan. Dan memang benar, semua produknya terasa nyaman, dan lembut di tangan. Khusus produk yang saya bawa pulang, ini penilaian saya pribadi:

Pencuci piring; Buat saya tidak masalah berbusa-tidak berbusa, asalkan bersih.  Untuk deterjen; yang menarik adalah aroma wanginya, tidak memakai softener pun tak mengapa, hanya saja memang kurang mampu mengikat kotoran. Softener; yang ini bukan keahlian saya, asal wangi dan bersih saja, sudah cukup buat saya. Aromanya lebih lembut dari softener pasaran, rendam lebih lama jika ingin aroma diserap pakaian. Sabun mandi cair: wanginya terasa padat, enak banget, tapi lebih licin di kulit.

OKe, cukup itu saja ya, akan saya tambahkan jika ada penilaian dari kawan-kawan lain.

@lidhamaul






Bacaan Lain:
Mari mengenal IIBF dan IIBF Balikpapan
Apa itu Beli Indonesia?

You Might Also Like

12 Comments

  1. nice...detergen nya sdh diproduksi masal belum ya?

    ReplyDelete
  2. Bagus ya? Udah coba dipakai belum mbak? Enak di kulit tangan?

    ReplyDelete
  3. ya mba, nyaman dan nggak bikin panas. Itu saya tambahan di atas

    ReplyDelete
  4. Hebaaat eh, deterjen ramah lingkungan :D kayaknya bagus :3

    ReplyDelete
  5. Yang paling ngeselin detergent yang panas ditangan.
    Patut dicoba.. Thanks ya infonya

    ReplyDelete
  6. Wah bagus banget kegiatan ini Mbak Lidha....keren...keren!!

    ReplyDelete
  7. Amiin, semoga nggak kesulitan bahan baku

    ReplyDelete
  8. Aq tertarik mbak, mungkin bahan bahannya bisa di tulis juga mbak heheeh pemaksaan

    ReplyDelete
  9. Boleh di coba juga nih :)

    ReplyDelete

Terimakasih telah membaca, silakan berkomentar yang baik dan mohon untuk tidak menaruh link hidup.

Member of

Blogger Perempuan Blogger Perempuan rssbblogger Warung Blogger

Popular Posts